Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 BERANGKAT SEKOLAH
((Sudut pandang Nisa))
"Eemmhh... Aduuhh... Sshh... Uuhh..."
Aku terbangun perlahan.
Langsung terasa nyeri kepalaku.
"Uuhh... Eemmhh..."
Aku berusaha membuka mata lebih lebar. Sambil merasakan kepala yang nyeri.
Saat ku tengok jam dinding, ternyata sudah jam 5 pagi.
"Astaghfirulloh... Udah jam 5?" gumamku dalam hati.
Saat hendak bangun, ku tengok ke samping. Ternyata, aku masih bersama Harum. Ternyata, kami berdua tertidur sangat pulas di kursi panjang ruang tamu.
Dan, sedetik kemudian, ku sadari tubuh kami berdua sudah ditutupi oleh selimut.
Akhirnya, ku coba untuk bangun, duduk sebentar.
"Uuhh... Sshh..." suaraku lirih sambil memegangi kepalaku sendiri.
Terdengar suara Bapakku yang sedang membaca Al-Qur'an di dalam kamarnya.
Suaranya yang pelan, bercampur dengan suara orang yang masih mengaji di musholla dan masjid. Memang seperti inilah suasana setiap shubuh di desaku ini.
Terdengar juga suara-suara burung yang mulai berkicau di sekitar rumah.
Dengan lembut, aku mengusap kepala anakku.
"Harum... Bangun Nak, udah lewat shubuh." kataku.
"Nak... Bangun... Ayok sholat Shubuh sayang..." kataku lagi, sambil mulai menepuk pelan pipinya.
"Eemmhh... Uummhh..." gumam anakku, sambil mulai menggeliat pelan, tanpa membuka kedua matanya.
Tapi, sedetik kemudian, ia malah kembali tidur.
"Harum... Sayangku... Ayok bangun Nak. Nanti kesiangan sholat Shubuhnya. Ayok bangun."
"Eemmhh... Eenngghh... Ibuuu?" gumam anakku itu, kini mulai terbuka pelan kedua matanya.
Ia berkedip pelan, mungkin masih merasakan kantuk yang sangat berat.
"Ayok bangun sayang, nanti kesiangan loh sekolahnya..." tambahku.
Aku berusaha membangunkannya. Ku tarik selimut yang masih menutupi tubuhnya itu.
"Eemmhh... Buuu... Aku masih ngantuuuk..." kata anakku.
"Eehh... Ayok bangun ah... Ayok sayang..."
Akhirnya, dengan perlahan, ku tarik kedua tangannya. Supaya tubuhnya bisa bangun dan duduk dulu.
Harum mengucek kedua matanya. Berusaha untuk membukanya lebih lebar.
"Jam berapa ini Buuu? Haahh... Hooaamm..."
"Udah jam 5 lewat sayang..."
"Oooh... Eemmhh..."
"Ayok ah, bangun. Terus mandi, sholat Shubuh." kataku lagi.
Dan, aku pun bangkit dari kursi panjang ruang tamu. Berjalan pelan, menuju ke kamar Bapak terlebih dahulu.
"Paaak... Bapaaak..." panggilku dari luar kamarnya.
"Iya Nis... Udah bangun?" sahutnya dari dalam.
"Iya Pak, udah... Hooaamm..." jawabku, sambil menguap juga.
Lantas, aku berjalan menuju ke dapur.
Ku siapkan panci, ku isi dengan air. Kemudian segera menyalakan kompor untuk memasak air itu.
Ku tinggalkan saja air itu di atas kompor, segera ku melangkah ke kamar mandi.
Ketika di depan pintu ruang tamu yang berbatasan dengan dapur, ku lihat sekali lagi anakku.
Alhamdulillah, ia sudah bangun dan berjalan ke dapur juga.
"Ayok sayang, mandi dulu sama Ibu ya..." kataku.
Anakku pun hanya mengangguk pelan sambil terus melangkah pelan dengan tongkatnya.
"Bapaaak... Nisa lagi masak aer, minta tolong dimatiin ya kalo udah mendidih." kataku dari arah dapur.
"Iya Niiis..." sahut Bapak dari dalam kamarnya.
Akhirnya, aku dan Harum mandi bersama pagi ini.
Selesai mandi, kami berdua hanya memakai handuk yang lebar dan tebal untuk menutupi tubuh.
Berjalan bersama menuju kamar kami.
Dan, di dalam kamar, aku membantu Harum memakai seragam sekolahnya. Dan aku juga memakai baju untuk berangkat kerja.
Lalu, sebelum keluar kamar, kami laksanakan dahulu sholat Shubuh berjama'ah.
Setelah selesai, ku ajak Bapak dan Harum untuk sarapan pagi.
Bapak sarapan dengan bakso yang ternyata semalam belum di makan olehnya.
Sedangkan aku dan Harum, makan dengan menu sederhana saja. Nasi hangat, telur dadar, dan juga sayur tumis kangkung.
Walau tak banyak obrolan selama sarapan, suasana seperti ini sangatlah syahdu bagi kami bertiga.
Suasana kehangatan keluarga yang pastinya selalu ingin ku rasakan.
.....
.....
Ketika jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan angka 06.18, aku dan Harum pun berpamitan untuk berangkat.
"Pak, berangkat dulu ya..." kataku, sambil mencium tangan kanan Bapakku.
"Iya, kamu hati-hati di jalan." jawab Bapak.
"Kek, Harum berangkat juga ya..." kata anakku, pun sambil mencium tangan kanan kakeknya itu.
"Iya Rum, kamu juga belajar yang rajin di sekolah ya. Inget, jangan banyak main di sekolah, nanti dimarahin sama gurumu." pesan kakeknya itu.
"Iya Kek..." jawab Harum.
"Ya udah Pak, Assalamu'alaikum..." kataku pamit.
"Dadah Kakek... Assalamu'alaikum..." ucap Harum juga.
"Iya... Wa'alaikumsalam..." sahut Bapak.
Kami berdua pun melangkah bersama. Menyusuri jalan desa pagi ini.
Dengan sinar matahari yang mulai terasa hangat, ditemani kicauan burung di sekitar, kami beberapa kali berpapasan dengan warga desa lain.
Mereka semua juga mulai melaksanakan aktifitasnya masing-masing.
Ada yang mengantarkan anaknya ke sekolah, ada yang hendak berangkat kerja, ada yang hendak menuju ke kebun dan sawah. Dan juga, beberapa ibu-ibu yang mulai sibuk menyapu halaman rumah mereka.
Ketika sampai di persimpangan jalan desa, aku dan Harum harus berpisah jalannya.
Karena sekolah Harum belok ke kiri, tak jauh lagi. Sedangkan aku harus terus lurus, menuju jalan raya di ujung sana.
"Harum..." kataku, sambil berjongkok di depannya.
"Belajar yang rajin ya Nak, inget sama pesan Kakek tadi. Jangan banyak main kalo lagi belajar ya." kataku.
"Iya Bu... Ibu juga ya, semangat kerjanya." jawab anakku.
"Iya sayang... Hati-hati selama di jalan, jangan meleng ya." tambahku.
"Iya Bu..."
Dan, Harum pun mencium tangan kananku. Lalu, ia melangkah meninggalkanku di persimpangan jalan desa ini. Menuju ke sekolah SMP nya.
Aku perhatikan sejenak langkah anakku yang mulai menjauh itu.
Tanpa sadar, mengembang senyuman di bibirku sambil melihatnya berjalan dengan tongkat setianya.
Namun...
Sebelum aku melangkah lagi, sedetik kemudian mata ghoibku aktif otomatis.
Ku lihat dengan jelas...
Sekar Arum...
Menemani langkah anakku itu...
Tubuh Sekar Arum seperti tertembus sinar matahari pagi, yang bersinar di antara celah pepohonan.
Sedetik kemudian, Sekar Arum membalikkan tubuhnya.
Sekar Arum tersenyum anggun padaku.
Dan ku balas senyumannya dengan senyumanku, di tambah dengan anggukan kepalaku.
Karena aku tahu, meski pun Sekar Arum tak bicara padaku, ia seperti berkata padaku secara tersirat.
"AKU AKAN JAGA ANAKMU, NISA..."
😊😊😊😊😊