Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pantulan di Danau Dua Wajah
Setelah meninggalkan Lembah Waktu yang telah kembali ke iramanya, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan menuju arah selatan. Setelah berjalan selama dua hari, mereka tiba di sebuah dataran yang sangat luas, dan di tengahnya terbentang sebuah danau yang airnya tenang sekali — begitu jernih hingga bisa memantulkan langit dan pepohonan di sekelilingnya dengan sangat jelas.
Namun, begitu mendekati tepi danau, mereka merasakan ada keanehan. Airnya terlihat tenang, namun memancarkan hawa yang terasa bercampur: sebagian terasa hangat dan menenangkan, sebagian lagi terasa dingin dan menusuk hati.
“Ini adalah Danau Dua Wajah,” gumam Cepot sambil mengamati permukaan air. “Konon, danau ini memantulkan bukan hanya apa yang terlihat secara lahiriah, tapi juga isi hati dan pikiran terdalam siapa saja yang menatapnya. Jika hati bersih, ia akan memancarkan cahaya kebaikan; jika hati dipenuhi keraguan atau keinginan tersembunyi, ia akan menampakkan bayangan yang bisa membingungkan dan memerangkap.”
Belum sempat Dawala bertanya lebih lanjut, dari balik semak di tepi danau muncul seorang lelaki tua yang berpakaian sederhana namun tatapannya terlihat gelisah. Ia menyapa mereka dengan suara yang bergetar.
“Berhati-hatilah, pengembara! Banyak orang yang datang ke sini hanya ingin melihat keindahan danau, namun akhirnya terjebak melihat bayangan diri mereka sendiri hingga lupa kenyataan. Ada yang merasa dirinya paling hebat, ada yang merasa dirinya sangat hina, dan akhirnya mereka terperangkap dalam perasaan itu selamanya.”
“Siapa yang menjaga danau ini, dan mengapa ia bisa menimbulkan pengaruh sekuat itu?” tanya Dawala dengan hati-hati.
“Dahulu, danau ini adalah tempat yang damai dan menjadi cermin kebenaran bagi siapa saja yang ingin mengenal dirinya sendiri,” jawab lelaki tua itu. “Namun, sekitar setahun yang lalu, datanglah seorang yang menyebut dirinya Ki Pandang. Ia merasa bahwa cermin ini hanya menunjukkan satu sisi saja, sehingga ia mengubah sifatnya agar memantulkan segala sisi secara berlebihan — sisi baik menjadi terlalu sempurna, sisi buruk menjadi terlalu mengerikan. Sejak itu, siapa pun yang melihatnya akan terombang-ambing antara rasa bangga yang berlebihan atau rasa rendah diri yang menghancurkan.”
Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala memutuskan untuk mendekat dengan penuh kewaspadaan. Begitu mereka berdiri di tepi danau dan menatap permukaannya, terlihatlah dua bayangan yang muncul sekaligus: satu bayangan yang terlihat gagah, berkuasa, dan dipuji banyak orang; satu lagi bayangan yang terlihat lemah, salah langkah, dan penuh kekurangan.
“Lihatlah!” terdengar suara yang bergema dari tengah danau. “Aku adalah Ki Pandang. Di sini, setiap orang bisa melihat seluruh sisi dirinya. Mengapa harus bersembunyi? Biarkan mereka melihat kehebatan diri, atau melihat kelemahan mereka agar tahu tempatnya!”
Sosok lelaki itu muncul dari balik air, berdiri di atas permukaan danau dengan tenang. Matanya memancarkan cahaya yang terbelah menjadi dua warna.
“Kau tidak menunjukkan kebenaran, Ki Pandang,” kata Cepot tegas. “Kau membesarkan satu sisi hingga menutupi sisi lainnya. Manusia itu memiliki dua sisi: ada kelebihan dan ada kekurangan, ada kebaikan dan ada sifat yang masih perlu diperbaiki. Jika hanya melihat kelebihan, kita akan menjadi sombong; jika hanya melihat kekurangan, kita akan putus asa. Keduanya sama-sama menjauhkan kita dari keseimbangan.”
Ki Pandang tertawa keras. “Tapi itulah kenyataannya! Tidak ada yang sempurna, dan tidak ada yang sepenuhnya buruk. Mengapa tidak menampakkannya secara terang-terangan?”
“Karena kebenaran yang diputarbalikkan porsinya justru menjadi kebohongan,” jawab Dawala. “Tugas cermin ini bukan untuk menilai berlebihan, tapi untuk mengingatkan: agar kita bisa bersyukur atas kelebihan, dan berusaha memperbaiki kekurangan — bukan terjebak di dalamnya.”
Mendengar kata-kata itu, Ki Pandang terdiam. Selama ini ia mengira dengan menampakkan kedua sisi secara terang, ia telah membantu orang mengenal diri sendiri. Namun ia baru sadar bahwa tanpa pandangan yang seimbang, penampakan itu justru menjadi jebakan.
Saat itu juga, Cepot mengangkat Golek Pancasona. Cahaya lembut namun teratur memancar, menyentuh permukaan danau yang tadinya terbelah menjadi dua. Perlahan, pantulan yang terlihat berlebihan itu menyatu kembali menjadi satu gambaran yang utuh: tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap, cukup jelas untuk menunjukkan siapa diri seseorang tanpa menimbulkan rasa berlebihan apa pun.
Suara bisikan yang membingungkan pun lenyap. Air danau kembali tenang dan jernih seperti sedia kala, namun kini memantulkan kebenaran yang seimbang. Siapa pun yang menatapnya akan melihat dirinya apa adanya, dan justru dari situlah muncul keinginan untuk terus memperbaiki diri.
Ki Pandang menundukkan kepala, wajahnya tampak tenang kembali. “Aku mengerti sekarang. Menunjukkan segala sisi tidak berarti membesarkannya hingga menutupi yang lain. Keseimbangan dalam melihat diri sendiri adalah kunci agar kita bisa terus melangkah maju.”
Ia pun memohon izin untuk tetap tinggal menjadi penjaga danau, namun kali ini dengan tugas yang benar: menjaga agar cermin itu tetap menampakkan kebenaran yang utuh dan tidak memihak.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka menerima sebuah cermin kecil yang terbuat dari air danau yang membeku secara alami. “Bawalah ini sebagai pengingat,” kata Ki Pandang. “Lihatlah dirimu apa adanya, dan terimalah dengan hati yang terbuka — itulah awal dari segala kebijaksanaan.”
Membawa cermin kecil itu dan pelajaran baru, Cepot dan Dawala melangkah pergi, semakin yakin bahwa melihat diri sendiri dengan jujur dan seimbang adalah langkah pertama untuk menjaga keseimbangan di dunia luar.