NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warna Baru di Pagar yang Kusam

Krennnggg...!!

Suara bising mesin pemotong rumput memecah keheningan pagi, Potongan rumput halus dan serpihan tanaman liar langsung berterbangan ke segala arah, menciptakan badai hijau kecil di sekitar langkah kaki Akira.

Yukari berlari masuk ke dalam rumah, dia keluar lagi membawa sepasang kacamata pelindung bening milik mendiang ayahnya dan selembar masker kain baru.

"Akira-san...!" panggil Yukari setengah berteriak. Namun, Akira tetap lurus menatap ke depan, terlalu fokus mendorong mesin potong rumput itu dengan bertenaga.

"Akira-san...!!" panggil Yukari lagi, kali ini sampai urat lehernya terlihat.

Karena suaranya kalah telak oleh raungan mesin, Yukari akhirnya mengambil inisiatif. Dia berlari memutar, mengambil jarak agak jauh di depan jalur kerja Akira agar aman. Begitu posisinya pas, Yukari langsung melompat-lompat kecil sembari melambaikan kedua tangannya dengan super heboh demi menarik perhatian.

Akira mendadak menghentikan langkahnya. Dia mengernyitkan dahi, menatap bingung ke depan. Mengapa gadis pustakawan itu tiba-tiba melompat tidak jelas seperti lumba-lumba terdampar? Pemandangan konyol itu seketika membuat dada Akira bergetar geli. Dia terkekeh pelan, lalu menarik tuas untuk mematikan mesinnya.

Seketika itu juga, keheningan kembali menguasai pekarangan. Dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, Yukari berjalan mendekati Akira. "Susah sekali memanggilmu, Akira-san!" omelnya sembari terengah-engah.

"Ah, maaf. Suara mesinnya terlalu bising," jawab Akira, merasa agak bersalah.

Yukari melangkah maju satu tindakan. Tangan kecilnya terangkat, dengan telaten mulai membersihkan sisa-sisa potongan rumput halus yang menempel di dahi dan sekitar pipi Akira.

Gerakan tiba-tiba itu membuat jantung Akira berdegup satu kali lebih kencang. Jarak mereka begitu dekat. "Lihat ini, rumputnya sampai berterbangan ke wajahmu semua," gumam Yukari pelan, matanya fokus menyapu bersih serpihan hijau di kulit wajah pria itu.

Akira tetap diam mematung, menatap lurus ke arah sepasang mata bulat Yukari. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan begitu dalam, tangan kanan Yukari bergerak lembut memalingkan wajah Akira ke arah lain agar pria itu tidak terus menatap matanya.

"Fokus, Akira-san...! Matamu membuatku gugup, tahu!" cicit Yukari dengan suara yang mendadak mengecil karena salah tingkah.

Senyuman tipis yang menawan kembali terukir di bibir Akira. Dia membiarkan saja Yukari memakaikan kacamata pelindung bening ke wajahnya, memasangkan masker baru di hidungnya, dan terakhir, memakaikan sebuah earmuff besar di kepalanya.

"Nah... aman!" seru Yukari, kembali tersenyum manis setelah menepuk bahu tegap Akira dua kali dengan bertenaga.

Akira menatap punggung kecil Yukari yang berjalan menuju gudang belakang rumah dari balik kacamata pelindungnya. Merasa seluruh tubuhnya kini dipenuhi oleh energi baru yang hangat, dia kembali menarik tuas mesin.

***

Gadis itu melangkah ke rak penyimpanan terbuka di gudang. Sebuah kaleng cat berukuran sedang yang isinya masih cukup banyak, lengkap dengan sebuah kuas besar dan obeng besi sebagai pembuka kalengnya

Yukari membawa kaleng itu ke meja panggung kayu di sudut halaman pekarangan depan,

"Akira-san, aku menemukan kaleng cat ini di rak. Kira-kira masih bisa dipakai?" tanya Yukari sambil menggeser kaleng tua itu ke tengah meja teras.

Akira mendekat setelah mematikan mesin rumputnya. Dia mengambil tang besi yang tergeletak di samping bale-bale, menjepit bibir tutup kaleng, lalu membukanya dengan satu hentakan kuat. Pria itu mengambil sebatang ranting kering, lalu mengaduk isi kaleng perlahan untuk memeriksa kekentalannya sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Catnya masih bagus. Warnanya juga belum berubah."

Wajah Yukari langsung berbinar senang. "Syukurlah! Kalau begitu... setelah ini kita cat pagar depan, ya?"

Akira menatap pagar kayu yang mulai kusam, lalu kembali memandang Yukari. Seulas senyum manis muncul di bibirnya. "Boleh.. pagarnya sudah kusam, sudah waktunya pagar ini di cat ulang, aku ingin rumah ini semakin cantik ."

Ucapan itu membuat Yukari terdiam sejenak. Ia menopang dagu di atas kedua tangannya, menatap lurus pada wajah Akira. "Baiklah, karena semangat kita masih menggebu-gebu ayo kita lanjutkan melukis pagar!!."

Tawa kecil mereka pun kembali memenuhi pekarangan rumah kayu itu, berpadu dengan embusan angin pagi yang membawa aroma segar rumput yang baru dipotong.

***

Proses pengecatan pun dimulai. Akira berdiri di sisi luar pagar menghadap jalan desa, sedangkan Yukari berada di sisi dalam pekarangan. Mereka bekerja saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh bilah-bilah kayu yang perlahan berubah warna tertutup lapisan cat baru.

Suara gesekan kuas yang khas memenuhi udara pagi yang tenang. Sesekali, di sela-sela bilah pagar, pandangan mereka bertemu, bertukar senyum tipis, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

"Akira-san... Apa kamu suka membaca buku? " tanya Yukari membuka percakapan sambil mengoleskan kuasnya perlahan.

"emm... tidak terlalu , aku lebih suka membaca majalah otomotif"

"Lalu apa Hobi mu akira-san? "

Gerakan tangan Akira berhenti sesaat, memandangi ujung kuas yang basah, seolah mencari jawaban dari tempat yang sudah lama tak pernah dikunjunginya. "Em yukari-san, Aku Bukan tidak punya, hanya saja selama ini sibuk oleh hal lain."

Yukari ikut memperlambat ayunan kuasnya, mengintip dari celah pagar. "Sayang sekali, pekerjaan mu se-sibuk itu kah?"

Akira terdiam beberapa detik sebelum menjawab lirih, " Seluruh duniaku... waktu itu hanya berputar pada satu orang.."

Tangan Yukari mendadak berhenti bergerak. Satu orang...? Pelan-pelan, dadanya terasa sedikit sesak mendengar kalimat itu. Dia menggigit bibir bawahnya pelan, mendadak larut dalam pikirannya sendiri.

Dia kembali mengecat, tetapi rasa penasaran di kepalanya tidak bisa dibendung lagi. Setelah beberapa saat hening, dia akhirnya kembali bertanya, "Akira-san..satu orang yang kau maksud apa ada hubungannya dengan seseorang yang kau cerita tadi?"

Akira mengangguk pelan tanpa menghentikan sapuan kuasnya. "Ya. "

akira masih melanjutkan puasan cat pada pagar didepannya "Sahabat ku sudah mengingatkanku sejak awal tentang dia, tapi waktu itu aku terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan namun saat semuanya terlambat... aku terlalu malu untuk menemui mereka lagi. Jadi aku memilih menghilang."

"Bagaimana kalau kau salah?" Pertanyaan tenang Yukari membuat alisnya bertaut . "Bagaimana kalau mereka sama sekali tidak ingin menertawakanmu? Bagaimana kalau selama ini mereka justru terus mencarimu?" sambung gadis itu

Akira terdiam membisu, sementara Yukari melanjutkan dengan suara yang sangat lembut. "Teman yang benar tidak akan berkata, 'Itu salah mu?' saat melihatmu jatuh. Mereka lebih dulu mengulurkan tangan untuk membantumu berdiri. setelah kau aman... mereka memarahimu habis-habisan."

Sudut bibir Akira bergerak pelan. Kalimat sederhana dari gadis itu terasa jauh lebih hangat daripada yang bisa dia bayangkan. Dia menatap Yukari beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "...Ya. Aku harap memang begitu."

***

Dia segera mempercepat ayunan kuasnya agar tidak kembali tertinggal. Namun, karena terlalu bersemangat, tanpa disadarinya beberapa cipratan cat putih dari ujung kuas mengenai pipinya.

Selang beberapa menit saat posisi mereka kembali sejajar, Akira justru berdiri diam menatap wajahnya dengan sudut bibir yang tampak bergetar menahan tawa.

Yukari langsung mengernyit bingung. "Apa? Ada apa, Akira-san?"

Pria itu mengangkat ujung gagang kuas yang bersih, lalu menunjuk wajah Yukari. "Di pipimu..."

Yukari langsung panik. Tanpa berpikir panjang, dia mengusap pipinya menggunakan jari yang celakanya masih dipenuhi cat basah. Bukannya hilang, noda putih itu justru melebar ke mana-mana.

"Yukari, tanganmu juga penuh cat," ujar Akira menahan tawa.

Yukari membeku. Dia melihat telapak tangannya sendiri, lalu buru-buru mengusap pipinya lagi menggunakan lengan kardigan. Sayangnya, hasilnya justru semakin parah. Pipinya kini dipenuhi bercak putih yang tidak beraturan.

Tawa Akira akhirnya pecah begitu saja. Bukan sekadar senyum tipis, melainkan tawa lepas yang membuat bahunya sampai ikut bergetar. "Maaf... tapi kau lucu sekali," ujarnya di sela tawa.

Mata Yukari langsung menyipit kesal. "Oh... jadi begitu?"

Melalui celah pagar yang belum sepenuhnya dicat, Yukari diam-diam menjulurkan jari telunjuknya yang putih. "Aku juga punya hadiah untukmu!"

Sreet Ujung jari Yukari sukses mendarat di pipi kanan Akira, meninggalkan seberkas garis cat putih di sana. Akira langsung membeku di tempat, sementara Yukari mundur selangkah sambil tertawa puas. "Nah! Sekarang baru adil! Kita sama-sama kotor!"

Akira mengusap pipinya perlahan. Saat melihat bekas cat di jarinya, dia hanya bisa menggeleng sambil tersenyum pasrah atas kelakuan ajaib gadis itu.

Tiiin! Tiiin!

Suara klakson pikap yang sangat familier memecah suasana. Mobil Daiki berhenti tepat di depan pagar. Pria itu turun sambil membawa kantong besar berisi camilan, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat penampilan kedua temannya.

Daiki berkedip dua kali dengan wajah datar. "...Astaga. Baru kutinggal setengah hari, kenapa kalian malah berubah jadi anak TK begini?"

"Bukan salahku! Dia yang menjahili lebih dulu!" bela Yukari sambil memonyongkan bibir.

Daiki terkekeh-kekeh kemudian melirik ke arah pagar yang kini berubah putih bersih. Senyumnya perlahan melembut. "Tapi harus kuakui, Pagar ini jadi kelihatan hidup lagi. sebaiknya kalian berdua cepat cuci muka sana sebelum catnya kering itu bakalan susah di hilangkan."

Yukari spontan menutup pipinya panik. "Eh?! Serius?" Dia langsung berlari terbirit-birit menuju halaman belakang. "Aah! Akira-san, cepat!"

Akira menatap Daiki sesaat, ikut terkekeh pelan, lalu melangkah menyusul Yukari menuju wastafel belakang.

***

Di depan wastafel halaman belakang, Yukari sibuk menggosok pipinya dengan sabun. "Aduh... susah sekali hilangnya. Akira-san, masih ada noda?"

Akira yang baru selesai membilas wajahnya berbalik, memperhatikan wajah Yukari beberapa saat dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Iya, masih lumayan tebal."

Yukari panik dan langsung menggosok pipinya lebih keras sampai rambut di dekat pelipisnya berantakan. "Yang sebelah sini? Atau yang ini? Akira-san, jangan bercanda, masih ada?"

Melihat kepanikan itu, sudut bibir Akira perlahan terangkat usil. "...Sudah bersih dari tadi."

Yukari membeku. Dia menurunkan tangannya perlahan, lalu matanya membulat sempurna. "Akira-san... itu tadi sengaja?"

Akira mengambil handuk kecil, mengeringkan wajahnya dengan tenang. "Aku hanya ingin melihat seberapa lama kau akan percaya."

"Kau ngerjain aku?!" Yukari melongo, tak menyangka si pria kaku bisa sejahil ini. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyendok air dari wastafel dengan tangannya. "Coba rasakan ini!"

Byur! Air mengenai lengan kaus Akira.

Pria itu menatap noda air di lengannya, lalu tanpa berkata apa-apa, dia gantian mengambil air menggunakan telapak tangannya sendiri dengan wajah yang tetap lempeng.

Yukari langsung mundur panik. "Akira-san... jangan. Sungguh, jangan!"

Byur!

"Ahhh basah!" Pekikan dan tawa renyah Yukari seketika pecah, memenuhi halaman belakang yang kini terasa jauh lebih hidup dan hangat.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!