Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21# Bekas Luka Di Tubuh Ayla
"Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Gavin yang saat itu berjalan beriringan dengan Ayla. Usai makan, Gavin benar-benar memaksa Ayla untuk berkeliling kediaman keluarga Aditama bersamanya.
"Apa saja," jawab Ayla dengan nada sedikit cuek.
"Apakah aku harus memanggilmu kakak ipar?" tanya Gavin untuk yang kesekian kalinya.
"Terserah kau saja," jawab Ayla, tak ingin berbicara banyak dengan sosok yang dianggapnya menyebalkan itu.
"Tunggu, kenapa kau sesungguhnya se-cuek ini, persis seperti kakakku? Bukankah baru semalam kau tidur bersamanya?" tanya Gavin sambil memegang lengan Ayla.
"Kau ini benar-benar menyebalkan! Bisa tidak kalau bicara jangan sambil memegang orang?" omel Ayla yang mulai memperlihatkan rasa kesalnya.
"Nah, baru sekarang banyak bicara. Apakah aku harus membuatmu kesal dulu supaya mau mengobrol?" ujar Gavin lagi.
"Baiklah, aku menyerah. Mari kita berdamai saja. Aku akan memanggilmu Gavin, dan kau panggil aku Ayla. Bukankah itu tidak terasa berat? Setuju?" ucap Ayla sambil menyodorkan tangannya sebagai tanda kesepakatan.
"Baiklah, begitu baru wajar. Ayla kecil," jawab Gavin sambil menyambut uluran tangan itu.
"Oh ya, kata 'kecil'-nya dibuang saja. Cukup panggil Ayla," tambah Ayla, lalu berjalan mendahului Gavin.
"Baiklah, tunggu aku!" seru Gavin sambil segera menyusul.
Mereka tampak seperti kakak dan adik kandung yang sesungguhnya.
Perjalanan mengenal lingkungan kediaman Aditama dimulai dari bagian luar rumah, atau lebih tepatnya dari halaman depan. Memang Valen yang meminta Gavin untuk menemani Ayla sekaligus memperkenalkan seluruh area rumah itu agar gadis itu tidak merasa asing.
"Ini kolam ikan milik Kak Valen," ucap Gavin saat mereka tiba di halaman samping.
Terlihat kolam itu berisi ikan koi dengan berbagai jenis dan warna. Hewan-hewan itu tampak sehat dan lincah berenang ke sana kemari.
"Dia suka memelihara hewan?" tanya Ayla dengan rasa penasaran.
"Sangat suka. Hobi ini dia warisi dari ibunya... eh, maksudku, almarhum ibunya juga memiliki kesukaan yang sama," jelas Gavin.
"Ternyata dia punya hobi seperti itu. Aku juga suka hewan, tapi tidak dengan ikan. Menurutku, hewan ini terlalu berbahaya untuk disentuh," gumam Ayla pelan sambil menatap ikan-ikan yang berenang dengan riang.
"Berbahaya? Sama sekali tidak. Ini bukan ikan hiu yang suka memangsa orang. Mau coba memegangnya?" tanya Gavin. Ia kemudian mengambil segenggam makanan ikan dan menaburkannya ke permukaan air, sehingga ikan-ikan itu segera berenang naik ke atas untuk memakannya.
"Ayo, cobalah," ajak Gavin sambil menatap Ayla.
Perlahan Ayla mendekati tepi kolam lalu berjongkok. Ia baru saja akan menyentuh ikan-ikan yang terlihat cantik itu, namun tiba-tiba ujung gaunnya terangkat tertiup angin. Hal itu membuat bagian lutut dan betisnya sedikit terlihat.
"Ayla..." panggil Gavin, yang tanpa sengaja melihat bekas luka di kulit lutut dan kaki Ayla.
Menyadari hal itu, Ayla segera berdiri tegak dan menutup bagian tubuhnya dengan cepat.
"Gavin, aku kembali ke kamar dulu," ucapnya tergesa, lalu segera pergi meninggalkan Gavin.
"Tapi Ayla! Kita belum selesai berkeliling!" seru Gavin hendak menahannya, namun Ayla sudah menghilang dari pandangan.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia bereaksi secepat itu? Mengapa kakinya banyak tertutup bekas luka?"
Berbagai pertanyaan terus berputar di benak Gavin.
Malam harinya...
Sepanjang hari, pikiran Gavin tak lepas dari apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka gadis seumur Ayla memiliki banyak bekas luka di bagian kakinya.
"Tuan Muda Gavin?"
Suara itu membuyarkan lamunannya. Leo baru saja tiba kembali ke rumah bersama Valen. Beberapa saat sebelumnya, mereka memperhatikan Gavin yang melamun di salah satu sudut ruangan.
"Ah, ada Kak Valen dan Leo. Kapan kalian pulang?" tanya Gavin, terkejut.
"Sudah dari tadi," jawab Valen singkat.
"Kenapa Tuan Muda melamun sendirian di sini?" tanya Leo penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan kejadian tadi siang," jawab Gavin terus terang.
"Ada yang terjadi?" tanya Valen, yang mulai merasa ingin tahu.
"Kak, sebenarnya istri Kakak itu... apa yang pernah dialaminya?" tanya Gavin sambil menatap wajah kakaknya.
Valen dan Leo pun saling berpandangan. Keduanya juga belum mengetahui hal itu.
"Maksudmu apa?" tanya Valen balik.
Gavin lalu menjelaskan secara rinci apa yang dilihatnya di tepi kolam, serta fakta bahwa setelah kejadian itu Ayla tidak pernah keluar dari kamar lagi.
"Jadi begitulah keadaannya," ujar Gavin polos. Ia memang belum banyak mengetahui masa lalu Ayla.
"Leo, berikan waktu satu jam untuk menyelidiki hal ini," perintah Valen setelah mendengar penjelasan adiknya.
"Siap, Tuan!" jawab Leo sigap.
"Kak, kalau sudah tahu jawabannya, ceritakan juga padaku ya?" pinta Gavin dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Kalau begitu, lebih baik kau saja yang menjadikannya istri. Sudahlah, jangan terlalu ikut campur urusan orang lain. Sebaiknya kau bersiap-siap; sebentar lagi Ibu yang terkenal galak itu akan segera pulang," jawab Valen singkat, lalu bergerak pergi menggunakan kursi rodanya.
Gavin hanya terdiam. Rasa penasaran bercampur kesal meluap mendengar jawaban kakaknya.
"Dasar kakak tua yang menyebalkan! Untung saja kau masih saudaraku," gerutunya pelan, lalu berjalan masuk menuju kamarnya.
Sementara itu, Valen juga melaju menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama, ia pun tiba di depan pintu dan masuk ke dalam.
Terlihat Ayla sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Gadis itu tampak lebih tenang dan nyaman berada di dalam kamar dibandingkan saat berjalan-jalan di luar tadi.
"Hem..."
Valen mengeluarkan suara sebagai kode kehadirannya.
Ayla segera menoleh dan meletakkan ponselnya.
"Maaf, aku tidak menyadari kalau kau sudah kembali," ucapnya sambil memperhatikan Valen.
"Siapkan air hangat," perintah Valen tanpa menanggapi ucapan Ayla.
"Untuk mandi?" tanya Ayla memastikan.
"Ya," jawab Valen singkat.
"Baiklah," jawab Ayla. Baginya, tugas itu terasa sangat ringan untuk dikerjakan.
Ia segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Patuh sekali..." gumam Valen pelan.
Ia kemudian bangkit dari kursi rodanya, membuka laci di sisi tempat tidur, mengambil sebuah buku, lalu mulai membaca dengan fokus. Sebenarnya Valen memiliki gangguan sulit tidur, atau sering disebut insomnia. Itulah sebabnya setiap malam ia selalu membaca terlebih dahulu sebelum beristirahat.
Lima menit berlalu.
"Airnya sudah siap," lapor Ayla yang baru keluar dari kamar mandi.
Valen melirik sekilas, lalu meletakkan bukunya dan berjalan masuk ke kamar mandi.
"Tatapan sedingin es batu... apa maksudnya?" batin Ayla, merasa sedikit kesal.
Di dalam kamar mandi, Valen segera melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi. Berendam dengan air hangat setelah seharian bekerja adalah rutinitas wajibnya agar tubuh terasa lebih rileks dan mudah terlelap.
Sementara itu, Ayla kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
Tiga puluh menit kemudian...
"Astaga, di mana handukku?" gumam Valen sambil memandangi sekeliling ruangan.
Baru ia sadari satu hal: ia lupa membawa handuk.
"Sial," umpatnya dalam hati.
"Ayla!" serunya sambil membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip ke luar.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya