Chevani Agra
Seorang janda beranak satu yang diceraikan oleh suaminya tanpa sebab.
Menjadi janda bukan lah satu hal yang menyenangkan apalagi dia harus mengurus seorang anak dan nenek reot yang mulutnya pedas bak cabe rawit.
Saban harinya ia bekerja sebagai babu dan tukang cuci dengan gaji tak seberapa, hingga suatu saat ia dipertemukan kembali dengan mantan suaminya melalui sebuah cara yang sakitnya melebihi perceraiannya kala itu.
Bagaimana kisahnya?
Yuk mampir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanda Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUSUH BIN GEMBEL
Kukuruyuuuuk.
Sahut-sahutan ayam jantan terdengar nyaring dan sukses menembus telingaku saat ini. Ah sudah pagi ternyata, badanku masih terasa lelah sekali. Semalam aku pulang pukul sepuluh malam kemudian melanjutkan sendu-sendu hatiku di dalam kamar sampai jam tiga dini hari.
Aku beringsut ke kamar kecil dan membersihkan diri di sana. Tak lupa Pricilia kubawa juga agar aku tak masuk ke tempat ini berulang kali. Masih sangat pagi, aku sungguh malas menyentuh air.
Setelah bergelut dengan dunia air aku pun keluar kamar untuk memasak sarapan pagi, Pricilia kugendong menggunakan jarik panjang.
“Mau masak apa?” Suara familiar terdengar dari arah depan.
“Yang tersisa di rumah ini hanya tiga butir telur ma. Aku akan berbelanja setelah pulang kerja hari ini.” Aku menjawab pertanyaan dari mertuaku.
Mendengar hal itu ia segera pergi meninggalkan aku di dapur seorang diri. Tidak ada guratan kekesalan di wajahnya pagi ini. Hei kenapa dia? Apa dia sudah berubah menjadi peri baik setelah kejadian tadi malam?
Aku memecahkan telur-telur itu di permukaan kuali kemudian mengosengnya dan menambahkan sedikit rajangan cabai. Ya Tuhan bahkan rempah-rempah di rumah ini pun hanya tinggal koretannya saja.
Lima belas menit bergelut dengan dunia dapur akhirnya selesai juga masakanku pagi ini. Aku hanya mengambil sedikit untuk sarapan dan sisanya kubiarkan mertuaku yang menggilingnya hingga tak bersisa. Kasihan juga kalau orang tua itu kehabisan lauk untuk siang nanti, jadi biarlah telur ini ia makan sebagai teman nasinya ketika tengah hari tiba.
“Aku pergi dulu ya ma.” Aku berjalan melintasi Bu Lastri yang tengah anteng menonton sinetron favoritnya. Semenjak Hero tidak di rumah nenek satu ini memang enggan bila tangannya ku cium sebagai tanda pamit pergi. Sebegitu bencinya ia terhadap menantunya ini sampai-sampai hanya sekedar bersalaman pun ia tidak sudi.
...***...
Saat ini aku telah menjejakkan kaki di sebuah rumah megah yang dikurung oleh pagar berwarna gold berpadu putih. Alhamdulillah Sang Maha Kuasa sangat baik dengan memberikan aku rezeki berupa materi melalui sahabatku Ratna. Kalau tidak, mungkin sekarang aku tak bisa berdiri kaki di lokasi ini karena tak memiliki uang sebagai ongkos pergi.
“Che.”
“Eh.”
Panjang umur. Baru saja aku membatin tentang Ratna kini batang hidungnya muncul di hadapanku.
“Kau baru sampai?” Ratna membuang pandangan ke seantero bangunan putih ini.
“Iya. Kau sendiri?”
“Tidak, sudah dari tadi.”
“Kemana Cici?”
“Dia sedang belajar berhitung dengan mamanya.”
“Ohiya ada apa kau kemari?”
“A- aku cuma ingin mengucapkan banyak terimakasih padamu Che.”
“Untuk?” Kedua alisku saling bertaut takkala mendengar kata “terimakasih” dari bibir Ratna. Terimakasih untuk apa? Bukaannya selama ini selalu dia yang menolongku?
“Terimakasih karena kau telah memberi sesuatu yang paling berharga bagimu untukku.”
“Ma- maksudnya?”
“Jaga dirimu baik-baik.” Ratna menepuk-nepuk lembut pundakku.
“Hei kau mau kemana?”
“Ada apa?”
Ck sialan!
Ratna pergi begitu saja tanpa mengindahkan panggilanku. Ada apa ini? Apa anak itu sedang buat tabiat? Dan sesuatu berharga apa yang ia maksud? Perasaan aku tidak pernah memberi dia emas atau pun berlian. Ah sudahlah! Aku akan bertanya kembali jika bertemu nanti.
Aku beringsut masuk ke dalam rumah lalu kutemui seorang bocah gendut dengan stelan casual yang membalut tubuh balonnya. Siapa yang sudah memandikannya pagi-pagi begini? Aku bertanya dalam hati.
Dalam hitungan selanjutnya seorang pria menyembulkan diri dari pintu kamar menuju tempat di mana kakiku sedang berjejak saat ini. Sama seperti putranya, lelaki itu berpakaian casual dengan rambut tersisir rapi ke belakang.
Apa yang akan dilakukan oleh anak dan bapak ini?
“Ayo kita pergi.” Pak Reno menghampiri aku yang masih mematung di tempat.
“Ke pasar ya pak? Baik pak.”
“Bukan.”
“Jadi?”
“Sudah lah jangan banyak tanya.”
Aku kelabakan karena dalam waktu bersamaan ayah beranak satu itu menarik menggenggam tanganku dan menuju garasi mobil.
Astaga!
Apa dia sedang tidak sadar?
Lagipula mau kemana kami?
Aku terus berjalan mengikuti langkah Pak Reno bersama Refa yang mengikuti dari belakang. Ya ampun seharusnya bocah itu yang saat ini bersama Pak Reno, bukan aku.
“Di sini saja sayang.” Aku memberhentikan langkah Refa ketika Pak Reno menuju ke garasi. Saat ini kami berada di perkarangan rumah putih nan megah ini.
Tidak butuh waktu lama kendaraan beroda empat itu telah tiba dan siap mengangkut kami ke dalamnya.
Aku menuntun Refa agar ia duduk dikursi samping kemudi kemudian aku menyusul di belakang bersama Pricilia.
“Hei kenapa kau yang di belakang?” Suara Pak Reno terdengar. Ia membalikkan tubuhnya 180 derajat ke arahku.
“Saya kan pembantunya.” Jawabku polos.
“Sekarang pindah lah ke sini dan biarkan Refa yang di belakang.”
“Kasihan Refa sendirian pak.”
“Kau tak apa kan nak kalau duduk di belakang?” Ayah dari bocah gembul itu bertanya pada seseorang yang sedang berada di sebelahnya.
“Atu nda papa di beyakang. Atu cuka kok, lebal bica yompat-yompat.”
“Kau dengar sendiri kan Chevani?”
Aduh dasar tengil.
Kenapa kau juga seolah mendukung hal ini.
Aku malu, rasanya sangat tidak pantas jongos gembel seperti aku duduk di sebelah kemudi bersama seorang lelaki yang penampilannya aduhai jauh berbeda dari pembantunya ini.
“Tapi pak-“
“Tidak ada tapi-tapian, cepatlah! Jangan memakan waktu.”
Ck sialan si Reno!
Ya sudah lah, aku menurut saja pada majikanku ini.
Aku beringsut turun dari mobil kemudian mengambil Refa dan memindahkannya ke belakang. Suntul satu itu tampak kegirangan karena ia dapat dengan bebas berlompat-lompat ria sembari menikmati pemandangan kota di belakang sana.
Tanpa menunda waktu aku pun langsung masuk dan mendaratkan bokongku di bangku sebelah kemudi. Namun sesaat sebelum itu …
Seorang wanita tengah khusyuk memperhatikan kami dari kejauhan. Ia berada di bibir jalan seraya menjinjing dua tas besar yang isinya tak dapat ditebak.
“Ratna, mau kemana dia?” Aku bergeming dalam hati.
...***...
“Yeyeye yeyeye.” Refa melompat kegirangan takkala kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota Batam. Sekarang aku baru paham kemana bapak beranak satu itu membawaku pergi.
“Kukira kita akan ke pasar. Sungguh aku tak akan mau ikut jika aku tahu kita akan ke sini pak.” Oh aku sungguh tidak enak.
Yang diajak berbicara pun tak bergeming, ia hanya mengambil langkah seraya memberi kode agar aku mengikutinya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“Hei, mengapa kau tetap di situ? Apa kau sedang berlatih untuk menjadi sebuah patung?” Suara pria bertubuh jenjang menginterupsi dari arah depan.
Benar. Aku masih membeku di tempat ini bahkan setelah ia telah melenggang pergi dan membuat jarak di antara kami. Ah aku sungguh malu. Hanya aku yang berpenampilan lusuh bin gembel di tempat ini. Dasar manusia aneh! Punya motif apa pria menawan seperti Pak Reno membawa budaknya ke tempat seperti ini.
“A- Aku tunggu di sini saja.” Aku memelas.
“Ikut atau kau kupecat!”
...***...
Bersambung
Comment, like & vote
Semoga kalian sehat selalu 🤗
masukin pavorit ah...biar tak lupa...
namax yg hero kok dibenci amat ?