Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Berniat Membawa Kanaya Ke Sana?
Restoran seafood sengaja dipilih Yudha untuk tempat makan siang ia dan papanya hari ini. Jaraknya yang sangat dekat, hanya sekitar lima ratus meter dari kantor Wirawan, membuat Yudha memutuskan makan siang di sana, selain restoran itu punya cita rasa yang menggugah selera terutama pecinta seafood.
"Papa pikir kamu akan bawa istri kamu, Yud. Kenapa nggak diajak sekalian?" tanya Wirawan, sementara matanya menatap hidangan yang sudah tersaji di depannya.
Yudha tersenyum tipis. Ia meraih mangkuk kecil berisi air dan potongan jeruk nipis di dalamnya. Sambil mencelupkan ujung-ujung jarinya untuk membasuh tangan, ia menjawab, "Kanaya nggak bisa keluar kantor, Pa. Katanya ada rapat penting siang ini."
Wirawan mengangguk-angguk paham, namun sedetik kemudian tatapannya berubah menyelidik dengan suara berbisik. "Ngomong-ngomong... apa papa mertuamu itu masih galak aja sama kamu, Yud?"
Mendengar pertanyaan itu, Yudha malah terkekeh pelan. Ia menanggapi kekhawatiran papanya dengan sangat santai, seolah hal itu bukan beban besar baginya. "Nggak apa-apa lah, Pa. Wajar namanya juga orang tua yang menyayangi anaknya. Nggak ingin anak perempuannya disakiti. Nanti lama-lama Papa Danur bakal sayang sama Yudha, kalau tahu Yudha bisa bikin Kanaya bahagia."
Melihat ketegaran putranya, Wirawan menghela napas panjang. Sebenarnya ada rasa bersalah yang terselip di hati, karena dia melibatkan putra bungsunya itu masuk dalam masalah ini. Namun, melihat rumah tangga Yudha dan Kanaya tampak harmonis, membuatnya merasa lega.
"Ya sudah, yang penting kamu yang sabar aja, Yud. Bagaimanapun juga, karena ulah kakakmu itu kita berada di pihak yang salah dalam masalah kemarin."
Seperti dirinya yang selalu mencoba mengalah dan memaklumi sikap keras Danur demi menjaga hubungan baik. Ia berharap Yudha pun bisa melakukan hal yang sama.
"Iya, Pa, Yudha mengerti kok," sahut Yudha menenangkan. "Lagi pula, yang galak itu cuma Papa Danur aja. Kalau Mama Anita, kedua adik Kanaya dan suaminya, mereka udah CS-an sama aku, Pa!" Yudha tertawa cengengesan, berusaha mencairkan suasana.
Wirawan ikut tersenyum melihat tawa anaknya. Dia merasa tenang melihat kedewasaan sikap putra bungsunya itu
"Lalu, ada apa kamu tiba-tiba traktir Papa makan siang, Yud?" tanya Wirawan, "Pasti ada hal penting yang mau kamu omongin, kan?" Wirawan dapat menebak, putranya tak sekedar mengajaknya makan siang. tapi ada hal yang ingin disampaikan padanya.
Yudha menghentikan tawa kecilnya. Ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih serius dan berusaha menyampaikannya dengan hati-hati.
"Mas Yogi tadi kirim pesan ke aku, Pa," kata Yudha perlahan, sengaja menggantung kalimatnya sesaat. "Akhir pekan ini Mas Yogi mau menikah sama Mbak Wulan."
Gerakan mulut Wirawan yang sedang mengunyah makanan langsung melambat. Suasana di meja makan yang tadinya hangat mendadak tegang.
Belum hilang rasa syok dan malunya akibat ulah Yogi yang tiba-tiba kabur dan membatalkan pernikahan dengan Kanaya, kini tanpa angin tanpa hujan, putra sulungnya itu memberi kabar akan menikah dengan wanita lain.
Wajah Wirawan yang tadinya santai dan penuh senyum kini berubah total. Guratan wajahnya memperlihatkan rasa kecewa yang mendalam. Memikirkan tingkah laku Yogi benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Mas Yogi minta aku untuk datang ke sana, Pa. Dia berharap aku bisa hadir sebagai perwakilan dari pihak keluarga kita. Mas Yogi juga bilang kalau nggak ada pesta besar-besaran, acaranya cuma akad nikah aja," sambung Yudha hati-hati.
Wirawan tidak langsung menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, dengusan nafasnya terdengar kencang.
"Anak itu... Nggak habis pikir Papa sama ulahnya. Dia meninggalkan pernikahan dan memutuskan menikahi wanita lain, tanpa sepengetahuan dan seizin Papa. Dia anggap apa Papa ini?" tangan Wirawan mengepal menahan emosi. Jika saja tak sedang berada di tempat umum, mungkin saja meja di depannya sudah ia gebrak.
"Yudha harap Papa tetap tenang. Yudha kasih tahu ini sekedar biar Papa tahu kabar tentang Mas Yogi saja. Soalnya ini tentang pernikahannya, bagaimanapun jalannya, istri Mas Yogi nanti akan menjadi anggota keluarga kita," ucap Yudha, suaranya sengaja direndahkan, mencoba menenangkan papanya. "Papa jangan terlalu memikirkan tentang masalah Mas Yogi." Bagi Yudha, kesehatan papanya lebih penting, sehingga ia berharap Wirawan tidak lagi membebani pikirannya dengan konflik bersama Yogi.
Wirawan terdiam sejenak. Matanya menatap Yudha. "Apa kamu akan pergi ke sana?" tanyanya dengan nada berat.
"Iya, Pa," jawab Yudha mantap, namun tetap lembut. "Bagaimanapun juga, Mas Yogi butuh keluarga yang mendampingi di sana. Nggak enak sama pihak perempuan kalau nggak ada satu pun perwakilan dari keluarga kita yang datang."
Yudha menyampaikan niatnya demi menjaga nama baik keluarga mereka. Yudha juga memilih tetap menyimpan rapat soal uang tabungan kakaknya yang sempat ia gantikan demi pernikahan terdahulu. Biarlah itu menjadi urusannya sendiri.
Helaan napas berat dan panjang Wirawan kembali terdengar. Bahunya yang tegap kini tampak sedikit merosot. "Ya sudah, kalau keputusanmu sudah bulat, Papa nggak akan melarang lagi."
Mendengar sikap tulus Yudha yang sarat rasa tanggung jawab menjaga nama baik keluarga, Wirawan tak punya alasan lagi untuk tidak merestui Yudha hadir di pernikahan Yogi.
"Makasih banyak ya, Pa." Yudha menghela napas lega. Beban di pundaknya serasa menguap setelah mendapat restu dari papanya untuk hadir di hari bahagia Yogi.
"Mama gimana, Pa? Apa perlu dikasih tahu juga?"
Yudha tahu persis watak mamanya. Seandainya sang mama tahu Yogi akan menikahi kekasihnya, naluri keibuannya pasti menginginkan untuk tetap hadir. Bagaimanapun kekecewaan yang pernah dibuat Yogi, Yogi tetaplah darah daging yang lahir dari rahimnya.
"Soal mamamu, biar Papa yang bicara nanti," jawab Wirawan, "Kalau mamamu memang berminat pergi ke sana, Papa titip mamamu, jaga mamamu baik-baik."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Wirawan, mengisyaratkan bahwa Wirawan memberikan lampu hijau. Ia tidak akan menahan istrinya jika ingin menjadi saksi di pernikahan anak sulung mereka.
Seketika senyuman merekah di wajah Yudha. "Siap, Pa. Yudha janji akan jaga Mama dengan baik."
Hati Yudha menghangat melihat sikap papanya yang mulai melunak. Mengizinkan mamanya ikut pergi mungkin bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan Yogi dan kedua orang tua mereka yang sempat bersitegang.
"Bagaimana dengan Kanaya? Apa kamu berniat membawa Kanaya ke sana?" tanya Wirawan. Namun belum sempat Yudha menjawab, ia sudah menyambung kalimatnya lebih dulu, "Menurut Papa, sebaiknya nggak usah, Yud. Papa yakin papa mertuamu juga nggak akan setuju."
Wirawan tahu persis situasinya. Terhadap Yudha saja, Danur masih menunjukkan sikap dingin. Apalagi jika Danur sampai tahu anak perempuannya dibawa ke pernikahan Yogi.
Yudha terdiam, tak langsung merespons.
Logikanya membenarkan ucapan sang papa. Suasana pasti akan menjadi sangat canggung jika Kanaya ikut berada di sana. Namun di sisi lain, hati kecil Yudha berharap. Sebagai seorang suami, ada keinginan untuk menggandeng Kanaya di acara besar keluarganya sendiri.
❤️❤️❤️
Bersambung...
baru manggap mam udah keluar kata keramat aja
Bersambung 😭
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay