NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Sumur yang Menahan Air

Setelah meninggalkan Lembah Janji, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan menuju dataran rendah yang gersang. Tanah di sana retak-retak, rumput layu, dan pepohonan tidak memiliki daun yang segar. Namun yang aneh, udaranya terasa lembap, seolah ada sumber air yang tersembunyi di dekat sana.

“Kang, tempat ini seharusnya subur,” kata Dawala sambil menyentuh tanah yang keras. “Ada aliran air di bawahnya, tapi tidak bisa naik ke permukaan. Seolah ada yang menahannya.”

Mereka berjalan lebih jauh hingga tiba di sebuah desa kecil. Warga desa tampak lelah dan sedih. Mereka bercerita bahwa dulunya daerah ini sangat subur, dialiri mata air yang jernih. Namun sejak satu tahun lalu, air itu menghilang ke dalam tanah, dan tidak ada yang bisa mengeluarkannya kembali.

“Di tengah desa ada sumur tua yang konon menjadi sumber seluruh aliran air di sini,” kata kepala desa dengan suara lemah. “Namun mulut sumur itu kini tertutup rapat, dan tidak ada yang sanggup membukanya kembali.”

Mereka segera menuju ke lokasi sumur itu. Di sana berdiri sebuah batu besar yang menutup mulut sumur, dan di sampingnya duduk seorang lelaki tua yang tampak gelisah. Ia adalah Ki Simpan, yang dulu menjaga mata air itu.

“Mengapa kau menutup sumber kehidupan ini?” tanya Cepot dengan lembut namun tegas.

Ki Simpan mendongak, matanya tampak bingung. “Aku tidak menutupnya untuk merusak. Aku hanya ingin menyimpannya agar tidak habis. Dulu air mengalir ke mana-mana, kadang terbuang sia-sia, kadang membawa banjir. Aku pikir jika aku simpan dan kurangi alirannya, air itu akan tetap ada selamanya untuk digunakan di saat yang tepat.”

“Kau salah paham tentang sifat air,” jawab Dawala. “Air yang disimpan dan tidak mengalir justru akan menjadi keruh, berbau, dan akhirnya meresap hilang ke dalam tanah. Air yang tetap hidup adalah air yang mengalir, memberi minum tanah, dan kembali lagi ke sumbernya melalui siklus alam.”

Belum sempat Ki Simpan menjawab, terdengar suara gemuruh pelan dari dalam sumur. Batu penutup itu bergetar pelan, seolah air di dalamnya sedang berjuang ingin keluar namun terhalang.

“Kekhawatiranmu akan kekurangan membuatmu menahan terlalu banyak,” kata Cepot. “Kelimpahan bukan berarti menyimpan sebanyak-banyaknya, tapi membaginya dengan seimbang. Jika kau menahan semua untuk dirimu atau untuk masa depan yang belum pasti, maka saat ini pun kau kehilangan manfaatnya.”

Cepot melangkah mendekat, mengangkat Golek Pancasona. Cahaya lembut menyentuh batu penutup sumur. “Wahai air yang tertahan! Kembalilah pada alammu. Mengalirlah dengan takaran yang pas, memberi kehidupan tanpa meluap, dan menyegarkan tanpa tersia-sia.”

Batu besar itu perlahan bergeser sendiri. Air yang jernih memancar keluar, mengalir tenang ke segala arah, meresap ke tanah yang retak, dan perlahan membuat rumput serta pohon kembali menghijau. Udara yang tadinya kering kini menjadi sejuk dan segar.

Ki Simpan menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku pikir aku menjaganya, ternyata aku justru mengurungnya. Sekarang aku mengerti: sesuatu yang berharga justru akan bertahan lama jika digunakan dan dibagikan dengan bijak, bukan ditimbun.”

Ia pun berjanji akan menjadi penjaga yang mengatur aliran air dengan takaran yang pas, tidak berlebihan dan tidak tertahan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, warga desa memberikan mereka sebuah kendi tanah liat yang berisi air dari sumur itu. “Air ini tidak akan pernah habis jika digunakan untuk kebaikan, dan akan berkurang jika disimpan saja,” kata mereka.

Membawa kendi itu dan pelajaran berharga, Cepot dan Dawala melangkah pergi. Mereka menyadari bahwa kelimpahan sejati lahir dari kemurahan hati dan keseimbangan berbagi, bukan dari ketakutan akan kekurangan.

1
sakura
...
Fwyz
jujur ag bingung sm bahasa dialogny
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!