NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Catur Tanpa Suara

Malam berangsur-angsur luruh, digantikan oleh semburat fajar kelabu yang merayap di langit Monako. Di dalam ruang kerja utama Mansion Utama dinasti Garrick, suasana terasa begitu pekat oleh konsentrasi yang mendalam. Ruangan besar yang berdinding kayu jati kuno itu kini dipenuhi oleh pendaran cahaya dari layar proyektor besar yang menampilkan peta topografi terenkripsi, rute pipa gas bawah tanah, serta manifes logistik militer Eropa Timur. Alur pergerakan di dalam ruangan ini sengaja dijaga tetap lambat, seolah-olah setiap detik yang berputar harus melalui perhitungan yang luar biasa matang. Tidak ada ketergesa-gesaan, namun intensitas ketegangan yang ada di udara sanggup membuat siapa saja sesak napas.

Alana duduk dengan anggun di balik meja kerja raksasa yang dulunya merupakan takhta mutlak milik Victor Garrick. Gadis remaja itu mengenakan gaun beludru hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Luka di punggungnya yang baru saja sembuh total tidak lagi menghambat gerakannya, namun dia memilih untuk bersandar dengan tenang, menampilkan pembawaan seorang penguasa sejati yang mengendalikan badai dari balik layar. Di sisi kirinya, Natasha "Tasha" Sterling berdiri dengan postur tubuh yang tegak dan formal, memegang tablet militer yang terus berkedip memperbarui data intelijen secara berkala.

Di depan meja luas itu, keempat kakak laki-laki Alana berkumpul. Kehadiran mereka berlima dalam satu ruangan selalu membawa aura intimidasi yang masif. Dominic berdiri tegap seperti patung batu di dekat pintu, sementara Xavier, Julian, dan Adrian menempati sofa kulit mewah dengan ekspresi wajah yang bervariasi—namun semuanya memiliki satu kesamaan pagi ini: sisa-sisa amarah yang pekat karena adik perempuan kesayangan mereka telah dihina oleh pihak luar.

"Data dari sektor utara perbatasan Ukraina dan Rusia sudah sepenuhnya disinkronisasikan, Lady Alana," Tasha memecah keheningan pertama, suaranya terdengar jernih, profesional, dan bergema konstan di dalam ruangan yang sunyi. "Intelijen militer Rusia saat ini sedang melakukan operasi pembersihan internal besar-besaran terkait faksi pemberontak di wilayah perbatasan. Mereka sedang dalam kondisi siaga satu dan sangat sensitif terhadap isu penyelundupan senjata ilegal. Mereka hanya membutuhkan satu pemicu konkrit untuk menggeledah gudang logistik utama milik faksi Bratva."

Alana tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangan mungilnya, meraih cangkir porselen berisi teh hitam hangat, lalu menyesapnya dengan gerakan yang sangat lambat. Setelah meletakkan kembali cangkir itu ke atas tatakannya tanpa menimbulkan suara benturan sedikit pun, mata jernih Alana melirik ke arah Julian yang duduk bersandar di sofa.

"Kak Julian," panggil Alana lembut, memecah kesunyian dengan nada yang sangat manusiawi namun sarat akan wewenang. "Bagaimana dengan manifes palsu yang kita diskusikan semalam? Apakah sistem pertahanan siber mereka sudah mendeteksinya?"

Julian membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari telunjuk, sebuah senyuman dingin yang sangat tipis terukir di bibirnya yang pucat. Dia menatap adiknya dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum dan kepatuhan yang gila.

"Semuanya berjalan sesuai dengan rencanamu, Adik Kecil," jawab Julian, suaranya mengalun lambat namun tajam. "Aku tidak hanya menanamkan dokumen itu di peladen acak. Aku menyusupkannya langsung ke dalam pangkalan data rahasia milik Kementerian Pertahanan Rusia, tepat di bagian pengawasan terorisme domestik. Di mata para jenderal Kremlin, dokumen digital itu akan terlihat seperti bocoran valid dari informan tingkat tinggi yang sangat tepercaya. Ivan Volkov tidak akan pernah menyadari dari mana datangnya badai yang akan menghantam kepalanya pagi ini. Dia akan mengira ada pengkhianat di dalam lingkaran dalamnya sendiri."

"Sempurna," sahut Alana, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat. Pandangannya kemudian beralih ke sisi kanan ruangan, tepat ke arah sosok masif Dominic Garrick. "Dan untuk eksekusi fisiknya... Kak Dominic, bagaimana dengan kondisi di lapangan?"

Dominic, sang mantan putra mahkota yang kini telah menyerahkan seluruh kesetiaannya kepada Alana, melangkah maju satu langkah. Tubuh tegapnya yang dibungkus setelan jas hitam mahal memberikan tekanan visual yang kuat di dalam ruangan. Dia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Alana dengan tatapan protektif yang sangat pekat.

"Cedric sudah berada di posisinya sejak dua jam yang lalu, Alana," urai Dominic dengan suara baritonnya yang berat dan serak. "Dia memimpin langsung pasukan bayangan kita di sektor utara. Mereka telah mengisolasi area katup pipa gas utama yang menyokong seluruh pabrik pengolahan dan jalur logistik Bratva. Skenarionya sangat bersih. Begitu pasukan intelijen militer Rusia merangsek masuk ke dalam gudang untuk memeriksa senjata ilegal hasil fabrikasi Julian, Cedric akan menutup katup pipa secara total dari luar."

Dominic menjeda kalimatnya sejenak, memastikan Alana menyerap setiap detail taktisnya. "Penutupan mendadak itu akan menciptakan tekanan balik ekstrem pada sistem pemanas bawah tanah gudang mereka. Hasilnya adalah ledakan termal masif yang akan menghancurkan seluruh pasokan logistik Ivan Volkov dalam hitungan detik. Tidak akan ada jejak residu bahan peledak asing. Otoritas setempat akan menyimpulkannya sebagai kecelakaan murni—sebuah kelalaian fatal dari anak buah Ivan yang panik saat digerebek oleh militer."

Adrian, yang sejak tadi duduk di sebelah Julian sambil memangku laptop militernya, tidak bisa menahan diri untuk tidak menyela. Matanya berbinar-binar gila menatap Alana, seolah-olah sedang melihat seorang dewi taktik.

"Ini benar-benar di luar nalar, Alana," seru Adrian dengan nada bicara yang cepat namun tertahan oleh tatapan peringatan dari Dominic. "Kita menghancurkan seluruh fondasi kekuatan ekonomi dan militer mereka di perbatasan tanpa perlu meletuskan satu pun peluru dari dinasti Garrick. Kamu membuat pemerintah negara mereka sendiri yang bertindak sebagai algojo untuk memotong tangan dan kaki faksi Bratva. Ini... ini sangat elegan."

Namun, di tengah-tengah kekaguman itu, Xavier Garrick yang sejak tadi berdiri diam di dekat jendela besar sambil memutar-mutar kartu hitamnya berbalik. Wajah tampannya terlihat kaku, dan rahangnya mengeras. Sifat posesif finansial dan harga dirinya yang gila sebagai seorang miliarder tampaknya masih belum sepenuhnya puas dengan taktik senyap ini.

"Aku masih merasa kita terlalu berbaik hati dan membuang-buang waktu dengan alur yang lambat seperti ini, Alana," potong Xavier, suaranya terdengar berat dan sarat akan kekejaman yang tertahan. Dia melangkah mendekati meja kerja Alana, menumpukan kedua tangannya di atas meja jati tersebut sembari menatap adiknya dengan pandangan yang luar biasa defensif. "Pria tua sialan bernama Ivan Volkov itu telah berani menyebut adik kecilku dengan sebutan 'bocah ingusan'. Mengapa kita tidak menggunakan cara yang biasa? Aku bisa mendanai perang penuh hari ini juga. Aku bisa menyewa tiga resimen tentara bayaran terbaik dari Afrika dan Eropa untuk mengepung dan meratakan seluruh markas besar mereka di Moskow dalam waktu dua puluh empat jam. Aku yang akan menanggung semua biayanya, Alana. Uang bukan masalah bagiku, selama bajingan yang menghinamu itu lenyap dari muka bumi."

Mendengar letupan emosi Xavier, ruangan itu mendadak menjadi sangat senyap. Sifat posesif para kakak laki-laki Alana memang selalu berada di ambang batas kegilaan jika menyangkut harga diri adik mereka. Dominic bahkan tampak menyetujui usulan Xavier lewat kilatan mata yang haus darah.

Alana menatap Xavier yang berdiri di depannya. Detik berikutnya, topeng dingin di wajah Alana runtuh sejenak, digantikan oleh sebuah senyuman hangat dan manusiawi yang sangat tulus. Dia tahu kakak-kakaknya bertindak seperti ini karena mereka sangat menyayanginya dan tidak ingin melihatnya direndahkan oleh siapa pun.

"Kak Xavier," panggil Alana dengan suara yang sangat lembut, sanggup meredakan ketegangan di dada Xavier dalam seketika. "Duduklah terlebih dahulu."

Xavier mengembuskan napas panjang, kekakuannya mencair mendengar suara lembut Alana. Dia menarik kursi di depan meja dan duduk dengan patuh, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah sang adik.

"Uang milik Kak Xavier terlalu berharga jika hanya digunakan untuk membeli peluru bagi orang-orang rendahan seperti Ivan Volkov," lanjut Alana, suaranya mengalun tenang namun mengandung ketegasan yang mutlak. "Jika kita menyerang mereka dengan tentara bayaran secara terbuka, dunia bawah tanah akan melihat kita sebagai dinasti yang sedang panik dan mengandalkan otot. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku lebih suka melihat Ivan Volkov hancur secara perlahan dari dalam. Aku ingin dia kehilangan segalanya—pasukannya, uangnya, dan reputasinya—sementara dia dipaksa menyadari bahwa dia dijatuhkan oleh seorang 'gadis kecil' yang dia remehkan, tanpa dia memiliki bukti sedikit pun untuk menunjuk wajah kita."

Xavier tertegun mendengar penjelasan itu. Dia menatap Alana selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah tawa rendah dan puas lolos dari bibirnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa bangga yang luar biasa gila. "Kamu benar-benar mengerikan jika sedang tenang seperti ini, Dik. Sifat dinginmu itu... benar-benar warisan terbaik dari keluarga ini, tapi versi yang jauh lebih cerdas."

Tepat pada saat itu, pintu ruang kerja terbuka tanpa suara mekanis yang keras. Cedric melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat. Jaket kulit hitamnya masih terasa dingin oleh sisa udara malam di luar mansion. Dia berjalan mendekati meja, berdiri di samping Dominic, lalu menatap Alana dengan pandangan mata yang tajam dan protektif.

"Pasukan bayangan sudah mengunci koordinat akhir, Alana. Katup pipa gas akan meledak tepat pukul delapan pagi waktu setempat," lapor Cedric dengan nada rendah. Namun, dia kemudian melipat tangannya di dada, dahinya berkerut dalam. "Tapi ada satu hal yang mengganjal di kepalaku. Ivan Volkov adalah serigala tua yang licik. Begitu perbatasannya lumpuh dan logistiknya hancur oleh militernya sendiri, dia pasti akan mulai mengendus-endus ke luar. Dia tidak akan diam saja menerima nasib buruk ini. Dia pasti akan mencari tahu siapa dalang di balik semua anomali siber ini."

Alana tidak langsung menjawab pertanyaan Cedric. Dia memberikan isyarat kecil dengan jentikan jarinya ke arah Tasha. Dengan tangkas dan sigap, Tasha segera menggeser dokumen digital di tabletnya ke halaman berikutnya, lalu menampilkannya di layar proyektor utama.

"Kak Cedric benar," ucap Alana, matanya kini kembali berkilat sedingin es, memancarkan aura The Ice Queen yang manipulatif dan kejam untuk musuh-musuhnya. "Ivan Volkov pasti akan mencari kambing hitam. Dan saat dia berada di titik paling bawah dalam hidupnya—ketika dia dikejar oleh militer negaranya sendiri dan kehilangan seluruh asetnya—di situlah kita akan masuk dengan cara yang sangat terhormat."

Alana melirik Tasha, dan Tasha segera menyambung penjelasan sang bos.

"Saya sudah menyusun draf surat resmi dari dinasti Garrick, Tuan-Tuan," ujar Tasha dengan nada profesional, matanya menatap kelima kakak Alana dengan ketenangan yang berani. "Tepat dua belas jam setelah ledakan di perbatasan, saat Ivan Volkov sedang bersembunyi di bunker bawah tanahnya dengan rasa panik, saya akan mengirimkan dokumen ini ke jalur pribadinya. Isinya adalah sebuah surat penawaran bantuan diplomatik dan finansial dari Monako untuk menyelamatkan sisa-sisa keluarganya dari eksekusi militer Rusia."

"Penawaran bantuan?" Cedric menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak suka karena merasa mereka justru menolong musuh.

"Itu hanya judul di atas kertas, Kak Cedric," sela Alana dengan senyuman dingin yang sangat mematikan. "Di dalam klausul bawah dokumen tersebut, terdapat pasal tersembunyi yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan perlindungan dari dinasti Garrick, Ivan Volkov harus menyerahkan seluruh sisa otoritas perdagangan, jalur hitam Mediterania, dan kepatuhan mutlak faksi Bratva ke bawah tangan dinasti Garrick. Surat penawaran bantuan itu... sebenarnya adalah surat perjanjian penyerahan diri secara total tanpa syarat."

Ruangan kerja itu kembali dilingkupi oleh keheningan yang sangat panjang. Alur percakapan yang berjalan lambat namun padat informasi ini membuat kelima kakak Alana benar-benar mencerna kejeniusan taktis yang dimiliki oleh adik perempuan mereka. Mereka saling berpandangan satu sama lain, bertukar tatapan yang dipenuhi oleh rasa takjub yang tak terbendung.

Alana tidak menggunakan senapan mesin seperti Cedric, tidak menggunakan otot seperti Dominic, dan tidak menggunakan represi finansial mentah seperti Xavier. Dia menggunakan kecerdasan siber Adrian dan Julian, digabungkan dengan kemampuan analisis Tasha, untuk menciptakan sebuah perangkap tak terlihat yang akan mencekik musuh global mereka hingga mati tanpa bisa melawan.

"Ivan Volkov mengira dia sedang menantang seorang gadis remaja yang lemah di menara gading Monako," Dominic memecah keheningan dengan suara baritonnya yang berat, bergaung di setiap sudut ruangan. Dia menatap Alana dengan tingkat kepatuhan gila seorang panglima tertinggi yang siap mati demi Ratunya. "Dia tidak pernah tahu, bahwa dengan mengirimkan ancaman itu kemarin, dia baru saja mengetuk pintu gerbang neraka yang paling elegan di dunia bawah tanah."

Alana tidak memberikan tanggapan verbal atas pujian Dominic. Dia hanya kembali meraih cangkir tehnya yang mulai mendingin, menatap lurus ke arah peta digital di depannya dengan pandangan mata yang sangat tenang namun tajam. Di dalam hatinya, Alana tahu bahwa dia tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun. Kehidupan damai yang dia dambakan bersama kakak-kakaknya harus ditebus dengan harga yang mahal: yaitu dengan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan mereka.

Buku Kedua dari dinasti baru ini telah resmi dimulai. Perang global pertama Alana dikobarkan dengan sangat rapi dan lambat dari balik meja kerja mewahnya, bersiap meruntuhkan aliansi luar satu per satu di bawah kepemimpinan barunya yang tak tergoyahkan.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!