NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manisnya Kebebasan dan Tipu Muslihat Taman Timur

Malam telah larut ketika kereta logistik itu berhenti dengan suara yang sangat halus di dekat pintu rahasia perpustakaan.

Lucas memastikan keadaan sekitar benar-benar aman sebelum membantu Princess Aurelia turun dari tumpukan kain penyamarannya. 'Begitu kaki Aurelia menapak di lantai marmer yang dingin, sesosok bayangan anggun segera menghampiri mereka dengan langkah tergesa namun tetap terjaga.

Princess Elara menghela napas lega yang begitu panjang saat melihat wajah adiknya. Ia segera menarik Aurelia ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat seolah takut adiknya itu menghilang ditelan kegelapan malam.

"Syukurlah... syukurlah kau kembali dengan selamat," bisik Elara dengan suara bergetar. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Lucas yang berdiri tegak dalam kegelapan. "Terima kasih, Lucas. Kau telah menepati janjimu untuk menjaga adikku. Aku sangat menghargai keberanianmu."

Lucas membungkuk hormat dengan sangat dalam. "Sudah menjadi kewajiban saya, Lady Elara. Saya hanya menjalankan amanah yang Anda berikan."

"Kak Elara, lihat ini!" Aurelia tersenyum lebar sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas yang masih hangat dan beraroma harum. "Aku membawakan ini untukmu sebagai tanda terima kasih. Ini camilan paling lezat dari pasar rakyat."

Elara menatap bungkusan yang sedikit berminyak itu dengan dahi berkerut, seolah-olah benda itu adalah spesimen asing yang berbahaya.

Sebagai seorang putri bangsawan yang terbiasa dengan hidangan porselen perak, ia tampak ogah-ogahan. "Aurelia, apakah kau yakin benda ini layak dimakan? Maksudku... ini terlihat sangat tidak higienis."

"Ayolah, Kakakku yang cantik," bujuk Aurelia sambil menarik tangan Elara. "Kakak pasti akan sangat suka setelah merasakannya. Aku berjanji, rasanya jauh lebih jujur daripada semua kue bolu di dapur kerajaan yang terlalu manis itu. Sekali saja, demi aku."

Elara akhirnya mengalah. Dengan gerakan sangat pelan dan ragu, ia mencicipi sedikit potongan kue pasar itu. Matanya seketika membelalak.

Rasa manis, gurih, dan hangat meledak di lidahnya. "Oh... ini... ini ternyata sangat enak," ucapnya pelan, lalu segera mengambil potongan lain dengan lebih bersemangat, membuat Aurelia dan Lucas tertawa kecil melihat sisi "manusiawi" sang Lady yang kaku itu.

---

Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah di lapangan latihan pedang. Namun, suasana latihan hari ini jauh lebih serius. Tidak ada lagi pedang kayu yang ringan; kini di tangan Putri Aurelia tergenggam sebilah pedang besi yang beneran, berkilau tajam tertimpa cahaya.

Di sisi lapangan, Lady Elara duduk dengan anggun di bawah kanopi taman, menyeruput teh melatinya sambil memperhatikan setiap gerakan adiknya. Tak jauh dari sana, Pangeran Theo juga hadir, mengenakan pakaian latihan yang mewah dan tampak begitu percaya diri.

Sir Gareth, sang guru bela diri veteran, memperhatikan mereka dengan saksama. Dentingan logam yang beradu memenuhi udara saat Aurelia dan Theo melakukan latih tanding singkat.

Aurelia bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, gerakannya presisi dan penuh perhitungan, membuat Theo harus bekerja keras untuk menangkis serangannya.

Setelah latihan usai, Sir Gareth melangkah maju dan membungkuk hormat kepada sang putri dan pangeran.

"Latihan yang luar biasa, Tuan Putri, Pangeran. Bakat kalian berkembang pesat. Namun, harus saya akui," Sir Gareth menatap Aurelia dengan bangga, "gerakan Tuan Putri Aurelia hari ini jauh lebih menonjol. Teknik kakinya sangat stabil dan serangannya sulit diprediksi."

Theo segera menyeka keringatnya dan memposisikan diri dengan tegak. Bukannya memberikan selamat kepada Aurelia, ia justru mulai berbicara panjang lebar.

"Ah, tentu saja, Sir Gareth. Aku memang membiarkan Aurelia menyerang lebih dulu agar dia bisa melatih keberaniannya. Sebenarnya, aku memiliki taktik baru yang kupelajari dari ksatria utama kerajaanku. Jika aku menggunakan kekuatan penuh, kurasa teknik pergelangan tanganku akan sulit ditandingi..."

Theo terus berceloteh tentang kehebatannya, sementara Lady Elara dari kejauhan mendengarkan dengan senyum yang dipaksakan. Di sisi lain, Putri Aurelia tampak muak; wajahnya menunjukkan ekspresi bosan yang sangat jelas seolah ingin segera kabur dari sana.

Elara kemudian berdiri dan mendekat dengan langkah anggun. "Pangeran Theo, penjelasan Anda sungguh luar biasa mendalam," ucap Elara dengan nada formal yang sangat manis namun penuh sindiran halus. "Hanya saja, menurut pendengaranku tadi, jelas-jelas Sir Gareth memberikan pujian yang jauh lebih banyak kepada Aurelia, bukan?"

Theo terdiam sejenak, wajahnya perlahan memerah karena malu. Ia tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat ekspresi Theo yang terpatahkan, Elara dan Aurelia saling bertukar pandang lalu tertawa kecil bersama.

"Mohon maafkan kami, Pangeran. Kami hanya terlalu bersemangat melihat perkembangan latihan ini," ucap Aurelia sambil mencoba menahan tawa yang lebih besar.

Untuk mencairkan suasana—sekaligus melakukan sedikit "prank" yang sudah mereka rencanakan—Aurelia mengajak Theo untuk duduk bersama di meja teh. "Sebagai bentuk penghargaan atas latihan yang berat, aku dan Kak Elara telah menyiapkan teh khusus untukmu, Pangeran."

Aurelia menuangkan teh ke dalam cangkir Theo dengan sangat hati-hati. Teh itu terlihat normal, namun sebenarnya mereka telah mencampurkan sari akar pahit yang biasanya digunakan sebagai obat, tanpa gula sedikit pun.

"Terima kasih, Tuan Putri," ucap Theo dengan gaya kesatria. Ia mengangkat cangkirnya dan meminumnya dengan tegukan yang cukup besar untuk menunjukkan kejantanannya.

*Uhukk!*

Theo seketika tersedak, wajahnya memerah padam dan matanya hampir keluar. Ia berusaha keras untuk tidak menyemburkan teh itu karena harus menjaga sopan santun. Ia menelan cairan pahit itu dengan perjuangan yang luar biasa sampai tenggorokannya terasa kaku.

"Apakah... teh ini memang memiliki aroma yang sangat kuat?" tanya Theo dengan suara yang serak dan hampir hilang.

Elara menutup mulutnya dengan sapu tangan sutra, matanya berbinar jenaka. "Oh, itu adalah teh herbal langka, Pangeran. Sangat baik untuk memulihkan tenaga setelah latihan pedang yang melelahkan. Apakah Anda menyukainya?"

"Tentu... tentu saja, ini sangat... unik," jawab Theo sambil berusaha tersenyum meski wajahnya masih menegang menahan rasa pahit yang luar biasa.

Theo tidak menaruh dendam; ia justru merasa bangga karena dianggap "istimewa" oleh kedua putri tersebut. Di belakang cangkir mereka masing-masing, Elara dan Aurelia tersenyum penuh kemenangan. Mereka tertawa dalam hati tanpa disadari oleh Theo yang malang.

Di tengah kaku dan dinginnya protokol kerajaan, momen-momen kecil penuh canda seperti inilah yang membuat kehidupan Aurelia terasa jauh lebih ringan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!