masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kegelapan di mata Eddy.
18.
"Botol kaca bekas dan tanah liat bisa kita manfaatkan untuk menyiram tanah tanpa pemborosan air." Morline memegang dua benda di kedua tangannya, kiri botol kaca berisi air dan kanan sebuah tanah liat berbentuk kerucut.
Morline memasangkan lubang kerucut di mulut botol lalu membalikkan. "Nah, nanti tanah liat di bawahnya akan ditanam di dalam tanah dekat akar. Karena tanah liat memiliki pori-pori mikro, air akan merembes keluar secara perlahan langsung menuju akar tanaman. Rembesan ini terjadi secara alami karena kelembapan tanah; jika tanah di sekitarnya kering, air akan keluar, tapi jika tanah masih basah, rembesan akan berhenti. Cara ini bisa menyediakan cadangan air bersih selama 6 sampai 8 hari."
"Nanti kalau tanahnya sudah kembali ternutrisi kita akan tanam bibit dan lakukan metode ini. Untuk sekarang, kita fokus mengembalikan nutrisi dan kelembaban tanah, salah satunya dengan membuat kompos. Kompos yang ideal membutuhkan waktu 2 sampai 3 bulan jadi saya harap tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian cukup sabar."
"3 bulan itu lama nona Mor! Kenapa tidak dipercepat saja?!" Seorang tuan bertanya.
Morline menatap pria itu dan menjelaskan. "Kalau kompos di gunakan pada saat belum matang maka jangan harap hasil panennya nanti baik." Morline menjawab dengan lembut, namun tajam. Meski begitu dia tidak berniat tidak menjelaskan.
"Begini, tujuan membuat kompos adalah untuk rumah bagi para mikroorganisme, apa itu mikroorganisme? Itu sejenis makhluk hidup yang tak bisa kita lihat.
"Coba kalian bayangkan ada sekelompok pekerja yang datang ke rumah terbengkalai? Ada tiga kelompok pekerja, yang pertama kelompok pembongkaran yang jumlahnya paling banyak dalam kompos di sebut bakteri, yang makan setiap sampah organik, seperti sayur, nasi dan makanan sisa, mereka tugasnya makan, karena jumlahnya banyak dan kerja mereka cepat tanpa henti, mereka menyebabkan suhu memanas. Itulah kenapa saat tuan-tuan atau nyonya-nyonya membuka terpal suhunya panas kan?"
Warga yang memang merasakannya mengangguk, termasuk Gengi dan Tande, mereka juga mendengar penjelasan Morline dengan khidmat.
Dari kejauhan, Eddy dengan langka tertatih baru saja sampai, berdiri di dekat para warga. Beberapa dari mereka menyapanya dan Eddy menjawab dengan ramah.
Morline melanjutkan penjelasannya. "Lalu ada kelompok kedua, namanya adalah pekerja penghancur atau jamur , mereka tugasnya menghancurkan dinding. Nah, jamur ini memiliki tugas memakan benda-benda kasar seperti kayu, daun kering yang tebal atau ranting. Lalu kelompok ke tiga, di sebut pembersih atau aktinomisetes, itu jenis-jenis mikroorganisme-nya.
"Pembersih ini, tugasnya membersihkan, setelah semuanya sudah selesai; rumah sudah di di bongkar, dinding bata sudah dihancurkan, tugas si pembersih dan merapihkan rumah itu, agar tak ada lagi kotoran. Sama halnya dengan aktinomisetes ini, mereka tugasnya mengubah material seperti; sayur dan sisa makanan tadi--yang sudah di makan oleh bakteri dan jamur itu, menjadi material baru. Bukan sampah lagi kita menyebutnya, tapi sudah menjadi pupuk yang sehat untuk tanaman dan tanah, begitu tuan. Nah tanda pupuk sudah jadi adalah kompos tidak lagi berbau buduk, melainkan memiliki aroma tanah basah, barulah pupuk siap digunakan. Apa anda paham?"
Pria yang tadi bertanya mengangguk. Di sebelahnya pria itu, Eddy tersenyum, dia mendengar penjelasan Morline yang mudah di mengerti bagi orang awam.
"Sekarang, kita fokuskan menggali sumur di dekat ladang." Kata Morline.
"Bagaimana bisa menggali sumur di musim kekeringan begini, jangan mengada-ada nona!"
"Nyonya, di dalam tanah itu mengandung air dan kita bisa menggali tanah itu untuk mencarinya. Jadi walaupun musim kekeringan, tapi kita masih bisa mendapat air. Apalagi di Targus ada sungai kan? Kemungkinannya besar untuk kita mendapatkan air dari menggali sumur."
"Apa iya?"
"Sungai saja bisa kering begitu apalah sumur? Bagaimana bisa air bisa muncul?"
"Iya benar, sumur sekarang saja sudah kering apalagi gali yang baru. Mana mungkin dapat airnya."
"Begini nona, sumur-sumur di sini sudah kering, kalau kita menggali sumur baru yang ada hanya menghabiskan tenaga. Beruntung jika airnya ada kalau tidak ada bagaimana?"
"Tuan, ada 4 lapisan tanah." Morline menunjukkan empat jarinya yang gempal seperti wortel kecil. "Pertama, tanah lapisan atas, kedua tanah lapisan bawah, tiga lapisan tengah dan ke-empat lapisan batuan induk. Lapisan terakhir ini berisi tanah sangat keras, utuh, dan hampir tidak bisa ditembus oleh akar tanaman. Selagi kita belum menemukan lapisan lapisan ke empat, maka kita tidak bisa mengatakan tidak menemukan air."
"Jadi apa nona mau kami menggali tanah sedalam itu? Membuat kami bekerja keras hanya untuk menemukan air?"
Morline menarik nafas, mata hijaunya yang jernih menatap semua orang yang berdiri di depannya. "Tuan, menemukan air bukan di sebut pekerjaan sepele. Air adalah sumber kehidupan kita, jadi menggali sumur bukan hanya, tapi sebuah keharusan bagi kita. Bukan hanya kalian yang bekerja tapi kita semua, aku dan semua orang di sini."
Eddy menatap Morline dengan pandangan yang begitu dalam, sedalam perasaan yang mulai tumbuh tanpa Eddy mengerti, begitu dalam hingga titik tergelapnya.
Dia memperhatikan bagaimana kedua tangannya yang gempal seperti bayi itu bergerak saat menjelaskan pada warga, bagaimana bibirnya menipis saat salah satu warga bertanya dan bagaimana bahunya naik saat menarik nafas dalam. Baginya, setiap yang Morline lakukan adalah sesuatu yang indah hingga mata Eddy tak bisa berpaling sedetikpun darinya.
Eddy memegang dadanya dan meremasnya tanpa sadar, suara jantungnya seakan menjadi peringatan untuk Eddy agar berhenti menatap gadis gemuk itu, berhenti mengaguminya. Namun, bodohnya Eddy tidak bisa melakukan itu. Dia terlena, terpesona bahkan sudah terjerat dalam pesona yang hanya bisa Eddy lihat.
Bagaimana dia bisa begitu sempurna? Bagaimana bisa dia begitu nyata bagiku? Morline tolong jangan salahkan aku jika aku menginginkanmu lebih dan lebih.
Meski Morline sudah mengedukasi warga sekitar, tapi mereka tetap membantah penjelasan Morline bahwa menggali sumur bisa menjadi alternatif lain untuk mengatasi kekurangan air.
Hari ini, Morline dan rekan-rekannya hanya memantau kondisi kompos agar tetap terjaga, lalu juga memeriksa tanah di ladang setelah itu menyeleksi bibit terbaik. Untuk saat ini, tanah masih dalam keadaan kering. Mereka rencananya akan membuat tanah lembab terlebih dahulu sebelum ditanami bibit, setelah itu bibit yang sudah siap bisa langsung ditaman di ladang.
Matahari perlahan--tanpa mereka sadari telah meluncur ke barat, sinar jingganya yang benderang menjadi cahaya indah yang menerpa daratan Targus.
Morline berjalan santai setelah lelah bekerja di ladang, keringat di wajahnya, dia lap dengan ujung bajunya. Kemerahan di wajahnya karena panas sedikit-demi sedikit memudar.
"Morline." Morline memutar tubuhnya, melihat Eddy berjalan sedikit tertatih menghampiri. "Gengi dan Tande kemana?"
"Mereka izin pergi untuk membantu warga lain." Jawab Morline berbohong, sebenarnya mereka izin pergi untuk menyelidiki Bou dan kawan-kawannya. "Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, tadinya aku ingin meminta bantuan mereka tapi mereka tak ada, ya sudahlah. Oh, ya kau mau pulang?"
"Hem, soal kemarin, apa kakimu baik-baik saja?"
Eddy menunduk, melihat kedua kakinya yang hanya memakai alas kaki kulit hewan. "Sudah mendingan, aku antar pulang ya, bagaimanapun kau masih tanggung jawabku."
"Tidak usah, kau harus istirahat agar kakimu cepat membaik."
"Tidak apa-apa, aku antar sampai rumah saja. Jangan paksa aku, lagi pula aku juga mau mengobrol soal Bou. Hari ini aku lihat Bou dan rekan-rekannya, aku dengar mereka tak jadi mengusir kalian. Apa benar?" Eddy menatap lurus pada manik hijau Morline, di bawah sinar jingga yang lembut, mata itu semakin terlihat indah.
Morline mengerutkan alisnya. "Dari mana kau tau? Kau dekat dengan mereka?"
"Aku mendengar, aku datang ke sana karena ada urusan. Namun sebelum aku masuk, aku tak sengaja mendengar mereka membicarakan Gengi dan Tande. Ah, ya. Aku juga mendengar bahwa tuan Brox--ketua mereka, telah meninggal."
"Tuan Brox? Siapa itu?" Langkah Morline terhenti ketika Eddy memberi kabar demikian.
Eddy mendekatkan tubuhnya ke Morline, lalu melirik ke kanan dan kiri. Dengan suara berbisik dia berkata, "tuan Brox adalah orang dengan pemikiran Radikal, dia dirumorkan ikut kelompok pemberontak, kau tau itu kan? Kelompok yang sekarang sudah tumbang?"
Morline tanpa sadar mengangguk, dia mendekatkan wajahnya ke Eddy agar mendengar lebih jelas. "Lalu?"
"Aku dengar dari mereka, kepala tuan Brox dipenggal oleh seseorang. Dan mereka berniat mencarinya untuk balas dendam. Hanya itu yang aku tau."
Morline menatap manik gelap Eddy,tak di sangka pria ini akan menjadi sumber informasi baginya. Bisa dekat dengannya, merupakan sebuah keberuntungan bagi Morline. "Lalu apa kau tau, Bou dan kawan-kawannya itu siapa? Apa alasan mereka mengusir kami?"
"Selama 4 tahun aku tinggal di sini, mereka sering berbuat anarkis pada warga. Aku juga tahu mereka sering merampok pedagang kota, mungkin mereka hanya tak ingin kalian tahu itu."
"Lalu kau sendiri? Apa mereka tak mengganggumu? Maksudku, kau juga orang asing di desa ini tapi mereka tak mengusirmu?"
Eddy tersenyum simpul mendapat pertanyaan itu. "Karena aku dekat dengan tetua desa jadi aku dapat perlindungan darinya."
"Hanya itu?"
"Tidak juga sih, mungkin karena mereka tak anggap aku bahaya. Em lihat kondisiku sekarang, mungkin mereka hanya anggap aku orang cacat." Dengan lihai Eddy memainkan peran layaknya orang yang pantas di kasihani. Wajahnya menunduk dengan senyum tipis yang tampak menyimpan kesedihan.
Morline menatap Eddy dengan ujung alis naik ke atas, matanya menatap penuh rasa simpati. "Jangan bilang begitu, kau itu seorang pelajar berarti kau hebat. Jangan berkecil hati begitu. Aku gemuk tapi aku tak masalah tuh! Banyak orang yang ejek aku gemuk tapi aku justru bersikap santai pada mereka."
Kepala Eddy mendongak, menatap wajah Morline yang selalu cantik di matanya, bibirnya perlahan melentur membentuk senyuman. "Aku tau, kau orang yang memang seperti itu."
"Iya kan, makanya jangan berkecil hati. Oh! Sudah sampai rumah, tak terasa ya. Maaf aku tak bisa mengajakmu mampir karena Gengi dan Tande tak ada."
"Tak masalah, memang niatku mengantarmu kok. Kalau begitu aku pamit."
"Hati-hati, jalan pelan saja." Pesan Morline.
"Aku memang selalu hati-hati." Eddy membalas dengan kalimat bermakna ganda.
*****
Malam ini Tande dan Gengi datang ke gua itu lagi, akan tetapi mereka tak ada di sana, hanya saja Tande menemukan peti mati di salah satu lorong gua.
Ketika mereka membukanya, keduanya terkejut karena mendapati tubuh mayat itu terpisah dari kepalanya. Keduanya mengenal siapa orang ini, dia adalah tuan Brox, pria yang juga anggota pemberontak.
Gengi sedikit mengetahui latar belakang pria ini, dia adalah anggota pemberontak yang cenderung radikal. Ketika membaca berkas tentang pemberontak, tuan Brox yang paling menarik perhatiannya karena gerakan-gerakan radikalnya.
Sekarang pria ini sudah mati dengan mengenaskan? Mengapa? Apakah mereka yang membunuhnya?
Pemikiran itu Gengi tepis karena tidak mungkin mereka membunuh tetua mereka sendiri, terlebih alasan mereka juga belum diketahui jadi Gengi sangat ragu jika tuan Brox dibunuh mereka.
"Kita cari mereka."
Tande dan Gengi pergi dari gua itu setelah tak menemukan apapun di sana. Mereka mencari Bou dan kelompoknya yang entah ada kemana.
Setelah berkeliling desa mencari mereka, akhirnya keduanya menemukan Bou dan kelompoknya berada di perbatasan desa. Mereka terlihat mempersiapkan sesuatu ke dalam kereta kuda.
Tande dan Gengi memantau dari atas pohon kering, berbaur dengan udara malam dan serangga sekitar.
"Bou kau yakin mau pergi?"
"Tentu saja! Dia sudah membunuh tetua kita tak mungkin aku tak membalas dendam padanya!"
"Apa kau tau siapa pria misterius itu! Jejaknya saja kita tak lihat apakah menemukannya! Kau gila mengejar seseorang yang tidak kita ketahui!"
Bou terdiam seolah menjadi kesalahannya. Dia tidak melihat wajahnya selain manik mata yang gelap, tidak ada celah bagi Bou melacak orang itu.
"Pikirkan dulu, dia mungkin salah satu orang di desa kita! Cari tahu siapa orang yang paling mencurigakan dan kita patut mengawasinya." Kata rekan Bou. "Sekarang kau pergi saja kota untuk obati lukamu, sepertinya dia menaruh racun dalam belati-nya hingga lukamu tambah parah."
Bou melihat lukanya yang terbungkus kain, rasa nyeri dan berdenyut terus dia rasakan. Bahkan semalam dia terkena demam hingga menangis. Jika Bou menemukan siapa orang itu, dia berjanji akan memenggal kepalanya sama seperti apa yang dia lakukan pada ketuanya.
"Kalau begitu aku akan berangkat ke kota untuk berobat, kalian cari tahu siapa orang itu dan kabarkan padaku."
Mereka mengangguk. "Pasti!"
Setelah mereka pergi, Tande dan Gengi bergegas pulang. Di rumah, Morline menunggu di luar halaman.
Ratu muda itu mendekat. "Aku dapat informasi dari Eddy, katanya ketua kelompok Bou terbunuh oleh orang misterius."
"Dari mana anda tahu?"
"Eddy yang mengatakannya, dia bilang tak sengaja dengar saat akan ke rumah hunian mereka."
Alis Gengi bertaut dengan dahi yang mengkerut dalam. Eddy? Pria bungkuk itu yang tampak tidak akrab dengan Bou dan kawan-kawannya justru pergi ke rumah mereka? Apa alasannya?
"Apa anda tidak curiga kenapa Eddy pergi ke sana? Bou dan Eddy bukan teman akrab yang bisa seenaknya pergi ke rumah satu sama lain."
"Tidak, aku tidak berpikir begitu."
"Lalu apa lagi yang Eddy Katakan pada anda?"
"Em, dia bilang Bou berniat balas dendam pada orang misterius itu."
Sama persis, informasi itu sama seperti yang mereka dapatkan. Sekarang Gengi bukan hanya merasa waspada pada Bou dan kelompoknya, tapi pada Eddy juga.
Pria itu tidak memberikan alasan yang jelas mengapa dia ke rumah Bou dan bercerita pada Morline bahwa dia tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Saya curiga pada Eddy, mengapa dia datang ke rumah Bou tanpa memberi alasan?"
"Mungkin dia punya kepentingan pribadi." Tebak Morline asal. Menurutnya, Eddy dan Bou bisa saja saling mengunjungi rumah satu sama lain mengingat mereka berada di desa yang sama, apalagi Eddy sudah 4 tahun dan dekat dengan warga. Bisa saja Eddy punya kepentingan untuk datang ke sana bukan?
"Besok saya akan tanya langsung pada Eddy." Kata Gengi.
Morline mengangguk, lebih baik bertanya langsung dari pada harus mencurigai orang tanpa alasan yang jelas.
Setelah mereka bertukar informasi tentang masalah yang sama, Morline masuk ke kamarnya dan Gengi serta Tande masuk ke kamar mereka.
Gengi tak langsung tidur, melainkan mengambil kertas dan pena untuk melapor pada Cedric.
Morline terkejut ketika menyadari Karel belum tertidur, dia melirik Nina yang tertidur di dipan sebelahnya sementara bocah itu duduk di tepi dengan mata terbuka lebar.
"Kau belum tidur? Kenapa?"
Karel hanya menggeleng, lalu menunduk menatap kedua ujung jempol kakinya yang menyentuh lantai kayu.
"Masih belum mengantuk?"
Gerakan kepalanya seperti ayam mematuk, mulutnya tetap membisu sejak terakhir kali dia bicara di kereta.
"Kemari, aku ingin menulis surat kau mau lihat?" Jari-jari gemuk itu bergerak, meminta Karel agar mendekat. Anak itu berdiri dan menghampiri Morline.
Gadis gemuk itu mengambil kertas dan pena yang berada di kopernya. Duduk di meja dengan lentera di sampingnya. Karel dia tarik ke sisinya agar melihat apa yang dirinya lakukan. "Aku ingin menulis untuk seorang pria bernama Cedric, nanti kalian akan bertemu. Pria itu memakai topeng perak, kau bisa membayangkannya?"
Karel menatap Morline, kedua matanya hanya berkedip dua kali. Terdiam, Morline tak bisa menebak isi pikiran anak kecil itu.
"Baiklah aku akan menulis surat, ya. Dengarkan dan perhatikan setiap goresan tintanya." Lalu Morline mulai menulis setiap huruf sembari membacakannya agar Karel bisa mempelajarinya.
Setelah menulis tiga paragraf, Morline melirik Karel. Mata anak itu masih tampak segar dan cerah, tidak sedikitpun terlihat mengantuk. Morline bingung bagaimana cara membuat anak ini tidur jika Karel sendiri tak merasa mengantuk.
"Kau mau tidur?"
Karel tak membalas dengan apapun, dia hanya diam menatapnya. Kedua bibirnya tetap merapat.
Morline menghembuskan nafas. "Kemari, kau berbaring bersamaku di dipan. Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu. Kau mau mendengarkan?"
Kelopak matanya berkedip dua kali sebelum akhirnya mengangguk. Morline dan Karel berbaring di dipan yang sama, keduanya menatap atap jerami yang gelap karena pencahayaan yang minim.
Cerita apa yang cocok untuk Karel ya? Anak ini bukan anak biasa. Batin Morline sembari melirik bocah itu.
"Em, kalau begitu cerita ini saja ya. Cerita tentang anak laki-laki yang tersesat lalu di tolong peri. Anak laki-laki ini bernama Matt, Matt kecil hidup bersama ibu dan 3 saudaranya di sebuah desa, ayahnya hanya seorang buruh biasa. Mereka sangat miskin hingga setiap hari hanya makan roti. Suatu hari terjadi perang di negara mereka tinggal, keluarga yang miskin itu menjadi semakin miskin. Sang ayah yang tak sanggup lagi membiayai keluarganya memutuskan untuk membuang salah satu anaknya.
Matt yang terpilih, karena dia yang paling lemah dan di rasa tak berguna. Ibu dan ayah Matt membuangnya ke hutan. Ibunya bilang, "Matt kita cari buah di hutan." Lalu ayahnya juga berkata, "Matt kita bertiga saja yang ke hutan, 3 saudaramu yang lain biarkan mengurus rumah." Matt kecil yang polos tidak mengetahui bahwa dia hendak di buang oleh kedua orang tuanya.
Dengan hati gembira dan semangat, Matt berlari ke hutan. Hatinya yang murni dan suci tak bisa melihat niat busuk kedua orang tuanya. Saat sampai hutan, ayahnya berkata lagi. "Matt kau cari buah apel di sana biar kami cari di sini."
Matt yang terlampau senang menyetujui, dia masuk semakin dalam ke hutan untuk mencari apel, dalam kepalanya dia memikirkan 3 saudaranya di rumah. "Aku akan bawa apel untuk mereka juga, mereka pasti senang." Katanya dengan langka yang semakin jauh ke hutan, tak mengetahui bahwa ayah dan ibunya justru pergi meninggalkannya...."
Morline melirik Karel, meski cahaya di sekitar mereka minim tapi Morline bisa melihat kilauan kecil yang meluncur di pipinya. Tanpa kata dia mengusap air itu dan menatapnya. "Kenapa? Kau sedih dengar cerita ini? Apa aku berhenti saja?"
Karel justru menggeleng, kedua tangannya segera menghapus air mata yang meluncur di pipinya.
"Mau dilanjutkan?"
Karel mengangguk.
"Tapi kau sedih, tak apa-apa?" Morline menatap dalam ke mata hijau gelap milik bocah itu. Morline memang sengaja menceritakan kisah Karel sendiri, tapi melihat bocah ini menangis rasanya Morline menyesal, dia tak tega. Padahal, tujuannya adalah menanamkan nilai kehidupan pada Karel. Dengan menceritakan kisah ini, Morline harap Karel memiliki harapan baru dalam hidupnya.
"tidak," katanya pelan sambil menggeleng.
Dalam diam Morline terkejut karena Karel menjawabnya dengan suara, bukan dengan gerakan tubuhnya lagi. "Baiklah, aku lanjutkan ya."
Morline kembali menceritakan kisah Matt dan peri penolong. Hingga mencapai akhir, Morline memberikan penutup. "Matt mungkin kehilangan ayah dan ibunya serta 3 saudaranya, tapi dari perjalanannya bersama sang peri, dia mendapatkan pengalaman yang seru. Kau ingat saat Matt bertemu peri, peri itu membawanya ke dunia baru yang tak pernah Matt bayangkan, di sana banyak makhluk-makhluk yang tak pernah Matt lihat sebelumnya. Lalu mereka menghadapi naga, peri itu tertangkap dan Matt menyelamatkannya, betapa hebatnya Matt bisa bertahan dan bertarung dengan para penjahat itu."
"Matt itu hebat kan?"
Karel mengangguk, "iya, hebat."
Morline tersenyum, dia mengelus kepala Karel. "Karena ceritanya sudah selesai, kau tidur ya. Ini sudah malam, waktunya tidur dan istirahat, besok harus bangun pagi. Oke?"
"Hem."
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍