Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.Pindah
Di meja makan, suasana hangat keluarga terasa begitu kontras dengan hawa dingin yang tak kasatmata di antara Zaid dan Nara.
Bunda terus tersenyum manis sembari menuangkan teh hangat untuk Zaid, sementara Ayah membaca koran pagi dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Kalian ini kok bangunnya kompak sekali," goda Bunda dengan kerlingan mata yang membuat Nara hampir tersedak tehnya sendiri.
"Gimana tidur semalam? Bunga mawar yang Bunda tumpuk di ranjang wangi, kan? Itu mawar segar khusus bunda pesan keteman bunda, lho."
Nara menahan napas, matanya refleks melirik Zaid yang sedang menyantap roti panggangnya dengan tenang.
Ia khawatir Zaid akan secara blak-blakan jujur soal bunga mawar yang disingkirkannya semalam.
Namun, Zaid menurunkan cangkirnya perlahan, menyunggingkan senyum tipis—senyum formal yang sangat rapi.
"Terima kasih banyak, tante. Aromanya memang sangat terasa. Tapi justru karena itu, pagi ini saya berniat membawa Nara ke rumah saya."
Bunda menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong dadar telur. "Panggil bunda aja, Zaid." Titah bunda Mayang yang tak mau ada kecanggungan antara dirinya dan sang menantu.
"Lho? Cepat sekali, Zaid? Kan baru semalam. Bunda kirim pakaian kalian ke sini juga buat seminggu."
Ayah menurunkan korannya, menatap menantunya dengan pandangan menyelidik.
"Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Zaid?"
"Bukan hanya soal pekerjaan, om," jawab Zaid, suaranya mantap dan tenang, memancarkan wibawa yang sulit dibantah.
"Saya ingin Nara segera beradaptasi dengan rumah kami. Jika kami terlalu lama berada di bawah naungan Ayah dan Bunda, proses kemandirian kami sebagai pasangan baru akan tertunda. Saya ingin kami belajar mengurus rumah tangga kami sendiri, tanpa intervensi dan tanpa merepotkan Bunda."
Kata 'intervensi' diucapkan Zaid dengan sangat halus, namun Nara tahu persis makna di baliknya. Itu adalah batasan tegas yang digambar Zaid agar orang tua Nara tidak ikut campur dalam dinginnya hubungan mereka.
Bunda tampak berat hati, matanya beralih menatap Nara seolah meminta dukungan.
"Nara... kamu tidak keberatan langsung pindah? Kamu tidak mau di sini dulu beberapa hari?"
Nara menatap ibunya. Ada rasa iba melihat kekecewaan di mata Bunda, namun bayangan harus bersandiwara mesra di depan ibunya sendiri setiap hari terasa jauh lebih menyiksa. Ia menguatkan hati.
"Nara ikut mas Zaid, Bunda," ucap Nara pelan namun yakin. "Benar kata mas Zaid. Nara harus belajar mengurus rumah tangga kami sendiri mulai sekarang."
Mendengar jawaban Nara, Zaid mengerlingkan mata sekilas ke arah istrinya.
Ada kepuasan samar di raut wajahnya melihat Nara yang bertindak kooperatif dan rasa nyaman saat Nara memanggilnya dengan panggilan mas, tidak membuat drama di depan orang tua.
Ayah menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan.
"Ya sudah. Kalau memang itu keputusan kalian sebagai suami istri, Ayah dan Bunda hanya bisa mendoakan. Ingat Zaid, Nara sekarang adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Dan Nara, patuhi suamimu."
"Baik, om... maaf ayah maksudnya," sahut Zaid tegas.
❤️
❤️
Perjalanan menuju rumah pribadi Zaid diisi oleh keheningan yang tebal. Hanya suara mesin mobil SUV hitam itu dan denting indikator jalan yang terdengar.
Nara menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pohon dan bangunan yang melaju mundur. Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang diantar menuju medan pertempuran baru yang asing.
Satu jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah berdesain minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu, kayu, dan kaca besar. Rumah itu terlihat sangat elegan, bersih, namun terasa sepi dan tak berpenghuni.
Zaid menurunkan dua koper besar dari bagasi dan membawanya masuk. Nara mengikutinya dari belakang, melangkah melewati pintu utama yang menggunakan kunci digital.
"Ini rumah kamu?" bisik Nara spontan saat melihat interior rumah yang didominasi warna-warna monokrom. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan warna-warni. Segala sesuatunya tertata sangat presisi, steril, dan dingin. Sangat mencerminkan pemiliknya.
"Rumah kita," koreksi Zaid datar sambil meletakkan koper di ruang tengah. "Tapi pada dasarnya, ini adalah tempat tinggal saya selama tiga tahun terakhir. Tidak ada asisten rumah tangga yang menginap. Hanya ada petugas kebersihan yang datang tiga kali seminggu setiap sore."
Zaid berbalik, menghadap Nara sepenuhnya. Tatapan matanya yang tajam mengunci pandangan Nara.
"Karena kita sudah sampai di sini, ada beberapa hal dasar yang harus kita sepakati agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan."
Nara merapikan jilbab instannya, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian. "Katakan."
"Kamar utama ada di lantai dua. Itu kamar saya," ujar Zaid tanpa jeda. "Di sebelahnya ada kamar tamu yang sudah disiapkan dan cukup luas. Kamu bisa menggunakan kamar itu sebagai kamar pribadimu."
Nara sedikit terkejut. Meski ia sudah menduga mereka tidak akan tidur di satu ranjang, fakta bahwa Zaid secara terang-terangan memisahkan kamar sejak hari pertama terasa seperti garis pemisah yang makin dipertegas.
"Kamu ingin kita pisah kamar?" tanya Nara memastikan.
"Bukankah itu yang kamu inginkan juga?" Zaid menaikkan sebelah alisnya. "Kamu tidak nyaman berdekatan dengan saya, dan saya menghargai privasi kamu. Tidur di kamar terpisah adalah solusi paling rasional. Tidak ada gunanya kita memaksa diri tidur satu ranjang hanya demi formalitas yang menyiksa kita berdua."
Nara mengangguk, mencoba menutupi secuil rasa teriris di hatinya. "Baik. Aku setuju. Itu memang lebih baik."
"Bagus," lanjut Zaid. "Lalu soal kebutuhan sehari-hari. Saya sudah mendaftarkan kartu kredit atas nama kamu untuk seluruh kebutuhan dapur dan pribadi. Saya tidak membatasi penggunaannya, tapi saya harap kamu bisa mengelolanya dengan bijak. Soal makanan, kamu tidak wajib memasak untuk saya. Saya terbiasa makan di luar atau memesan makanan, dan memasak sendiri kalau saya luang. ..Tapi jika kamu memasak, saya akan makan apa yang ada."
Nara mendengarkan setiap detail aturan itu. Pria di hadapannya tidak sedang berbicara sebagai seorang suami yang baru menikahi istrinya, melainkan seperti seorang manajer yang sedang membacakan kontrak kerja sama dengan mitra bisnis baru.
"Ada lagi?" tanya Nara, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil dan profesional.
Zaid menatap Nara dalam-diam, menyadari nada suara wanita itu yang mendadak formal.
"Satu hal terakhir. Di luar rumah ini, terutama di depan keluarga besar kita, kita adalah pasangan yang saling menghormati. Saya tidak minta kamu berakting mesra berlebihan, cukup tunjukkan bahwa hubungan kita baik-baik saja. Tapi di dalam rumah ini, kamu bebas menjadi dirimu sendiri. Kamu tidak perlu melayani saya seperti istri dalam sinetron. Kita hidup sebagai dua orang dewasa yang berbagi atap."
Nara tersenyum tipis—sebuah senyum satir yang penuh penekanan.
"Penjelasan yang sangat jelas, Zaid. Terima kasih atas fasilitas dan kebebasan yang kamu berikan. Kamu tenang saja, aku tidak akan melangkahi batasan yang sudah kamu buat."
Zaid mengamati perubahan sikap Nara. Wanita yang semalam terlihat begitu pasif dan ragu-ragu itu kini berdiri tegap, menatapnya lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Ada kekuatan tersembunyi dalam diri Nara yang baru saja bangkit akibat batasan dingin yang diisikannya sendiri.
"Koper kamu ada di sana. Kamarmu sudah dibersihkan kemarin. Kamu bisa membereskan barang-barangmu," kata Zaid, lalu melirik jam tangannya. "Saya harus ke kantor sebentar. Ada dokumen penting yang harus saya tanda tangani."
"Hari ini? Kita baru saja menikah kemarin," ujar Nara refleks.
"Pekerjaan tidak mengenal kata 'baru menikah', Nara," sahut Zaid dingin. "Lagipula, keberadaan saya di rumah hanya akan membuatmu merasa canggung, bukan?"
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏