Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam itu, kediaman keluarga Bayu yang megah mendadak diselimuti aura kematian yang mencekam.
Di pinggiran kota, Pratama bergerak bagaikan bayangan, memimpin tim taktis menuju gudang kontainer persembunyian Ferdian.
Di saat yang sama, Tuan Bayu sedang dalam perjalanan darat memacu kendaraan kembali ke Jakarta. Namun, mereka tidak menyadari bahwa sebuah lubang dalam sistem keamanan telah ditembus dengan cara yang paling kotor.
Mita, sang ratu drama yang licik, telah menggunakan sisa-sisa koneksi gelapnya untuk mengirimkan umpan palsu. Il
Ia berhasil mengalihkan perhatian Pratama ke koordinat fiktif, sementara dirinya—dengan kondisi yang berantakan, bau keringat, dan wajah yang mengeras karena dendam—menyusup masuk ke dalam rumah keluarga Bayu melalui pintu layanan belakang.
Diandra, yang sedang duduk di ruang makan untuk menghabiskan sisa cokelatnya, tertegun saat mendengar langkah kaki yang diseret di lantai marmer.
"Siapa di sana?" suara Diandra bergetar, tangannya meraih tongkat penyangganya.
Sosok itu muncul dari balik bayang-bayang. Mita. Ia mengenakan jaket oversize yang tampak ganjil dan kembung.
Di pinggangnya, melilit kabel-kabel yang tersambung dengan rangkaian detonator yang diikatkan ke tubuhnya.
Mita melangkah masuk ke ruang makan, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat liar.
"Kita mati sama-sama, Diandra. Kakakku sayang," ucap Mita dengan nada yang sangat tenang, namun terdengar sangat mengerikan.
Dunia Diandra seolah berhenti berputar. Ia sadar, satu gerakan salah saja akan meratakan seluruh kediaman ini dengan tanah.
"Jangan gila, Mita!! Turunkan benda itu! Kamu tidak akan mendapat apa-apa dengan ini!" teriak Diandra, suaranya melengking tinggi, mencoba mencari jalan keluar atau tombol darurat di dekatnya.
Mita justru tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
Suara tawanya yang melengking memenuhi ruangan, menggantikan suasana hangat makan malam dengan aura keputusasaan.
"Mendapat apa? Aku sudah kehilangan segalanya! Uangku, hartaku, kemampuanku untuk melarikan diri, semuanya karena kamu!"
Mita melangkah lebih dekat, menekan detonator di tangannya.
Diandra panik luar biasa. Ia berusaha bangkit dari kursinya meski kakinya gemetar hebat, mencari keberadaan Pratama di sekeliling rumah.
"Mas Pratama!! Tolong aku!" teriaknya sekuat tenaga, berharap suaminya mendengar.
Mita menghentikan tawanya, menatap Diandra dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
"Berhentilah berteriak, Kak," bisik Mita dingin. "Suamimu tidak ada di sini. Dia sudah pergi, dia terlalu sibuk mengejar bayangan yang kubuat untuknya. Sekarang, hanya ada kita berdua di sini. Saatnya kita mengakhiri semua sandiwara ini dalam satu ledakan."
Diandra terperangah. Ia menyadari jebakan ini telah disusun begitu sempurna untuk memisahkan dirinya dari pelindung satu-satunya.
Di tengah keheningan ruang makan yang mencekam, suara detak jam dinding seolah menjadi penghitung mundur bagi nyawa mereka.
Diandra tahu, ia harus melakukan sesuatu, atau malam ini akan menjadi akhir dari segalanya.
BRAKKK!
Pintu jati ruang makan yang kokoh itu hancur berantakan, terlempar ke lantai marmer setelah dihantam dengan tendangan sepatu bot militer yang teramat kuat.
Suara dentuman itu menggema hebat, memotong gelak tawa Mita yang seketika tercekat di tenggorokan.
Di ambang pintu yang rusak, berdiri sosok tegap Pratama dengan napas yang memburu baris demi baris.
Kemeja hitamnya tampak sedikit acak-acakan, memancarkan aura dominasi seorang predator yang mengamuk karena sarangnya diusik.
Di tangan kanannya, ia mencengkeram kuat jaket seorang pria yang tubuhnya sudah babak belur dan gemetaran.
"Maaf aku datang terlambat," ucap Pratama dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang mematikan, sambil menjambak rambut Ferdian dengan mulut tersumpal kain putih bernoda darah.
Ferdian hanya bisa melenguh kesakitan, matanya terpejam rapat dengan air mata penyesalan yang mengalir di pipinya.
Pria itu telah diringkus oleh Pratama bahkan sebelum ia sempat mengesekusi rencana pelariannya.
Mita yang sempat terkejut melihat sekutunya telah tak berkutik, segera menguasai diri.
Kegilaan di dalam otaknya yang sudah buntu karena bangkrut dan terpojok membuat wanita ular itu justru semakin nekat.
Ia mengencangkan cengkeramannya pada sakelar detonator yang menempel di telapak tangannya.
Mita tertawa terbahak-bahak, suara melengkingnya terdengar sangat histeris memenuhi seisi ruang makan.
"Hahaha! Bagus! Bagus kalau kau datang, Pratama! Jika aku tidak bisa memiliki kekayaan keluarga ini, maka tidak boleh ada satu pun dari kalian yang menikmatinya! Kalau begitu kita mati sama-sama!"
Dengan mata yang melotot liar, Mita bersiap menekan tombol merah pemantik ledakan di tangannya.
Diandra yang menyaksikan hal itu memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram tongkat penyangganya dengan seluruh sisa tenaga, bersiap menghadapi akhir dari segalanya.
Namun, alih-alih panik atau mencoba merebut detonator itu, Pratama justru melangkah maju dengan sangat tenang.
Ia melempar tubuh Ferdian yang tak berdaya ke atas lantai marmer seperti seonggok sampah tak berguna.
"Silakan, Mita. Tekan tombol itu jika kau memang ingin terlihat seperti orang bodoh," tantang Pratama, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan senyuman sinis yang meremehkan di sudut bibirnya.
Melihat respons suaminya yang terlampau berani hingga condong ke arah bunuh diri, jantung Diandra serasa mau copot.
Air matanya seketika tumpah karena panik luar biasa.
"Mas, jangan gila!" ucap Diandra setengah berteriak, suaranya bergetar hebat menahan ketakutan batin yang teramat sangat.
"Dia memegang bom, Mas! Jangan memancingnya!"
Pratama menoleh ke arah Diandra, seketika kilat matanya yang kejam berubah menjadi sangat lembut dan menenangkan.
Ia berjalan perlahan mendekati kursi roda Diandra, lalu berlutut di samping istrinya tanpa memedulikan Mita yang kini mulai kebingungan melihat reaksi mereka.
"Sayang, itu bom palsu," bisik Pratama lembut sambil menggenggam tangan Diandra yang dingin dan gemetar, memberikan kehangatan yang seketika meruntuhkan segala ketakutan istrinya.
"Ferdian sudah menukarnya dengan yang palsu sebelum dia mencoba membawanya ke rumah ini. Pria ini tahu betul konsekuensinya jika dia berani menyentuh seujung rambutmu lagi."
Pratama melirik tajam ke arah Ferdian yang tersungkur di lantai. Ferdian mengangguk-angguk cepat dengan wajah ketakutan, membenarkan ucapan sang CEO.
Nyatanya, sebelum menyerahkan rompi maut itu kepada Mita, Ferdian yang ketakutan setengah mati dengan ancaman hukuman mati atas kasus Gia, telah mengeluarkan seluruh bahan peledak aktif C4 dari dalam rompi tersebut dan menggantinya dengan cetakan lilin mainan hitam.
Mita tertegun, wajahnya yang semula memerah karena amarah seketika memucat bagai mayat.
"T-tidak mungkin... Ferdian! Kau mengkhianatiku?!" jerit Mita histeris, jemarinya dengan liar menekan tombol detonator berkali-kali.
Klik! Klik! Klik!
Tidak ada ledakan. Tidak ada api. Hanya suara klik hampa dari besi murah yang bergema di dalam ruangan.
Rencana bom bunuh diri yang ia gadang-gadang sebagai penutup megah dari aksi balas dendamnya, kini berubah menjadi lelucon paling memalukan di depan orang-orang yang paling ia benci.