NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. ORANG YANG SEHARUSNYA TIDAK KEMBALI

Phat berjalan cepat meninggalkan taman, diikuti oleh beberapa anak buahnya. Wajahnya masih menyisakan amarah, sementara kuku-kuku jarinya memerah akibat perkelahian dengan Arka.

Ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun.

Bayangan Arka yang berdiri bersama Sara terus berputar di kepalanya. Terlebih lagi, ia tidak bisa melupakan bagaimana Sara menggenggam tangan adiknya setelah perkelahian itu, seolah-olah keberadaan Arka jauh lebih penting daripada dirinya.

Pemandangan itu terasa seperti sebuah penghinaan.

Bertahun-tahun ia menyimpan perasaan kepada Sara. Ia masih mengingat kejadian ketika mereka kecil, saat Sara terjatuh dan menangis kesakitan. Phatlah yang menggendongnya pulang. Sejak saat itu, ia diam-diam berharap suatu hari nanti Sara akan melihatnya sebagai seseorang yang istimewa.

Namun, Arka datang dan merusak semuanya hanya dengan beberapa kalimat.

“Brengsek!” geram Phat sambil menendang sebuah batu kecil di pinggir jalan.

Salah seorang anak buahnya segera mempercepat langkah untuk menyusulnya.

“Tuan Phat!”

Phat tidak menjawab.

“Tuan, apakah Anda baik-baik saja?”

Pertanyaan itu justru membuat Phat berhenti mendadak.

Ia berbalik, menatap lelaki tersebut dengan mata menyala.

“Menurutmu, apakah aku terlihat baik-baik saja!?”

Anak buahnya langsung menundukkan kepala.

“Maaf, Tuan. Saya hanya khawatir.”

“Kalau kau benar-benar khawatir, seharusnya kau memastikan adikku tidak membuatku dipermalukan di depan banyak orang!”

Lelaki itu terdiam.

Anak buah lainnya saling melirik, tetapi tidak seorang pun berani mengeluarkan suara. Mereka tahu betul bahwa Phat bukanlah orang yang bisa diajak bercanda ketika sedang marah.

Setelah beberapa detik, salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya, “Apakah kami perlu melakukan sesuatu terhadap Tuan Arka?”

Phat menatapnya tajam.

“Tidak.”

“Tapi—”

“Aku bilang tidak!”

Lelaki itu segera terdiam.

Phat kembali berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu dengan kasar, kemudian masuk ke kursi belakang.

“Antar aku pulang. Sekarang.”

“Baik, Tuan.”

Mobil hitam itu segera meninggalkan area parkir taman. Di sepanjang perjalanan, Phat hanya menatap keluar jendela, membiarkan pikirannya dipenuhi kemarahan yang semakin sulit dikendalikan.

Ia tidak ingin mengakui kenyataan bahwa Sara mungkin memiliki perasaan kepada Arka.

Baginya, kenyataan itu terlalu menyakitkan.

Namun, ada hal lain yang membuatnya semakin gelisah.

Arka sudah menemukan buku catatan Pak Thom. Jika adiknya terus menyelidiki isi buku tersebut, rahasia keluarga Khontacron yang selama ini mereka sembunyikan bisa terbongkar satu per satu.

Dan jika itu terjadi, bukan hanya Arka yang akan berada dalam bahaya.

Seluruh keluarga mereka bisa kehilangan segalanya.

Begitu mobil memasuki halaman kediaman Khontacron, Phat langsung membuka pintu sebelum kendaraan berhenti sempurna.

“Tuan Phat, tunggu sebentar!” seru sopirnya.

Phat tidak peduli.

Ia berjalan tergesa-gesa melewati pintu utama, mengabaikan sapaan para pelayan yang kebingungan melihat wajahnya yang penuh amarah.

“Ayah di mana?” tanyanya kepada seorang pelayan.

“Di ruang kerja, Tuan.”

Phat segera berlari menaiki tangga.

Ia bahkan tidak sempat mengetuk pintu ketika tiba di depan ruang kerja ayahnya.

BRAK!

Pintu terbuka keras.

Ayahnya, yang sedang duduk di balik meja besar sambil memeriksa beberapa dokumen, mengangkat wajah dengan kening berkerut.

“Phat? Apa yang membuatmu masuk seperti orang kesurupan?”

Phat berjalan masuk dan membanting pintu di belakangnya.

“Ayah harus melakukan sesuatu!”

Ayahnya meletakkan dokumen yang sedang dibacanya.

“Duduk dan jelaskan apa yang terjadi.”

“Aku tidak bisa duduk!”

Phat berjalan mondar-mandir di depan meja, mengusap rambutnya dengan kedua tangan.

“Arka sudah keterlaluan, Ayah. Dia benar-benar sudah menghancurkan semuanya!”

Ayahnya menyipitkan mata.

“Apa yang dilakukan adikmu kali ini?”

“Dia menyukai Sara, ayah!”

Untuk sesaat, ayahnya terdiam.

Kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Hanya itu?”

Phat menoleh cepat.

“Hanya itu?” ulangnya tidak percaya. “Ayah tidak mengerti! Aku sudah menyukai Sara sejak kami masih kecil. Aku sudah menunggu begitu lama, tetapi Arka datang dan mengatakan semuanya begitu saja!”

Ayahnya menghela napas panjang.

“Jadi, kau datang ke sini hanya untuk mengeluhkan masalah perempuan itu?”

“Ini bukan sekadar masalah perempuan!”

Phat mengepalkan tangannya.

“Arka selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Sejak kecil, semua orang selalu menganggapnya lebih baik dariku. Sekarang, bahkan Sara pun—”

Ia berhenti, menelan kemarahan yang kembali naik ke tenggorokannya.

“Aku tidak akan membiarkan dia menang lagi.”

Ayahnya mengamati putranya dalam diam.

Ada sesuatu dalam ekspresi Phat yang mengingatkannya pada masa lalu. Kebencian yang dipelihara terlalu lama dapat mengubah seseorang menjadi jauh lebih berbahaya daripada musuh yang terang-terangan mengancam.

Namun, Pak Teo tidak tertarik membicarakan perasaan Phat lebih jauh.

Ia memiliki persoalan yang jauh lebih mendesak.

“Kalau kau sudah selesai membicarakan Sara, sekarang dengarkan Ayah.”

Nada suara ayahnya berubah dingin.

Phat segera mengangkat wajah.

“Ada apa?”

Ayahnya membuka laci meja, mengeluarkan sebuah map, lalu melemparkannya ke atas meja.

“Bisnis kita harus dihentikan sementara.”

Phat membeku.

“Apa?”

“Untuk sementara, semua kegiatan yang berkaitan dengan pengiriman harus dibekukan. Tidak ada pergerakan barang, tidak ada pertemuan dengan pihak luar, dan tidak seorang pun boleh bertindak tanpa persetujuanku.”

Phat segera mengambil map tersebut. Ia membaca beberapa dokumen di dalamnya, kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya.

“Kenapa Ayah mengambil keputusan seperti ini?”

“Karena situasinya sudah berubah.”

Ayahnya berdiri dan berjalan menuju jendela.

“Kematian Pak Braun menarik perhatian terlalu banyak orang. Kemudian Pak Thom tewas di dalam gudang. Sekarang seorang kepala polisi terluka dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.”

Ia menoleh kepada Phat.

“Terlalu banyak saksi mata. Terlalu banyak pertanyaan. Dan yang paling berbahaya, Arka mulai menghubungkan kejadian-kejadian itu.”

Phat terdiam.

Ia tahu ayahnya benar.

Arka bukan lagi sekadar seseorang yang kebetulan menemukan mayat di kebunnya. Adiknya sudah mengetahui keberadaan daftar lima belas orang hilang, dan mendapatkan buku catatan milik Pak Thom.

Jika Arka berhasil menemukan hubungan antara semua petunjuk tersebut, tidak ada jaminan bahwa rahasia keluarga mereka bisa terus disembunyikan.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Phat.

Ayahnya kembali duduk di kursinya.

“Kita harus memastikan tidak ada lagi orang yang bisa membuka mulut.”

Phat menatap ayahnya dengan serius.

“Ayah sedang membicarakan siapa?”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sebuah foto dari dalam map dan meletakkannya di atas meja. Foto itu memperlihatkan seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang mengenakan seragam polisi.

Bastian Baert.

Phat langsung mengenalinya.

“Bastian?”

“Dia sudah terlalu jauh mencampuri urusan kita,” ujar ayahnya. “Dia bukan lagi sekadar teman lama Arka. Dia kepala polisi yang memiliki akses ke penyelidikan dan bukti-bukti yang bisa menghancurkan kita.”

Phat menatap foto tersebut.

“Ayah ingin menyingkirkannya?”

Ayahnya menyatukan kedua tangannya di atas meja.

“Polisi itu harus dihentikan sebelum dia pulih dan kembali bekerja.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Phat tahu ayahnya tidak sedang membicarakan pemecatan atau ancaman biasa. Dari nada suaranya, ia memahami bahwa ayahnya telah mengambil keputusan yang jauh lebih mengerikan.

Namun, ia juga tahu bahwa menentang ayahnya bukanlah perkara mudah.

“Kalau Bastian mati, bukankah itu justru akan membuat polisi semakin curiga?” tanya Phat hati-hati.

Ayahnya menatapnya tajam.

“Karena itulah kita tidak boleh bertindak ceroboh. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun bergerak tanpa perhitungan.”

Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

“Untuk saat ini, kita harus mengalihkan perhatian mereka dan memastikan penyelidikan tidak berkembang lebih jauh.”

Phat mengangguk perlahan.

Namun, pikirannya masih tertuju pada Arka.

“Ayah, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Arka sudah mengetahui nama Tiara Chenzae.”

Ekspresi ayahnya berubah seketika.

Untuk pertama kalinya sejak Phat memasuki ruangan, ketenangan di wajah ayahnya itu benar-benar menghilang.

“Dari mana kau mengetahui hal itu?”

“Buku catatan Pak Thom. Aku belum melihatnya secara langsung, tetapi aku mendengar Arka membicarakannya. Dia dan Sara sedang menyelidiki nama itu.”

Ayahnya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang.

“Tidak mungkin…”

Phat mengerutkan kening.

“Ayah mengenal Tiara?”

Ayahnya tidak menjawab.

Ia berjalan ke arah meja, membuka laci lain, lalu mengeluarkan sebuah map tipis yang disimpan di bawah tumpukan dokumen. Tangannya berhenti di atas map tersebut selama beberapa detik sebelum ia memasukkannya kembali.

Gerakan itu tidak luput dari perhatian Phat.

“Ayah,” panggilnya. “Siapa sebenarnya Tiara?”

Ayahnya menatap putranya lama sekali.

“Orang yang seharusnya tidak boleh ditemukan oleh Arka.”

Jawaban itu membuat Phat semakin penasaran.

“Kenapa?”

“Karena jika Arka bertemu dengannya, semua yang kita sembunyikan selama ini bisa terungkap.”

Phat merasakan tengkuknya menegang.

“Jadi, Tiara mengetahui rahasia keluarga kita?”

Ayahnya berjalan kembali ke kursinya.

“Dia mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya.”

“Lalu, di mana dia sekarang?”

“Itulah yang harus kita pastikan sebelum Arka menemukannya.”

Phat mengerutkan kening.

“Ayah ingin aku mencari Tiara?”

“Tidak.” ayahnya menatapnya tajam. “Tugasmu adalah memastikan Arka tidak sampai kepadanya.”

Phat terdiam.

Untuk sesaat, ia membayangkan Sara berdiri di samping Arka di taman tadi. Ia mengingat bagaimana adiknya mengakui perasaannya tanpa rasa takut, sementara dirinya hanya mampu melampiaskan kemarahan dengan tinju.

Kini, ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang selalu kalah dari Arka.

Jika ia berhasil menghentikan adiknya, ia bisa mendapatkan kembali kepercayaan ayahnya sekaligus memastikan Arka tidak memiliki kesempatan untuk menghancurkan keluarga mereka.

“Baik, Ayah,” jawabnya akhirnya.

Ayahnya mengangguk tipis.

“Jangan bertindak berdasarkan emosi. Ayah tidak membutuhkan masalah baru.”

Phat menunduk.

“Aku mengerti.”

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa persoalan ini tidak lagi hanya tentang rahasia keluarga.

Ia ingin menghentikan Arka karena Sara.

Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak selalu menjadi orang kedua.

Dan sekarang, ia memiliki alasan lain untuk membenci adiknya: Arka telah menjadi ancaman bagi segala sesuatu yang selama ini mereka lindungi.

Setelah Phat meninggalkan ruang kerja, ayahnya tetap duduk sendirian.

Ia menatap foto Bastian di atas meja, lalu memandang sebuah map tertutup yang bertuliskan nama Tiara Chenzae.

“Seharusnya kau tidak pernah kembali ke dalam urusan ini, Tiara,” gumamnya.

Ia membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen lama, sebuah foto yang sudah pudar, dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang dikenalnya.

Ayahnya membaca kalimat di atas kertas itu sekali lagi.

“Jika sesuatu terjadi kepadaku, pastikan Tiara mengetahui siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas hilangnya orang-orang dari desa.”

Ayahnya meremas kertas tersebut.

Selama bertahun-tahun, ia mengira rahasia itu akan terkubur bersama orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Namun, kini Arka telah menemukan jalan menuju kebenaran.

Dan jika putranya berhasil bertemu dengan Tiara, bukan hanya bisnis keluarga yang terancam.

Seluruh fondasi keluarga Khontacron bisa runtuh.

Ayahnya mengangkat telepon di atas meja.

Ketika seseorang menjawab dari seberang, suaranya berubah dingin.

“Aku ingin kau mengawasi pergerakan Arka. Jangan sampai dia menemukan Tiara lebih dulu.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat.

“Dan pastikan Bastian tidak kembali mengganggu urusan kita.”

Panggilan berakhir.

Ayahnya meletakkan teleponnya, kemudian menatap ke luar jendela. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik pepohonan, meninggalkan bayangan panjang di halaman kediaman Khontacron.

Sementara itu, di tempat lain, Arka mungkin sedang berpikir tentang bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada Sara dengan benar.

Ia belum mengetahui bahwa ayah dan kakaknya baru saja membicarakan masa depannya.

Ia juga belum mengetahui bahwa nama Tiara Chenzae bukan sekadar petunjuk dalam buku catatan Pak Thom.

Nama itu adalah kunci menuju rahasia yang selama ini dijaga keluarga Khontacron dan seseorang di dalam rumah itu bersedia melakukan apa pun agar kunci tersebut tidak pernah sampai ke tangan Arka.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!