NovelToon NovelToon
Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Wanita Karir / Office Romance / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.

Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.

"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"

Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.

Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.

Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017: Diangkat

"Formasi-nya untuk siapa?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Kirana setelah hampir satu menit ia hanya menatap Sandi seperti orang lupa cara bernapas.

Sandi tidak langsung menjawab. Ia melihat pesan di ponsel sekali lagi, lalu menatapnya dengan ekspresi yang terlalu rapi untuk disebut biasa.

"Pak Surya minta Bu Kirana ke HRD jam sepuluh besok."

Malam itu, Kirana tidak tidur.

Ia mencoba membaca ulang dokumen Sensor IoT, tetapi angka-angka berubah menjadi bayangan pintu. Ia mencoba mengabaikan ponsel, tetapi tiap getaran membuat jantungnya melompat. Di kepala, suara Raditya di Pantai Marina muncul sebentar, menawarkan jalur Pak Wibowo. Lalu suara Wanda muncul, menuduhnya dekat dengan Pak Bos.

Kirana mematikan lampu pukul dua pagi dan tetap terjaga sampai azan Subuh terdengar jauh dari luar kos.

Kalau ini benar miliknya, ia ingin berdiri dengan kaki sendiri ketika menerimanya.

***

Ruang HRD Cakra selalu berbau kertas baru dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Kirana duduk di kursi depan meja oval dengan telapak tangan tersembunyi di pangkuan. Di hadapannya, Pak Surya membaca satu berkas tipis. Seorang staf HRD menyiapkan formulir. Arka duduk di sisi kanan, diam, wajahnya tidak memberi petunjuk apa pun.

Itu yang paling menyiksa.

Pak Surya akhirnya menurunkan berkas.

"Kirana Halim."

"Ya, Pak."

"Berdasarkan evaluasi kinerja, hasil Proyek Sensor IoT Dishub, rekomendasi Divisi IS, dan kebutuhan formasi wilayah, mulai bulan depan status Anda diangkat dari karyawan kontrak menjadi karyawan tetap PT Cakra Nusantara."

Kirana mendengar kata-kata itu, tetapi butuh beberapa detik untuk percaya bahwa kalimatnya sudah selesai.

Karyawan tetap.

Ia tidak lagi berada di pintu dengan satu kaki siap didorong keluar.

"Selain itu," lanjut Pak Surya, "Anda akan menempati posisi Koordinator Proyek Integrasi di Divisi IS. Level supervisor. Tanggung jawab Anda bertambah, begitu juga paket remunerasi. Jangan membuat saya menyesal."

Ada sesuatu yang pecah pelan di dada Kirana.

Bukan tangis.

Lebih seperti beban yang selama ini ia kira bagian dari tubuhnya, tiba-tiba dilepas satu tali.

"Terima kasih, Pak." Suaranya hampir tidak keluar. Ia menelan ludah, memaksa diri duduk tegak. "Saya akan jaga kepercayaan ini."

Pak Surya mengangguk. "Jaga bukan dengan kata-kata. Jaga dengan hasil."

"Siap."

Staf HRD menyodorkan dokumen. Kirana membaca tiap halaman, dari perubahan status, masa evaluasi, struktur gaji, sampai klausul jabatan. Matanya berhenti sebentar pada angka tunjangan baru. Ia teringat Papa, utang, kos Rungkut, dan malam-malam ketika mi instan terasa seperti pilihan paling masuk akal.

Angka itu belum menyelesaikan hidupnya.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia melihat tangga.

Saat ia menandatangani halaman terakhir, Arka akhirnya bicara.

"Selamat, Kirana."

Tidak ada panggilan sayang. Tidak ada nada pribadi. Hanya dua kata di ruang HRD.

Tetapi dua kata itu jatuh di atas kertas yang baru ia tanda tangani seperti stempel kedua. Bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Pengakuan yang bisa dibaca siapa pun.

Tetapi ketika Kirana mengangkat wajah, ia melihat sesuatu di mata Arka yang tidak dingin sama sekali. Bangga. Lega. Dan sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, seperti lelaki itu baru menyadari bahwa jarak di antara mereka berkurang satu anak tangga.

"Terima kasih, Pak Arka," jawabnya.

Sudut mulut Arka bergerak sangat tipis.

Pak Surya menutup map. "Setelah ini, umumkan ke tim. Orang perlu tahu performa seperti apa yang dihargai."

***

Pengumuman di Divisi IS terjadi lebih cepat daripada kesiapan Kirana.

Sandi mengumpulkan tim di area kerja, Pak Surya berdiri di depan, dan Arka sedikit di belakangnya. Wanda ada di sisi kiri, wajahnya sudah kaku sebelum kalimat pertama selesai. Felicia, yang seharusnya berada di program management trainee, entah bagaimana ikut berdiri dekat meja printer dengan senyum manis yang terlalu rapi.

"Mulai bulan depan," kata Pak Surya, "Kirana Halim resmi menjadi karyawan tetap dan menjabat Koordinator Proyek Integrasi Divisi IS. Keputusan ini berdasarkan performa, terutama keberhasilan Sensor IoT Dishub, serta evaluasi internal yang sudah melalui HRD."

Tepuk tangan terdengar.

Awalnya ragu, lalu makin penuh.

Mbak Yanti bahkan berseru, "Akhirnya ada yang naik karena kerja beneran!"

Beberapa orang tertawa.

Kirana berdiri di depan mereka, tersenyum, tetapi lututnya terasa kosong. Ia melihat wajah-wajah yang selama ini menilai, menunggu, mengukur. Hari ini, sebagian dari tatapan itu berubah.

Bukan semua.

Tetapi cukup.

Felicia bertepuk tangan pelan. "Selamat ya, Kirana. Cepat sekali naik level."

Kalimatnya manis, tetapi kata level membuat beberapa orang menoleh. Kirana menatapnya dan tersenyum.

"Terima kasih. Semoga saya bisa kerja secepat itu juga."

Senyum Felicia tidak hilang, hanya menjadi sedikit lebih tipis.

Wanda tidak sehalus itu.

"Kalau ada formasi pas setelah tender menang, timing-nya cantik sekali ya," katanya, cukup pelan untuk disebut komentar, cukup keras untuk didengar.

Udara kembali turun.

Kirana belum menjawab ketika Sandi lebih dulu membuka suara.

"Formasi wilayah sudah diproses sejak sebelum hasil tender, Mbak Wanda. Hasil Sensor IoT memperkuat rekomendasi. Semua dokumen ada di HRD."

Mbak Yanti menyambung tanpa diminta, "Dan yang klarifikasi teknis kemarin juga Bu Kirana sendiri. Saya lihat wajahnya sampai pucat di ruang rapat."

"Saya cuma bilang timing-nya bagus," Wanda membela diri.

Kirana menatapnya. Kali ini ia tidak gemetar.

"Mbak benar. Timing-nya bagus. Karena setelah bertahun-tahun jadi kontrak, akhirnya kerja saya punya waktu yang tepat untuk dilihat."

Kalimat itu membuat beberapa orang diam.

Wanda membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Pak Surya menatap seluruh ruangan. "Saya harap tidak ada yang menganggap formasi sebagai hadiah pribadi. Ini perusahaan, bukan arisan keluarga. Kalau mau naik, tunjukkan hasil."

Pesan itu menampar lebih keras daripada kemarahan.

Felicia menunduk pada ponselnya. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Cakra, ia tidak terlihat sepenuhnya nyaman.

Kirana melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya pula, Kirana tidak merasa dirinya berada jauh di bawah blazer putih itu.

***

Siang itu, Mega menelepon sambil berteriak sampai Kirana harus menjauh dari meja.

"Rana, kamu tetap! Kamu supervisor! Aku mau nangis tapi lagi potong kain, nanti pola batikku rusak!"

Kirana tertawa, lalu benar-benar menangis sedikit di tangga darurat.

"Aku belum supervisor keren. Masih belajar."

"Belajar sambil gaji naik itu tetap keren."

"Meg."

"Apa?"

"Aku takut ini cuma sementara."

Mega diam sebentar. Lalu suaranya melunak. "Kira, orang seperti kamu terlalu sering disuruh merasa sementara. Hari ini jangan. Hari ini kamu terima dulu."

Kirana menutup mata.

"Iya."

Setelah telepon selesai, notifikasi lain muncul.

Belio JodohMatch:

Selamat! Data karier Anda diperbarui.

Level Anda naik ke Zona Profesional.

Rekomendasi baru tersedia.

Kirana menatap layar.

Dulu aplikasi yang sama pernah memasukkannya ke Zona Bertumbuh, mempertemukannya dengan Tono yang baik hati tetapi jelas menjadi cermin pahit tentang gaji dan kelas. Sekarang, angka baru dari Cakra menggeser pintu digital itu tanpa menanyakan apakah hatinya siap.

Ia membuka halaman rekomendasi.

Beberapa profil baru muncul. Engineer senior. Analis keuangan. Pegawai BUMN level manajer muda.

Lalu satu kartu setengah buram muncul di baris kedua.

Manajer Pemasaran. Cakra Nusantara.

Skor kecocokan sedang dihitung.

Kirana tidak perlu melihat foto penuh untuk tahu siapa kemungkinan itu.

Pintu tangga darurat terbuka.

Arka berdiri di ambang pintu.

"Kirana."

Ia refleks mengunci layar ponsel.

Arka melihat gerakan itu, lalu melihat wajahnya. Tatapannya berhenti lebih lama daripada biasanya. Bukan tatapan atasan kepada koordinator baru. Bukan juga tatapan lelaki yang sekadar menahan cemburu.

Tatapan itu seperti keputusan yang belum diucapkan.

"Selamat sekali lagi," katanya pelan.

Kirana menggenggam ponsel di balik tubuhnya, merasakan notifikasi JodohMatch masih panas di telapak tangan.

"Terima kasih, Pak."

Arka melangkah satu anak tangga turun, jarak mereka menyempit.

"Mulai sekarang," ucapnya, "jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa kamu hanya sementara."

Dada Kirana bergetar.

Di layar yang gelap, rekomendasi baru menunggu dibuka.

Di depannya, Arka menatapnya seolah ia baru saja memutuskan bahwa suatu hari, Kirana tidak boleh lagi berdiri di luar hidupnya.

1
harianti hasanuddin
👍
Normida Naibaho
Mksh cefitanya tbor..👍
Linda Nuraini
ceritanya bagus banget 👍👍
🌹 Mommy caeeeem 😍
novel semenakjubkan begini kok sepi pembaca sih,, heran deh akoh,,,
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
aisiteru
ceritanya menarik walaupun harus mikir alurnya
aisiteru
cerita ini udah tamat ato blm thor? aku tunggu up tp g ada
Kam1la
💪💪👍, hebat langsung sehari jadi banyak bab....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!