Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sinyal / malam kedua di karang wilis
*BAB 17
Malam di Karang Wilis tidak turun — ia jatuh.
Setelah kegiatan tadi siang yang melelahkan
Saat ini Nayla sedang di dalam tenda medis ia duduk di tepi ranjang lapangan, ia baru saja selesai ngobrol dengan sari. Lampu portabel di sudut menyala separuh, cukup untuk menunjukkan ruang tanpa benar-benar meneranginya.
Di meja kecil, ponselnya tergeletak layar ke bawah. Ia tidak ingat kapan membaliknya. Mungkin tidak pernah, sejak tadi.
Nayla meraih ponsel itu. Lalu Menyalakannya.
Satu bar. Huruf E di sudut kiri atas.
Ia mengetik. Cepat, lebih cepat dari biasanya, seolah jemarinya tahu ini mungkin tidak akan sampai tapi tetap ingin mencoba. Ia menulis tentang Pak Darmo. Tentang Sari yang tiga bulan sendirian dan tampaknya sudah damai dengan itu. Tentang Iva yang bilang "ganteng" dan membuat Nayla ingin melesap ke dalam tanah.
Semua ditulis, lalu:
Mengirim...
Angin menekan kain tenda dari luar. Sari di ranjang sebelah sudah memejamkan mata. Napasnya teratur.
Nayla kembali menatap layar.
"Tidak dapat mengirim. Coba lagi?"
Ia menekan. Lagi. Lagi. Sekali lagi, lebih keras, seolah tekanan jari bisa mendorong sinyal menembus bukit.
Tapi layar tidak bergeming.
Tetap tidak terkirim.
Nayla menghembuskan napas pendek — separuh tawa, separuh mengaku kalah. "Ya sudah," gumamnya, pada tidak ada siapa-siapa. Lalu ia matikan layar. Menaruh ponsel itu di atas meja dan merebahkan tubuhnya.
Matanya menatap langit-langit tenda yang rendah.
Tak. Tak. Tak.
Terdengar langkah dari luar. Teratur. Tidak terburu-buru, tidak ragu.
Nayla mengenalinya.
Lalu langkah itu berhenti. Diam — lima detik, mungkin sepuluh. Lalu menjauh.
Nayla duduk.
Berdiri.
Ia melangka berjalan ke pintu tenda. Tangannya menarik resleting. Srek — suaranya terdengar nyaring.
Udara malam langsung menyapu wajahnya sebelum ia sempat siap. Dingin, lebih dingin dari yang ia bayangkan dari balik kain. Bau tanah yang tidak pernah cukup kering, daun yang tidak tahu mereka sedang bergerak, dan sesuatu lain yang tidak punya nama.
Nayla berdiri sebentar di ambang tenda, mata terpejam.
Lalu melangkah keluar.
Ia berjalan ke lapangan. Beberapa saat kemudian Lapangan terbuka itu terlihat jelas. Beberapa bekas pembakaran berbentuk lingkaran gelap di tanah. Pohon-pohon di pinggir bergoyang lambat, daunnya memantulkan cahaya bulan tipis-tipis. Kunang-kunang bergerak tidak beraturan — tidak ke mana-mana.
Nayla berhenti di tengah lapangan. Mendongak. Melihat ke atas bulannya terang di bawah nya awan yang bergerak bintangnya banyak berhamburan .
Tak. Tak. Tak.
terdengar Langkah kaki mendekati nya
Nayla tidak perlu menoleh karena sudah tahu siapa.
"Jam 22.15." Suara itu datang dari belakang kirinya. " saya baru selesai Patroli. Saya lewat."
"Oh, iya, Pak," saya kan gak nanya,. ..batinnya tanpa menurunkan pandangan dari langit. Beberapa saat kemudian barulah ia menoleh. Raditya berdiri di samping nya, senter di tangan kanan. Wajahnya tidak terbaca seperti biasa.
"Jangan terlalu lama di luar."
udaranya dingin.
Nayla menatapnya sebentar. Lalu ia mengambil setengah langkah ke depan dan berbalik menghadapnya sepenuhnya — kepalanya sedikit mendongak.
"Bapak khawatir sama saya?"
Satu detik. Dua.
Raditya mengalihkan pandangannya. "tidak usah berlebihan," ucapnya. Suaranya berat, tapi ada sesuatu di ujungnya yang tidak seberat biasanya. "Sudah saya bilang — saya baru selesai patroli." hening. "Sudah larut. Tidur." lanjutnya
Ia melangkah pergi. Tetapi cara jalannya terlihat beda.
Nayla diam tidak bergerak dari tempatnya.
Ia masih menatap punggung Raditya sampai gelap menelannya. Laluh Bibirnya melengkung sedikit.
"Saya tahu, Pak," batinnya. "Orang baik selalu punya alasan lain untuk hal yang sama."
Ia berbalik. Kembali ke tenda. Menarik resleting dari dalam.
Sari masih di posisi yang sama. Ponsel di ujung selimutnya, layar ke bawah. Baterai entah berapa persen tersisa.
Nayla berbaring. Tidak menyelimuti diri dulu — dingin di tulangnya belum pergi, tapi ada sesuatu di dadanya yang tidak terasa dingin. Kecil. Nyaris tidak ada. Seperti bara yang tidak tahu dirinya masih menyala.
Jangkrik masih berbunyi.
Nayla tertidur sebelum mereka berhenti.
Di luar tenda, langkah itu tidak langsung menjauh.