NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: BIOLA TANPA SENAR DAN GEMA YANG TERSISA

Keheningan Kediaman Pratama pasca-badai RUPSLB tidak serta-merta membawa ketenangan murni. Bagi Kirana, kedamaian yang melingkupi rumah berarsitektur modern-klasik itu justru terasa seperti kaca tipis yang sewaktu-waktu bisa retak hanya karena sebuah desah napas yang terlalu keras.

Pagi baru saja merayap di atas langit Jakarta, membias sinar keemasan yang menembus tirai tipis kamar utama. Di sampingnya, Aris masih tertidur lelap. Wajah pria itu yang biasanya dipenuhi garis-garis tegas nan dingin, kini tampak begitu rapuh dan polos dalam lelapnya. Napasnya teratur, memburu pelan di balik dada bidang yang naik-turun. Kirana tertegun lama, memandangi garis rahang suaminya. Jemari lentiknya melayang di atas udara, enggan benar-benar menyentuh kulit Aris karena takut memecahkan ilusi kebahagiaan yang sedang mereka nikmati.

Di dasar dadanya, rasa bersalah itu masih membelit erat seperti benang berduri. Mas Aris mencintaiku karena ia percaya aku adalah wanita paling jujur di hidupnya, batin Kirana, dadanya berdenyut nyeri. Tapi kenyataannya, aku adalah pemegang rahasia terbesar yang merampas kebenaran tentang darah dagingnya sendiri.

Kirana menyibak selimut perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia melangkah keluar kamar dengan piyama sutra berwarna merah muda pucat. Mengunjungi kamar anak-anak adalah ritual pertamanya setiap pagi.

Di kamar ber cat biru lembut, Leo dan Maya masih terlelap. Maya memeluk boneka kelinci kumalnya dengan mulut sedikit terbuka, sementara Leo melilitkan kakinya pada guling. Kirana mendekat, merapikan selimut kedua anak itu, lalu mengusap dahi Leo yang hangat. Hatinya berdesir. Kedua anak ini—anak-anak dari Raymond Wijaya, pria yang kemarin rela melepaskan harga diri dan ambisi seumur hidupnya demi melindungi senyuman mereka.

"Ibu..." gumam Maya dalam tidurnya, mengerjap-erjapkan mata bulatnya yang masih dibalut kantuk.

Kirana tersenyum manis, berlutut di samping tempat tidur. "Iya, Sayang? Ibu di sini. Mau bangun sekarang?"

Maya menggeleng pelan, lalu merangkul leher Kirana rapat-rapat. "Jangan pergi ke kantor lagi sama Papa... Maya mau meluk Ibu seharian."

Aroma khas anak-anak dan kehangatan tubuh Maya membuat tenggorokan Kirana menyempit. Ia membalas pelukan itu dengan seluruh ketulusan jiwanya. Perjuangan awal saat ia pertama kali melangkah ke rumah ini—di mana Leo melemparkan mainannya dan Maya menangis histeris menolak disentuh oleh "wanita asing"—seolah baru terjadi kemarin. Dulu, status ibu tiri terasa seperti label terkutuk yang dilekatkan masyarakat padanya. Wanita muda umur dua puluh empat tahun yang dituduh mengincar harta seorang duda kaya. Namun kini, bisikan "Ibu" dari bibir mungil Maya adalah pembalasan paling manis atas semua penghinaan yang pernah ia telan bulat-bulat.

"Ibu tidak ke mana-mana, Maya," bisik Kirana, menyembunyikan getar suaranya di pundak kecil anak itu. "Ibu akan selalu di sini."

Pukul sepuluh pagi, Kediaman Pratama mendadak kedatangan seorang tamu yang tak terduga. Pak Wijaya melangkah ke ruang keluarga tempat Kirana sedang membantu Leo merakit maket istana kertas untuk tugas sekolahnya.

"Nyonya..." Pak Wijaya membungkuk sopan, namun raut wajahnya mengisyaratkan kecanggungan yang tak biasa. "Ada pengiriman khusus dari Wijaya Mansion. Seseorang mengantarkannya langsung dengan instruksi tegas bahwa ini harus diserahkan pribadi kepada Anda."

Kirana mengerutkan dahi. "Dari Tuan Raymond?"

"Bukan Tuan Raymond langsung, Nyonya, melainkan sekretaris pribadi Beliau," jawab Pak Wijaya pelan.

Kirana meminta Leo melanjutkan pekerjaannya sebentar, lalu melangkah ke area serambi depan. Di atas meja marmer foyer, tergeletak sebuah kotak kayu jati berukir kuno dengan kunci perak yang tergantung di gagangnya. Tidak ada surat, tidak ada kartu nama. Hanya sebuah ukiran kecil berhuruf S.W. di sudut kanan bawah kotak tersebut.

Shinta Wijaya. Mendiang istri Raymond. Ibu biologis dari Leo dan Maya.

Dengan tangan gemetar, Kirana memutar kunci perak itu. Tutup kotak kayu terangkat pelan, mengeluarkan aroma harum kayu cendana tua dan kertas lapuk. Di dalamnya, layaknya sebuah harta karun emosional yang terkunci puluhan tahun, terdapat sekumpulan barang pribadi milik Shinta.

Sebuah buku harian bersampul kulit yang sudah mengelupas, beberapa lembar foto hitam-putih, dan yang paling mencolok—sebuah biola kecil berukuran anak-anak yang senarnya telah terputus seluruhnya.

Di atas biola itu, tergeletak selembar kertas memo dengan tulisan tangan yang rapi namun agak goyah:

"Untuk Kirana,

Biola ini milik Shinta sewaktu ia kecil. Ia selalu bermimpi mengajarkan anak-anaknya memainkan simfoni kehidupan yang indah. Namun, takdir memutus senar-senar itu sebelum melodi sempat tercipta.

Kemarin sore, aku sadar... bukan aku, dan bukan pula kenangan masa lalu yang bisa menyambung kembali senar yang patah itu. Kau telah melakukannya tanpa perlu memetik satu pun nada. Kau telah memberikan musik pada hidup Leo dan Maya.

Simpanlah barang-barang ini. Berikan pada mereka saat mereka cukup dewasa untuk memahami bahwa ibu biologis mereka mencintai mereka, dan ibu tiri mereka menyelamatkan mereka.

R.W."

Airmata Kirana menetes, jatuh tepat di atas permukaan kayu biola yang kusam. Sindiran takdir begitu tajam menyengat dadanya. Dunia luar melihatnya sebagai wanita beruntung yang berhasil "naik kelas" dengan menikahi pengusaha kaya raya. Dunia membayangkannya duduk di atas puncak kemewahan sebagai nyonya rumah Kediaman Pratama. Namun tidak ada yang tahu, di balik dinding-dinding megah ini, ia adalah seorang penjaga makam rahasia. Ia memikul dosa-dosa masa lalu dari dua keluarga raksasa yang saling membenci, demi memastikan generasi berikutnya tidak hancur oleh kebenaran yang kejam.

"Kirana?"

Suara panggilan dari arah pintu masuk membuat Kirana terkejut setengah mati. Ia refleks menutup kotak kayu itu rapat-rapat dan berdiri.

Aris melangkah masuk, jas hitamnya terlampir di lengan. Pria itu menatap istrinya dengan dahi berkerut, menyadari raut wajah Kirana yang pucat serta jejak air mata yang belum sempat diusap.

"Mas Aris? Kenapa... kenapa sudah pulang? Ini baru jam sebelas siang," tanya Kirana, berusaha menata napasnya agar terdengar biasa.

Aris memiringkan kepalanya, matanya yang tajam menatap kotak kayu di meja foyer, lalu beralih mengunci pandangan Kirana. Aura intimidasi yang biasa ia bawa dari papan atas korporasi mendadak menguar halus di udara.

"Aku lupa membawa berkas audit penting untuk rapat siang nanti," ujar Aris pelan. Langkah kakinya mendekati Kirana, sangat pelan namun berat. "Tapi sepertinya... aku menemukan hal yang lebih menarik di sini. Apa itu, Kirana? Dan kenapa kamu menangis?"

"Ini... tidak ada apa-apa, Mas," jawab Kirana agak gugup. "Hanya... barang-barang sumbangan dari panti asuhan tempatku dulu. Pak Wijaya baru saja membawakannya."

Aris tidak langsung merespons. Pria itu berdiri hanya sejengkal di hadapan Kirana. Tatapan matanya yang tadi hangat mendadak berubah rumit—campuran antara kebingungan, kecurigaan yang kembali membara, dan rasa terluka yang tertahan.

"Panti asuhan?" Aris terkekeh dingin, sebuah tawa tanpa nada humor yang membuat bulu kuduk Kirana berdiri. "Sejak kapan panti asuhan mengemas sumbangan menggunakan kotak jati berukir inisial keluarga Wijaya?"

Jantung Kirana serasa berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Ia lupa—Aris Pratama adalah pria yang sangat teliti, seorang pebisnis ulung yang tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun.

"Mas... aku bisa jelaskan—"

"Jelaskan apa, Kirana?!" suara Aris meninggi, memotong ucapan istrinya dengan ketajaman yang sudah lama tak terdengar. Pria itu mencengkeram tepi meja marmer, menatap Kirana dengan mata berkilat marah. "Sejak kemarin sore di RUPSLB, aku merasa ada yang tidak beres! Raymond Wijaya—musuh bebuyutanku yang paling kejam—mendadak mundur dan menyerah begitu saja. Dia membisikkan sesuatu padamu sebelum pergi. Dan sekarang, barang dari keluarganya datang langsung ke rumahku?!"

"Mas Aris, tolong dengarkan aku dulu..." Kirana memegang lengan Aris, namun pria itu menepisnya pelan. Penolakan halus itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.

"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Kirana?" suara Aris bergetar, bukan hanya oleh amarah, tapi oleh rasa pengkhianatan yang amat dalam. "Aku baru saja membuka hatiku sepenuhnya padamu. Aku menyerahkan hidupku, anak-anakku, dan rasa percayaku yang sempat mati akibat Sheila! Tapi kamu... kamu menyembunyikan sesuatu di belakangku bersama Raymond Wijaya?"

"Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Mas!" jerit Kirana, air matanya akhirnya meluncur deras tak terbendung. "Aku tidak pernah mengkhianatimu! Demi Allah, aku tidak pernah berhubungan gelap atau bekerja sama dengan Raymond untuk merugikanmu!"

"Lalu apa isi kotak ini?!" bentak Aris seraya menunjuk kotak kayu jati tersebut. "Buka, Kirana! Jika kamu memang jujur padaku, buka kotak itu sekarang di hadapanku!"

Kirana berdiri terpaku, bibirnya bergetar hebat. Buka kotak itu? Menunjukkan buku harian Shinta dan bukti-bukti masa lalu? Jika Aris melihatnya, pria itu akan menelusuri lebih dalam. Aris akan tahu bahwa dirinya mandul akibat sabotase masa lalu. Aris akan tahu bahwa Leo dan Maya bukan darah dagingnya, melainkan anak dari pria yang paling ia benci di dunia ini. Kepribadian dan kebanggaan Aris sebagai seorang pria dan seorang ayah akan hancur lebur tanpa sisa.

Tidak, batin Kirana menjerit histeris. Aku lebih baik dibenci olehnya sebagai istri yang pendusta, daripada melihat jiwanya mati karena tahu kebenaran yang menghancurkan ini.

Kirana melangkah mundur, menggelengkan kepalanya erat-erat, membentengi kotak kayu itu dengan tubuh kecilnya. "Tidak, Mas... Aku tidak bisa mebuka ini."

Aris menatap Kirana dengan pandangan tak percaya. Rasa sakit yang teramat sangat terpancar dari manik matanya. Pria itu menyapu wajahnya dengan kasar, lalu tergelak sumbang.

"Begitu rupanya..." bisik Aris parau, nadanya mendadak berubah dingin bagaikan es—dingin yang sama persis saat pertama kali Kirana melangkah ke rumah ini sebagai pengantin paksa. "Ternyata benteng prasangka itu memang tidak pernah benar-benar runtuh. Kamu hanya pandai berpura-pura, Kirana."

"Mas Aris, tidak! Tolong, jangan katakan itu!" Kirana mencoba meraih tangan suaminya, menangis terisak-isak. "Cintaku padamu jujur! Kasih sayangku pada Leo dan Maya itu nyata! Jangan ragukan itu, aku mohon..."

"Bagaimana aku bisa percaya pada cinta yang dibangun di atas rahasia?" potong Aris dingin. Pria itu mundur dua langkah, memutus jarak fisik di antara mereka. "Aku pikir kamu adalah takdir baik yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan luka rumah tangga ini. Tapi ternyata, kamu hanya menyimpan duri yang lebih tajam di balik senyumanmu."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Aris membalikkan badannya. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja dan melangkah lebar-lebar keluar dari rumah. Pintu depan tertutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh penjuru kediaman.

Kirana luruh ke lantai marmer yang dingin. Tubuhnya terguncang hebat oleh isak tangis yang pecah tak tertahankan. Puing-puing prasangka yang ia kira telah bersih, kini kembali berserakan, meremukkan hatinya hingga tak berbentuk.

Sore harinya, hujan deras kembali mengguyur Jakarta dengan lebatnya. Langit menggelegar, mencerminkan kekacauan di dalam Kediaman Pratama.

Aris belum juga pulang. Ponselnya tidak aktif. Pak Wijaya dan para pelayan bergerak canggung di dalam rumah, tidak berani bersuara setelah menyaksikan pertengkaran hebat majikan mereka tadi siang.

Di ruang tengah, Leo dan Maya duduk di karpet tebal. Suasana ceria yang tadi pagi memenuhi ruangan kini sirnah berganti keheningan yang mencekat. Leo yang berusia tujuh tahun, meski masih kecil, memiliki sensitivitas yang tinggi. Ia menyadari perubahan atmosfer di rumah itu.

"Ibu..." Leo mendekati Kirana yang sedang duduk terdiam di sofa, memeluk lututnya sendiri. "Papa marah sama Ibu, ya?"

Kirana mengangkat wajahnya yang sembap. Ia memaksa bibirnya melengkungkan senyum, walau dadanya terasa begitu sesak. Ia mengusap rambut Leo dengan lembut. "Tidak, Sayang. Papa cuma sedang banyak pekerjaan di kantor. Papa tidak marah."

"Bohong," gumam Leo pelan, matanya menatap Kirana dengan kepolosan yang tajam. "Tadi siang Leo dengar Papa teriak. Dulu... waktu Tante Sheila masih di sini, Papa juga sering teriak sebelum Tante Sheila pergi dan tidak pernah kembali lagi. Apakah... apakah Ibu juga mau pergi tinggalkan Leo dan Maya?"

Kata-kata Leo bagaikan sembilu yang ditancapkan tepat di ulu hati Kirana. Suara anak itu begitu polos, namun membawa ketakutan traumatis akan penolakan dan kehilangan yang pernah mereka alami.

Maya yang mendengar ucapan kakaknya, langsung merangkak naik ke sofa dan memeluk pinggang Kirana erat-erat, mulai menangis sesenggukan. "Nggak mau! Ibu nggak boleh pergi! Maya mau sama Ibu!"

Kirana merengkuh kedua anak itu ke dalam pelukannya. Air matanya kembali menetes basah, menyatu dengan rambut halus kedua anak tirinya. Di saat inilah, di tengah hancurnya perasaan diri sendiri sebagai seorang istri, jiwa kewanitaan dan keibuannya bergejolak dahsyat.

Ini adalah pertaruhan hidupnya.

Ia bisa saja menyerah. Ia bisa saja membuka kotak itu, membeberkan seluruh kebenaran, dan mencuci tangannya dari dosa-dosa masa lalu Keluarga Pratama dan Wijaya. Ia bisa menyelamatkan namabaiknya sendiri di hadapan Aris. Namun harga yang harus dibayar adalah kehancuran mental suaminya dan masa depan kedua anak yang tak berdosa ini.

Inikah rasanya menjadi seorang ibu? batin Kirana di tengah isak tangisnya. Menjadi wadah bagi seluruh rasa sakit, menjadi penampung segala celaan dan prasangka, asal anak-anak dan keluarganya tetap utuh?

Takdir memang sedang mempermainkannya. Takdir menyindirnya dengan memberi mahkota cinta yang terbuat dari duri. Namun Kirana sadar, ia telah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Ia tidak akan membiarkan rumah tangga ini runtuh hanya karena prasangka dan kesalahpahaman yang belum usai.

Kirana melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata Leo dan Maya satu per satu. Ia mengusap air mata Maya dengan ibu jarinya, lalu memegang kedua pundak Leo dengan mantap.

"Dengar Ibu, Leo... Maya..." ujar Kirana dengan suara yang mendadak tegas dan penuh keyakinan, sebuah kekuatan misterius yang lahir dari ketulusan cinta seorang ibu. "Ibu tidak akan pernah pergi. Apa pun yang terjadi, berapa pun besarnya badai di luar sana, Ibu akan tetap di sini. Ibu akan menjaga kalian dan Papa."

"Beneran, Bu?" tanya Leo ragu.

"Beneran, Sayang. Ibu berjanji," tegasku.

Kirana berdiri. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, merapikan bajunya, lalu melangkah menuju meja foyer. Dengan gerakan yang pasti, Kirana mengambil kotak kayu jati milik Shinta, lalu membawanya masuk ke dalam ruang kerja pribadi Aris.

Ia meletakkan kotak itu di tengah meja kerja kayu jati milik suaminya. Ia tidak menyembunyikannya lagi, tapi juga tidak membukanya. Kirana mengambil selembar kertas putih dan pena, lalu menuliskan beberapa baris kalimat singkat dengan jemarinya yang mantap:

"Mas Aris,

Kotak ini berisi masa lalu yang telah mati. Di dalamnya ada rahasia yang tidak pernah kupinta untuk kuketahui, tetapi takdir membebankannya di pundakku demi melindungi kebahagiaanmu, Leo, dan Maya.

Jika kamu merasa rasa percayamu padaku telah hancur, kamu berhak membuka kotak ini dan menghancurkan seluruh kebohongan yang kupikul. Tapi jika kamu masih percaya bahwa cinta yang kuberikan selama ini adalah murni tanpa syarat... biarkan kotak ini terkunci selamanya, sebagaimana aku mengunci masa lalu kelam agar tidak pernah menyentuhmu.

Aku tidak akan lari. Aku ada di kamar anak-anak, menunggumu pulang.

Istrimu, Kirana."

Kirana menindih surat itu di atas tutup kotak kayu jati.

Ia kemudian keluar dari ruang kerja, mematikan lampu ruangan tersebut, lalu melangkah kembali ke kamar anak-anak. Di luar, hujan deras masih mengguyur bumi, namun di dalam dada Kirana, gejolak ketakutan itu telah mereda, berganti menjadi keberanian absolut seorang wanita yang siap mempertaruhkan seluruh jiwanya demi cinta dan keluarga yang diperjuangkannya.

Pertarungan melawan jalan takdir yang rumit ini belum selesai. Namun malam ini, di bawah lindungan ketulusan yang tak tergoyahkan, Kirana siap menghadapi apa pun keputusan yang akan diambil oleh Aris saat pria itu melangkah pulang nanti.

Bagaimana keputusan Aris saat menemukan kotak dan surat dari Kirana di dalam ruang kerjanya yang gelap? Apakah Aris akan memilih membuka kotak tersebut dan menghadapi kenyataan pahit tentang dirinya, ataukah rasa percayanya pada Kirana sanggup mengalahkan ego dan prasangka yang membakar dadanya?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!