Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
BAB 17: Gemerlap Lampu Kota dan Kencan Pertama yang Sempurna
Bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar di SMA Pelita berbunyi nyaring, memicu sorak sorai tertahan dari para murid yang sudah tidak sabar menikmati akhir pekan. Koridor gedung IPS yang tadinya sepi langsung dipenuhi oleh riuh langkah kaki dan obrolan kasual tentang rencana malam minggu.
Elva Ileana merapikan buku-buku catatannya dengan gerakan yang santai, tidak lagi terburu-buru atau ketakutan seperti beberapa minggu lalu. Begitu dia menyampirkan tas sekolahnya di bahu dan melangkah keluar pintu kelas, sesosok tubuh tegap yang sangat familier sudah berdiri menyandar di pilar koridor dekat loker besi.
Zayn Dominic. Cowok itu berdiri dengan sebelah tangan terbenam di saku celana abu-abunya, sementara jaket kulit hitam andalannya tersampir gagah di salah satu bahu tegapnya. Begitu sepasang mata elang Zayn menangkap figur Elva, tatapan matanya yang semula sedingin es seketika melunak, digantikan oleh binar hangat yang hanya ditujukan khusus untuk gadis itu.
"Lama banget rapi-rapi buku doang," ketus Zayn saat Elva sudah berdiri di depannya, meskipun nada bicaranya terdengar judes, tangannya bergerak otomatis menyambar tas sekolah Elva untuk dia bawakan.
Elva tersenyum murni, sebuah senyuman manis yang selalu berhasil meruntuhkan kekakuan di wajah tampan Zayn. "Tadi aku harus mengembalikan kamus ke perpustakaan dulu, Zayn. Maaf ya membuatmu menunggu."
Zayn tidak menyahut, dia hanya mengangguk kecil lalu menuntun Elva berjalan menyusuri koridor menuju area parkir mobil sport hitamnya. Sepanjang jalan, tangan kekar Zayn dengan posesif merangkul pundak mungil Elva, mengunci pandangan murid-murid lain yang diam-diam mengintip kemesraan mereka.
Begitu mereka sudah berada di dalam kabin mobil yang hangat, Zayn tidak langsung menyalakan mesin. Dia memutar tubuhnya menghadap Elva, menatap wajah polos gadis itu dengan intens. "Nanti malam lo kosong, kan?"
Elva mengernyitkan dahi bulatnya, sedikit bingung. "Kosong kok. Memangnya kenapa, Zayn?"
"Ganti baju lo nanti malam. Kita keluar jam tujuh," perintah Zayn singkat, nadanya terdengar mutlak namun ada sedikit rona canggung yang samar di sekitar lehernya.
"Gue mau ngajak lo ke festival kuliner malam di pusat kota. Lo bilang kemarin lo suka jajanan pasar, kan?"
Jantung Elva seketika melewatkan satu detakan. Matanya berbinar cerah, dan semburat merah muda langsung menghiasi kedua pipinya yang halus. "k-kencan?" tanya Elva cicit, suaranya sangat pelan karena merasa malu.
Zayn membuang muka ke arah setir mobil, berdeham pelan untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sangat langka. "Nggak usah banyak tanya. Pokoknya jam tujuh tepat lo harus udah siap."
Tepat jam tujuh malam, pintu lift apartemen penthouse terbuka. Zayn yang sudah menunggu di ruang tengah dengan mengenakan kaus hitam polos dan jaket denim gelap seketika terpaku di tempatnya berdiri.
Elva melangkah keluar dari kamar dengan penampilan yang luar biasa manis. Dia mengenakan gaun kasual bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel yang panjangnya mencapai bawah lutut, dipadukan dengan flat shoes putih yang nyaman. Rambut hitam panjangnya dikuncir setengah ke belakang, menyisakan beberapa helai rambut yang membingkai wajah polosnya yang hanya diberi sapuan tipis pelembap bibir. Dia terlihat sangat murni, segar, dan luar biasa cantik di mata Zayn.
"Zayn? Kenapa melamun? Penampilanku aneh, ya?" tanya Elva ragu, meremas ujung gaunnya karena merasa tidak percaya diri di bawah tatapan intens cowok itu.
Zayn berdeham keras, mengalihkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Elva dengan kelembutan yang tiada tara. Dia melangkah mendekat, lalu menggenggam jemari tangan Elva yang hangat. "Nggak aneh. Lo... cantik banget malam ini."
Pujian jujur dari Zayn sukses membuat wajah Elva memerah sempurna. Tanpa membuang waktu lagi, Zayn menuntun gadisnya menuju mobil untuk memulai kencan manis pertama mereka.
Pusat kota malam itu sangat ramai dan meriah. Festival kuliner kota yang digelar di area terbuka di bawah pendaran ratusan lampu hias gantung memberikan atmosfer yang sangat romantis dan hidup. Aroma gurih martabak telur, manisnya gulali, dan kepulan asap dari stan sate membubung ke udara, mengundang selera siapa saja yang datang.
Begitu mereka melangkah masuk ke area festival, kerumunan orang yang cukup padat membuat Elva sedikit kewalahan. Melihat hal itu, dengan gerakan sigap, Zayn menyelipkan jari-jemarinya ke sela-sela jari Elva, mengunci genggaman tangan mereka dengan sangat erat dan menyimpannya di dalam saku jaket denimnya.
"Jangan lepas dari gue. Di sini rame, nanti lo hilang," bisik Zayn tepat di samping telinga Elva, suaranya yang berat memberikan rasa aman yang mutlak di tengah keriuhan.
Elva mengangguk bahagia, bersandar sedikit pada lengan tegap Zayn saat mereka mulai berjalan menjelajahi stan demi stan. Sisi kekanakan Elva yang selama ini terpendam akibat penindasan keluarganya kini keluar sepenuhnya. Matanya berbinar-binar setiap kali melihat makanan yang menarik.
"Zayn! Lihat itu, ada kembang gula yang bentuknya mirip kucing!" seru Elva bersemangat, menunjuk ke arah sebuah stan gulali tradisional di pojok lapangan.
Zayn menatap ekspresi gembira di wajah Elva, dan hatinya mendadak berdesir hangat. Kebahagiaan Elva begitu sederhana, dan Zayn bersumpah dalam hati akan memberikan seluruh kesederhanaan yang membuat gadis itu tersenyum seperti ini seumur hidupnya.
"Lo mau? Yuk, beli."
Zayn mengantre dengan sabar di antara kerumunan orang demi membelikan sebuah gulali berbentuk kucing untuk Elva. Setelah mendapatkannya, Elva langsung menggigit gulali manis itu dengan senyuman yang sangat lebar.
"Manis banget! Zayn, kamu mau coba?" Elva menyodorkan gulali itu ke depan mulut Zayn tanpa berpikir panjang.
Zayn tertegun sejenak melihat kepolosan Elva. Alih-alih menolak karena dia tidak suka makanan manis, Zayn justru memajukan wajahnya dan menggigit sedikit bagian atas gulali tersebut tepat di tempat yang sama dengan bekas gigitan Elva.
"Iya, manis," ucap Zayn, namun sepasang mata elangnya tidak menatap gulali tersebut, melainkan lurus menatap ke dalam manik mata bulat milik Elva yang kini kembali memerah sempurna karena menyadari tindakan tidak langsung mereka.
Setelah puas membeli beberapa camilan seperti takoyaki, kue cubit setengah matang, dan sate bakar, Zayn membawa Elva menuju ke sebuah taman kecil yang terletak di bagian belakang area festival. Tempat itu jauh lebih tenang, dihiasi oleh jembatan kayu kecil dan kolam ikan yang diterangi lampu taman yang redup dan romantis.
Mereka duduk beriringan di sebuah bangku taman panjang di bawah pohon rindang. Elva meletakkan sisa jajanannya di samping kursi, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas bahu tegap Zayn, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh cowok itu.
"Zayn... terima kasih banyak untuk malam ini," bisik Elva pelan, matanya menatap pendaran lampu festival dari kejauhan.
"Dulu, aku selalu melihat malam minggu dari jendela kamarku yang gelap di rumah Papa. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya berjalan-jalan di bawah lampu kota bersama seseorang yang menyayangiku. Dan malam ini... kamu mewujudkan bayangan itu jadi nyata."
Zayn menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelus rambut hitam panjang Elva. Dia memutar tubuhnya sedikit, lalu menangkup dagu Elva lembut agar gadis itu menatap wajahnya. Sinar rembulan malam itu memantul indah di dalam bola mata bulat Elva yang jernih.
"Gue udah bilang berkali-kali, Elva," ucap Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, dalam, dan penuh dengan komitmen yang mengakar kuat.
"Masa lalu lo yang gelap di rumah itu udah selesai. Mulai hari ini, setiap malam minggu, setiap hari, dan setiap detik dalam hidup lo... gue yang akan ada di sebelah lo buat menciptakan kenangan-kenangan manis baru. Lo nggak perlu lagi melihat dunia dari balik jendela yang gelap, karena gue adalah tempat lo pulang."
Air mata haru yang hangat perlahan mengalir di pipi Elva, namun dibarengi dengan senyuman murni yang sangat lebar. Zayn memajukan wajahnya perlahan, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut, lama, dan penuh perasaan di kening Elva, menyalurkan seluruh rasa cinta dan janji perlindungan mutlaknya di bawah saksi gemerlap lampu kota dan kesunyian malam yang indah. Kencan pertama mereka malam itu berakhir dengan kesempurnaan yang akan membekas abadi di dalam lembaran takdir baru kehidupan mereka.