NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 "Lawan Yang Mengerikan"

Chapter 17

Pagi itu di Station 05, aroma roti panggang dan kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan briefing. Tim 05 tengah berkumpul mengelilingi meja panjang untuk sarapan, menikmati momen damai yang jarang mereka dapatkan setelah serangkaian pertempuran melelahkan melawan kelas Seraphim tempo hari. Huah sedang asyik mengunyah dengan malas ketika telinganya menangkap suara yang tidak biasa dari arah koridor. Tok... Tok... Tok...

Itu bukan suara ketukan pintu. Itu adalah suara langkah kaki yang berat, ritmis, dan memiliki denting mekanis yang khas. Semua kepala serentak menoleh ke arah pintu masuk. Huah yang sedang memegang sendok seketika membeku, membiarkan alat makan itu terlepas dari jarinya dan berdenting jatuh ke lantai. Matanya membelalak sempurna, mulutnya menganga lebar hingga hampir menyentuh meja. "AAAAAAAAAA!!! KIAMAT!!!" jerit Huah histeris, nyaris melompat ke atas kursi.

Di sebelahnya, Lei yang baru saja menyesap kopi hitamnya langsung tersedak. Ia batuk-batuk hebat, menumpahkan setengah isi cangkirnya ke meja sambil menunjuk ke depan dengan tangan gemetar. "PROFESOR?! BISA JALAN?!" pekiknya dengan suara melengking.

Belial, yang biasanya duduk dengan angkuh dan tenang, refleks berdiri hingga kursinya berdecit keras ke belakang. Ia menatap sosok yang baru masuk dengan pandangan tidak percaya. "Apa... dunia ini benar-benar sudah mau hancur?" gumamnya dengan wajah horor.

Profesor Jing berjalan masuk dengan santai. Tidak ada kursi roda yang biasanya menopang tubuh tuanya. Sebagai gantinya, sepasang kerangka logam, sebuah exoskeleton prototipe terbaru terpasang kokoh di sepanjang kaki dan lengannya, mendesing pelan setiap kali ia melangkah. Pria tua itu menghela napas panjang, menatap timnya yang bertingkah seolah-olah baru saja melihat hantu.

"Tidak, dasar anak-anak bodoh," gerutu Profesor Jing, membetulkan letak kacamatanya. "Ini namanya teknologi. Masa depan umat manusia, bukan pertanda kiamat." Huah, yang rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya, langsung merosot turun dari kursi dan mengelilingi sang profesor seperti anak kucing. Ia menyentuh sendi hidrolik pada kaki logam itu dengan mata berbinar. "Profesor, profesor! Boleh kucoba untuk meloncat? Bisa setinggi apa?" PLAK!

"Tidak," jawab Jing geram, langsung memukul kepala Huah dengan berkas dokumen yang dibawanya. Huah mengaduh sambil mengerucutkan bibirnya, sementara Lei dan Shin hanya bisa tertawa melihat pembukaan pagi yang absurd ini.

Kehangatan pagi itu sedikit bergeser saat pintu geser ruang komando terbuka kembali. Komandan Ace melangkah masuk, namun ia tidak sendirian. Di sebelahnya, berjalan seorang perempuan dengan langkah yang agak kaku. Perempuan itu sesekali bertumpu pada tongkat penyangga, tampaknya masih dalam tahap penyesuaian dengan exoskeleton medis yang terpasang di balik rok seragamnya.

"Mulai hari ini, beliau akan bertugas sebagai sekretaris pribadiku untuk membantu koordinasi antar stasiun," kata Ace memperkenalkan dengan nada baritonnya yang formal. Teiben yang berada di dekat Lei langsung menyikut lengan temannya itu sambil berbisik dengan mata melebar, "Cantik banget, Lei... Tipe-tipe elegan begini jarang ada di barak kita."

Lei membalas dengan sikutan yang lebih keras di rusuk Teiben. "Jangan genit sama sekretaris komandan kalau kau masih sayang nyawamu," bisik Lei lewat sudut mulutnya, melirik Ace yang berdehem tegas. Perempuan itu tersenyum sopan, membungkuk sedikit memberikan salam. "Senang bertemu dengan kalian semua. Nama saya Jin Hae. Mohon bantuannya."

Mei, dengan keramahannya yang biasa, segera bergerak maju. "Mari, Nona Jin Hae, biarkan saya membantu mengatur kursinya agar Anda lebih nyaman," ucap Mei lembut, menarik sebuah kursi ergonomis agar Jin Hae bisa duduk tanpa membebani kakinya yang belum terbiasa dengan perangkat mekanis itu.

Melihat interaksi tersebut, Shin dan para pilot lainnya mulai menyadari sesuatu. Teknologi exoskeleton yang awalnya hanya digunakan untuk mempiloti unit Gear berukuran raksasa, kini perlahan-lahan mulai berkembang dan diadaptasi untuk menopang kehidupan sehari-hari manusia di dalam stasiun. Sebuah langkah kecil, namun berarti bagi peradaban mereka.

Belum sempat Jin Hae merapikan dokumen pertamanya, lampu ruang komando langsung berkedip merah terang accompanied oleh raungan sirene yang memekakkan telinga. Suasana hangat instan menguap, digantikan oleh ketegangan taktis.

Jin Hae dengan cepat membuka peta Hologramnya, jemarinya menari di atas keyboard virtual untuk membaca aliran data yang masuk dari radar luar stasiun. "Deteksi fluktuasi energi Cataclysm di sektor utara!" seru Jin Hae. "Skala energi... Archangel Class!" Mendengar kata Archangel, seluruh pilot Tim 05 langsung menegakkan tubuh. Shin mengepalkan tangannya, bersiap mental untuk pertarungan berat. Sua sudah menatap layar utama dengan pandangan tajam seorang kapten.

"Tipe..." Elas menggantung kalimatnya, matanya menyipit menatap grafik anatomi yang baru saja selesai direkonstruksi oleh sistem. Semua orang menunggu dengan napas tertahan. Ruangan mendadak hening. "...Worm," lanjut Jin Hae pelan.

Keheningan yang terjadi setelahnya terasa sangat aneh. Huah berkedip sekali, dua kali, memastikan dia tidak salah dengar. Lei mengerutkan keningnya, sementara Belial perlahan-lahan memejamkan matanya dengan sangat rapat, seolah-olah mencoba menghapus kenyataan dari pikirannya. "Tidak," kata Belial singkat, membalikkan badannya. "Belial?" Shin menatapnya bingung. "Mau ke mana? Kita harus bersiap ke kokpit." "Aku tidak mau," ujar Belial ketus, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang mendadak pucat. "Kita harus pergi, ini misi!" desak Shin lagi.

Belial hanya bisa mengeluarkan suara erangan frustrasi, "...Ugh." Melihat ekspresi enggan dari pilot terkuat mereka, mental seluruh anggota tim sebenarnya sudah runtuh duluan bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di Garage. Menghadapi monster raksasa bertaring mungkin mengerikan, tapi menghadapi cacing? Itu adalah siksaan mental jenis baru.

Ketika unit-unit Neo Gear akhirnya dikerahkan ke area gurun di luar station, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar menguji ketahanan isi perut. Makhluk Cataclysm itu telah muncul dari bawah tanah. Tubuhnya sangat panjang, licin, dan dilapisi oleh lendir tebal yang berkilau menjijikkan di bawah cahaya. Makhluk itu menggeliat tanpa arah, tidak memiliki mata, hanya sebuah mulut bulat besar di ujung tubuhnya yang dipenuhi deretan gigi melingkar yang terus bergerak-gerak.

"IHHHHHHHHHHH! JANGAAAN DEKEEET!" teriah Huah histeris dari dalam kokpit Phoenix. Unit Gear-nya yang berwarna Oranye hitam Karbon itu bahkan refleks melompat mundur sejauh beberapa meter.

Biasanya, dalam wujud Prime Gear Bird of Paradise bersama Shin akan menjadi unit yang paling depan menerjang musuh. Namun sekarang, dari layar taktis, Shin melihat Bird of Paradise justru terus menaikkan altitudo penerbangannya. "Belial, kau terlalu tinggi! Sensor mendeteksi kau sudah melewati batas batas formasi udara!" tegur Shin lewat radio komunikasi. "Aku sedang menjaga jarak aman!" balas Belial dengan nada suara yang bergetar menahan geli. "Tapi musuhnya ada di bawah, di tanah!" ucap Shin. "Justru karena itu aku di atas!" jawab spontan Belial "Kita harus turun dan menyerang, Belial!" Shin mulai panik karena cacing itu mulai bergerak ke arah mereka. "Tidak mau!" bantah Belial. "Belial!" seru Shin yang ikut panik

"...Aku geli, bodoh! Makhluk itu menjijikkan!" teriak Belial akhirnya, memecah reputasinya sebagai pilot elit yang ditakuti. Mendengar hal itu, beberapa pilot lain di jalur radio menahan tawa di tengah rasa frustrasi mereka. Lei mencoba mengambil inisiatif dengan unit Storknya. Ia menembakkan tali pengikat baja berkekuatan tinggi untuk mengunci pergerakan monster itu. Namun, begitu tali itu melilit tubuh si cacing... SLEP!

Tali baja itu melorot begitu saja karena lapisan lendir yang terlalu tebal. "ASTAGA, INI LICIN SEKALI!" keluh Lei panik saat talinya kembali tanpa hasil. Sua tidak mau kalah, ia memacu Swan maju dan mencoba menusukkan tombak standarnya dengan presisi. Namun, alih-alih menembus kulit makhluk itu, ujung tombaknya justru terpeleset ke samping akibat permukaan yang terlalu fluktuatif dan berlendir. "Makhluk ini dilumuri sabun merk apa sebenarnya?!" seru Sua frustrasi sambil menarik mundur unitnya agar tidak terhantam kibasan ekor musuh.

Bencana komedi yang sesungguhnya terjadi pada Huah. Cacing raksasa itu tiba-tiba melesat maju dengan kecepatan yang tak terduga. NGAAAM! Mulut bulat penuh gigi melingkar itu langsung mengemut bagian torso dari unit Phoenix. Karena posisi kokpit pilot tepat berada di area dada Gear, Huah yang berada di dalam kokpit disuguhi pemandangan horor tingkat maksimal. Dari balik kaca kokpitnya, ia bisa melihat dengan sangat jelas isi mulut cacing tersebut: gigi-gigi kuning yang berputar, lendir yang menetes-netes di kaca, dan dinding tenggorokan makhluk itu yang bergerak-gerak.

"AAAAAAAAAAAAAAA!!! JAUHKAN MAKHLUK INI DARI AKU!!!" jerit Huah dengan suara yang hampir habis. "BAU BANGET!!! KOMANDAAAN, AKU MAU PULANG!!!" Unit Phoenix sampai bergerak tak terkendali, menendang-nendang udara dan memukul-mukul kepala cacing itu dengan panik, mencoba melepaskan diri dari hisapan berlendir tersebut.

Melihat sahabatnya dalam bahaya, Zhou memacu Feng Huang maju. Ia mengendalikan pedang dua arah unitnya untuk menusuk bagian ekor cacing dan menariknya menjauh dari Phoenix. Namun, fisik Cataclysm tipe Worm ini luar biasa elastis. Alih-alih terlepas, tubuh cacing itu justru memanjang seperti karet saat ditarik oleh Zhou. "Kenapa makhluk ini panjang terus seperti mi?!" teriak Zhou yang mulai kewalahan menahan tegangan elastisitas monster tersebut.

Situasi menjadi benar-benar kacau dan melelahkan secara mental. Ace, yang memantau dari ruang komando, akhirnya memijat pelipisnya. "Mei, bersiap. Shin, pancing makhluk itu agar membuka mulutnya lebar-lebar ke arah unit Pigeon."

"Baik, Komandan," jawab Mei dengan suaranya yang tenang seperti biasa. Shin dan Belial memacu Bird of Paradise untuk memberikan hantaman keras pada bagian tengah tubuh cacing, memaksa makhluk itu melepaskan Phoenix dan berbalik murka ke arah Pigeon dengan mulut terbuka lebar. Mei di dalam kokpit Pigeon langsung memejamkan matanya rapat-rapat, tidak sanggup melihat ke dalam mulut menjijikkan itu. "Maaf ya..." bisiknya lembut sambil menekan tombol peluncur logistik. PLUK.

Sebuah granat termal berdaya ledak tinggi meluncur tepat masuk ke dalam kerongkongan terbuka si cacing. Mei segera memalingkan wajahnya ke arah lain. BOOOOOOM!!!

Ledakan tumpul bergema dari dalam tubuh makhluk itu. Lendir dan asap mengepul keluar dari mulutnya sebelum seluruh tubuh elastis yang panjang itu akhirnya ambruk tak bernyawa ke tanah gurun.

Kembali ke Garage Station 05, suasana tampak seperti barak pasukan yang baru saja kalah perang. Semua pilot duduk tersebar di lantai, bersandar pada ban-ban besar atau kotak perkakas. Tidak ada yang berbicara. Tubuh mereka utuh tanpa luka, namun jiwa mereka tampak kosong. "Aku... aku bersumpah masih bisa merasakan bau lendirnya menembus filter udara kokpit..." bisik Huah dengan pandangan mata yang kosong ke langit-langit. "Jangan diingatkan lagi, Huah, demi tuhan," sahut Lei sambil memijat keningnya, wajahnya masih agak hijau karena mual.

"Aku mau mandi tiga kali pakai sabun antiseptik dosis tinggi hari ini," gumam Sua yang sedang membersihkan pelindung tangannya dengan ekspresi sangat jijik. Di sudut lain, Belial masih duduk terdiam dengan tatapan lurus ke depan, tampaknya trauma mentalnya belum sepenuhnya pulih. Shin berjalan mendekat, membawa beberapa botol minuman. "Belial? Kau baik-baik saja?" Belial menatap Shin dengan sangat serius, suaranya pelan namun penuh penekanan, "...Jangan pernah ajak aku melawan cacing lagi. Lebih baik aku dikepung tiga Cherubim sekaligus."

Mendengar pengakuan jujur dari sang pilot elit, keheningan di Garage itu akhirnya pecah oleh tawa renyah dari Shin, yang kemudian menular ke Lei, Zhou, dan yang lainnya. Meskipun misi kali ini secara teknis tidak seberbahaya atau sesulit melawan kelas Cherubim atau Seraphim, secara mental ini adalah operasi yang paling menguras energi mereka. Pertempuran aneh ini setidaknya memberi mereka ruang untuk tertawa bersama, mempererat ikatan emosional di antara manusia-manusia yang dipaksa berdiri kokoh oleh teknologi di dunia yang sudah hancur ini.

Sementara tawa sisa pertempuran masih menggema di area Garage, di bagian atas stasiun pada koridor kaca suasana justru sangat kontras.

Dari balik kaca tebal yang gelap, seorang pria berdiri memperhatikan interaksi Tim 05 di bawah sana. Pria itu mengenakan seragam putih bersih dengan lambang Grey Wings dari divisi elit, rambut merahnya yang mencolok tampak kontras dengan pencahayaan koridor yang minim.

Ia melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan bagaimana Shin, Belial, dan pilot lainnya saling melempar handuk dan tertawa setelah bertarung melawan Cataclysm berlendir tadi. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya sebuah lengkungan bibir yang sulit diartikan, antara rasa penasaran atau mungkin sedikit ejekan meremehkan.

"...Seperti anak-anak," gumam pria berambut merah itu dengan suara rendah yang dingin. Ia menegakkan tubuhnya, membalikkan badan membelakangi jendela kaca tersebut. "Sama sekali tidak bisa serius." Tanpa sepatah kata lagi, pria itu melangkah pergi, membiarkan langkah kakinya tenggelam dalam kesunyian koridor.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!