NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

"Uang lu."

​Regina menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah yang terlipat rapi menjadi dua ke arah meja kayu depan kelas 12 IPS.

​Helga, yang sedang duduk bersandar di kursi kayu sambil mengunci layar ponselnya, mendongak lambat. 

Ia tidak langsung mengambil uang itu.

​"Kan gua dibilang bercanda doang semalem," kata Helga pendek, intonasinya santai.

​"Gue gak suka utang," balas Regina datar, tangannya tetap memegang ujung lembaran uang itu tanpa bergeser serenti pun. "Ambil."

Helga berkedip sekali. 

Ia menarik tangannya dari saku celana abu-abunya, lalu meraih lembaran uang itu dari jari Regina. 

Jari mereka sempat bersentuhan tipis selama setengah detik sebelum Helga memasukkan uang tersebut ke saku kemeja seragamnya tanpa dirapikan lagi.

​"Gua taruh saku," sahut Helga singkat.

​"Terserah," kata Regina, membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri koridor lantai dua tanpa menoleh lagi.

Pukul sepuluh lewat lima belas menit, matahari pagi mulai terasa menyengat di pinggir lapangan olahraga SMA Negeri 1. 

Beberapa siswa kelas 12 IPA 2 dan IPA 4 duduk berderet di atas tribun semen yang agak berdebu setelah menyelesaikan tiga putaran lari pemanasan.

​Shinta memegang botol air mineral dingin, menempelkan permukaan plastiknya yang berembun ke pipinya yang kemerahan.

​"Duh, Pak Budi kalau ngasih pemanasan gak kira-kira banget," keluh Shinta sambil meneguk airnya sampai tersisa separuh. 

"Lagian ngapain sih jam sepuluh masih disuruh lari? Kulit gue bisa belang ini."

​Regina duduk di sebelah Shinta, meluruskan kedua kakinya yang terbungkus sepatu kets putih. 

Ia menyeka keringat tipis di pelipisnya menggunakan handuk kecil warna abu-abu.

​"Namanya juga jam olahraga," tanggap Regina pelan.

​"Tapi tetep aja panas, Gin," Shinta mengibaskan kerah kaos olahraganya. 

Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, mendekatkan posisi duduknya ke Regina. "Eh, lu tahu gak? Si Varen anak IPS tuh kemarin katanya habis kena semprot sama wali kelasnya gara-gara cabut pelajaran matematika."

​Regina tidak menyahut. Tangannya sibuk melipat handuk kecilnya menjadi bentuk persegi rapi.

​"Terus ya," lanjut Shinta antusias, suaranya agak mengecil. 

"Kata anak-anak, Varen tuh emang sering banget bikin keonaran, tapi pelindungnya selalu si Renan sama Helga. Padahal kalau dibandingin, si Varen yang paling banyak gaya, tapi kalau ada masalah malah Helga yang maju duluan. Berasa kalah telak banget si Helga kalau di depan Varen, padahal Helga yang lebih ngerti situasi."

Jemari Regina berhenti mengusap lipatan handuk. Pandangannya terpaku pada kerikil kecil di bawah sepatu ketsnya.

​"Ngapain lu mikirin anak-anak IPS?" tanya Regina datar tanpa mendongak.

​"Ya kan cerita doang! Gosip hangat," Shinta tertawa kecil, menyenggol lengan Regina dengan siku.

​Pada saat yang sama, di sepanjang lorong semen tepi lapangan, Helga melangkah sendirian membawa sekeranjang bola basket kusam. 

Ia mengenakan kaos olahraga yang basah oleh keringat di bagian punggung.

Helga berjalan terus tanpa melirik ke arah tribun tempat Regina dan Shinta duduk. 

Langkah kakinya konstan dan tenang, menyusuri garis tepi lapangan menuju gudang olahraga di sudut belakang sekolah.

Regina memperhatikan punggung Helga dari jarak jauh hingga cowok itu menghilang di balik pintu besi gudang. 

Kemarin malam dia mau aja dimanfaatin Varen buat taruhan bodoh, pikir Regina pelan dalam hatinya. Gak masuk akal.

Pukul dua siang lewat sepuluh menit, bel telah akhir pelajaran berkumandang dari speaker koridor—Ting-tong-tang-ting!

​Siswa-siswi berhamburan keluar dari gerbang depan sekolah. 

Regina berdiri di balik pilar dekat gerbang samping yang sepi, memegang ponselnya dengan satu tangan.

​Ia mengetik satu pesan singkat, lalu menekan tombol kirim.

​'Pulang sekolah lu luang? Gue mau ngomong. Di Kafe Semak, jam tiga sore.'

​Tiga puluh detik kemudian, ponselnya bergetar sekali—Bzzzt.

​'Gua luang. Kafe Semak di jalan lingkar luar itu kan? Cukup jauh dari sekolah.'

​'Iya. Jangan telat.'

Pukul tiga sore lewat lima belas menit, aroma kayu manis dan daun teh kering tercium tipis di dalam Kafe Semak. 

Kafe itu terletak agak terpencil di tepi jalan lingkar luar kota, jauh dari kawasan sekolah dan rumah warga, bernuansa tenang dengan lampu-lampu bohlam gantung berdaya rendah.

​Regina duduk di meja sudut dekat jendela yang tertutup tirai bambu. 

Di atas meja kayu bulat itu sudah ada satu cangkir teh chamomile hangat dan satu piring kecil berisi dua potong biskuit gandum.

​Suara langkah kaki beradu dengan lantai ubin berderit halus—Kriiet, kriiet.

​Helga melangkah mendekat, menarik kursi kayu di seberang Regina lalu duduk tanpa melepas jaket jeansnya.

​"Gua agak muter balik tadi gara-gara ada jalan ditutup," ujar Helga, meletakkan kunci motornya di atas meja.

Regina meraih cangkir tehnya, memutarnya setengah putaran di atas tatakan keramik tanpa meminumnya.

​"Kenapa lu mau aja?" tanya Regina langsung, intonasinya lurus dan tanpa basa-basi.

​Helga memiringkan kepalanya sedikit. "Mau aja apaan?"

"Uang taruhan Varen kemarin," sahut Regina, menatap mata Helga. "Gue tahu Varen yang mulai keonaran itu. Tapi kenapa lu yang harus sibuk urusin dompet dia dan ngajak gue ke tongkrongan lu malam-malam cuman buat beresin masalah yang bukan buatan lu?"

Helga berkedip lambat. Tangannya terulur meraih tempat tisu di tengah meja, mengambil selembar tisu lalu melipatnya jadi empat bagian sembarangan.

​"Karena Varen temen gua," jawab Helga pelan, suaranya datar.

​"Temen lu tapi lu kayak disuruh-suruh sama dia," potong Regina cepat. "Lu ngalah mulu di depan dia. Bahkan pas dia bikin taruhan pake nama gue, lu yang kelihatan paling repot."

Helga menegakkan punggungnya, bersandar ke sandaran kursi kayu. Tatapannya menetap di wajah Regina.

​"Lu ngajak gua ketemu jauh-jauh ke kafe ini cuma buat nanya hal ini?" tanya Helga balik.

​"Gue cuma gak suka liat orang yang gak berani tegas sama temennya sendiri," balas Regina dingin.

Helga menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya—senyum yang terkesan datar tanpa beban.

Ia memajukan badannya sedikit, menumpukan kedua sikunya di atas meja.

​"Gua bukan gak berani tegas," ujar Helga pelan, menatap mata Regina dengan intim. 

"Varen punya rahasia keluarga gua dari SMP. Dan selama gua masih butuh dia diam, gua bakal turutin mau dia."

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!