Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE TRIDEVA
Pagi telah tiba di Magic Village.
Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah ketika aktivitas warga mulai memenuhi jalan utama. Beberapa Wizard berjalan menuju tempat latihan, sementara sebagian lainnya membuka toko yang menjual berbagai kebutuhan Magic. Di salah satu sudut desa, beberapa anak muda sedang berlatih mengendalikan Magic Circle mereka di bawah pengawasan seorang Wizard yang lebih tua.
Magic Village tidak pernah benar-benar ramai, tetapi selalu memiliki aktivitasnya sendiri.
Di antara bangunan-bangunan tersebut terdapat sebuah bangunan yang sedikit lebih besar daripada rumah warga lainnya. Bangunan itu menjadi tempat para pemimpin Magic Village menjalankan berbagai urusan desa.
Di dalam sebuah ruangan, seorang pria tua duduk di belakang meja kayu.
Rambutnya telah memutih sebagian, tetapi tatapannya masih terlihat tenang dan berwibawa.
Ia adalah Devraj Varma, Tetua Magic Village.
Di hadapannya berdiri tiga orang Wizard.
Aarav Vashisht.
Rudra Kaul.
Ishaan Varma.
Ketiganya merupakan tiga Magician Class 0 yang dimiliki Magic Village.
Di antara para anggota Faksi Magic, ketiganya dikenal dengan satu gelar, yaitu The Trideva. Gelar tersebut diberikan kepada tiga Magician Class 0 yang dianggap sebagai puncak penguasaan Magic di era modern. Keberadaan mereka menjadi salah satu pilar yang menjaga keseimbangan dan perdamaian di Nexoria.
Devraj meletakkan sebuah laporan di atas meja. “Sirhan menghilang.”
Ruangan menjadi hening.
Aarav menatap laporan tersebut. “Maksud Anda, dia tidak berada di tempat pengasingannya?”
Devraj mengangguk. “Benar.”
Rudra mengerutkan kening. “Sejak kapan?”
“Tidak ada yang mengetahui secara pasti.”
Ishaan mengambil laporan tersebut dan membacanya sekilas. “Tidak ada penjaga yang melihatnya pergi?”
“Tidak.”
Aarav menyandarkan tubuhnya. “Jadi dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.”
“Sepertinya begitu,” jawab Devraj.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mereka semua mengetahui alasan Sirhan diasingkan. Karena itu, kepergiannya bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Rudra akhirnya membuka suara. “Apakah ada yang tahu ke mana dia pergi?”
“Tidak.”
Ishaan mengembalikan laporan ke atas meja. “Kalau begitu masalahnya lebih besar daripada sekadar dia meninggalkan tempat pengasingan.”
Aarav menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Sirhan bisa saja sudah meninggalkan wilayah Magic.”
Rudra terdiam.
Devraj tidak langsung menjawab.
Ishaan melanjutkan, “Kalau dia memasuki wilayah faksi lain dan melakukan sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, mereka mungkin tidak akan peduli apakah dia masih berada dalam pengasingan atau tidak.”
Aarav memahami maksudnya.
“Mereka bisa menganggap itu sebagai tindakan seorang Wizard.”
“Dan pada akhirnya,” lanjut Rudra, “Magic Village yang akan ikut terkena dampaknya.”
Devraj mengangguk pelan. “Itulah yang menjadi kekhawatiranku.”
Aarav berdiri dari kursinya. “Kalau begitu kita harus segera menemukannya.”
“Aku setuju,” jawab Rudra.
Ishaan masih terlihat berpikir. “Kita tidak tahu tujuan Sirhan. Mengejarnya tanpa informasi juga bisa membuat kita kehilangan jejak.”
Aarav menatapnya. “Lalu apa rencanamu?”
“Cari tahu ke mana dia pergi terlebih dahulu.”
Devraj memperhatikan ketiga Class 0 tersebut.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menganggap Sirhan sebagai musuh. Kekhawatiran mereka justru muncul karena mereka mengetahui betapa mudahnya satu tindakan dapat menimbulkan kesalahpahaman antar-faksi.
Devraj kemudian berkata, “Kita tidak boleh membiarkan Sirhan berjalan terlalu jauh tanpa pengawasan.”
Ruangan kembali hening.
Aarav, Rudra, dan Ishaan saling memandang.
Mereka bertiga tahu apa yang harus dilakukan.
Namun pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan pergi mencarinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Sirhan diasingkan, tiga Magician Class 0 harus turun tangan karena keberadaannya.
Aarav, Rudra, dan Ishaan masih berdiri di hadapan Devraj. Tidak ada yang langsung memberikan keputusan.
Rudra menyilangkan kedua tangannya. “Kalau kita mengirim seseorang untuk mencarinya, orang itu harus bisa bergerak tanpa menarik perhatian.”
Ishaan mengangguk. “Terutama jika Sirhan sudah meninggalkan wilayah Magic.”
Aarav menatap keduanya. “Kita tidak tahu ke mana dia pergi. Bisa saja dia menuju wilayah Esper.”
“Esper City tidak terlalu bermasalah,” jawab Ishaan. “Wilayah mereka terbuka. Siapa pun bisa datang selama tidak membuat masalah.”
Rudra mengangguk. “Betul. Yang perlu kita hindari justru Scientist City. Keamanan mereka jauh lebih ketat. Kalau seorang Wizard masuk ke sana tanpa alasan yang jelas, mereka pasti akan mempertanyakannya.”
Devraj diam mendengarkan.
Aarav kemudian berkata, “Itu sebabnya pencarian ini harus dilakukan secara diam-diam.”
“Benar,” jawab Rudra.
Ishaan menatap Devraj. “Kalau faksi lain mengetahui bahwa salah satu Wizard Class 0 sedang mencari Sirhan di luar wilayah Magic, mungkin masalahnya bisa menjadi lebih besar dari yang kita bayangkan.”
Devraj menghela napas pelan. “Kita bahkan belum tahu apakah masalah benar-benar akan terjadi.”
“Memang,” kata Rudra. “Tapi lebih baik mencegahnya sebelum terjadi.”
Aarav terdiam beberapa saat. Kemudian ia maju selangkah. “Aku yang akan pergi.”
Rudra dan Ishaan langsung menoleh kepadanya.
“Kamu yakin?” tanya Ishaan.
Aarav mengangguk. “Aku yang paling cocok untuk melakukan pencarian ini.”
Rudra menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, kamu harus berhati-hati.”
“Aku tahu.”
Devraj mengambil kembali laporan tentang Sirhan dan menutupnya. “Jangan libatkan faksi lain jika tidak diperlukan. Cari Sirhan, pastikan dia baik-baik saja, lalu bawa dia kembali.”
Aarav mengangguk. “Baik, Tetua.”
Devraj menatapnya dengan serius. “Dan Aarav.”
Aarav berhenti.
“Jangan sampai keberadaanmu justru menimbulkan masalah yang sedang kita cegah.”
Aarav tersenyum tipis. “Aku mengerti.”
Ia kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan.
Rudra memperhatikannya sampai pintu tertutup. “Semoga Sirhan tidak pergi terlalu jauh.”
Ishaan menjawab pelan, “Aku justru penasaran apa yang sedang dia cari.”
Devraj tidak menjawab.
Di luar ruangan, Magic Village tetap berjalan seperti biasa. Warga masih beraktivitas, para Wizard masih berlatih, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa salah satu penyihir terkuat di desa mereka akan segera meninggalkan wilayah tersebut.
Bagi warga Magic Village, hari itu hanyalah hari biasa.
Namun bagi Aarav, sebuah misi pencarian baru saja dimulai. Dan ia harus melakukannya tanpa menarik perhatian siapa pun.
Sementara itu, di tempat lain, Sirhan telah tiba di Esper City.
Ia berjalan menyusuri salah satu jalan utama kota dengan langkah tenang. Berbeda dengan Magic Village yang cenderung tertutup, Esper City terasa jauh lebih terbuka. Berbagai macam orang dapat ditemukan di sini, termasuk mereka yang berasal dari wilayah lain.
Sirhan memperhatikan keadaan di sekitarnya.
‘Kalau ingin mencari kriminal, mungkin kota seperti ini lebih mudah.’
Ia tidak memiliki tujuan yang jelas. Yang ia butuhkan hanyalah seseorang yang bisa dijadikan vessel untuk Revival Magic. Karena itu, mencari seseorang yang memiliki catatan kriminal akan jauh lebih mudah dilakukan di tempat seperti Esper City.
Sirhan terus berjalan.
Namun tidak lama kemudian, suara keributan terdengar dari sebuah toko di seberang jalan.
“Jangan bergerak!”
Beberapa orang bersenjata keluar dari dalam toko. Salah satu dari mereka membawa sebuah tas yang terlihat penuh.
Warga yang berada di sekitar langsung menjauh.
Sirhan berhenti. Ia memperhatikan para perampok tersebut.
‘Sepertinya keberuntunganku cukup baik hari ini.’
Para perampok mulai berlari meninggalkan tempat itu.
Sirhan mengangkat salah satu tangannya. Sebuah Magic Circle mulai terbentuk di hadapannya.
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, cahaya tiba-tiba turun dari atas.
BRAK!
Kilatan cahaya menghantam tanah tepat di depan para perampok.
Mereka terpaksa berhenti.
Sirhan menurunkan tangannya. ‘Apa?’
Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi, seseorang melesat dengan kecepatan tinggi.
Seorang wanita bergerak melewati mereka dalam sekejap.
DUK!
Salah satu perampok terjatuh.
Wanita itu langsung berbalik dan menghantam orang kedua sebelum ia sempat mengangkat senjatanya.
DUK!
Orang ketiga mencoba melarikan diri. Namun wanita tersebut kembali mengejarnya. Dalam beberapa detik, seluruh perampok telah jatuh satu per satu.
Sirhan hanya berdiri memperhatikan.
Wanita itu berhenti beberapa meter darinya.
Rambut hitam sebahunya bergerak tertiup angin. Tubuhnya dikelilingi energi yang membuat pergerakannya jauh lebih cepat daripada manusia biasa.
Alicia Vania.
Di sisi lain, seorang wanita berkacamata berjalan mendekati lokasi kejadian.
Ia adalah Neira Zuri.
Cahaya yang sebelumnya menghantam tanah perlahan menghilang dari udara.
Neira menatap para perampok yang telah jatuh. “Sudah selesai.”
Alicia mengangguk. “Iya.”
Sirhan memperhatikan keduanya. Ia kemudian melihat sisa cahaya yang masih menghilang di udara. “Yang tadi…”
Neira menoleh kepadanya.
Sirhan menatapnya beberapa saat. “Kamu yang menggunakan cahaya itu?”
Neira mengangguk. “Benar.”
Sirhan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Alicia. “Dan kamu?”
Alicia memasukkan tangannya ke saku. “Kenapa? Ada apa denganku?”
Sirhan memperhatikan energi yang masih tersisa di sekitar tubuh Alicia. “Kecepatanmu bukan sesuatu yang biasa.”
Alicia tersenyum kecil. “Memangnya kamu siapa sampai bisa menilai kami begitu?”
Sirhan tidak menjawab. Ia justru kembali melihat para perampok yang tergeletak di tanah.
Kemudian sebuah pikiran muncul di benaknya.
Mungkin keberadaanku di kota ini memang tidak sia-sia.
Namun Sirhan belum mengetahui bahwa pertemuan singkat tersebut akan membuat pencariannya menjadi jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.