NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lingkaran rahasia

Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar Naren yang retak, menciptakan garis cahaya tajam yang menyinari debu-debu beterbangan di udara. 

Naren masih terbaring telentang, lengannya menutupi mata. 

Suara bising dari knalpot motor-motor di jalan raya depan rumah mulai terdengar, menandakan aktivitas pagi di Bandung sudah dimulai.

​Drrrrt... Drrrrt...

​Ponselnya yang tergeletak di lantai bergetar, menabrak kaki meja kayu.

 Naren tidak langsung mengambilnya. Ia menarik napas panjang, meresapi rasa kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya.

​"Berisik banget," gumamnya, meskipun tidak ada orang lain di kamar itu.

Kamarnya adalah manifestasi dari kehidupan yang tidak direncanakan.

 Ada jaket denim yang tergantung asal di ujung pintu, tumpukan buku yang tidak pernah dibaca, dan bau apek khas kertas yang lembap.

 Di meja belajarnya, tersisa botol minuman energi yang sudah kosong dan beberapa bungkus permen karet yang berserakan.

 Cahaya pagi yang masuk mempertegas sudut-sudut ruangan yang tidak rapi; sprei tempat tidurnya kusut, menunjukkan posisi tidur yang tidak tenang. 

Suasana kamar terasa sunyi, hanya ada suara detak jam dinding tua yang bunyinya terasa sangat lambat: tik... tik... tik....

​Ia akhirnya bangkit, duduk di tepi kasur sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. 

Ia meraih ponselnya. Ada pesan dari Abyan.

​Abyan: Ren, jadi gak jemput? Gue masih di bengkel, rantai motor putus.

​Naren menatap layar itu sebentar. Ia mengetik balasan pendek.

​Naren: Gak. Gue cabut sendiri.

​Ia melempar ponselnya kembali ke kasur. 

Ia berjalan menuju cermin besar yang retak di bagian bawah. Rambutnya berantakan, persis seperti sarang burung.

 Ia mengambil sisir plastik hitam, menyisir rambutnya sekali saja, lalu berhenti. 

Ia melihat bayangan dirinya sendiri; mata yang lelah, garis rahang yang kaku, dan seragam sekolah yang ia gantung di lemari tampak sedikit berdebu di bagian bahu.

Naren selalu berpikir bahwa cermin adalah benda yang paling jujur dan paling menyebalkan. 

Setiap pagi, cermin itu mengingatkannya pada siapa dia, dari mana dia berasal, dan betapa wajahnya tidak pernah benar-benar mencerminkan ketenangan. 

Ia teringat ibunya yang dulu selalu merapikan kerah bajunya setiap kali akan berangkat ke sekolah dasar. "Jadilah anak yang rapi supaya orang tidak meremehkanmu," katanya. 

Sekarang, Naren sudah tidak ingat kapan terakhir kali kerah bajunya rapi. Mungkin karena dia sudah terlalu terbiasa diremehkan, atau mungkin karena dia sendiri yang tidak lagi peduli pada pendapat orang-orang tentang kerapiannya. 

Baginya, kerapian itu seperti topeng; semakin rapi penampilanmu, semakin dalam rahasia yang bisa kamu sembunyikan.

​Ia mengenakan seragamnya. 

Kancing kerah atas ia biarkan terbuka. Ia tidak menggunakan dasi, atau setidaknya tidak dengan benar. Ia menyampirkannya begitu saja di leher.

Naren berjalan ke dapur kecilnya.

 Ia mengambil gelas kotor dari cucian semalam, membilasnya sekilas dengan air keran, lalu mengisinya dengan air dingin dari galon. 

Gluk... gluk... gluk... 

Ia menghabiskan air itu dalam satu tarikan napas. Ia menatap gelas itu, lalu mencucinya dengan benar kali ini, tidak seperti biasanya. Ia menyabunnya sampai bersih, mengeringkannya dengan kain lap yang juga agak kusam, lalu meletakkannya kembali ke rak dengan presisi yang mengejutkan.

​"Ngapain gue cuci piring kayak anak rajin gini," gumamnya, menertawakan dirinya sendiri.

​Ia keluar rumah, menghirup udara pagi yang masih segar bercampur asap tipis dari tukang bubur di ujung gang. 

Ting! Suara denting sendok bubur ayam terdengar dari kejauhan.

​Naren naik ke atas motornya. Ia menyalakan mesin. 

Vroooom! Suara knalpot motornya membelah kesunyian pagi. 

Ia berkendara pelan, membiarkan angin mengenai wajahnya. Pikirannya kosong, tidak memikirkan sekolah, tidak memikirkan tugas OSIS, tidak memikirkan Agnesa.

​Namun, saat ia melewati jalanan utama yang menuju SMA Garuda, secara tidak sadar ia memperlambat laju motornya. 

Ia menoleh ke arah toko roti yang biasanya dilewati Agnesa. 

Kosong.

Naren menghentikan motornya di tepi jalan, tepat di depan plang rambu lalu lintas. Ia mematikan mesin. 

Ia memiringkan kepala, menatap ke arah gerbang sekolah yang masih belum terlalu ramai oleh siswa. Ia melepaskan satu tangannya dari stang, memain-mainkan ujung jaketnya. 

Ia melakukan ini selama sepuluh detik, lalu tiba-tiba menegakkan posisi duduknya, memutar kunci kontak, dan menyalakan kembali mesin motor dengan sentakan kasar. 

Vroom!

​Ia tiba di area parkir SMA Garuda.

 Parkiran sudah mulai terisi. Ia memarkir motornya di tempat biasa, di samping motor tua milik Abyan yang sudah nongkrong di sana meski Abyan sendiri tidak terlihat.

​Naren turun, berjalan melewati kerumunan siswa. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan.

 Saat ia melewati mading sekolah, ia berhenti sebentar.

 Ada selembar pengumuman baksos yang ditempel di sana. 

Agnesa telah menuliskan jadwalnya dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Ada parafnya di sana, kecil dan elegan.

​Naren mendekat, memandang paraf itu.

Seorang siswa kelas satu berjalan lewat di sampingnya, sengaja menghindar untuk tidak terlalu dekat dengan Naren.

Siswa itu menunduk, buru-buru mempercepat langkahnya.

Naren melihat siswa itu pergi, lalu ia memalingkan wajahnya kembali ke mading.

Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi bahunya sedikit menegang.

Ia menatap paraf Agnesa untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan berjalan menuju kelasnya, tidak lagi mempedulikan pengumuman itu.

​"Ren! Woy, Naren!"

​Abyan muncul dari balik tikungan, berlari kecil menghampirinya. 

"Gue kira lo nggak dateng. Motor gue masih di bengkel, gue naik angkot tadi. Sialan, penuh banget!"

​"Diem lo," sahut Naren malas.

​"Galak amat pagi-pagi. Tadi gue liat si Agnesa di ruang OSIS, mukanya kayak abis dikejar setan. Lo apain lagi?"

​Naren berjalan terus tanpa memedulikan Abyan.

​"Ren, dengerin gue dong. Tadi gue beneran liat dia. Dia bawa buku catatan hitam yang kemarin lo kasih, tau nggak?"

​Naren berhenti. Ia menoleh ke arah Abyan. "Buku hitam yang mana?"

​"Ya itu, yang lo titipin ke dia pas baksos. Dia pegang-pegang terus, kayak barang berharga banget. Tapi pas temen sekelasnya mau nanya, dia langsung masukin ke dalem tas. Curiga gue, isinya apaan sih?"

​Naren terdiam.

 Ia teringat buku catatan hitam yang ia berikan pada Agnesa karena dia bosan melihat gadis itu hanya memegang kertas-kertas laporan yang rapi. 

Buku itu tidak berisi apa-apa selain coretan-coretan tidak jelas dan beberapa sketsa kasar motornya.

​"Bukan urusan lo," kata Naren dingin, lalu melanjutkan langkahnya.

Mereka sampai di koridor kelas dua. Suara bel sekolah berbunyi, kringgg... kringgg... nyaring di seluruh penjuru gedung.

Siswa-siswa berlarian menuju kelas masing-masing.

Agnesa berjalan dari arah berlawanan, ditemani Nadiva Ellena.

Mereka berpapasan tepat di depan pintu kelas Naren.

Agnesa tidak melihat ke arah Naren. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, meskipun bahunya sedikit bergesekan dengan bahu Naren.

Naren pun tidak menoleh, tapi ia bisa mencium samar aroma lily yang familiar dari parfum yang dipakai gadis itu.

Naren tidak berhenti. Ia terus berjalan masuk ke dalam kelas, duduk di bangkunya, dan meletakkan tas di atas meja dengan bantingan yang cukup keras.

​"Ada apa sih antara lo sama dia?" 

Abyan yang duduk di sampingnya berbisik, meski Naren tahu suaranya bisa didengar anak-anak lain.

​Naren tidak menjawab. Ia mengeluarkan buku tulisnya, lalu mengambil pulpen. 

Ia mulai mencoret-coret meja kayu kelas yang sudah penuh dengan ukiran nama-nama siswa lain.

Naren tidak menulis pelajaran.

Ia terus mencoret-coret meja itu, membentuk pola lingkaran yang saling tumpang tindih sampai kayunya terlihat lecet.

Ia melakukan itu dengan gerakan yang sangat konsentrasi, seolah-olah lingkaran-lingkaran itu adalah tugas yang sangat penting.

Setelah itu, ia merobek secarik kertas dari buku tulisnya, meremasnya menjadi bola kecil, dan memainkannya di antara jari-jarinya.

​"Lo tahu nggak," gumam Naren pada meja.

 "Ada ubur-ubur yang kalau kena sinar matahari terlalu terik, mereka bakal meleleh."

​Abyan mengerutkan kening. "Lo ngomong apa sih, Ren? Lagi kurang tidur?"

​Naren tidak menjawab. Ia menatap ke arah pintu kelas. 

Di luar, koridor mulai sepi, kecuali suara langkah kaki guru yang mendekat.

 Naren tahu Agnesa pasti sedang berada di ruang OSIS sekarang, mungkin sedang merapikan kertas-kertas laporan yang sama, atau mungkin sedang menulis sesuatu di buku catatan hitam itu.

​"Nggak," Naren bergumam lagi, suaranya hampir hilang oleh suara gaduh siswa lain di kelas. 

"Cuma lagi mikir, seberapa lama mereka bisa bertahan sebelum akhirnya bener-bener meleleh."

​Ia memasukkan remasan kertas tadi ke dalam saku seragamnya. 

Pelajaran pertama akan dimulai, dan Naren tahu hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang, melelahkan, dan penuh dengan hal-hal yang tidak akan pernah ia katakan dengan lantang.

 Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak, sementara suara guru yang memasuki ruangan mulai mendominasi suasana kelas, menenggelamkan setiap pikiran yang coba ia bangun sejak tadi pagi.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Bisa kamu pergi dari sini?"

​"Boleh. Asal diminum."

​Naren Berhasil Memaksa Agnesa? Simak Kelanjutan Hubungan Sengit Mereka di Bab 21: Rasa yang Mengikat

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!