Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Hujan turun tipis malam itu, membuat seluruh istana terasa lebih dingin dari biasanya.
Di sebuah paviliun tersembunyi jauh dari area utama kerajaan, Sophia masuk dengan wajah tegang. Ia datang diam-diam, tanpa pelayan. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah menekan.
Seorang pria duduk santai di kursi utama, pakaiannya sederhana. Namun auranya jelas bukan orang biasa, dia adalah Pangeran William.
Berbeda dengan Alexander yang dingin dan sulit dibaca, William terlihat lembut dan selalu tersenyum di depan orang lain. Namun malam ini, senyum itu hilang.
Sophia baru saja membungkuk hormat saat...
PLAK!
Tamparan keras membuat wajah wanita itu langsung berpaling. Sophia membeku, pipinya terasa panas. Namun, ia tidak berani melawan.
William berdiri perlahan, tatapannya penuh amarah dingin. “Dasar tidak becus...!!!”
“Pangeran, s-saya sudah mencoba—”
PLAK!
Tamparan kedua membuat Sophia jatuh berlutut.
“Aku mengirimmu ke istana bukan untuk mendengar alasanmu.” William mencengkeram dagu Shopia dengan kasar hingga wanita itu terpaksa menatapnya. “Kau tentunya masih ingat, kau dikirim ke istana untuk apa?”
Sophia menggigit bibir.
“Untuk menggoda Alexander, dan untuk melemahkannya.” William menyeringai dingin, tatapannya menggelap. “Dan untuk... membunuh ratu.”
Ruangan langsung terasa sesak, Sophia menahan nafasnya. “Saya hampir berhasil sebelum wanita itu berubah…”
“Berubah?” William tertawa kecil, namun tanpa kehangatan. “Kalau begitu... kau seharusnya lebih cepat membunuhnya!”
Tangannya mendorong Sophia hingga wanita itu jatuh kembali.
“Kau tahu seberapa penting keluarga Lancaster?”
Sophia menunduk.
Lancaster, keluarga Ratu Evelyn... bangsawan tertinggi di kerajaan. Keluarga paling berpengaruh, dan pendukung utama Raja Alexander naik takhta dulu. Selama keluarga Lancaster tetap berdiri di belakang Alexander, tidak ada bangsawan lain yang berani bergerak.
Karena itu, rencana William sejak awal sederhana. Hancurkan ratu, dan buat keluarga Lancaster kecewa pada Raja Alexander. Lalu rebut dukungan mereka, dan Sophia adalah alat yang dikirim untuk itu.
“Saya sudah membuat Raja Alexander terlihat tergila-gila padaku di mata istana,” bisik Sophia pelan.
William tersenyum tipis. “Itu memang bagian yang bagus.”
Selama ini, seluruh istana percaya Sophia adalah selir kesayangan. Wanita yang paling dimanja raja, padahal semua itu hanyalah permainan politik.
William berjalan perlahan ke arah jendela, tatapannya dingin melihat hujan di luar. “Alexander terlalu pintar, dia tidak pernah benar-benar menyentuh selir manapun... termasuk kau? Bukankah begitu?”
Sophia mengepal tangan pelan, karena itu benar. Selama ini, Raja Alexander selalu menjaga jarak termasuk darinya meski selalu memanjakannya. Dan itu, diam-diam melukai harga dirinya.
“Apa kau tahu kenapa aku mulai marah?” tanya William pelan.
Sophia diam.
“Karena sekarang…” William menoleh perlahan, tatapannya tajam. “Dia mulai berubah... karena Evelyn.”
Sophia langsung menegang.
William menyipitkan mata. “Selama ini... Alexander tidak pernah tidur di paviliun selir mana pun selain paviliun-mu, dan tidak pernah tertarik pada wanita mana pun selain kau.”
“Namun sekarang…” Tatapannya menggelap. “Dia mulai melibatkan perasaan, dan sering bersama Evelyn.”
Dan itu berbahaya, karena raja yang punya sesuatu untuk dilindungi akan menjadi lebih kuat. Namun juga, lebih mudah dihancurkan.
William mendekat lagi ke arah Sophia. “Kau punya dua pilihan sekarang.”
Sophia mengangkat kepala perlahan.
“Bunuh Evelyn, Atau...” Ia tersenyum tipis, sangat dingin. “Aku akan membuangmu seperti sampah!”
Sophia menunduk pelan, namun di balik wajah itu matanya penuh kebencian. Pada Evelyn, pada Alexander, pada William. Dan bahkan, pada dirinya sendiri. Karena semakin lama, ia mulai sadar. Semua orang di istana, hanya menggunakan satu sama lain. Dan jika ia gagal, tidak akan ada... yang menyelamatkannya.
Sementara di paviliun ratu.
Evelyn sedang berdiri di dalam Ruang Ajaib, layar transparan di depannya terus bergerak menampilkan data.
Harga pangan.
Pergerakan wilayah.
Dan daftar bangsawan.
Tatapannya berhenti pada satu nama, William Lancaster.
Evelyn menyipitkan mata perlahan. “Akhirnya mulai terlihat…”
Seseorang besar sedang bergerak dari balik bayangan. Dan instingnya mengatakan, permainan sebenarnya… baru akan dimulai.
Hujan baru berhenti saat sebuah kereta hitam memasuki gerbang utama istana, lambang emas kerajaan terukir besar di sisinya. Para kasim dan pelayan langsung berlutut begitu tirai kereta terbuka.
Seorang wanita turun perlahan, langkahnya tenang tapi auranya menekan.
Ibu Suri Helena.
Wanita yang dulu hanyalah seorang selir dari mendiang kaisar. Namun setelah kematian Ratu Agung yakni ibu kandung Alexander, Helena perlahan naik dan akhirnya menjadi ibu suri. Dan semua orang tahu, wanita itu sangat mencintai putra kandungnya.... Pangeran William.
“Salam untuk Ibu Suri.”
Suara para pelayan terdengar bersamaan.
Helena tidak menjawab, tatapannya lurus ke depan. Dingin dan tajam, serta penuh perhitungan. Sudah berbulan-bulan ia tinggal di kuil luar kerajaan dengan alasan kesehatan, namun semua orang mengerti. Itu bukan karena sakit, tapi ia sedang menunggu waktu. Dan sekarang, ia kembali.
Di aula utama, suasana langsung berubah tegang saat kabar kepulangan ibu suri menyebar. Para menteri mulai berdatangan lebih cepat dari biasanya. Bahkan beberapa bangsawan tua terlihat gugup. Karena semua orang tahu, meski Alexander adalah raja tapi Ibu Suri Helena masih memiliki pengaruh besar di istana, terutama di kalangan bangsawan lama.
Evelyn masuk dengan langkah tenang, gaun merah gelap membungkus tubuhnya anggun. Mahkota emas di kepalanya tampak sederhana dibanding biasanya, namun justru itu yang membuat auranya semakin kuat. Saat ia duduk di sisi singgasana di samping Alexander, pintu aula kembali terbuka.
Ibu Suri Helena masuk perlahan, diiringi banyak pelayan. Tatapan wanita tua itu langsung jatuh pada Evelyn, dingin. Tanpa menyembunyikan permusuhan sedikit pun.
Evelyn membalas tenang, ia tidak menunduk dan tidak menghindar. Beberapa menteri langsung menahan napas, karena biasanya... tidak ada yang berani menatap Ibu Suri Helena seperti itu.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili