Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Surabaya
Pukul 6 pagi, Gita dan timnya sudah sampai di bandara menuju Surabaya, tidak banyak yang ia banyak hanya 1 koper kecil dan Tote bag ukuran sedang untuk tempat laptop dan map untuk berkas penting.
Mata Gita terlihat lelah karena semalam ia hampir tidak tidur.
"Git, Lo nggak apa-apa?" tanya Utari teman satu timnya.
"Gak apa-apa kok, cuma ngantuk dikit." jawab Gita sambil memijit pangkal hidungnya.
Arjusena yang berdiri tidak jauh dari Gita, melirik saat percakapan Gita dan Utari tertangkap oleh telinganya.
Gita melangkah menjauh saat ia sadar Arjusena berdiri didekatnya. Bayangan kejadian di pantry semalam terus berputar di otak Gita, bagaimana cara Arjusena menatapnya. Membuat Gita bergidik.
"Gita."
Suara berat itu refleks membuat tubuhnya menegang.
Arjusena melihat arlojinya lalu memegang erat pegangan kopernya.
"Ayo kita berangkat." ajak Arjusena pada yang lain.
Gita hanya mengangguk tanpa menatapnya.
Sikap itu cukup membuat Arjusena sadar bahwa Gita benar-benar entar membencinya. Ia selalu berusaha memiliki Gita dengan berbagai cara, tapi sekarang yang ada Gita semakin jauh darinya. Gita semakin membencinya.
Pesawat mendarat di Surabaya menjelang siang. Terik matahari terasa tepat diubun-ubun, mereka diantar dengan mini bus warna hitam mengkilat sampai hotel bintang lima di Surabaya.
Mobil yang mengantar Gita beserta timnya berhenti di depan pintu masuk lobby hotel bergaya vintage dengan nuansa putih. Gita sangat kagum dengan bangunan ala jaman Belanda. Di seberang hotel terdapat ruko-ruko bangunan Belanda namun dengan sentuhan modern.
Gita menggeret kopernya, berjalan mengekori Arjusena yang menuju resepsionis. Bangunan dengan tatanan sungguh indah, kepala Gita nyaris berputar melihat lampu indah yang menggantung di lobby hotel. Wajahnya penuh kekaguman.
Gita hampir tidak sadar kalau langkahnya melambat karena terlalu fokus dengan keindahan interior hotel. ia baru tersadar saat koper kecil ya hampir menyenggol kaki seseorang.
"Maaf" ucap Gita lirih.
Arjusena menoleh, matanya jatuh pada Gita yang lebih berseri dari pada pagi tadi saat ia baru sampai di bandara Soekarno-Hatta.
"Kamu suka?" tanya Arjusena singkat.
Gita mengerjap, sadar pertanyaan itu di tujukan pada dirinya.
"Suka apa?" alis Gita terangkat. Arjusena mengangguk kecil pada bangunan hotel.
"Hotel ini." lanjut Arjusena. Gita mengangguk matanya masih mengedar di sekelilingnya. Melihat foto-foto Surabaya pada jaman dahulu.
"Aku yakin kamu tahu sejarah hotel ini, hotel Majapahit."
"Iya pak." Gita mengiyakan perkataan Arjusena. kebetulan Gita suka sejarah, terutama sejarah Indonesia.
Jawaban singkat itu membuat Arjusena tersenyum tipis, setidaknya Gita menjawab dan tidak langsung pergi. Namun senyumnya menghilang ketika Gita menjaga jarak lagi darinya.
Resepsionis memberikan kartu kamar kepada mereka.
"Untuk bapak Arjusena kami sudah menyiapkan tiga kamar untuk bapak sesuai pesanan."
Arjusena menerima kartu yang diberikan.
"Baik terima kasih."
Gita menunggu di belakang bersama Utari dan tim lainnya.
"Git, gue sekamar sama Lo ya." bisik Utari. Gita mengangguk.
"Gita ini kartunya. Kamu sekamar sama Utari?" tanya Arjusena, matanya jatuh pada Utari yang berdiri di sebelah Gita.
"Iya pak." Arjusena memberikan kunci kepada Gita. Gita
Kebetulan kamar yang di pesan Arjusena berada di lantai bawah tanpa haru naik ke atas. Tidak ada lift di hotel tersebut karena hanya ada dua lantai.
Seorang porter berjalan mendahului mereka.
"Mari saya antar." ucap pria tersebut.
mereka mengekor, mengikuti porter itu. Hingga berhenti di kamar yang mereka tuju. Kamar mereka bersebelahan. Ada teras kecil yang langsung menghadap ke taman tengah hotel. Tanamannya cukup rindang dan tertata rapi. Sejuk dan kaya oksigen.
Gita menempelkan kartu pada kamarnya. Aroma harum bunga menyeruak ketika Gita membuka pintu. ada living room kecil ketika membuka pintu dengan sofa berwarna emerald bludru. Dan meja kayu jati, disekat dengan ukuran jati juga. Meja rias dan tempat tidur dengan gaya vintage. Kamar nuansa hitam putih begitu juga area kamar mandi.
Gita berkali-kali di buat kagum oleh arsitektur unik hotel tersebut. Gita mulai membuka tasnya. Menyalakan laptop lalu membuka file materi untuk presentasi besok. sembari menunggu Utari yang sedang mandi.
***
Rafael sedang duduk di kursi penumpang sambil melihat bangunan kota. Pagi ini Rafael sama sekali tidak melihat batang hidung Gita. Sejak semalam setelah kejadian yang membuat salah paham Gita. Mobil Rafael menuju parkiran salah satu mall terbesar di Surabaya.
Hari ini Rafael ada jadwal promosi film di bioskop mall Surabaya. Rafael berjalan beriringan bersama para pemain, sutradara dan produser film terbarunya. Ia mengenakan kaos berwarna biru dengan tulisan berjudul "BAPAKKU AGEN RAHASIA"
Antusiasme terlihat saat lobby dipenuhi dengan poster wajah Rafael. Senyum Rafael mengembang melihat euforia tersebut. Padahal sebelumnya wajahnya seperti baju kusut gara-gara memikirkan Gita.
Sementara itu, baru saja selesai mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Suami Lo juga ada disini?" celetuk Utari, matanya masih menatap layar ponsel. Gita menghentikan gerakan tangannya sejenak.
"Rafael juga di Surabaya?" pikir Gita dalam hati.
"Hmm..." Gita hanya bergumam. Bisa gawat bagi Gita kalau sampai Utari tau, Gita tidak tahu jadwal suaminya sendiri.
Gita membuka ponselnya, sebelumnya ia melirik Utari sekilas. Melihat Instagram official milik Rafael. Benar saja di posting beberapa hari yang lalu.
"Welcome to Surabaya." dan dengan caption yang cukup panjang. Gita membaca tempatnya Tunjungan Plaza Surabaya. Gita segera mengetik alamatnya di google map. Ternyata tidak jauh dari hotel ini.
"Yuk ke resto laper banget." ucap Utari memecah fokus Gita, yang sedari tadi mencoba menghubungi Rafael.
"Bentar aku siap-siap dulu." Gita meletakkan ponselnya di meja rias. Ia memoleskan makeup tipis. Sudah waktunya makan malam kebetulan perut Gita juga sudah berbunyi minta di isi.
Gita masih saja berusaha menghubungi Rafael, tapi tidak di angkat. "Apa aku kirim pesan aja ya?" pikirnya.
Kamu dimana cepat telepon!
Gita mengetik cepat sebuah pesan untuk Rafael.
Sedangkan di tempat lain Rafael baru saja selesai nonton bareng " Bapakku agen rahasia"
Masih ada sesi foto bareng pemain maupun fans yang sudah datang ke bioskop. Ponselnya bergetar beberapa kali, ia belum bisa membukanya. Sepertinya penting.
Setelah semua beres, Rafael melihat ponselnya Gita, lalu membuka pesan dari Gita.
Nada tunggu cukup lama dari ponsel Rafael
"Halo?"
"Kamu di Surabaya?
"Iya, aku juga." Rafael berbisik di telepon.
"Promotornya sudah sediakan hotel."
"Apa di tempat kamu nginap?" Rafael berpikir sejenak.
"Oke, aku bilang Andra dulu." telepon di tutup.
Rafael berjalan mendekati Andra yang sedang bercengkrama dengan sutradara.
"Wah ini, aktor terbaik kita." ucap sang sutradara. Sambil menepuk lengan Rafael.
"Berkat kamu film kita sukses besar!" ucap sang sutradara penuh kebanggaan.
"Bukan saya saja pak, tim produksi dan para pemain lainnya juga hebat. Termasuk orang dihadapan saya ini." Rafael menyanjung sang sutradara.
"Saya permisi dulu." Rafael menyudahi percakapan lalu menyeret Andra ikut bersamanya.
"Aku mau pindah hotel." kata Rafael pada Andra.
"Kenapa, kita sudah booking hotelnya dari tiga hari lalu?" jawab Andra bingung.
"Gita di Surabaya, gue rasa lebih bagus gue satu hotel sama Gita." jelas Rafael. Mata Andra menyipit, melihat gerak-gerik Rafael.
"Hmmm....oke. Dimana Gita nginap?" tanya Andra. Ada yang tak biasa dari Rafael menurut Andra. Wajahnya lebih berseri sejak menerima telepon dari Gita. Diam-diam Andra memperhatikannya sejak tadi.
"Hotel Majapahit, dekat sini."
"Hmm...oke. Tapi bookingan Lo yang kemarin kayaknya gak bisa di refund deh. Gue bilang dulu sama promotornya." kata Andra matanya masih fokus pada layar ponsel. Ua mencoba mencari hotel yang dimaksud untuk melakukan reservasi.
"Sudah, kita foto dulu sama semua pemain baru ke hotel." kata Andra pada Rafael ia, memasukkan ponsel sedalam tas. Rafael segera menuju barusan foto dan berpose keren.