Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih utama proses atau hasil?
Ternyata tidak semua hal membutuhkan proses, tapi hanya mau melihat hasil. Tidak peduli prosesnya bagaimana tapi yang terpenting hasilnya luwaaarr biyasahh!!
Seperti malam ini, awal dari pertanyaan ringan "Bagaimana harimu hari ini, Bu" dan "Bagaimana harimu hari ini, Pak" ternyata bisa bisa membuat mereka begadang dengan pemekaran jawaban yang berbeda sudut, arti dan juga kacamata sang pelihat itu sendiri.
Berawal dari Banu yang menceritakan tentang hasil closing bulan lalu, pemberian SP untuk karyawan yang tidak memenuhi target 3 bulan berturut-turut, sampai atasan yang tidak mau tahu bagaimana cara para bawahan bekerja sehingga mendapatkan hasil yang perusahaan minta.
Bagi Banu, proses tidaklah penting, yang terpenting ialah hasil.
Berbeda dengan Rena, baginya hasil nomor sekian sedangkan proses itu utama.
Penempatan berpikir yang tidak ditempatkan dijalur yang benar memang tidak bisa dibenarkan. Bagi Banu, apapun caranya harus dia lakukan agar target perusahaan tercapai. Entah itu harus memberi dana talangan pribadi bila memungkinkan atau berkolaborasi dengan marketing untuk mendapatkan solusi terbaik. Baginya atasanya tak mau tahu bagaimana para karyawan berproses, mereka hanya ingin hasilnya. Titik!!
Rena hanya bisa mendengarkan Banu menjelaskan, sebelum akhirnya dia membuka mulut.
"Kalau dalam dunia pendidikan itu, apalagi di Kelompok Bermain, hasil tidak melulu sempurna. Yang terpenting adalah dalam prosesnya. Bagaimana anak memahami suatu masalah, usahanya untuk memecahkan masalah, cara mereka menyikapi masalah, sampai mereka benar-benar menemukan hasil dari pemecah masalah tersebut, Pak. Jadi kita sebagai guru itu mengarahkan, membimbing dan mensuport apa yang dilakukan oleh anak. Dengan begitu anak jadi tahu dimana letak salah mereka, dimana anak harus berbenah dan sikap apa yang anak harus tunjukan ketika apa yang sedang anak hadapi itu menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati serta keinginannya." Rena menjelaskan secara rinci. Dia tidak begitu setuju dengan pandangan suaminya ketika di sudut pandang dia mengatakan proses tidak penting yang terpenting adalah hasilnya.
"Bu, duniamu dengan duniaku berbeda. Mungkin di dunia pendidikan seperti itu, tapi di dunia bisnis tidak. Bila berpaku dengan proses hasilnya tidak akan pernah maksimal, karena apa? yang namanya penanam saham 'kan pinginnya untung, balik modal dan dapat hasil, sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya! Gak mau tahu prosesnya bagaimana yang penting harus target aja. Uangnya kembali, untung banyak. Gak mau tahu caranya bagaimana. Wong atasan Bapak juga sama atasannya lagi ibaratnya diteken biar target. Lah otomatis dia juga neken anak buahnya dong! Gampang aja, 3 kali gak target SP! " Banu meraih minumannya. "Jaman sekarang mecat orang gampang, apa lagi yang udah karyawan tetap, malah perusahaan gak dirugikan. Gak ngasih pesangon, karena kesalahan dari karyawan itu sendiri. Gak kasih THR lagi, karena nantinya pegawai yang direkrut juga outsourcing paling berapa bulan, nantinya ganti lagi, ganti lagi. Mereka lebih pintar dari kita. Gak mau rugi lah, Bu!" Banu melanjutkan panjang lebar.
"Berarti semuanya memang harus ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan aturan ya, Pak? Berarti ya memang semuanya benar asal sesuai dengan dari mana sudut pandang itu, tapi kalau menurut Ibu ya, kalau hanya melihat hasil tanpa proses itu nanti jatuhnya gak berkah pak?" Rena menerawang.
"Apanya yang gak berkah si bu? " Banu yang tadinya sudah slow dibuat tegang lagi, memang dia harus ekstra hati-hati kalau sudah berurusan dengan sang istri.
"Iya iya, misal nih bapak di target sekian nah bapak gak bisa target nih, padahal kurang dikit. Pasti bapak pinjem uang tabungan Adek kan buat nombokin. Itu kan proses yang gak bener pak. Sama aja bohong. Dosa. Jatuhnya nanti gak halal gimana kalau hanya mikirin target dan target? " Rena mencerca suaminya
"Sebenarnya gak bohong bu, 'kan mereka udah janji mau balikin, bapak juga nombokin udah atas persetujuan mereka, mereka juga sama-sama diuntungin 'kan? gak kena denda. Ya sama-sama enak lah bu, kalo boleh dibilang simbiosis mutualisme. Bapak target dan dia gak kena denda. Sama aja juga kita nolong orang, ibadah. Dapet pahala dobel loh, Bu." Banu yang merasa sudah bisa mengalahkan istrinya dengan pikiran yang logis dan masuk akal sudah mulai sorak sorai dalam hati.
"Ahh udah ahh males ngomong sama Bapak, Ibu. Udah akh, udah malem mau bersih-bersih badan". Rena beranjak pergi sementara Banu tertawa tertahan. Bahaya kalau sampai ketahuan ngetawain istrinya 😁
Rena merebahkan badannya, disusul kemudian oleh Banu.
"Pak, Bapak suka mikir gak sih kalau hidup kita itu gini-gini aja? " Rena membuka percakapan tapi dengan badan membelakangi Banu.
"Maksud ibu gini-gini gimana nih? " Banu memperjelas.
"Iya, apa selamanya ibu bakal jadi guru KB yang masa depannya pun belum tau mau bagaimana. Sementara untuk standar kualifikasi di tinggiin, kadang ibu ngerasa engga adil deh. Padahal segalanya kan diajarkan dari KB, dari mulai melakukan pembiasaan sampai dengan kegiatan lainnya." Rena membalikan badannya menghadap Banu.
"Bu, gak usah mikir masa depan, masa depan itu urusan Allah, kita tinggal jalanin aja. Katanya tadi semua butuh proses. Ya mungkin Allah lagi ingin ibu berproses dulu kali, biar lebih sabar, lebih ikhlas lagi. Mungkin selama ini ibu gak ikhlas kali jadi mikirnya macem-macem. " Banu duduk, menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
"Anggep aja ibu melakukan semuanya ini buat tabungan masa depan, bila tidak dituai sama ibu, bisa dituai sama anak-anak kelak. Ingat juga loh, Bu, rejeki tidak melulu harus berupa materi. Kita sehat pun rejeki, dikelilingi orang baik rejeki. Ibu juga tuh contohnya, ibuk kan harusnya bersyukur sudah lulus kuliah, alhamdulillah gak pernah kekurangan kaya orang-orang. Udah gak usah kebanyakan mikir. Malah bikin ruwet. Jalani , syukuri. Berdoa semoga keluarga kita senantiasa diberikan kesehatan keselamatan selalu diberkahi dan dirahmati Allah!" ujar Banu.
"Aamiin!" balas Rena sambil memeluk suaminya.
"Bukannya aku gak bersyukur yah, cuma kalo lihat mereka rasanya gimana gitu!" Rena menjawab
"Nah maka dari itu turunkan pandangan mu, jangan menatap ke atas selalu, selali-kali lihat bawah kamu, samping kiri kanan kamu. Karena kamu terlalu fokus lihat ke atas sampai kamu sendiri tidak menikmati apa yang kamu punya. tidak mempedulikan orang di sekitar kita." Istighfar, Bu.. Banu mengusap kepala sang istri
"Astaghfirullah"
"astaghfirullah"
"astaghfirullah"
Rena menghela nafas panjang, beristighfar.
"Memang benar, apa-apa yang tidak kita syukuri akan selalu kurang. Dan taukah kamu, Allah paling membenci hambanya yang tidak pernah mau bersyukur. Barang siapa yang bersyukur Allah akan menambah nikmatNYA, tapi bila ingkar, sungguh siksanya sangat pedih." Banu mengingatkan
. "Maaf ya!" ucap Rena sendu.
"Udah ah, ayok! udah malem bobok"
Banu memeluk erat sang istri.
sepedih cabe ini diulek di cobek kasih bawang putih, di siram minyak bekas gorang jjjrrrreeeesssssssss, pedeseee..
Memang sebaik-baiknya hubungan adalah yang sehat dalam berkomunikasi.
dan komunikasi adalah kunci utama dan pertama hubungan awet.
Jangan lupa klik jempol dan tambahkan ke favorit ya gaes😘😘
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...