Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Semenjak melihat hasil tes kesuburan Abbas mulai berubah, tidak seromantis dulu. Pulang kerja selalu malam kadang tidak pulang, Alsava sedih melihat perubahan Abbas.
Alsava mendekati Abbas yang tumben pulang sore.
"Yank, kamu sudah pulang?kamu mau makan dulu atau langsung makan?." Alsava meraih tas dan membantu Abbas membuka jasnya.
"Aku mau mandi." Ucapnya dingin. Alsava menunduk sedih.
"Kamu sekarang berubah, apa salah aku?." Tatap Alsava sedih ke Abbas.
Abbas bukannya menjawab pertanyaan Alsava, ia langsung masuk kekamar mandi.
"Aku tau kamu berubah gara-gara hasil dari tes kesuburan, aku juga sedih. Apalagi terpukul suamiku tidak bisa memberikan aku keturunan." Alsava menatap kepergian Abbas, lalu ia menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Abbas.
Sekian menit masakan sudah jadi, Alsava hanya memanaskan saja. Karena ia sudah memasak dari siang.
Abbas turun dari tangga dengan kemeja navy dan sangat tampan. Alsava melihat Abbas yang sangat rapi, lalu ia bertanya.
"Yank, kamu sudah rapi. Apa mau pergi lagi?."
"Bukan urusan mu."
"Yank." Alsava memegang tangan Abbas.
Abbas melepas tangan Abbas.
"Jangan lagi kamu menyentuh ku."
"Kenapa?aku istri mu!. Apa salah aku Yank?aku sudah ngga kuat kamu mendiamkan ku seperti ini." Airmata Alsava bertumpah ruah.
"Itu karena kamu mandul, aku malu dengan teman-teman dan rekan bisnis sampai sekarang belum punya anak. Belum lagi teman arisan Mami selalu mengolok keluarga kita." Abbas emosi.
"Tapikan dulu kamu pernah ngomong akan menerima aku apa adanya."
"Itu dulu, saat ini Gue muak melihat loe." Abbas pergi dan tak menghiraukan panggilan Alsava.
"Ya Allah, kenapa seperti ini." Alsava duduk lemas di lantai.
"Ya Allah, Gusti. Nona ngga apa-apa?." Bibi Inem panik melihat majikannya terduduk di lantai.
"Hiks... Hiks... Hiks... Bi Abbas sekarang berubah, aku harus bagaimana?." Alsava memeluk Bibi Inem.
"Sabar Non. Mungkin Tuan sedang ada masalah di perusahaan, kita doakan saja tuan cepat sadarnya." Bi Inem menepuk-nepuk punggung Alsava. Bi Inem memang ngga tau apa yang terjadi dari majikannya.
"Iya Makasih, Bi." Alsava menaiki tangga.
"Tumben tuan akhir-akhir ini mendiamkan nona Alsava, biasanya tuan selalu romantis dan ngga mau lepas dari nona Alsava. Apa mereka sedang ada masalah?." Kata Bi Inem dalam hati.
Malam harinya Papi Mario dan Mami Siska datang.
"Pi, Mi. Datang kok ngga ngabari aku dulu, kalau dadakan kaya gini aku belum menyiapkan sesuatu buat kedatangan Papi dan Mami." Alsava mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Ngga usah repot-repot sayang, papi dan Mami hanya datang berkunjung sebentar. Karena kalian sudah lama tidak pernah datang lagi ke Mansion utama, Papi kan kangen sama kalian. Oia, Abbas kemana apa masih di kamar tuh anak." Papi Mario duduk di sofa.
"Iya dimana Abbas ngga kelihatan." Tambah Mami Siska ketus.
"Mmm... itu Abbas pergi ada urusan katanya, paling sebentar lagi dia akan datang." Alsava bohong.
"Papi tau kamu bohong, nak." kata Papi Mario dalam hati dan menatap Alsava.
"Paling Abbas ketemu sama rekan bisnisnya, Pi. Aku ke kamar tamu dulu, Pi. Nanti kalau Abbas udah pulang kasih tau Mami ya, Pi." Mami Siska beranjak menuju kamar tamu, ketika melewati Alsava ia menatap tajam Alsava.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luangkan jempol mu tuk berikan thorr like biar Author semangat nulisnya...