NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 17—

Guy tiba pada sebuah hutan dengan beberapa bebatuan tinggi di sekitarnya.

Setelah ia menoleh ke sekitarnya ia mendengar suara seorang pria dari atasnya.

"Yo~ lama banget deh, gw udah nungguin lebih dari 1 menit tau?"

Allwin berdiri santai di atas bebatuan tinggi.

Guy segera menoleh ke arah sumber suara, namun ia hanya menatap Allwin dengan santai. Tidak ada ekspresi di wajahnya, hanya tatapan datar.

"Di mana pria itu? Aku baru saja merasakan hawa kehadirannya dari jauh." Guy mengangkat tangan kirinya ke pinggul.

"Nggak butuh. Gw yang sekarang nggak bakal nahan diri lagi. Jadi kita memulai duel sesungguhnya di sini."

Allwin menarik Excalibur miliknya dari Gate of Multifunction.

CRACK!

Guy juga membalas hal itu dengan memanifestasikan Chronos dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya.

Aura merah, angin kencang, dan ruang di sekitar Chronos meliuk-liuk bagaikan riak api yang membara.

"Tidak menahan diri, ya?"

Guy meletakkan Chronos di bahunya.

"Kalau begitu aku juga tidak akan ragu untuk membunuhmu dengan lebih keras."

Sebuah senyum lebar terukir di wajah Guy, memperlihatkan deretan giginya.

CRACK!

Lima gate termanifestasi di sekitar Guy.

BOOM!

Energi merah melesat cepat ke arah Guy. Namun, ia sudah tidak ada di sana.

"Sudah kuduga."

Allwin memutar tubuhnya dengan cepat.

KLANG!

Excalibur dan Chronos kembali bertabrakan setelah beberapa hari tidak bertemu.

"Kau... semakin kuat, ya!?"

Guy tersenyum dengan mata lebar, memperlihatkan bahwa ia sangat menikmati pertarungan.

BRAK!

Guy mendorong Allwin dengan Chronos. Hal itu menciptakan jarak beberapa meter di antara mereka.

Keduanya saling maju dan kembali bertabrakan.

CLANG!

Pertarungan yang begitu cepat menyebabkan aliran waktu terasa kehilangan jalurnya, seolah keduanya bergerak di atas aliran waktu tersebut.

Saking dahsyatnya pertarungan ini, bahkan untuk melihat pergerakan mereka secara langsung terasa begitu sulit. Suara benturan pun masih tertinggal jauh, begitu juga dengan cahaya kilatan mereka yang terasa lebih lambat daripada gerakan benturan keduanya.

DUAR!

Benturan Excalibur dengan Chronos dengan penekanan penuh dan dikombinasikan oleh magi penguat menciptakan ledakan ruang akibat tekanan dari kedua senjata tersebut.

Menyadari bahwa Allwin saat ini sudah tidak bisa dikalahkan dengan mudah, Guy mulai memperkuat dirinya.

Gemuruh angin terdengar begitu menusuk telinga Allwin, sementara aura merah yang dibarengi petir mulai menutupi seluruh tubuh Guy.

Allwin merasakan sebuah aura intimidasi yang begitu kuat hingga ia terbelalak panik.

BOOM!

Ruang di sekitar mereka terasa tidak nyata. Waktu menjadi ambigu.

Pergerakan atom, molekul, bahkan udara terasa seperti macet. Semuanya bergerak, namun pada saat yang sama terasa seperti tidak bergerak.

Allwin yang merasakan hal itu mundur beberapa langkah dengan tatapan yang masih waspada.

Setelah aura merah yang menutupi tubuh Guy menghilang, Allwin menyadari bahwa tampilannya telah berubah.

Rambutnya kini merah menyala seperti api. Di kedua lengannya terdapat sarung tangan berlapis armor berwarna merah crimson yang menutupi lengan bawahnya.

Sementara itu, kedua bahunya tertutup armor merah crimson berbentuk topeng iblis yang memperlihatkan ekspresi marah.

Di dadanya terdapat sebuah 『Core of Wrath』, permata berwarna merah terang yang mengalirkan corak merah ke setiap bagian tubuhnya, bahkan hingga menyentuh pipinya.

Chronos yang dibawanya kini terasa jauh lebih menekan ruang daripada sebelumnya.

Seolah-olah jika Chronos dilepaskan, ruang di sekitarnya akan langsung pecah begitu saja.

"Kita lihat apakah kekuatanmu yang sekarang mampu menandingi wujud Wrath Devil-ku ini."

Guy menatap tajam Allwin dengan intimidasi yang begitu kuat.

"O-oh... Jadi itu wujud terkuatmu?"

Allwin tersenyum ragu sambil memasang kuda-kudanya.

"Entahlah. Kita lihat saja bagaimana Otoritas Eskalasi-ku bekerja di sini."

◆◆◆

Di sisi lain yang begitu jauh dari Asteria, tepatnya di wilayah Kekaisaran langit.

Di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi emas, lantai, tembok, tiang dan tangga semuanya terbuat dari emas dan di setiap tiang dihiasi permata langka yang mahal.

Di atas sebuah singgasana yang terbuat dari berlian, mythril, dan logam Aetherium, sebuah logam paling keras dan mahal di dunia, seorang raja dengan armor abu-abu hitam dengan beberapa corak merah di sekitar armornya.

"Mereka melakukan gerakan lagi?" ucap santai pria berambut emas itu, sambil memegang dokumen dengan pin emas.

"Apa mereka bodoh atau emang tolol? Aku sudah memperingatkan mereka untuk tidak mengganggu aliansi negara federalku."

Mata merah tajam selayaknya naga yang menyala membuat ruang singgasana terasa seperti ruangan eksekusi. Beberapa orang yang menunduk di bawahnya hanya bisa menelan ludah sambil berkeringat dingin tanpa berani mengangkat kepala mereka.

"Hei... Kau, kacung dengan topi jenderal komunis, dengarkan baik-baik."

"B-b... Baik!"

Pria itu gemetar setengah mati, suaranya begitu ketakutan mendengar sosok di singgasana menyebut dirinya.

"Kau bawa laporan dan pesanku ini pada Zhanobia si serakah, katakan padanya bahwa ini peringatan sebelum aku mengeksekusinya dengan tanganku sendiri."

Raja itu melempar sebuah kertas surat pada prajurit di bawahnya.

"B-b... Baik... Yang mulia akan saya sampaikan secepatnya," pria itu perlahan berdiri lalu menunduk sambil berjalan keluar.

◆◆◆

DUAR!

Ledakan telat itu mengguncang hutan.

Dari kejauhan, prajurit Asteria yang mulai maju terdiam dan berdiskusi untuk jalan memutar bertujuan menghindari konflik kedua monster di sana.

—

"ACHRONIA!"

Guy meneriakkan nama skillnya sambil memukul tanah dengan Chronos.

KLONK!

Di bawah mereka berdua sebuah diagram jam merah berputar cepat, namun bukan menuju masa depan, putaran tersebut justru mundur berusaha memaksa Allwin kembali ke kondisi awalnya.

Namun, Allwin tetap berdiri tegak. Tidak terjadi apa-apa, kemudian ia berjalan pelan. "Hanya segini? Sungguh... Sungguh buruk sekali manipulasi waktu ini, apa kau tidak mencoba menciptakan jurus waktu yang melebihi tingkat surgawi?" sudut mulut Allwin sedikit naik, dengan tatapan mata yang masih tajam membuat Guy terasa begitu direndahkan.

"Kalau begitu... Bagaimana dengan ini?" diagram jam itu menghilang sebagai gantinya sebuah mesin jam lengkap dengan beberapa gear yang mengitari jam besar di langit, masih belum berputar namun ketika Guy terbang ke atas, jam itu mulai bergerak, gear, jarum jam dan tentu cahaya petir merah yang mengitarinya tetap ada.

"CRIMSON TIME!"

Hening tidak ada angin, suara atau debu beterbangan.

KLONK!

Ketika Guy mengangkat Chronos seketika seluruh benda pada dunia berhenti. Begitu pula oksigen, molekul, dan reaksi fisik berhenti kecuali mereka berdua—tidak... Beberapa entitas ada yang masih bergerak namun entah apa yang mereka lakukan di tempat yang jauh dari duel itu.

"Apa!? Gw nggak... Bisa napas!"

Allwin seketika tersungkur ke tanah, Guy melihatnya dengan tatapan kesal, "KAU! Benar-benar menginginkan kemarahanku, ya?" Guy turun, sementara jam tetap di langit.

"Ehe, ketahuan, ya?" Allwin berhenti berpura-pura dan berdiri sambil memasang ekspresi bodoh.

"Bajumu masih bergerak menandakan area yang terkena aura magi milikmu tidak akan terdampak, tapi..." raut wajah Guy berubah santai. "Bagaimana bisa kau bertahan dari penghentian waktu secara mutlak, harusnya waktu di seluruh semesta ini berhenti." Guy meletakkan Chronos di bahunya. Sementara tangan kirinya berada di pinggang.

"Entahlah, mungkin ini adaptasi atau resistensi. Tapi... Siapa yang peduli dengan itu?"

Allwin melesat cepat ke hadapan Guy. CLANK! Excalibur dan Chronos kembali terbentur. "Tentu saja hukum dunia ini peduli pada hal seperti itu." Guy mengubah posisinya, kini tubuhnya melayang di udara sebelum menendang Allwin hingga terlempar beberapa meter. Tidak debu atau dampak apa pun pada benturan itu, karena tidak ada waktu yang berjalan mengakibatkan benda tidak bisa bereaksi.

"Kheuk— hei... Sepertinya kau harus segera mengembalikan waktu dalam keadaan normal kembali, jika tidak hukum narasi akan menganggap dunia ini telah dihapus dan perlahan akan hancur."

Allwin menancapkan Excalibur pada tanah namun tanah itu tidak retak atau bereaksi tertusuk.

Guy menatap santai. "Baiklah, jika itu untuk keseimbangan dunia."

KLONK!

Angin kembali jalan, suara kembali terdengar, dan kini mereka tak harus menggunakan aura untuk menyampaikan suara mereka.

Setelahnya, mereka mulai meningkatkan kekuatan mereka lagi, ya. Lagi...

CLANK!

Terlalu cepat, narasi—bahkan—tidak dapat memvisualisasikan apa yang sedang terjadi, hanya kilatan cahaya, suara benturan, dan hembusan angin yang bergerak secara membabibuta seolah sedang mengejar ketertinggalannya.

Bahkan suara skill yang mereka ucapkan juga baru saja terdengar ketika mereka sudah berganti skill yang lain...

◆◆◆

Di sisi Serena yang lebih tenang dari pada kedua monster tadi,

Serena memimpin pergerakan garis depan untuk memilih jalur yang lebih strategis untuk maju, sementara logistik sudah diatasi oleh Shiro yang terlihat, kewalahan...

"Kalian yakin kalian tidak merasakan apapun tadi?"

Serena menatap Lylian dan Celia dengan tidak percaya.

"Kau ini bego atau lagi mabok? Mana mungkin waktu berhenti, jelas-jelas dari tadi semuanya bergerak." Balas Lylian.

"Apa mungkin perasaan gw aja, ya?" Serena mengusap dagunya, "Ok, deh... Nggak perlu dipikirin, mungkin cuma perasaan gw doang..."

Serena kembali menatap perang di hadapannya, 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘸𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘎𝘭𝘶𝘵𝘵𝘰𝘯𝘺 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘐𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵-𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘺𝘢? Pikir Serena. Ia merasa bahwa ia mengkhawatirkan Allwin namun prinsipnya menolak hal itu.

◆◆◆

"Sungguh mengerikan, apa aku tidak salah merasakan?"

Seseorang dari luar, tidak dia berasal dari dunia yang lain.

"Waktu secara mengejutkan berhenti, kira-kira siapa penggunanya... Dan apa yang sedang ia lawan?"

Gadis itu berjongkok pada sebuah pohon di planet yang sudah sepenuhnya mati.

Gadis berpakaian serba putih layaknya malaikat yang mengenakan dress berenda pendek, dan di punggungnya terdapat 6 sayap putih yang lebar dengan mata merah di setiap sayapnya,

Mata merah dengan pupil putih yang sama seperti mata pada sayapnya, tatapannya itu tertuju pada luar angkasa. Dengan sebuah senyum tipis yang sepertinya menyimpan sebuah makna atau rahasia yang hanya ia ketahui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!