NovelToon NovelToon
KESUCIAN CINTA NAYA

KESUCIAN CINTA NAYA

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:162.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: DewiOmega

Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan. Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗

Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.

Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.

Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.

Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Janji Dara

“Apa kamu yakin dengan kebenarannya?”

“Sangat yakin, Tuan. Saya tidak sengaja mendengar percakapan Laras dan Naya saat hendak ke dapur. Jelas-jelas Laras memberikan brosur milik Freya Design pada gadis itu.”

“Periksa kembali dokumen tentang perlombaan beberapa tahun ke belakang. Setelah menemukan petunjuk pasti, bawa kemari.” Perintah Frans pada Tomo.

“Baik, Tuan. Saya permisi.” Tomo mengangguk kemudian melangkah pergi. Hari ini sampai beberapa hari ke depan, dia akan kembali ke perusahaan dan mengerjakan perintah atasannya.

“Takdir terkadang mempermainkan manusia.” Frans menghisap cerutu mahal yang sejak tadi menyala di sela jarinya.

“Opa!” suara lembut seorang gadis mengejutkan Frans dari lamunannya. “Kenapa masih merokok? Bandel ya.” Naya berjalan cepat ke arahnya.

“Siapa bilang? Aku hanya rindu bau tembakau dibakar, jadi aku hanya menghirupnya, bukan menghisapnya.” Elaknya seraya menyembunyikan tangan kanannya ke balik tubuhnya.

“Kok asapnya keluar dari mulut dan hidung?” Naya menunjuk kepulan asap yang pelan-pelan keluar karena Frans bicara dan tak mungkin juga untuk menelannya.

“Uhuuk… dasar nakal.” Sekali batuk, semua asap yang tadi Frans tahan, menyembur keluar. “Heh, kamu sendiri kenapa baru pulang selarut ini? Masih pakai seragam sekolah pula.” Frans melihat ada celah untuk membalas bocah kecil di depannya.

“Naya diajak teman pergi melihat matahari tenggelam di Anyer.” Sahutnya jujur.

“Teman atau pacar? Sudah sana, bersihkan badanmu dan segera istirahat.”

“Teman. Naya akan pergi bersama cerobong asap penuh racun itu.” Naya mengulurkan tangannya ke depan.

“Baiklah. Aku selalu kalah darimu.” Frans menyerahkan batang cerutu yang masih menyala. “Hati-hati, jangan kamu hisap sendiri.” Ujarnya ketika Naya membawa pergi cerutunya.

“Tidak mungkin terjadi.” Naya terkekeh seraya melambaikan cerutu di tangannya.

“Elena, terima kasih sudah kembali.” Ucap Frans lirih, matanya menatap lurus punggung Naya yang menjauh perlahan.

Selesai mandi, Naya berbaring di ranjangnya menatap langit kamar. Otaknya berputar memikirkan potongan informasi yang dia dapatkan hari ini.

“Kalau Al yang Tere maksud adalah Alan, kakak Dante, sepertinya itu sangat mungkin. Tere orang kaya, bisa saja saling kenal. Tapi kenapa Alan ingin menjauhkanku dari Dante? Apa dia kira aku ingin mendekati adiknya?”

Naya mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan pria bernama Alan itu, saat Indra mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya kedua orangtuanya dan memberikan penawaran beasiswa padanya.

“Hmm, dia memang pria sombong dan kejam kelihatannya. Apa memang begitu sikap anak orang kaya?” Naya memposisikan kepalanya agar nyaman dan mulai memejamkan matanya.

****

Hari pertama ujian nasional telah tiba, Naya menyambutnya dengan penuh semangat. Tak dipungkiri, Naya ingin segera melepas seragam putih abu-abunya dan menapaki kehidupan perkuliahan yang lama dia impikan.

Selama ujian berlangsung, Laras meminta Bagas untuk mengantar jemput Naya agar tidak sampai terjadi masalah untuk sampai ke sekolah. Walau tidak bisa dikatakan tampan, Bagas memiliki wajah yang menarik dan perawakan yang bagus. Turun dari boncengan pria yang baru, membuat banyak mata melirik dengan sinis dan mulai berbisik menggunjingkan Naya yang mereka nilai murahan.

“Lihat tuh, emang muka badak dia. Kemarin siapa, sekarang siapa. Untung aja Tigor gak dia embat juga.”

“Belum aja. Kasihan Lusi.”

“Kalau Tigor pasti aman, motor butut gitu yang dipakai. Gak bakalan dilirik sama rubah betina.”

Naya sudah menutup kupingnya rapat-rapat, namun tetap saja ada perkataan yang mampir di telinganya.

“Nay, nanti mas jemput jam berapa?”

“Nanti Naya pulang naik angkot aja, Mas. Ada yang harus Naya kerjakan sepulang sekolah.” ucapnya berbohong.

“Sepertinya kamu sudah waktunya membeli HP. Nanti kalau mas Bagas sudah gajian, mas belikan kamu HP supaya memudahkan.”

“Gak usah, Mas. Naya ini sedikit ceroboh kalau sama barang-barang mahal.” Tolaknya halus. “Naya masuk dulu ya, Mas.”

“Semangat Nay.” Seru Bagas memberi semangat.

Ujian berlangsung dengan lancar bagi Naya. Tak terasa sudah hari terakhir. Naya berdiri lama di depan bangkunya sambil mengedarkan pandangan ke ruangan yang hampir satu tahun dia tempati.

“Akhirnya, selesai juga semuanya. Selamat tinggal ruang kelasku.” Mata Naya berkaca-kaca. Dia terharu bisa melewati satu tahun terakhir masa SMA-nya yang penuh perjuangan setelah kepergian kedua orangtuanya.

“Ngelamun aja. Mikirin apa sih, Nay?!” Lusi dan Tigor membuyarkan nostalgi.

“Gak ada, hanya mengenang banyak hal yang sudah aku lewati di sini. Ayo kita pulang.” Naya menggandeng lengan Lusi.

“Apa mas Bagas sudah datang? Atau kalau tidak, aku temani kamu naik angkot, gimana?”

“Lihat dulu aja.” Naya menarik Lusi untuk setengah berlari.

Belum ada tanda kedatangan Bagas ketika mereka bertiga sampai di gerbang sekolah. Lusi mengajak Naya duduk di bangku kayu di depan pos satpam sambil menunggu Tigor mengambil motornya.

“Kamu jadi daftar ke LaModѐ, Nay?”

“Iya, sudah daftar aku. Kamu sendiri jadi daftar ke mana?”

“Aku dan Tigor ingin mendaftar di UI, dia jurusan Teknik Sipil dan aku Kedokteran. Bagaimana menurutmu? Pantas tidak aku jadi dokter?”

“Kenapa tidak pantas? Bukankah katamu, ibumu seorang dokter? Jadi pasti menurun kecerdasannya. Semoga kita berhasil meraih cita-cita ya.” Naya merebahkan kepalanya di pundak sahabatnya itu.

Lusi hanya tersenyum mendengar perkataan Naya. Aku hanya anak angkat, Nay. Bagaimana mungkin kecerdasan ibuku menurun padaku?

“Kalau kamu, aku yakin pasti berhasil. Kamu cerdas dan tekun.” Lusi belum pernah menceritakan tentang kehidupannya secara detail pada Naya.

Pada akhirnya, Naya dan Lusi pulang menggunakan angkot diikuti Tigor dengan motornya dari belakang karena Bagas tidak kunjung datang. Mereka bertiga duduk di taman sambil menemani anak panti lainnya bermain.

“Janji ya, kita bertiga harus tetap berhubungan walau nanti akan sibuk dengan urusan masing-masing.” Lusi mengacungkan jari kelingkingnya ke depan.

“Kamu sama Tigor pasti akan terus berhubungan, khan kalian pacaran. Simpan nomer kalian di sini, kalau aku sudah bisa membeli HP aku akan hubungi kalian pertama kali.” Janji Naya seraya menyodorkan sebuah catatan kecil kemudian mengait kelingking Lusi dengan miliknya.

“Huhu, aku jadi terharu.” Lusi memeluk Naya dengan erat.

“Udah, jangan lebay ah. Seperti gak akan ketemuan lagi aja.” Teguran tigor membuat bibir Lusi makin monyong.

“Sirik aja. Kamu mana ngerti perasaan kita. Ya gak, Nay?”

“Bener kata Tigor sih, kamu lebay.” Ucapan Naya membuat tawa Tigor meledak.

“Seneng banget kayaknya.” Suara seorang gadis membuat tawa mereka terjeda.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” sapa Naya sopan menyambut tamunya.

“Kamu Naya khan? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Gadis itu melenggang pergi tanpa menunggu Naya.

“Sapa, Nay?” Naya hanya mengendikkan bahu tanda tidak mengerti dan segera bergegas mengikuti gadis muda tadi.

Kalau dilihat dari wajahnya, tebakan Naya usia mereka tidak terpaut jauh. Hanya saja, sudah bisa ditebak kalau dia berasal dari keluarga berada. Gadis itu berhenti di depan dapur dan masuk ke dapur setelah menengok ke sekitar dan memastikan sesuatu.

“Maaf, kalau boleh tahu kamu siapa? Ada perlu apa mencari saya?” Naya merasa aneh melihat gadis itu sepertinya sudah mengenal tempat ini dengan baik.

“Perkenalkan, aku Lita Hartawan. Aku hanya ingin melihatmu dari dekat. Memastikan kehebatanmu hingga mampu membuat papa tertarik padamu dan ingin menikahimu.” Aletha menyembunyikan nama aslinya.

“Hai, aku Naya. Kanaya Basuki.” Naya mengulurkan tangan yang hanya dilihat dengan sinis oleh Aletha.

Melihat perkenalannya tidak disambut baik, Naya menarik kembali tangannya. “Silahkan duduk. Mau minum apa?” Naya masih berusaha ramah karena ini adalah putri pemilik Yayasan tempat dia tinggal.

“Tidak perlu. Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu.” Aletha mengambil secarik kertas dari dalam tas mahalnya dan menyerahkannya pada Naya.

Naya mengambilnya dan membacanya dengan cermat. “Untuk apa kamu kasih cek sebesar ini padaku?”

“Jumlahnya cukup untuk membiayai hidupmu. Itu adalah penawaran dariku agar kamu menjauhi papaku. Dengan uang itu, kamu bisa membuka usaha sendiri dan mencukupi kehidupanmu. Tanpa harus menjadi parasit dalam

keluargaku.”

Kata-kata Aletha membuat Naya tersentak. Tidak pernah sekalipun dia mengira bahwa keberadaannya dianggap parasit oleh anak-anak paman Indra. Begitu banyak orang yang ingin menjauhkannya dari paman Indra.

“Terima kasih. Tapi aku tidak berniat untuk menikahi paman Indra. Selama ini aku hanya menemaninya bercerita. Kalau itu kalian anggap sebagai parasit dan mengganggu, aku akan menjauhi paman Indra tanpa perlu menerima cek darimu.” Cek itu sangat menyinggung dan melukai harga diri Naya. Entah kenapa dia begitu terluka dan merasa dirinya seperti melacur. Naya mengembalikan cek senilai satu milyar ke depan Aletha dengan yakin.

“Sombong. Aku tahu kamu miskin dan butuh uang. Tidak perlu malu mengakuinya. Atau masih kurang banyak? Aku bisa menuliskan jumlah yang lebih besar lagi. Toh kamu mendekati papaku juga karena alasan uang, bukan?”

PLAK. Naya melepaskan sebuah tamparan di pipi putih Aletha dengan sangat keras. Pertahanannya runtuh ketika kemiskinannya terus dijadikan candaan.

“Jalang!” Aletha menarik rambut Naya dengan keras hingga Naya jatuh tersungkur ke lantai dan lututnya terluka.

Saat Naya meringis kesakitan dan sibuk melihat luka di lututnya, Aletha mengambil petasan dari dalam tasnya dan menyulutnya.

“Ini peringatan dariku. Jauhi papaku dan jangan pernah muncul lagi di hadapannya.” Petasan yang sumbunya semakin pendek itu Aletha lemparkan ke arah Naya bersamaan saat Naya mendongak.

Naya terkejut dan reflek melindungi mukanya dengan lengan kanannya untuk menangkis petasan besar yang mengarah padanya.

DHUARR…!!

****

Tinggalkan jejakmu sambil menunggu cerita selanjutnya ya. Terima kasih.

1
Janitra Windarto
Lumayan
Fania kurnia Dewi
keren
Fania kurnia Dewi
Mampir,langsung suka ceritanya
DewiOmega: terima kasih sudah berkunjung. semoga terhibur dengan ceritanya.
total 1 replies
Meri Marlinda
nyimak
Yeni Eka Wijayanti
ceritanya bagus, sayang sekali yg like dan vote sedikit
Nhimasera Sera Sera
keren ada makna yg terkandung dalam cerita bahwa sebaik apapun rencana manusia pasti rencana Tuhan lebih baik lagi 👍👍👍
Elly Sari Narulita
Kasian Kanaya hidupnya selalu sedih dari kecil...
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
DewiOmega: Tunggu season 2 nya ya... 😅
total 1 replies
Elly Sari Narulita
karena dari awal niatnya Damar sudah jelek pasti hasilnya juga jelek..habis manis sepah di lepeh..hahahha kasihan...
Elly Sari Narulita
apakah harus koma dulu papi Frans ..baru menyesali perbuatannya 😠
Elly Sari Narulita
Hendry...emberrrr banget sihhhh
Elly Sari Narulita
bokiisss alannn....
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
Elly Sari Narulita
tiba tiba erica pingsan..apa dia sudah merasa mau bertemu dgn papi tua yg pemaksa??
Elly Sari Narulita
semangat ya Kanaya erica 😘
Elly Sari Narulita
ya Tuhan...kenapa ceritanya jadi bagus begini...jadi pengin baca terus..
DewiOmega: Terima kasih sudah berkunjung, Kak. Semoga terhibur dengan ceritanya. 😘
total 1 replies
Elly Sari Narulita
kesian Naya deh...
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
Elly Sari Narulita
senenggggg bacanyaaa..
semangat nanyaaa 😘😘
Coretan Senja: Hai ka kalau berkenan mampir juga yuk di ceritaku judulnya MENIKAH DENGAN MAFIA ARROGANT hehehe 🥰
total 1 replies
Elly Sari Narulita
Alllaaaaannnn....

aku padamuuuuu💖💖😀
Elly Sari Narulita
jadi esmosi sm anaknya Bu Laras😠
untung ada Alan ..
Elly Sari Narulita
jreng ..jrenggg..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
Elly Sari Narulita
Naya..Naya...berani banget sih..
aku mah udah ngacirrr 😂

tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!