Hans seorang pemuda yang giat belajar. Berteman dengan dua orang Andika dan Febri.Mereka seperti saudara saling membantu dan menolong.
Tiba-tiba persahabatan itu sedikit tergoyahkan setelah datang seorang gadis jelmaan.Dia adalah cucu angkat dari nenek yang ditolong oleh Hans dan gadis yang sudah lama hilang.
Bagaimana persahabatan mereka selanjutnya,nantikan karyaku yang kedua ini
Nantikan detik-detik terkuaknya misteri Gedung Tua ini.
Terimakasih sudah membaca novelku yang kedua ini kritik dan saran dangat author harapkan agar menjadi naskah yang sempurna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Maaf author baru bisa Update terimakasih sudah setia dengan novelku happy reading 📖📖
sentuh like & vote 💖💖💖
***
Mereka sejenak beristirahat di rumah kosong milik adik pak Mardi. Diam tak ada yang mengucap apa-apa. Meninggalkan rumah itu bergelut dengan pikiran masing-masing.
Pak Mardi tetap tinggal di rumah itu berharap bertemu dengan kedua orang yang ada di dalam gua tadi.
Setelah membersihkan diri kemudian istirahat. Walaupun rumah itu kosong tak ditempati tapi masih bersih dan serasa ada yang menghuninya. Pak Mardi sendiri juga heran, karena ia tak pernah menyuruh orang untuk membersihkannya.
Dalam tidurnya pak Mardi bermimpi dan yang membuat hatinya sangat sedih.
***
Seorang nenek dan gadis manis berdiri tak jauh darinya. Memandang kearahnya seperti minta pertolongan. Hanya menatap tak bicara. Pak Mardi juga tak bisa berkata-kata.
Tenggorokannya kering tak ada yang bisa ia lakukan. Selain mengulurkan tangan dengan beratnya kepada keduanya. Ia pun terjaga dari mimpinya dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
**
Hans dan teman-temannya yang sampai di rumah sudah hampir magrib. Tentu saja mendapatkan ceramah yang panjang dari orang tua masing -masing.
" Kamu dari mana sampai basah kuyub gitu dan pulang telat? " tanya ayah.
Hans melihat orang tuanya berharap tidak memberinya ceramah terlalu banyak segera menjawab
" Hans dari air terjun yah "
" Dengan siapa? Andika dan Febri? " tanya ibunya.
Hans mengangguk " iya dan sama pak Mardi "
" Siapa itu pak Mardi ? " ayah menghentikan aktifitasnya makan dan melihat ke arah anaknya.
Mulai lagi pasti nih anak, bukan belajar yang baik malah cari masalah saja
Hans tahu apa yang dipikirkan ayahnya maka segera memberikan alasan
" Itu yah, dia orang yang punya rumah kosong, yang Hans ceritakan dulu. Anak dan ibunya hilang "
" Kamu ini kenapa ngurus hal seperti itu hah? urusan polisi kalau ada anggota keluarga hilang. Bukan belajar yang baik malah aneh-aneh " kata ayahnya kesal meninggalkan meja makan.
Hans terkejut dan melihat ke arah ibunya. Memberi isyarat supaya Hans diam" biar ibu yang bujuk ayah kamu lanjutkan makannya "
" Maafkan Hans ya bu, gak bakalan nyusahin kalian. Janji Hans tetap belajar dengan giat " ucapnya mengiba.
Ibu mengelus putranya, ia tahu naluri Hans tidak bisa tinggal diam ketika ada sesuatu yang mengusiknya.
Suaminya pasti hanya kesal saja. Ekonomi mereka hanya pas-pas an, kalau anaknya tak belajar giat bagaimana nasib masa depannya. Hanya itu yang ada dipikirkan suaminya.
Ibu masuk ke dalam kamar sedangkan Hans masuk ke kamarnya.
" Hem ... " Ibu memegang lembut lengan suaminya. Ia tahu jika suaminya marah dengan anaknya selalu begini.
Kejadian beberapa tahun yang lalu membuatnya sedikit mengekang kegiatan Hans. Pernah hilang beberapa hari di dalam alam gaib. Anaknya itu jiwa petualangannya hampir sama, tapi yang namanya orang tua tetap saja khawatir.
" Kamu jangan bela anakmu, dia sudah keterlaluan. Pekerjaan polisi di singgungnya, memang mau jadi detektif apa ?"
" Ayah lupa siapa Hans ? Ingat jaman kita muda dulu dong? he he ... "
" Apa sih bu? " merah juga wajah si ayah diingatkan masa mudanya. Dulu dia lebih parah dari Hans petualangannya. Maklumlah orang tuanya sangat mendukungnya.
" Aku hanya tak ingin anak kita sepertiku, aku takut terjadi apa-apa" ayah Hans kini menatap istrinya yang tersenyum mengenang masa mudanya.
" Ibu dulu senang dengan petualangan ayah, kesengsem he he.. "
Ayah mendengarkan ucapan istrinya membuatnya sedikit merona.
Lucu ya biasa biasanya perempuan yang merah mukanya sedangkan ini laki - laki hedehh...
" He he.. jatuh cinta sama orangnya apa petualangannya?" ayah mencubit gemas pipi istrinya.
" Keduanya dong yah, sangat keren kulihat andai bisa diulang kita muda lagi?" melihat wajah suaminya sangat senang.
" Enggak ... cukup dulu saja, memangnya kalau aku gak jadi petualang lagi kamu gak cinta lagi ? "
" Gitu aja ngambek yah, aku cuma ingatkan jangan terlalu keras sama Hans. Bagaimanapun juga dalam darahnya mengalir darah ayah juga kan?"
" Ayah takut bu, jika tak bisa menjaga amanah dari Allah untuk kita. Aku kepala keluarga masih harus cari duwit buat makan kita biar tak kelaparan "
" Iya ibu ngerti kog, ibu terima ayah apa adanya yang penting kasih sayang ayah jangan luntur pada kita "
" Gak akan bu, sudah ayo tidur besuk kerja cari uang yang banyak " ayah sedikit lega bisa mengeluarkan uneg - uneg dalam hatinya.
" Beneran langsung tidur yah? "
Ih.. Bisa-bisanya ibu godain ayah
" Maunya apa hem? jangan nantang kamu... ?"
Mereka sama-sama lega setelah aktifitas malamnya. Saling mencurahkah isi hati yang gundah akibat ulah anaknya. Tapi mengambil solusi buat kebaikan bersama.
Sedangkan Hans di dalam kamarnya masih terbayang kejadian hari itu. Andai saja gadis manis itu bisa di tanyainya, tapi tidak bisa.
Ada rasa ketertarikan padanya untuk terus melanjutkan petualangan itu.
Masih tanda tanya dan teka teki yang belum terpecahkan di sana.
Kenapa aku lupa lihat foto anak dan nenek pak Mardi ya? paling tidak bisa mengenalinya tidak menebak-nebak seperti ini. Kapan aku ke sana lagi yah? Tapi siapa mereka yang di dalam gua itu? pak Mardi juga tak mengenalinya, atau malah orang lain yang tinggal di sana ?
Semua pertanyaan menggantung di pikiran Hans sebelum tidur. Gelisah hingga akhirnya terlelap karena kelelahan.
***
Pagi harinya cuaca sangat cerah
Hans biasa membantu orang tuanya bersiap ke pasar setelah azan subuh.
" Ayah, Hans minta maaf ya ? janji belajar dengan baik. Beberapa minggu lagi ujian tengah semester. Mohon doanya biar lancar" ucapnya sambil mengangkat barang - barang masuk ke dalam kantong jinjing.
" Hem.. Hans seorang ayah akan selalu mendoakan anaknya. Akan khawatir kalau sampai nyerempet bahaya, apa ngerti itu? "
" Ngerti yah , ini sudah yah barangnya mana lagi? "
" Udah cukup, sekarang lagi sepi jualannya, ayah ingin mengerjakan sesuatu biar pendapatan kita bertambah. Kalau gini terus kamu gak bisa kuliah nak " ucap ayah sedih hingga berkaca-kaca kaca.
" Ayah gak usah khawatir, Hans akan giat belajar biar bisa dapat beasiswa"
" Makanya kamu belajar yang rajin jangan urusi urusan orang lain. Itu bukan tugasmu! "
" Iya yah, Hans ngerti "
" Ayo sarapan dulu! "
Saat di meja makan..
" Hans kamu tahu enggak, dulu ayah petualangannya malah lebih dari kamu saat ini? "
Hans melihat kedua orang tuanya sangat penasaran " masak yah? kalau gitu Hans boleh dong lanjutin yang kemaren? "
" Ayah beritahu ini bukannya membolehkan kamu buat ngelunjak ya? "
" Trus apa dong? "
" Itu biar kamu gak seperti ayah, miskin gini karena sibuk petualang lupa kuliah! "
" Hans gak akan lupa itu yah, tenang saja "
" Anak dibilangi ngeyell saja "
" Karena ayah sudah pengalaman makanya aku hati-hati . Gak akan lupa kewajiban. Ehh ... maaf yah kemaren lupa sampai gak sholat " ucapnya mengingat-ingat.
" Hanss..... mau ku hajar kamu yahh.. !!!!"
***
🌼🌼🌼🌼🌼💖💖📖📖✒✒
tetap semangat thorr.💪
Thanks thorr udah mau mampir🙏🤗😁