NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pintu ruang kerja Elang tertutup rapat, kunci otomatisnya berbunyi klik yang diikuti dengan tirai jendela otomatis yang perlahan menutup, memisahkan kemacetan Jakarta yang bising dengan atmosfer panas di dalam ruangan.

Naura berdiri di samping meja kerja mahoni yang luas, senyumnya provokatif. Lembaran lingerie sutra yang ia kenakan di balik trench coat-nya meluncur turun, menampakkan bahunya yang mulus di bawah cahaya lampu temaram.

"Pagi-pagi sudah membuat keributan, hm?" suara Elang merendah, ia melempar tas kerjanya ke sofa tanpa melihat.

Langkah kaki Elang mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum Naura yang manis bercampur dengan aroma kopi dan zat herbal dari teh buatan Mikayla yang masih mengalir di darahnya. Zat stimulan itu bekerja dengan cara yang ironis; memberikan Elang lonjakan energi dan gairah yang meluap-luap, seolah-olah tubuhnya sedang melakukan "pesta terakhir" sebelum sistemnya padam secara permanen.

"Mas... adik bayi kangen," bisik Naura, jemarinya yang lentik menarik dasi Elang, memaksa pria itu menunduk.

Elang mengerang rendah, tangannya yang posesif segera mencengkeram pinggang Naura, mengangkat wanita itu hingga duduk di atas tumpukan dokumen proyek yang seharusnya ia tanda tangani pagi ini. Beberapa map terjatuh ke lantai, namun tak ada yang peduli.

Dunia di luar sana boleh saja sedang runtuh, audit Gerald mungkin sudah di depan pintu, tapi di dalam ruangan ini, Elang merasa seperti raja yang tak terkalahkan. Ia mencium Naura dengan kasar, seolah ingin melampiaskan seluruh ketegangannya.

Napas mereka memburu, beradu dengan suara detak jam dinding yang seakan menghitung mundur. Di atas meja kerja yang menjadi saksi bisu pengkhianatan ini, Elang tidak menyadari bahwa gairah yang ia rasakan hanyalah fatamorgana—sebuah lonjakan hormon yang dipicu oleh racun lembut istrinya, yang perlahan tapi pasti, sedang menutup jalur masa depannya sebagai seorang ayah.

Di luar ruangan, sekretaris Elang hanya bisa menunduk saat mendengar suara tawa kecil dan desahan tertahan dari balik pintu jati itu. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, tim audit kiriman Gerald Abimanyu sudah memasuki lobi gedung, siap untuk menghancurkan istana pasir yang sedang dibangun Elang di atas pengkhianatan istrinya.

_____

Sedangkan mikayla tengah menyiapkan ia teringat tawaran S2 ke Jerman, Boston, London dan Australia. Semua dibiayai perusahaan apalagi mikayla bekerja sebagai manajer dibank swasta ternama gajinya juga besar, prestasinya cukup bagus keunggulannya mika bisa beberapa bahasa asing.

"Kamu yakin jadi ambil S2 udah ambil keputusan ke Universitas mana? " Tanya pak Direktur.

"Belum pak, aku sih antara Kaist atau Tokyo university terakhir MIT."

"Tiga pilihan itu yang terbaik menurut bapak pilihan terbaik Tokyo atau MIT.”

Mikayla duduk di ruang kerja Direktur dengan sikap yang sangat tenang dan profesional. Setelan kerja berwarna charcoal yang ia kenakan hari ini memberikan kesan otoritas yang kuat, kontras dengan sosok istri penurut yang selama ini dilihat Elang di rumah.

Di atas meja kayu jati itu, terdapat beberapa map beasiswa kepemimpinan eksekutif. Prestasinya sebagai manajer di bank swasta papan atas memang bukan main-main. Kemampuannya menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Jerman secara fasih menjadikannya aset emas bagi perusahaan..

"Saya butuh suasana baru, Pak," jawab Mikayla sambil menyesap kopi hitam tanpa gula kebiasaan barunya untuk tetap tajam. "Setelah semua target tahunan ini tercapai, saya ingin benar-benar fokus pada pengembangan diri.”

Pak Direktur menyandarkan punggungnya dengan tenang, menatap Mikayla dengan sorot mata yang penuh penilaian dan kebanggaan yang tidak disembunyikan. Sebagai atasan, ia tahu betul bahwa wanita di hadapannya adalah berlian yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang suaminya yang arogan.

Ia menggeser beberapa berkas ke arah Mikayla, berisi daftar universitas dan jalur pengembangan yang telah ia siapkan secara matang.

“Kalau Bapak boleh memberi saran,” ujarnya kemudian, suaranya tegas namun tetap hangat, “pilihan terbaik ada di antara MIT atau University of Tokyo.”

Mikayla terdiam, mendengarkan…

“MIT akan memberimu prestise internasional level tertinggi di dunia manajemen teknologi dan finansial. Dengan nama itu di belakangmu, bahkan Elang pun tidak akan lagi terlihat sebanding,” lanjutnya tanpa ragu.

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih tenang. “Tapi Tokyo juga bukan pilihan yang kalah kuat. Kamu sudah punya dasar bahasa Jepang yang sangat baik. Adaptasimu akan jauh lebih cepat, dan sistem kerja di sana terkenal efisien serta selaras dengan gaya analisismu.”

Tatapannya kembali mengunci Mikayla. “Intinya, ke mana pun kamu pergi… kamu tidak akan lagi berada di bawah bayang siapa pun.”

Ruangan itu hening sejenak. Namun kali ini, bukan karena keraguan, melainkan karena masa depan yang mulai terbuka dengan sangat jelas di hadapan Mikayla.

Mikayla tersenyum tipis. Pilihan-pilihan ini bukan sekadar tentang pendidikan, tapi tentang jarak. Ia ingin berada ribuan kilometer jauhnya saat Elang mulai membusuk di penjara dan saat keluarganya menyadari bahwa mereka telah kehilangan "pohon uang" terbaik mereka.

"Saya cenderung ke University of Tokyo, Pak," ucap Mikayla mantap. "Jepang memiliki ketenangan yang saya butuhkan. Dan kebetulan, saya sudah menyiapkan beberapa riset tentang sistem perbankan di sana.”

"Keputusan yang bagus, Mikayla. Bapak akan siapkan surat rekomendasinya hari ini juga. Perusahaan akan menanggung penuh biaya hidup dan kuliahmu sebagai bentuk apresiasi atas dedikasimu," Pak Direktur menjabat tangan Mikayla.

"Aku akan pergi ke tempat di mana suara tangis kalian tidak akan terdengar, Mas," bisik Mikayla sambil menatap langit Jakarta dari jendela kantornya yang tinggi. "Kalian bisa menikmati penjara dan kemiskinan di sini, sementara aku memulai hidup baru di bawah pohon sakura."

Pelarian ini bukan karena ia takut, tapi karena ia sudah terlalu berkelas untuk tetap berada di lingkaran orang-orang rendah seperti mereka. Tokyo adalah awal dari Mikayla yang sesungguhnya.

______

Terapi pertama dari Dr. Alvian membawa Mikayla ke salah satu rekan terbaiknya seorang dokter spesialis yang fokus pada pemulihan hormon dan detoksifikasi tubuh. Penjelasannya singkat namun jelas, “Obatnya cukup dua kali sehari, jaga pola makan, dan mulai rutin olahraga, tubuhmu butuh waktu untuk menyeimbangkan diri secara alami.”

Mikayla mengangguk pelan, sementara di sampingnya Rasya menggenggam jemarinya dengan erat. Tatapannya serius, seolah memastikan setiap kata benar-benar ia pahami. Ruang periksa yang dipenuhi aroma essential oil terasa menenangkan, tapi ketegangan masih tersisa di bahu Mikayla yang belum sepenuhnya rileks. “Mika, dengarkan aku,” ujar Rasya rendah tanpa melepas genggamannya.

“Rencanamu sudah berjalan dengan baik, tapi sekarang musuh terbesarmu bukan lagi Elang atau Naura, melainkan emosimu sendiri. Jangan sampai kemarahanmu mengambil alih sebelum semuanya selesai. Kamu harus tetap dingin, tetap berpikir jernih. Sekali kamu kehilangan kendali, mereka akan punya celah untuk menyerang balik.”

Kata-kata itu membuat Mikayla menarik napas panjang. Detak jantungnya yang sempat memburu perlahan mereda, meski bayangan tentang apa yang terjadi di kantor Elang tadi masih mencoba mengusik pikirannya.

Ponselnya bergetar…

Sebuah pesan masuk dari sekretaris Elang.

Sebuah video. Mikayla hanya melirik sekilas tanpa benar-benar membukanya. Dari notifikasi dan potongan suara samar yang sempat terdengar, ia sudah cukup memahami isinya. Rahangnya sempat menegang, namun kali ini ia tidak membiarkan emosinya lepas kendali.

Sebaliknya, ia tersenyum tipis.

Dingin, tenang, dan jauh lebih berbahaya.

“Bagus,” gumamnya pelan. “Semakin mereka merasa aman, semakin mudah aku menghancurkan semuanya sekaligus.”

Rasya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Ia bisa melihat perubahan itu dengan jelas tidak ada lagi getaran emosi yang berlebihan, tidak ada ledakan yang tak terkendali yang tersisa kini hanyalah ketenangan yang terjaga dengan sadar.

Dan di dalam ketenangan itu, rencana Mikayla justru bergerak semakin pasti mendekati titik akhirnya.

"Tubuhmu itu luar biasa, Mikayla," ucap dr. Sarah sambil tersenyum tipis. "Wanita memiliki kekuatan regenerasi yang seringkali tidak disadari. Racun itu memang sempat menghambat, tapi dengan disiplin, kita akan mengembalikan kesuburanmu ke titik optimal. Kamu masih muda, jalanmu masih sangat panjang.”

Mikayla melangkah keluar dari klinik dengan dagu terangkat. Di satu tangan ia memegang harapan untuk masa depannya (obat pemulihan), dan di tangan lainnya ia memegang pemicu kehancuran bagi masa lalu (instruksi sabotase).

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!