dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Tempat Pulang
Pagi hari seperti biasa Nayla yang sudah berlatih disiplin untuk bangun pagi kini telah membuka kedua bola matanya, sinar matahari yang masuk melalui celah tirai kamar dengan udara yang terasa lebih sejuk setelah semalaman hujan.
Namun bukan itu yang membuat Nayla terjaga lebih cepat pagi ini, melainkan pikirannya yang teringat kejadian semalam. Tentang obrolannya dengan sang Ayah, tentang Arsen, tentang bahu yang telah ia jadikan sandaran.
" Astagaaa.." wajah Nayla kini langsung memanas ketika pikirannya kini kembali mengingat kejadian itu.
Rasa malu yang kini hadir membuat Nayla menutup wajahnya dengan menggunakan bantal, rasa malu aah tidak justru sangat malu. Selama ini dirinya selalu berusaha membangun benteng jarak dengan sangat hati-hati, tapi semalam untuk pertama kalinya ia menunjukkan sisi paling rapuh kepada seseorang selain sang Ayah dan sang sahabat Celine.
Dan orang itu adalah Arsen tapi Nayla tidak merasa menyesal sama sekali. Kini ponselnya menyala memperlihatkan sebuah pesan masuk dari orang yang sama, orang yang selalu mengawali paginya beberapa bulan terakhir ini.
" Selamat pagi, dokter Nayla 😉 apakah sudah sarapan?"
Senyuman kecil muncul di wajah Nayla, kali ini Nayla tidak membiarkan pesan itu menunggu lama.
" Pagi, Ar. Belum"
" Bagus, karena sekarang aku sudah ada di depan rumah" balasan itu datang dengan cepat.
" Apa?"
Nayla langsung duduk tegak, ia berlari ke arah jendela dan benar saja mobil hitam milik Arsen kini terparkir didepan rumahnya membuat jantung Nayla langsung berdebar.
Beberapa menit kemudian Nayla keluar rumah, Arsen berdiri disamping mobil dengan membawa dua gelas kopi dan satu kantong sarapan. Semua terjadi seperti biasanya seolah-olah tadi malam tidak terjadi apa-apa, Nayla merasa lega karena tidak membuat dirinya merasa canggung.
" Hallo, selamat pagi"
" Pagi... Nih diambil dulu" Arsen menyerahkan kopi
" Terimakasih, Ar"
Nayla san Arsen kini sudah berada didalam mobil, untuk bersama-sama pergi menuju rumah sakit. Suasana terasa tenang, nyaman sampai akhirnya Nayla menolehkan wajahnya.
" Ar... Terimakasih"
" Hmmm... buat apa?" Arsen melirik sekilas sebelum akhirnya kembali fokus menatap jalan.
" Karena sudah ada tadi malam, menjadi pendengar, memilih untuk tetap tinggal, dan menjadi sandaran kokoh untuk aku" ucapan itu terdengar pelan.
" Sama-sama" Arsen tersenyum dengan tangan kiri mengusap puncak kepala Nayla lembut.
🌟
Rumah sakit hari ini terasa begitu sangat sibuk, pasien datang tanpa henti bahkan Nayla baru sempat istirahat pukul tiga sore. Helaan nafas terdengar begitu lelah, Nayla kini menyandarkan punggungnya ke kursi lalu refleks mengambil ponselnya.
Kening Nayla mengkerut ketika ia sadar ada sesuatu yang aneh, tidak ada pesan yang ia terima dari Arsen. Biasanya laki-laki itu akan mengirimkan pesan, menanyakan makan siang, mengingatkan untuk minum atau sekedar mengganggu. Namun hari ini tidak ada sama sekali, Nayla mencoba fokus mengusir segala pikiran yang kini muncul di kepalanya.
" Fokus Nayla... Fokus kerja"
Namun lima menit kemudian ia kembali membuka ponselnya, masih tidak ada pesan yang ia terima membuat Nayla merasa kehilangan sesuatu.
" Padahal baru tadi malam dia bilang akan tetap tinggal, dia bilang akan berusaha tapi belum ada dua puluh empat jam udah berubah"
Wanita dengan sejuta overthinking hanya butuh diberikan kabar meskipun singkat, validasi tidak selalu salah karena terkadang itu menjadi bukti data yang konkret atas janji yang telah terucap agar rasa percaya itu tetap tumbuh dengan baik.