NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Pendekar Pedang

Kisah Cinta Pendekar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Firdaus Rangkuti

Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.

Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.

Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.

Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerja Keras

"Rio, aku berhasil mengubah desa menjadi kota yang sibuk." Jinsin berdiri di atas menara penjaga, melihat desa ke bawah. Dia melihat keramaian di sana di terangi lampu malam yang indah. Nampak para penduduk sedang berjalan padat, menikmati festival Desa Zou.

"Benar, kau berhasil, Jinsin. Mungkin ini yang kamu maksud, menyelesaikan masalah desa." Rio melihat Jinsin menyandarkan lengan di pagar kayu menara.

"Indah sekali ya, Rio?" tanya Jinsin terlihat senang.

"Benar." ucap Rio. Lalu Jinsin tersenyum melihatnya.

"Setelah itu, apa yang akan kau lakukan, Jinsin?" tanya Rio.

"Di saat seperti ini, kau bertanya tentang hal itu. Padahal hari ini waktunya untuk bersenang-senang." Rio diam, dia menoleh dari Jinsin dengan wajah malu.

"Ikut aku turun." Jinsin memegang tangan kanan Rio hendak turun tangga ke bawah menuju ke keramaian penduduk.

"Kau mau bawa aku kemana?" Rio berjalan di tarik oleh Jinsin

"Kau mau lihat toko ini?" Rio dan Jinsin berdiri dan melihat banyak pengunjung keluar masuk di depan toko.

"Ayo kita masuk, Rio."

"Hah?"

"Ting. Ting." bunyi suara bel, saat pintu di buka.

"Di sini banyak orang sedang melihat pernak pernik barang." ucap Rio. Jinsin menarik tangan kanan Rio. Lalu mengambil barang di rak toko. Dia memakai bando di rambutnya.

"Bagaimana Rio, bagus tidak?" Rio kaget saat bando itu menempel di rambutnya.

"Iya kau cantik, Jinsin." Suara Rio bergetar, lalu dia menoleh dengan wajah malu.

"Kau kenapa, Rio?" Jinsin melambai ke wajah Rio.

"Tidak apa-apa, kau mau ambil ini?" wajah Rio langsung berubah menahan rasa malu.

"Tidak, aku hanya ingin memakai di depan kamu saja." ucap Jinsin meletakkan bando kembali di rak toko. Jinsin memegang tangan Rio menuju ke lemari pernak pernik lain. Dia memakai beberapa anting. Rio membalas itu dengan perasaan malu melihat Jinsin begitu cantik dan tampil beda.

"Sekarang ayo, kita keluar, ada tempat yang ingin ku lihat." ucap Jinsin menarik tangan Rio keluar toko.

"Hei, pelan-pelan Jinsin." mereka berlari perlahan ke tempat yang di tuju. Dia kaget melihat tempat itu di terangi lilin. Lalu ada kolam air mancur yang aktif.

"Ini tempatnya, Jinsin?" Rio melihat taman desa yang luas dan sunyi.

"Benar Rio, bagaimana menurut kamu, sangat romantis, bukan?" ucap Jinsin menoleh ke arah Rio melihat dengan tatapan tanpa berkedip. Rio diam melihat mata Jinsin. Lalu Jinsin menarik tangan Rio ke tempat duduk kayu.

Mereka berdua duduk bersandar melihat lilin lampion yang di gantung. Rio memegang tangan Jinsin dengan erat. Jinsin tersenyum, karena tangan kanannya di pegang erat oleh Rio.

"Kau mau pulang, Jinsin?" Rio melihat Jinsin dan angin dingin bertiup di tubuh mereka. Lalu mereka mulai ke dinginan.

"Ini pakai, biar kamu tidak kedinginan." Rio membuka baju tebal, dan meletakkan di tubuh Jinsin. Jinsin melihat wajah Rio penuh senyum. Jinsin dan Rio mendengar suara gemuruh di langit. Lalu mereka melihat langit malam banyak kilat karena gemuruh.

"Ayo kita pulang, mau hujan nih."

Rio berdiri dari kursi memegang tangan Jinsin dengan erat. Jinsin masih duduk menerima pegangan tangan Rio sambil tersenyum kepadanya. Lalu Jinsin bangkit, berjalan bersama kembali ke penginapan.

Hujan turun deras membasahi kota. Saat sedang berjalan sama menuju pulang, mereka mulai panik karena hujan deras. Lalu mereka berlari mencari tempat teduh sambil menutup kepala mereka dengan tangan.

"Kau kebasahan?" tanya Rio melihat tubuh Jinsin.

"Sedikit basah di kepala." ucap Jinsin memegang kepalanya sambil melihat Rio.

"Kita di sini saja ya, nunggu agak reda sedikit." ucap Rio. Lalu mereka berdua berdiri di sebuah rumah yang sudah tutup. Lalu berteduh karena hujan deras. Angin kencang menghampiri mereka berdua sampai mereka kedinginan. Lalu air hujan mengarah ke mereka berdua yang sedang teduh.

"Kau kedinginan, Jinsin." tanya Rio.

"Iya aku kedinginan." ucap Jinsin.

"Kalau begitu kemarilah." Jinsin mendekati Rio, lalu memeluk tubuhnya dengan senyuman. Dia menutup wajahnya di antara dada dan pakaian Rio. Hujan semakin deras, angin terus bertiup mau menerbangkan atap teras yang sudah berbunyi dan bergoyang. Rio menatap atap.

"Air sudah membasahi tempat kita berdiri, Jinsin."

"Iya benar, bagaimana ini Rio?"

"Kamu berdiri di situ, Jinsin." Jinsin melepas pelukannya dan dia mulai berdiri di peti kayu di pegangi Rio.

"Kamu bagaimana?"

"Aku baik-baik saja." Jinsin melihat telapak kaki Rio sudah terendam air.

Setelah Rio dan Jinsin berteduh untuk waktu yang lama. Hujan deras belum menampakkan tanda akan berhenti. Malam semakin larut, kondisi jalan setapak yang terang dengan rintik hujan deras membuat mereka sulit melihat.

"Rio, sepertinya hujan tidak akan berhenti malam ini. Bagaimana?" ucap Jinsin melihat Rio.

"Kau ingin berlari di tengah hujan, Jinsin." Rio mengajak dengan wajah tersenyum.

"Haaah. Kenapa kamu tidak bilang." Jinsin tersenyum dan hendak turun segera ingin berlari.

"Oke, siap ya?"

"Haaaa hahahaha...."

"Haaaa..hahahahaaa..haha.."

Rio dan Jinsin berlari di tengah hujan dengan suara tawa terdengar di jalan setapak, menuju penginapan, berpegangan tangan. Bunyi langkah kaki mereka berdua terus terdengar, melewati jalanan becek dan banjir sudah sampai telapak kaki.

"Ayo, cepat Jinsin." ucap Rio.

Mereka mengusap wajah yang terus membasahi karena hujan, supaya bisa melihat jalan dengan jelas. Jinsin terlihat senang karena dapat mandi hujan bersama Rio. Dia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu. Lalu Rio menyuruh Jinsin untuk menghentikan langkah larinya.

"Kenapa Rio, berhenti." Jinsin bingung.

"Ada lumpur." Rio melihat lumpur campur air banjir.

"Jadi bagaimana, Rio?" tanya Jinsin.

"Aku akan gendong kamu." ucap Rio. Lalu Jinsin diam melihat jawaban Rio di tengah hujan yang sudah membasahi seluruh tubuh mereka.

"Aku akan gendong kamu, tidak masalah kan?" Jinsin diam mendengar ucapan Rio melihatnya berwajah senyum malu.

"Heh. heh. heh. Rio hati-hati." Jinsin panik saat tubuhnya di gendong menyamping oleh Rio, perasaannya sampai melayang.

"Kita akan berlari. Berpeganganlah, Jinsin."

"Iya." Jinsin memegang leher Rio dengan erat. Lalu Rio melangkahkan kakinya menuju kubangan banjir lumpur sedalam semata kaki. Rio berlari perlahan melewati banjir lumpur berwajah berusaha.

"Aha. Hah. Aha. Hah."

"Kau tidak apa-apa, Rio?" ucap Jinsin. Lalu Jinsin mendengar suara lelah Rio. Lalu dia memperhatikan dari bawah, membasahi wajahnya. Rio terus berusaha melewati kubangan lumpur yang berat, saat dia melangkahkan kakinya.

"Oh, ini." ucap Rio.

Setelah Rio melewati kubangan lumpur yang berat. Dia kaget saat kakinya telah menginjak jalan setapak. Rio membersihkan alas kaki yang menempel banyak lumpur.

Rio berlari di tengah hujan, Jinsin merasakan, kalau Rio membawanya begitu cepat. Di tengah hujan deras, Rio melihat sekeliling kota sunyi. Ada toko yang masih buka. Namun kondisinya tidak seterang sebelum hujan. Rio sampai di rumah penginapan, dia menurunkan Jinsin tepat di teras rumah.

"Deras sekali hujannya ya." ucap Jinsin mendengar suara hujan yang berisik sambil melihat sekeliling halaman depan rumah yang gelap.

1
fnrm
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!