Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Malam itu,
Langit ibukota Kerajaan Shenghua gelap tanpa bulan. Awan tebal menggantung rendah, seolah-olah alam semesta sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan pertumpahan darah yang akan terjadi.
Di Gerbang Utara,
Salah satu titik terlemah dalam pertahanan istana menurut peta "rahasia" yang dicuri Han Zixuan, keheningan mencekam. Para penjaga tampak lengah, beberapa bahkan terlihat mengantuk, bersandar pada tombak mereka. Ini adalah pemandangan yang sempurna bagi penyusup.
Dari balik bayangan pepohonan di luar tembok, sepuluh sosok hitam meluncur keluar seperti hantu. Mereka bergerak dengan koordinasi yang sempurna, mengenakan pakaian ninja gelap yang menyerap cahaya.
Di kepala barisan, berdiri seorang pria dengan topeng serigala. Pembunuh bayaran terbaik yang disewa oleh sisa-sisa jaringan Marquis Han, dipimpin secara rahasia oleh Han Zixuan yang putus asa untuk membuktikan kesetiaannya pada Pangeran Jianyu.
"Mereka lengah," bisik pemimpin pembunuh itu, suaranya serak. "Masuk. Bunuh Jenderal Wei dan Jenderal Zhao. Jangan tinggalkan jejak ataupun saksi mata."
Mereka merayap mendekati gerbang, pedang pendek terhunus, siap menebas leher para penjaga yang tertidur. Jarak semakin dekat.
Lima meter...
Tiga meter...
Satu meter...
Tiba-tiba,
klik
Suara dari perangkap kecil terdengar nyaring di keheningan malam.
Sebelum para pembunuh sempat bereaksi, jerat jaring besi raksasa jatuh dari atas gerbang, mengurung mereka semua di dalam area yang sempit.
Bersamaan dengan itu, obor-obor di sepanjang tembok menyala serentak, menerangi wajah-wajah pucat para penyusup yang terperangkap.
"Selamat datang," sebuah suara berat dan berwibawa bergema dari atas tembok.
Kakek Shen Guotai, Perdana Menteri Kekaisaran, berdiri di sana, diapit oleh Shen Qianhe (Menteri Kehakiman) dan dua jenderal yang seharusnya menjadi target pembunuhan yaitu Jenderal Wei dan Jenderal Zhao. Mereka tidak tidur, dan mereka tidak lengah. Mereka hanya tersenyum dingin, tangan mereka berada di gagang pedang perang mereka.
Han Zixuan, yang bersembunyi di balik batu besar di luar perimeter jaring, merasa darahnya membeku. Peta itu palsu dan semua itu jebakan.
"Tangkap mereka!" perintah Kakek Shen Guotai.
Panah-panah berhulu tumpul untuk menangkap hidup-hidup, menghujani para pembunuh yang terjebak dalam jaring. Dalam hitungan detik, sepuluh pembunuh elit itu terlumpuhkan, mengerang kesakitan, tak berdaya.
Kakek Shen Guotai menoleh ke arah persembunyian Han Zixuan. Matanya yang tajam seolah bisa menembus kegelapan.
"Keluarlah, Tuan Muda Han," kata Kakek Shen Guotai keras. "Atau aku akan memerintahkan pemanah untuk menembak ke arah batumu. Dan kali ini, panahnya bukan berhulu tumpul."
Han Zixuan gemetar. Dia tahu, lari berarti mati. Menyerah berarti malu, tapi mungkin masih ada harapan hidup jika dia bisa menyalahkan orang lain.
Dengan langkah yang gontai, dia keluar dari persembunyian, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sebagai tanda menyerah.
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahinya. Saat dia dibawa ke hadapan Kakek Shen Guotai, dia melihat sosok lain berdiri di samping Perdana Menteri.
Putri Li Yuexin.
Dia mengenakan jubah putih bersih, kontras dengan kekacauan dan darah di depannya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi kemenangan, hanya tatapan dingin yang menilai Han Zixuan seperti serangga yang terperangkap dalam amber.
"Tuan Putri..." bisik Han Zixuan, suaranya pecah. "Ini... ini kesalahpahaman. Hamba hanya..."
"Hanya mengikuti peta yang kau temukan di bawah batu loncatan?" potong Putri Li Yuexin lembut. Suaranya terdengar jelas di tengah heningnya malam. "Peta yang sengaja aku letakkan di sana, karena aku tahu kau memiliki kebiasaan memata-matai sumber informasiku."
Han Zixuan terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang bisa keluar. Pengakuan tersirat itu lebih mematikan daripada tuduhan langsung.
Kakek Shen Guotai maju selangkah. "Han Zixuan, kau ditangkap mencoba memimpin kelompok pembunuh bayaran untuk membunuh pejabat tinggi negara. Ini adalah tindakan besar dan hukumannya mati. Seluruh keluarga Han akan dicabut gelarnya dan asetnya disita."
"Tidak! Ayahku tidak tahu! Ini ideku sendiri!" teriak Han Zixuan panik, mencoba menyelamatkan keluarganya agar tidak ikut hancur total, meski dia tahu itu sia-sia.
"Ayahmu tahu," kata Putri Li Yuexin dingin. "Kami menemukan surat-surat keterlibatan antara Marquis Han dan Pangeran Jianyu di kediaman kalian sore tadi, tepat sebelum kalian berangkat ke sini. Marquis Han sudah ditahan."
Han Zixuan jatuh berlutut dunianya sudah runtuh. Ambisinya, harga dirinya, masa depannya... semua lenyap dalam satu malam karena satu peta palsu.
Putri Li Yuexin menatapnya sebentar lagi, lalu berbalik. Tidak ada kepuasan dalam hatinya. Hanya rasa lega bahwa satu duri besar telah dicabut.
"Bawa mereka ke Penjara Bawah Tanah," perintah Kakek Shen Guotai pada penjaga. "Jangan biarkan mereka bunuh diri karena kita butuh pengakuan lengkap tentang keterlibatan Pangeran Jianyu."
Saat keributan reda dan para tahanan diseret pergi, Putri Li Yuexin berjalan kembali ke paviliunnya. Qingyu menunggu di sana, wajahnya masih pucat karena ketegangan.
"Nona... itu berhasil," kata Qingyu pelan.
"Ya," jawab Putri Li Yuexin singkat. Dia duduk di kursinya, mengambil cawan teh yang sudah dingin. "Tapi jangan lupa, Qingyu. Memotong kepala ular tidak berarti racunnya hilang dari tubuh. Pangeran Jianyu masih bebas dan dia sekarang tahu bahwa kita jauh lebih berbahaya daripada yang dia kira."
"Apa yang kira-kira akan pangeran lakukan, Nona?"
Putri Li Yuexin menatap api lilin yang berkedip-kedip. "Dia akan panik dan orang yang sedang panik pasti akan membuat kesalahan fatal. Dan kita akan menunggu saat itu tiba."
Esok harinya,
Berita penangkapan Han Zixuan dan Marquis Han mengguncang seluruh ibukota. Keluarga Han, yang dulu kaya dan berpengaruh, kini menjadi sekumpulan orang buangan. Rumah mereka disegel, pelayan mereka dibubarkan dan nama mereka dihapus dari daftar bangsawan.
Di Istana Zamrud yang kini sepi dan suram, Pangeran Jianyu menerima kabar itu dengan tenang yang menakutkan. Dia duduk di ruang tamunya, memegang sebuah cawan teh yang retak.
Matanya menatap ke arah Istana Bulan Giok di kejauhan.
"Li Yuexin," gumamnya pelan, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Kau pikir kau sudah menang? Kau baru saja membangunkan naga yang tidur."
Dia menghancurkan cawan teh itu di tangannya. Pecahan keramik melukai telapak tangannya, darah merah menetes ke lantai marmer putih. Tapi dia tidak merasakan sakit, yang ada dia rasakan hanyalah kebencian murni.