Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 — Reservasi Membludak dan Nyaris Ketahuan
Pesan Larasati tidak pernah terkirim. Sebaliknya, puluhan pesan dari calon klien masuk ke Studio Nusa Karya setiap hari.
Beni memasang papan jadwal di dinding kontrakan. Dua puluh enam calon klien lolos formulir awal. Sembilan meminta survei. Empat bersedia menunggu sampai kuartal berikutnya. Sisanya ingin hasil instan, harga tanpa ukuran, atau meminta Raka memakai material yang tidak dapat ia jamin.
"Kalau kita terima semua, omzet meledak," kata Beni.
"Lalu kualitas jatuh dan nama kita ikut meledak."
Raka membagi layanan menjadi tiga jalur: panel kecil, mural ruang komersial, dan relief khusus yang memerlukan survei teknis. Setiap jalur memiliki uang muka, tahapan persetujuan, batas revisi, dan dokumentasi. Nama Studio Nusa Karya mulai tampak seperti usaha, bukan sekadar akun live.
Namun sumber beberapa klien membuatnya curiga.
Lima orang bekerja di perusahaan properti besar. Tiga tinggal di apartemen premium yang dikelola grup yang sama. Mereka memakai formulir berbeda tetapi menyebut satu acara internal bernama Vendor Kreatif Malam Jumat.
Nindya muncul membawa dua kartu undangan.
"Perusahaan tempatku bekerja punya program kesejahteraan dan jejaring vendor," katanya. Untuk pertama kalinya, ia memakai aku-kamu tanpa sadar. "Karyawan boleh merekomendasikan usaha kreatif. Portofoliomu lolos penilaian awal."
Raka menerima kartu tetapi tidak langsung memasukkannya ke saku. "Apakah perusahaan membayar mereka untuk menjadi klien?"
"Tidak. Mereka memakai uang sendiri. Acara hanya mempertemukan vendor dan karyawan senior."
"Apakah ada kewajiban memberi diskon atau bagian komisi?"
"Tidak ada."
"Siapa yang menilai portofolio?"
Nindya sudah menyiapkan jawabannya. "Panel tiga orang. Nama vendor ditutup. Prita yang mengurus administrasi acara."
Beni melirik Raka. Sistem anonim itu mirip seleksi Kirana.
"Kebetulan yang rapi," gumamnya.
Nindya pura-pura tidak mendengar. "Kalau Mas tidak nyaman, tidak perlu datang."
Raka melihat daftar syarat pada belakang kartu. Tidak ada eksklusivitas, biaya masuk, atau penguasaan hak karya. "Kita datang. Tapi semua calon klien tetap melalui formulir Studio."
Acara diadakan di sebuah ruang pertemuan privat dekat SCBD. Tidak ada logo perusahaan utama pada panggung, hanya nama program. Dua belas vendor memamerkan produk dan jasa. Raka mendapat meja yang sama besar dengan peserta lain; tidak ditempatkan di tengah dan tidak diumumkan sebagai tamu khusus.
Dalam dua jam, ia menjelaskan proses kepada arsitek, komisaris pensiunan, dan dua pemilik klinik. Mereka tertarik pada dokumentasi bahan dan kontrol perubahan, bukan gosip perceraian. Beni mencatat kontak tanpa menjanjikan jadwal.
Seorang pemilik penthouse menawarkan membayar dua kali tarif jika Raka memulai tiga hari lagi.
"Saya baru bisa memberi keputusan setelah survei kelembapan, akses barang, dan jam kerja gedung," jawab Raka.
"Saya membayar agar antrean tidak berlaku."
"Uang bisa membeli tenaga tambahan, bukan menghapus waktu curing atau aturan pengelola. Jika tenggat Bapak tidak cocok, saya rekomendasikan vendor lain."
Alih-alih tersinggung, sang pemilik meminta formulir survei. Seorang arsitek di sebelahnya langsung meminta standar dokumentasi Studio untuk dimasukkan ke tender. Beni menandai keduanya sebagai prospek, tetap bukan kontrak.
"Ini pelanggan nyata," katanya saat jeda. "Bukan figuran bayaran."
"Itu justru membuat pertanyaannya lebih besar," jawab Raka. "Siapa yang punya akses ke lingkaran ini?"
Bagas datang membawa contoh giok yang telah dipesan Raka untuk demonstrasi. Prita menghentikannya di meja registrasi.
"Kotaknya sudah tertutup?"
"Tiga lapis. Mau tes debu dengan lidah?"
"Saya bisa tes kesabaran Anda tanpa alat."
Mereka mulai berdebat sebelum salam selesai. Raka dan Beni bertukar pandang. Nindya menarik Prita ke samping agar penyamarannya tidak dirusak oleh satu sapaan jabatan.
Masalah justru datang dari meja minuman.
Seorang pengelola acara meminta persetujuan Nindya untuk memindahkan sebotol anggur langka dari ruang VIP. Perempuan itu sedang membaca daftar klien dan menjawab secara refleks.
"Buka yang Romanée-Conti vintaj lama. Masukkan ke akun jamuan saya."
Ruangan di sekitar mereka hening setengah detik.
Bagas menoleh lebih cepat daripada Raka. "Akun jamuan lo? Lo tahu harga botol itu?"
Nindya baru menyadari kesalahannya. "Maksud saya akun kupon perusahaan. Ini fasilitas acara."
Prita memejamkan mata sejenak.
"Kupon kantor untuk botol ratusan juta?" Beni bertanya.
"Poinnya terkumpul lama."
"Sejak zaman kerajaan?" kata Bagas.
Nindya meraih gelas air, dan mansetnya tersingkap. Jam mekanis yang dilihat Vivi kembali muncul. Kali ini Bagas melihat bagian pengunci dan nomor edisi kecil.
"Itu bukan barang palsu," katanya.
Nindya menutup pergelangan. "Hadiah teman."
"Teman yang memberi jam seharga rumah?"
"Dia kaya dan tidak masuk akal."
Prita menyela dengan muka profesional. "Ada kesalahan penempatan botol. Seharusnya untuk jamuan privat gedung lain. Tidak akan dibuka dan tidak ada biaya pada peserta."
Pengelola acara segera membawa botol pergi. Kebakaran kecil padam, tetapi asap kecurigaan tertinggal.
Raka tidak mempermalukan Nindya di depan orang. Ia kembali ke meja, menyelesaikan tiga percakapan bisnis, dan menolak dua calon klien yang meminta menggunakan jaringan perusahaan untuk melewati antrean.
Pada akhir acara, Studio Nusa Karya memperoleh tujuh prospek berkualitas. Tidak satu pun langsung disebut pesanan sampai survei, anggaran, dan kontrak selesai.
Beni juga mengumpulkan pola permintaan. Klien premium bukan hanya mencari gambar, melainkan kepastian jadwal, keamanan bahan, privasi, serta satu penanggung jawab. Malam itu ia dan Raka sepakat membuat katalog layanan, nomor proyek, dan kanal komunikasi resmi. Brand mereka naik kelas melalui sistem, bukan dekorasi mahal.
Di perjalanan pulang, Beni dan Bagas naik kendaraan lain. Raka berjalan bersama Nindya menuju titik jemput ojek.
"Program kantor yang baik," katanya.
"Aku senang karyamu diterima."
"Aku?"
Nindya menggigit bibir. "Kita sudah cukup sering bertemu. Boleh lebih santai, kan?"
Raka mengangguk. "Boleh. Tapi santai tidak berarti aku berhenti bertanya."
"Tentang botol?"
"Tentang botol, jam, Kirana, panel penilai anonim, dan lima klien dari jaringan properti yang sama."
Nindya menatap jalan. Mobilnya yang asli menunggu tiga blok jauhnya; ojek pesanan palsu akan membawanya hanya sampai sudut berikut.
"Mungkin aku beruntung punya teman dan kantor yang baik," katanya.
"Mungkin."
Raka berhenti di bawah lampu jalan. Kali ini ia tidak memakai sapaan formal sebagai dinding.
Nindya merasakan dua dorongan berlawanan. Sebagai Anindya, ia terbiasa menjawab pertanyaan dengan satu berkas resmi dan seluruh ruangan langsung percaya. Sebagai Nindya, ia takut satu nama keluarga akan membuat Raka menilai semua percakapan, makan sederhana, dan bantuan kecil sebagai operasi seorang perempuan kaya untuk membeli kedekatan.
Namun semakin lama ia bersembunyi, semakin besar harga kebohongan itu.
Ia tahu jawaban berikutnya akan menentukan apakah jarak di antara mereka menyempit atau justru kembali melebar.
"Nindya, sebenarnya kamu bekerja sebagai apa?"