NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Satu Bulan

Waktu bergulir tanpa henti. Satu bulan berlalu sejak hari yang serba mengejutkan di ruangan engineering itu.

Naya memilih untuk menimbun rapat-rapat semua ketakutan dan kebingungannya di dasar benak, membiarkan kesibukan pekerjaan membakar habis fokusnya setiap hari.

Sementara itu, Ibra tetap berada dalam posisinya-menunggu. Pria itu menahan diri sesuai nasihat Papanya, meski deretan pesan yang ia kirimkan di ponsel Naya tak satu pun dibalas, jangankan dibalas, dibaca pun tidak.

Di sisi lain, Bian bergerak semakin dekat. Perhatian-perhatian kecil seniornya itu datang hampir setiap hari, mulai dari pesan dan telepon singkat di malam hari, tumpangan pulang saat Naya tidak membawa motor, hingga kopi hangat yang tiba-tiba ada di mejanya.

Namun bagi Naya, kebaikan Bian hanyalah bentuk keramahan seorang teman dan senior yang protektif. Tak lebih. Naya tidak pernah membiarkan hatinya melangkah lebih jauh dari batas itu, meski jujur, Naya juga sedikit terbawa perasaan.

Kehidupan kantor berjalan normal seperti biasanya. Ketegangan terselubung di antara mereka tertutup rapi oleh tumpukan berkas dan rutinitas harian. Lady dan Marina masih dengan karakter mereka yang semakin bertambah menyebalkan.

Gea dan Dion, terlihat lebih sering bertengkar, pertengkaran akibat keusilan Dion dan Gea yang tidak suka di ganggu.

Tepat saat senja, pekerjaan Naya usai. Naya mengendarai sepeda motornya membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan pulang kerja. Angin senja menepis wajahnya yang dilapisi helm, membawa rasa lelahnya berkurang. Naya sangat menikmati waktu pulangnya.

Namun, saat sepeda motornya berhenti di sebuah lampu merah, penciumannya mendadak menangkap aroma gurih yang amat tajam.

Bau asap pembakaran daging berpadu bumbu kacang dan bumbu kecap yang terbawa angin dari warung sate di pinggir jalan.

Deg.

Air liur Naya hampir menetes. Dadanya berdesir hangat, disertai rasa mendesak yang luar biasa asing. Pikirannya mendadak terkunci hanya pada satu hal, ia harus makan sate itu sekarang juga. Naya ingat, sudah lama sekali dia tidak memakan sate.

Tanpa berpikir panjang, begitu lampu hijau menyala, Naya segera meminggirkan motornya dan berhenti tepat di depan warung sate tersebut.

"Pak, satenya tiga puluh tusuk ya. Bumbu kacangnya dibanyakin, lontongnya juga," pesan Naya terburu-buru, bahkan sebelum ia melepas helmnya sepenuhnya.

Penjual sate itu tersenyum ramah. "Siap, Mbak. Dibungkus semua?"

Naya mengedip ragu. "Mmm... makan di sini sepiring deh, Pak. Yang tadi dibungkus aja, buat orang rumah."

"Siap, tunggu sebentar, ya, Mbak."

Sambil menunggu pesanan, Naya duduk di bangku kayu warung seraya memegangi perutnya. Aneh. Padahal belum ada tiga jam lalu ia menghabiskan makan siangnya di kantor, yang porsinya bahkan lebih banyak dari biasanya. Namun kini, perutnya sudah terasa sangat kosong, berbunyi nyaring seolah belum terisi makanan seharian.

Bukan hanya itu. Beberapa hari belakangan, Naya menyadari ada yang tak beres dengan tubuhnya. Ia jadi jauh lebih cepat lapar, mudah lelah hingga ngantuk berat di jam-jam tanggung, dan indra penciumannya mendadak sangat peka terhadap bau-bauan tertentu di sekitarnya.

Saat piring sate hangat disajikan di depannya, Naya langsung melahapnya tanpa canggung. Gurihnya bumbu kacang yang memanjakan lidahnya terasa begitu nikmat--sebuah kepuasan konyol yang bahkan membuat matanya sedikit berembun. Naya bahkan menggoyang kepalanya, saking senangnya.

***

Naya meletakkan bungkus sate di atas meja makan, disambut tatapan heran dari Bunda yang sedang melipat pakaian di ruang tengah.

Bunda menghampiri meja, memegang bungkus kertas minyak itu lalu mencium aromanya, juga mengambil satu tusuk untuk memakannya. "Lho, Nay... ini kan sate kambing? Kamu beliin buat Ayah?"

Naya yang sedang menuang air putih menggeleng santai. "Enggak, Bun. Buat Naya juga. Tadi Naya udah makan sepiring di sana."

Mata Bunda seketika membelalak heran. "Beneran? Kamu kan paling benci sate kambing, Nay. Katanya bau prengus, amis, terus dagingnya keras. Kok tiba-tiba beli, malah dimakan di sana pula?"

Gerakan tangan Naya yang memegang gelas terhenti seketika.

Iya juga, ya?

Naya berkedip lambat, mendadak teringat betapa lahapnya ia mengunyah daging kambing berbumbu kacang itu tadi di warung. Makanan yang biasanya membuatnya mual hanya dari baunya, justru terasa begitu nikmat hingga membuat matanya berembun bahagia.

Naya tertawa kecil, berusaha menutupi rasa aneh yang sempat menyenggol benaknya. "Lagi pengin aja, Bun. Lagian tadi baunya wangi banget pas di lampu merah. Ya udah, Naya mandi dulu ya, mau maraton drakor malam ini."

Bunda hanya menggeleng-geleng heran melihat tingkah anak gadisnya itu, sementara Naya berjalan santai menuju kamarnya. Ia menepis jauh-jauh kebingungan singkat tadi.

Bagi Naya, selera makan yang mendadak berubah itu cuma hal biasa--mungkin efek lelah bekerja atau lidahnya sedang ingin mencoba hal baru.

Selesai mandi dan membersihkan diri, Naya menyisir rambutnya yang masih basah. Ia meraih celana piyama bahan kaus favoritnya dari dalam lemari, celana longgar yang biasa ia pakai tidur karena sangat nyaman.

Namun, saat Naya menarik celana itu naik melewati pinggulnya...

Srett.

Karet celananya terasa tertahan di bagian pinggang dan perut bawahnya. Naya mengernyit, terpaksa menahan napas sedikit agar celana itu bisa terpasang dengan pas.

Naya berdiri kaku di depan cermin lemari. Ia memegang pinggangnya, merasakan kain celana yang mendadak mencengkeram kulitnya lebih ketat dari biasanya.

Lho... kok agak sesak? Merekat banget enggak kayak biasa?

Naya menatap pantulan dirinya. Perut bawahnya memang tampak sedikit lebih padat, tidak selentur biasanya. Rasa kaget menyengat dadanya seketika. Matanya membelalak, jemarinya meraba area perutnya yang membal dengan perasaan tak menentu.

"A-apaan sih... berat badan aku naik ya?" bisik Naya pada dirinya sendiri, suaranya terdengar bergetar menahan kebingungan yang mendadak menyeruak.

Dada Naya berdebar makin kencang.

Pikiran-pikiran liar sempat terlintas sekelebat di kepalanya, memancing rasa panik yang amat asing. Namun dengan cepat, Naya menggelengkan kepala kuat-kuat. Memejamkan mata, menolak mentah-mentah prasangka buruk yang mencoba menyusup ke pikirannya.

"Gara-gara kebanyakan makan ini, mah! Porsi makan sebulan ini kan emang lagi maruk banget, pantes aja makin melar!" gumamnya berusaha meyakinkan diri sendiri, meremas pelan pinggiran celananya.

Naya mendengus pelan, menepuk pipinya sendiri untuk menghilangkan rasa cemas yang tak beralasan itu. Ia menolak berpikir macam-macam. Ini cuma kenaikan berat badan biasa karena ia makin sering lapar belakangan ini. Iya, pasti cuma itu.

Mengabaikan rasa ketat di pinggangnya, Naya melompat ke atas kasur, menarik selimut tebalnya, dan buru-buru menyalakan laptop untuk memulai maraton drama koreanya.

***

Malam yang kian larut tak surut meluapkan keriuhan di lapangan padel tennis indoor kawasan Jakarta Selatan. Suara pantulan bola beradu cepat dengan dinding kaca dan ayunan raket, diiringi gelak tawa nyaring Dion yang menggema di seluruh area.

Satu bulan belakangan, Ibra memang sengaja melampiaskan seluruh sisa energinya ke berbagai kegiatan. Pekerjaan kantor yang menumpuk, gym di pagi hari, hingga olahraga malam seperti ini, apa pun ia lakoni agar pikirannya tidak terus menerus tertahan pada satu nama. Naya.

"Ibra! Tahan backhand-nya!" seru Papa dari seberang net.

Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Papa masih terlihat begitu bugar dan lincah. Malam ini Papa menjadi lawan main Ibra dan Dion, berpasangan dengan salah satu rekan kerja divisi lain.

Brak!

Pukulan smash tajam dari Papa meluncur deras, memantul keras di dinding kaca belakang sebelum akhirnya gagal dikembalikan oleh Dion yang justru hampir tersungkur.

"Aduh! Om, ampun, Om! Ini maen padel apa latihan militer sih?!" keluh Dion dramatis seraya memegangi lututnya yang lemas, napasnya terengah-engah.

Ibra hanya menghembuskan napas panjang, mengusap keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan jersey yang ia kenakan. Wajahnya tetap datar, namun dadanya turun naik menahan lelah.

Papa menyandarkan raketnya di pinggang, lalu tersenyum tipis menatap anak laki-lakinya itu. "Skor terakhir buat saya. Yakin mau lanjut lagi, Yon? Pemimpin tim kamu keliatannya masih punya banyak beban pikiran, tuh."

Dion langsung melambaikan tangan menyerah. "Enggak dulu, Om! Tulang saya bisa copot. Ibra mah dari tadi mainnya kayak orang lagi ngajak berantem, alias enggak jelas."

Ibra menoleh pelan ke arah Dion, memutar raket di tangannya. "Banyak omong lo, Yon. Baru dua set."

"Dua set mata lo soak! Ini udah mau set ketiga!" cerocos Dion sambil berjalan keluar lapangan menuju area istirahat, mengambil botol air minumnya.

Ibra dan Papanya menyusul ke pinggir lapangan. Setelah mereguk air mineralnya hingga tersisa separuh, Ibra memilih duduk di bangku kayu, menyandarkan punggungnya yang basah oleh keringat. Dion sudah lebih dulu sibuk membalas pesan di ponselnya--yang Ibra duga dari Gea, mengingat Dion tak berhenti tersenyum-senyum sendiri.

Tak lama, Papa menepuk bahu Ibra pelan, memberi isyarat agar mereka berbicara agak menjauh dari kerumunan rekan kantor yang lain.

Ibra bangkit, berjalan mengekor Papanya menuju koridor sepi di dekat fasilitas shower. Udara malam yang berembus pelan terasa dingin menyapu kulitnya yang berpeluh.

"Masih belum ada kabar?" tanya Papa membuka percakapan, suaranya tenang namun dalam.

Ibra menyisir rambutnya yang basah ke belakang dengan jemari, lalu menggeleng pelan. "Enggak ada, Pa."

"Yaudah, sabar aja, Ibra. Kalau waktunya tepat, takdir sendiri yang bakal bawa kamu dan dia, berhadapan lagi."

Sabar terus sabar terus.

Ibra memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam dalam-dalam lalu mengangguk lambat.

Tapi sampai kapan, Pa? batin Ibra menjerit pelan.

Ia tidak tahu saja, bahwa di saat ia berjuang menahan diri dalam ketidakpastian malam ini, ada takdir baru yang sedang tumbuh, yang mana akan menarik dua benang, untuk saling berdekatan.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!