NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Itu Pengasuhku, Aku yang Manjakan

Ruang privat Restoran Imperial hening selama tiga detik.

Sekar merasa tiga detik itu cukup panjang untuk memasak nasi goreng satu wajan.

Darren, pewaris sementara PT Lestari Group, penyelamat darurat Rumah Tan, pria yang datang dengan enam mobil hitam dan satu pasukan bodyguard, berdiri di sana dengan piyama motif sapi dan wajah hancur.

"Kamu datang tanpa dompet," kata Ardian.

"Aku pikir Koko diculik," Darren membela diri dengan suara kecil. "Dalam skenario penculikan, biasanya yang dibutuhkan bukan dompet."

Sekar tidak tahan lagi. Ia tertawa satu kali, cepat-cepat ditutup dengan batuk.

Ardian menatapnya.

Sekar langsung berdiri tegak. "Maaf. Situasinya sangat serius."

Manajer restoran sepertinya akhirnya mengenali wajah Darren. Senyum profesionalnya kembali, kali ini terlalu lebar.

"Pak Tan Darren, Pak Tan Ardian, mohon jangan khawatir. Ini kehormatan bagi Restoran Imperial. Untuk malam ini, tagihan kami anggap complimentary."

Darren yang tadinya pucat langsung tegak. "Tidak bisa!"

Manajer terkejut. "Maaf?"

"Keluarga Tan tidak makan gratis lalu pergi begitu saja." Darren menoleh ke bodyguard. "Ambil dompetku di rumah."

Salah satu bodyguard berkata hati-hati, "Pak Darren, rumah cukup jauh."

"Ambil kartu perusahaan di kantor."

"Kantor lebih jauh."

"Telepon Handi."

"Pak Handi sedang menyusul, tapi macet."

Darren menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa hidupku begini?"

Ardian berkata singkat, "Cukup."

"Tidak cukup, Koko. Reputasi keluarga dipertaruhkan."

"Reputasi keluarga sudah kamu bawa masuk dengan piyama sapi."

Sekar menunduk lagi.

Darren melihat dirinya sendiri seolah baru ingat. "Ini motif mahal."

"Tetap sapi."

Manajer restoran cepat-cepat berkata, "Sungguh tidak apa-apa. Kami akan mencatat sebagai jamuan kehormatan. Tuan-tuan bisa kembali kapan saja."

Darren masih ingin berargumen. Ia bahkan menarik kursi, duduk seperti hendak mengadakan rapat pembayaran darurat.

Ardian menekan pelan sandaran kursi roda. "Bawa dia."

Bodyguard saling pandang.

Darren membeku. "Koko?"

"Bawa."

Dua bodyguard mendekat. Yang satu mengangkat sisi kursi, yang lain menahan punggung. Darren masih duduk di kursi makan ketika kursi itu diangkat pelan seperti tandu kerajaan gagal.

"Koko! Aku sedang mempertahankan martabat!"

"Martabatmu tertinggal di rumah bersama dompet."

Sekar menutupi mulut dengan map alergi makanan. Bahkan manajer restoran memalingkan wajah, bahunya bergetar.

Di koridor, tamu-tamu yang mengintip langsung pura-pura melihat lukisan dinding. Darren dibawa keluar lengkap dengan kursi, piyama sapi, dan protes yang makin jauh.

"Mbak Sekar!" teriaknya dari lorong. "Tolong jadi saksi, aku mau bayar!"

"Saya saksi, Pak Darren," jawab Sekar cepat. "Saksi bahwa Bapak belum membawa alat pembayaran."

"Kejam!"

Ardian memutar kursi rodanya menuju pintu. "Kamu senang?"

Sekar berjalan di sampingnya. "Saya sedang belajar gaya penyelesaian masalah keluarga Tan."

"Jangan belajar dari Darren."

"Dari Pak Tan?"

"Lebih jangan."

Mereka keluar dari ruang privat. Manajer masih membungkuk sopan, bersikeras bahwa tagihan akan "diatur". Ardian hanya mengangguk pendek. Sekar tahu nanti Handi pasti akan mengurus pembayaran dengan cara yang sangat rapi, tetapi malam ini tetap akan tercatat sebagai malam ketika tiga orang kaya dan satu pengasuh hampir gagal membayar makan karena dompet.

Di depan Restoran Imperial, udara malam Jakarta lembap. Lampu mobil hitam berderet memantul di kaca restoran. Bodyguard menurunkan Darren beserta kursinya di dekat pintu, lalu salah satu staf akhirnya berhasil mengambil ponsel Sekar dari mobil. Sekar mengecek layar, memastikan tidak ada pesan dari Mama, lalu menyimpannya.

Darren masih mengomel. "Aku bisa transfer sekarang."

"Transfer nanti," kata Ardian.

"Tapi manajernya mungkin mengira kita kabur."

"Dengan enam mobil?"

Darren memikirkan itu. "Benar juga."

Sekar baru hendak naik ke mobil ketika suara perempuan halus terdengar dari arah tangga masuk.

"Ardian."

Udara yang tadi penuh komedi langsung berubah.

Hartono Felicia berdiri di sana memakai dress putih gading, rambut tertata, senyum tipis yang terlalu rapi. Di sampingnya, Susanto Kevin mengenakan jas abu-abu gelap, satu tangan memegang amplop merah marun dengan pita emas.

Darren berhenti mengomel.

Sekar melihat tubuh Ardian tidak bergerak, tetapi suasana di sekitar kursi rodanya terasa mengeras.

Kevin tersenyum seperti tidak pernah ditendang di rumah ini. "Kebetulan sekali. Kami baru selesai makan dengan keluarga Felicia."

Felicia menatap Darren dari kepala sampai sandal rumahnya. Senyumnya sedikit melebar. "Keluarga Tan selalu punya cara masuk yang... mencolok."

Darren langsung ingin maju, tetapi Sekar lebih dulu melangkah setengah langkah ke depan kursi roda Ardian. Tidak penuh menutupi, hanya cukup untuk mengatakan bahwa ia ada di sana.

Kevin melihat gerakan itu. Matanya dingin sesaat, lalu kembali hangat.

"Mbak Sekar, ya? Lama tidak bertemu."

"Sayangnya belum cukup lama," jawab Sekar.

Darren mengeluarkan suara kecil kagum.

Felicia tertawa lembut. "Masih tajam sekali untuk seorang pengasuh."

"Tergantung siapa yang datang membawa amplop."

Kevin mengangkat amplop itu. "Justru ini kabar baik. Aku dan Felicia akan bertunangan akhir pekan ini di Villa di Puncak. Kami datang khusus untuk mengundang Ardian."

Ia menyerahkan amplop itu.

Tidak langsung pada Ardian.

Ia membiarkannya jatuh sedikit lebih rendah, seolah menunggu Sekar mengambilnya seperti staf.

Sekar melihat gerakan itu.

Lalu ia benar-benar mengambil amplop tersebut.

Felicia tersenyum puas.

Namun Sekar tidak menunduk. Ia membalik amplop, membaca nama di depannya, lalu berkata cerah, "Wah, undangan pertunangan. Cepat sekali. Cincin yang satu belum dingin, jari yang lain sudah antre."

Wajah Felicia menegang.

Darren langsung batuk keras.

Kevin masih tersenyum, tetapi garis rahangnya mengeras. "Mbak Sekar, ucapan seperti itu kurang pantas."

"Oh, maaf. Saya pikir karena undangan ini diberikan di depan mantan tunangan, acara ini memang ingin terasa sangat pantas."

Beberapa tamu yang keluar dari restoran melambat. Bodyguard berdiri lebih rapat, tetapi tidak menghalangi pandangan.

Felicia menatap Ardian. "Ardian, kamu membiarkan pengasuhmu bicara seperti ini pada tamu?"

Ardian belum menjawab.

Kevin ikut menekan, suaranya lembut untuk didengar orang sekitar. "Ardian, aku tahu setelah kecelakaan emosimu belum stabil. Tapi orang-orang di sekitarmu sebaiknya tetap punya batas. Kamu harus mengontrol pengasuhmu."

Sekar menggenggam amplop itu sedikit lebih kuat.

Kata "mengontrol" membuat sesuatu di dadanya panas. Seolah ia bukan manusia, hanya barang rumah yang harus ditaruh di tempatnya.

Darren maju satu langkah. "Kevin, jaga mulut."

Kevin tidak menatap Darren. Matanya tetap pada Ardian. "Aku hanya memberi saran sebagai teman lama."

Ardian akhirnya mengangkat wajah.

Lampu restoran jatuh di wajahnya, membuat garis matanya terlihat lebih dingin. Ia tidak berdiri. Ia tidak perlu berdiri. Dalam kursi roda pun, tekanan dari dirinya cukup membuat percakapan sekitar menipis.

"Oh," katanya pelan, "memangnya kenapa?"

Kevin berhenti.

Ardian menatap amplop di tangan Sekar, lalu kembali pada Kevin dan Felicia.

"Itu pengasuhku." Suaranya tenang, jelas, dan cukup keras untuk didengar orang yang pura-pura tidak menonton. "Aku yang manjakan."

Sekar membeku.

Darren menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca seperti menyaksikan drama puncak episode terakhir.

Felicia kehilangan senyum selama setengah detik.

Kevin juga.

Sekar merasakan panas naik ke telinganya. Bukan malu karena direndahkan, melainkan karena untuk pertama kalinya, di depan orang yang sengaja mempermalukan mereka, Ardian tidak menyuruhnya diam. Ia tidak menyalahkannya. Ia tidak bersembunyi di balik kata "pengasuh".

Ia justru menjadikannya alasan untuk menyerang balik.

Kevin tertawa pelan. "Kamu berubah banyak, Ardian."

"Bagus kalau kamu sadar."

Felicia menarik napas. Senyumnya kembali, tetapi tipis. "Kami tetap berharap kamu datang. Bagaimanapun, kita pernah hampir menjadi keluarga."

Sekar mengangkat amplop. "Tenang, kami baca alamatnya. Villa di Puncak, ya? Tangga banyak atau sudah disiapkan akses kursi roda?"

Wajah Felicia nyaris retak.

Kevin menjawab lebih cepat, "Tentu saja disiapkan."

"Bagus," kata Sekar. "Saya catat. Kalau tidak ada, saya anggap tuan rumah lupa cara menyambut tamu."

Darren berbisik, "Mbak Sekar, aku takut tapi aku bangga."

Ardian berkata datar, "Masuk mobil."

Sekar menyerahkan amplop pada Darren, lalu membantu memastikan jalur kursi roda aman. Saat ia berjalan di samping Ardian, tangannya tidak menyentuh kursi roda, tetapi jaraknya dekat.

Kevin dan Felicia berdiri di bawah lampu restoran, senyum mereka sama-sama rapi dan sama-sama dingin.

Setelah mobil Tan meninggalkan Restoran Imperial, Kevin masuk ke mobilnya. Felicia duduk di sebelahnya, merobek sedikit pita amplop cadangan dengan kuku.

"Pengasuh itu harus diberi pelajaran," kata Felicia pelan.

Kevin tidak menjawab dulu. Ia menatap mobil hitam yang sudah menjauh, senyumnya hilang dari wajah.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat ponsel dan menelepon seseorang.

Begitu tersambung, suaranya menjadi rendah.

"Percepat rencana."

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!