NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Kebenaran Menyakitkan

"Apa yang sedang kamu lalukan?"

Satu pertanyaan itu membuat udara di sekitar terasa lebih berat dari sebelumnya. Rendra menatap wajah istrinya, turun ke ponsel miliknya sejenak, lalu kembali ke wajah sang istri dan menemukan gurat kekecewaan di wajah itu.

Thalia menatap wajah suaminya tanpa memiliki niat mengembalikan ponsel suaminya. “Siapa Clara?”

Rendra diam sesaat, detik berikutnya memasang wajah seorang suami dengan kendali mutlak. “Rekan kerja.”

Thalia tersenyum sinis. “Rekan kerja yang tahu rencanamu memanfaatkan aku?”

“Thalia.”

“Rekan kerja yang tahu nama keluargaku ada di proyekmu?” sambung Thalia.

Rendra melangkah mendekat. “Jangan dramatis, kamu tidak paham konteksnya.”

“Konteks?” Thalia tertawa sumbang. “Aku membaca kalimatmu sendiri, Ren.”

“Ponsel itu privasi, kembalikan," ucap Rendra bernada ancaman.

“Namaku ada di dalam percakapan itu," sahut Thalia.

“Itu urusan kantor.” jawab Rendra semakin mengikis jarak, tapi kemudian berhenti dalam jarak lima langkah dari posisi istrinya saat melihat tangan Thalia terangkat.

“Kalau urusan kantor, kenapa dia menulis ‘kalau aku mulai curiga’?” cecar Thalia. Cukup sudah kesabaranya selama ini.

Rendra tidak segera memberikan jawaban, dan jeda itu sudah cukup bagi Thalia untuk dijadikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang belum suaminya jawab.

“Kalau itu membantu, kenapa tidak?” Thalia membaca ulang pesan yang Rendra kirimkan.

Rendra memejamkan mata sesaat, lalu menghembuskan napas kasar sebelum membuka mata kembali.

“Lia-”

“Selama ini aku berpikir mungkin kamu benar, aku yang terlalu sensitif setiap kali aku merasa tidak nyaman, atau aku mempermalukanmu karena tidak bisa menjadi istri yang cukup anggun di depan tamu-tamumu.”

Thalia menurunkan tangannya yang masih menggenggam ponsel, air matanya bergulir pelan. Semua rasa sakit, kecewa, dan emosi yang selama ini ia tahan tumpah.

“Tapi ternyata kamu sadar, Ren. Kamu tahu aku tidak nyaman saat di pesta. Kamu sadar saat Arkana memperhatikanku. Kamu sadar aku bisa membuat proyekmu terlihat lebih menarik, dan kamu tetap membiarkannya terjadi.”

“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?!” suara Thalia meninggi, air matanya mengalir deras.

"Kau menggunakanku untuk menaikkan jabatanmu dengan membuat Arkana tertarik padaku agar jalanmu lebih mulus. Apa teoriku salah?"

Rendra menarik napas kasar.

“Itu strategi komunikasi bisnis. Kamu tidak mengerti dunia seperti itu.”

Thalia tertawa hambar, menghapus kasar air matanya. “Kamu masih punya wajah mengatakan itu setelah semua ini?"

“Karena memang itu kenyataannya!” suara Rendra meninggi. “Kamu pikir semua hal dalam bisnis berjalan lurus? Kadang kita memakai pengaruh, citra, hubungan sosial—”

“Dan istri?” Thalia tertawa, mengatur napasnya untuk menenangkan gejolak di hatinya. "Aku paham tentang bisnis jauh lebih baik darimu, Rendra Pratama. Dan kau tahu itu."

"Cara yang baru saja kau sebutkan tidak akan digunakan oleh orang yang memang memiliki kemampuan."

“Jangan memelintir ucapanku!" bentak Rendra melangkah maju, berusaha merebut ponselnya kembali, tetapi Thalia menghindar lebih cepat.

“Aku tidak memelintir.” Thalia mengangkat ponsel itu. “Aku hanya membaca apa yang kamu tulis.”

"Sekarang semua masuk akal." Thalia kembali tertawa, tawa dengan semua rasa sakit yang masih tersisa. "Alasanmu membawaku ke semua jamuan pesta itu hanya untuk membuat semua orang melihatmu sebagai pria sukses yang memiliki istri berkelas untuk menaikkan citra."

Rendra membeku. Kalimat itu jatuh ke lubang yang tepat dan membuat udara di kamar semakin berat. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan emosi melihat amarah istrinya tidak akan mereda jika ia menggunakan emosi yang sama.

“Dengar," suara Rendra melunak. "Nama keluarga Amradita hanya dimasukkan sebagai simulasi. Belum ada tanda tangan atau dokumen resmi. Aku belum mengambil apa pun darimu.”

“Belum?” Thalia mencibir, lalu kembali tertawa. “Jadi memang ada niat ke sana kan?"

“Bukan niat, hanya opsi," elak Rendra

“Namaku bukan opsi!" sergah Thalia.

“Thalia—”

“Keluargaku bukan angka pendukung proyekmu," potong Thalia cepat.

“Kalau proyek itu berhasil, kamu juga akan menikmati hasilnya," jawab Rendra menenangkan.

Kalimat itu membuat Thalia mundur tiga langkah.

“Jadi, ini caramu mencintaiku?” tanyanya pelan. “Memakai namaku, lalu menyebutnya untuk masa depan kita?”

“Aku melakukan ini untuk kita," jawab Rendra.

“Tidak.” Thalia menggeleng. “Kamu melakukan ini untuk dirimu sendiri. Aku hanya kamu bawa agar terlihat seperti ‘kita’.”

"Lia-"

Rendra baru akan kembali berbicara, tetapi terhenti saat melihat gerakan istrinya meletakkan ponsel di sisi ranjang, mengambil tas di atas meja rias, lalu berbalik hendak meninggalkan kamar.

“Kamu mau ke mana?” tanya Rendra.

“Ke kamar tamu.”

“Aku tidak mengizinkan,” tegas Rendra

Thalia berhenti di depan pintu, satu tangannya sudah mendarat di knop pintu.

“Aku tidak butuh izin dari seseorang yang menyebut dirinya suami tapi tidak menjalankan perannya sebagai seorang suami."

“Aku bilang tidak,” ucap Rendra lagi lebih tegas.

Namun, begitu kalimat itu keluar dari mulut Rendra, Thalia membuka pintu kamar dan melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang, seolah ingin mengatakan pada pria itu jika ultimatumnya tidak lagi berpengaruh pada Thalia.

.

.

.

Pagi menyapa. Bu Ratmi baru saja selesai meletakkan secangkir kopi di meja tepat saat Rendra datang ke ruang makan.

"Selamat pagi, Tuan. Sarapan sudah siap." ucap Bu Ratmi sambil membungkukkan badan dengan sopan.

Selama beberapa saat, Rendra terpaku di tempatnya berdiri, netranya menatap kursi di samping kursinya yang masih kosong. Biasanya, Thalia sudah duduk di sana, tersenyum padanya, dan menemaninya sarapan. Tapi pagi ini, sosok istrinya tak terlihat.

"Thalia mana?" tanya Rendra melangkah mendekat. "Kenapa tidak menyiapkan sarapan untuknya?"

Bu Ratmi membungkuk singkat. "Nyonya mengatakan ingin sarapan di kamar, Tuan," tuturnya hati-hati.

"Kamar?" ulang Renda dengan kening berkerut, tangannya menarik kursi untuk ia duduki.

"Kamar tamu, Tuan," jawab Bu Ratmi pelan.

Rahang Rendra mengeras, tangannya mencengkram tepi meja.

"Panggil dia. Minta dia kemari sekarang," perintah Rendra.

"T-tapi Tuan..."

"Lakukan saja. Ini perintah," tegas Rendra.

"Baik." Bu Ratmi menunduk, melangkah mundur, lalu berbalik.

Namun, baru tiga langkah Bu Ratmi menjauh dari meja, ponsel Rendra berdering dengan nama staf kantor muncul di layar.

"Selamat pagi, Pak. Maaf menghubungi Anda sepagi ini. Anda diminta datang ke kantor lebih awal."

. .. .

. .. .

To be continued...

1
Zhu Yun💫
Jangan seperti Rendra ya, Ar... sesekali ajak Thalia jalan-jalan santai, makan malam romantis, atau sekedar nonton film di bioskop... buat membangun chemistry kalian 😁😁😁
Zhu Yun💫
Astaga /Facepalm//Facepalm/ kalian ini seperti anak remaja yang baru mengenal cinta-cintaan /Facepalm//Facepalm/
mery harwati
EGP alias Eweuh Gawe Pisan atw kurang penggawean Rendra ngikuti Thalia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
yeeea pertama
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
paling juga renren
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo, 😂
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Si Arkana ini perhatian, peka, tp dengan cara yg elegan
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
kalau GK mau istrimu ketemu Arkana ya GK usah diajak kali, biar kalian GK berantem terus🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
gak suka tapi dia sendiri yg selalu mulai duluan🤔
Dewi Payang
Anggap aja kata²nya angin bau... ayo tutup hidung😄
Dewi Payang
Mamanya judes.... anaknya suka memanfaatkan....
Dewi Payang
Anna sdh menyambar umpannya Thalia🤭
Zenun
caramu tak biasa Bung. Mau naik tinggi, tunjukkan pesonamu lah🤭
Zenun
hancur bersama ya Ren🤭
Zenun
antara pecat atau mutasi
Zhu Yun💫
Eh kok berasa pendek bab ini 🤭
Zhu Yun💫: Ditunggu gebrakannya Arkana sama penyesalannya Rendra 😁🤸🤸🤸
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nyiapin makan, nyiapin pakaian, angetin ranjang, itu juga udah merupakan dukungan loh Rendra 🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
benar. emang apa tujuannya bawa² thalia segala kalau bukan mau menarik perhatian Arkana. giliran Arkana udah tertarik eh dianya malah kebakaran jenggot sendiri🤭🤭🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Rendra ini ibarat kamu yg nyalain api kamu juga yg kebakaran. aneh ini orang🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
singa di kandang sendiri berarti ya😄
Reni Anjarwani
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!