Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Vania berjalan di depan kelas, celingukan mencari cari kelasnya.
Bruak
Tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang gadis yang sok cantik sok populer padahal kenyataannya dia tidak terlalu cantik.
"Hei! Punya mata gak sih, sekarang juga berlutut dan minta maaf padaku! Teriak Rere (wanita itu) sambil berkacak pinggang dengan tatapan tajam, buas dengan gayanya yang masih sok sokan itu.
Vania mengangkat kedua alisnya" Hah, aku? minta maaf padamu? Mimpi!" Ketusnya memalingkan wajahnya hendak melangkah pergi.
"Tunggu!" Teriak Rere.
Vania respek menghentikan langkahnya sambil mendengus kesal.
Tiba tiba sebuah tamparan mendarat di pipinya dan seseorang juga menarik rambutnya membuatnya hampir saja terjatuh ke belakang.
Ternyata Rere memiliki pengikut setia yaitu Alma dan Cindy, mereka berdualah yang menjadi anjing peliharaan Rere, mereka akan menuruti semua perintah majikannya.
Vania melotot tajam dan meringis kesakitan, ia dihujam dengan tamparan hingga buku bukunya yang ia pegang jatuh berantakan.
Tapi bukanlah Vania kalau dia hanya pasrah lalu mengadu ke dekan, karena seorang Vania selalu memiliki cara tersendiri untuk membalasnya.
"Brengsek kalian!" Teriak Vania mendorong tubuh Alma dan Cindy hingga keduanya terpental ke belakang.
Buk
Buk
Au
Au
Tiba tiba seorang muncul.
"Stop! Hentikan!"
Vania dan Rere menghentikan aksinya dan menoleh bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan di sini! Ikut aku ke ruang dekan!" Teriak pak Bara dengan tatapannya yang tajam.
Vania, Rere, Alma dan Cindy pun berjalan di belakang dosen paling tampan di kampus untuk di sidang di ruang Dekan.
Yang tidak dilihat oleh mereka, seorang pemuda paling populer di kampus tersenyum tipis melihat ulah mereka.
"Gadis yang menarik" Ucapnya lirih.
"Arvan, ngapain kamu di sini" Tanya Aldo sambil menepuk pundak pemuda itu.
Arvan pun menoleh tanpa memberikan jawaban membuat Aldo memahami sesuatu
"O gadis itu"
Arvan menoleh mengangkat kedua alisnya
"Kamu kenal dia?''.
"Ya enggak sih tapi aku tahu dia karena baru seminggu ini keluarganya pindah ke sini dan menempati rumah kosong yang ada di depan rumahku"Jawab Aldo.
''Benarkah?"
"Iya Van, Gadis itu hanya tinggal berdua dengan ibunya, kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang dia lebih baik kamu ikut aku main ke rumahku" Belum selesai ia bicara, Arvan sudah menghilang.
Aldo pun mendengus kesal "Arvan ! Kebiasaan banget, pergi disaat aku belum selesai ngomong.
Tak lama kemudian,
Vania mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar, lalu menatap pak Bara yang juga menatapnya tajam.
"Sekarang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" Tanya pak Bara.
Vania masih terpana dengan ketampanan dosen muda itu hingga tidak mendengar apa yang ditanyakan padanya.
Dan Bara harus mengulangi pertanyaannya tapi dengan lebih tegas.
Lagi lagi Vania masih bengong dan kagum melihat dosennya yang mirip dengan artis di drama china yang sering ia tonton.
Bruaks...
Bara menggebrak meja di depannya, membuat Vania tersentak kaget lalu menggaruk nggaruk kepalanya sambil senyum senyum sendiri.
"Maaf pak, tadi bapak tanya apa ya"
Rere ikut emosi dan menatap tajam ke arah Vania " Hei anak baru berani berulah tanggung sendiri akibatnya".
Vania beranjak dan menonjok wajah Rere hingga mengeluarkan darah dari hidungnya.
Bara semakin geram dan menarik kasar tangan Vania.
"Kamu kenapa sih! Kamu tidak tahu ini di mana! "
"Tapi pak dia yang cari gara gara"
"Cukup! Sekarang juga kamu bapak hukum, oh bukan hanya kamu tapi kalian berempat aku hukum semua".
Vania mendengus kesal, ia menatap ke arah Rere yang masih memegangi hidungnya karena masih mengeluarkan darah.
"Ini semua karena kamu!"
Bara pun semakin kesal dan menoleh pada Vania.
"Kamu mahasiswa baru di sini, tapi kamu kasar dan suka main tangan, hari ini aku menghukummu bersihkan toilet di lantai atas"
Vania melotot tajam " Apa! Pak, aku gak salah , aku hanya membela diri".
"O masih protes! Oke bapak tambah setelah membersihkan toilet kamu berlari lapangan sepuluh kali putaran"
Lagi lagi Vania melotot hendak protes.
"O protes lagi, aku tambah lagi!" Ucap Bara.
"Baik baik aku terima"
Vania mendengus kesal " Dasar kejam!".
Bara pun tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan pada ketiga gadis di sebelahnya.
"Sedangkan untuk kalian bertiga, bersihkan toilet di lantai bawah! Protes ! Aku tambah!"
"Baik baik pak kami tidak akan protes" Jawab ketiganya bersamaan.
Bara tersenyum tipis dan meminta keempat gadis itu keluar dari ruangannya dan segera menjalankan hukumannya.
Vania pun berjalan ke lantai atas untuk membersihkan toilet sesuai hukuman yang diberikan oleh Bara.
Dengan hati kesal ia menjalani hukumannya, selesai satu ruangan ke ruangan lainnya dan dalam waktu kurang dari satu jam semua sudah beres.
Vania segera berjalan menuju lapangan dan melepaskan tasnya, ia menatap betapa luasnya lapangan di hadapannya.
"Ayolah Van, anggap saja ini latihan fisik, kamu pasti bisa, hanya sepuluh putaran '' Gumamnya di dalam hati.
Vania pun segera berlari kecil mengitari lapangan sesuai hukuman yang diberikan oleh Bara.
Sementara itu dari kejauhan, Arvan tetap memperhatikan Vania. Ia semakin penasaran dengan gadis itu, gadis yang pemberani, fisiknya pun tidak bisa diremehkan.
Arvan tersenyum tipis dan terus memperhatikan Vania tanpa mengalihkan pandangannya.