kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perubahan wujud yang menjijikan
BAB 9 - Perubahan Wujud yang Menjijikkan
Angin kembali menderu kencang, membawa hawa dingin yang kian menyiksa tubuh Agus. Ia hanya bisa terdiam, duduk meringkuk di bawah naungan kegelapan malam yang pekat.
"Makin lama kok hawanya makin dingin saja?" gumam Agus dalam hati, sambil mempererat pelukannya pada tubuh sendiri.
Tiba-tiba, suara derit pintu yang terbuka memecah keheningan.
Kreeeeekk...
Agus sontak menoleh. Di ambang pintu, Indra berdiri mematung. Cahaya temaram dari dalam ruangan menyinari sosoknya yang tengah membawa sebuah nampan berisi sesajian lengkap.
"Eh, Dra! Sudah beres?" tanya Agus, berusaha mengusir kecemasannya.
"Belum, satu lagi. Tinggal menyimpan ini di bawah pohon itu," sahut Indra datar, sambil menunjuk ke arah pohon beringin besar yang daunnya bergoyang pelan tertiup angin malam.
Agus terpaku. Suara Indra tidak lagi bergetar. Tidak ada keraguan seperti sebelumnya. Nada bicaranya terasa asing—dingin dan monoton, seolah kata-kata itu bukan keluar dari tenggorokan manusia yang ia kenal selama ini.
Kenapa anak ini? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tadi? gumam Agus dalam hati, bulu kuduknya mulai berdiri.
"Malah bengong di situ. Ayo, temani aku ke pohon itu!" perintah Indra. Kali ini ia menoleh, namun matanya terasa kosong, seolah menatap menembus tubuh Agus.
"Kamu... kamu yakin mau ke sana sekarang, Dra? Seram loh, pohon itu. Apalagi jam segini," sahut Agus dengan suara yang mulai mencicit.
Indra hanya menyunggingkan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Kalau tidak mau ikut ya sudah, biar aku sendiri saja. Dasar penakut."
Tanpa menunggu jawaban, Indra melangkah masuk ke dalam kegelapan menuju pohon tua itu. Anehnya, langkah kakinya sama sekali tidak bersuara di atas dedaunan kering, membuat Agus berdiri sendirian dalam cekaman horor yang makin menjadi.
Agus yang tadinya membeku, mendadak tersentak. Rasa takutnya memang besar, tapi membayangkan Indra menghilang sendirian ke dalam kegelapan di bawah beringin tua itu terasa jauh lebih mengerikan.
"Dra, tunggu! Aku ikut!" teriak Agus tertahan, suaranya hampir pecah oleh angin malam.
Ia segera berlari kecil mengejar punggung Indra yang bergerak stabil di depan sana. Namun, semakin ia mendekat, ada sesuatu yang membuat langkah Agus kembali melambat. Tubuh Indra tampak begitu tegak, terlalu kaku untuk seseorang yang sedang berjalan santai di tanah yang tidak rata.
"Dra, pelan-pelan dong..." Agus mencoba memecah kesunyian, namun Indra sama sekali tidak menoleh.
Langkah mereka akhirnya terhenti tepat di bawah juntaian akar gantung beringin yang menyapu tanah. Di sini, udara terasa jauh lebih berat dan pengap, seolah-olah oksigen telah habis dihisap oleh sesuatu yang tak kasatmata. Bau harum kembang kamboja dan tanah basah menyeruak tajam, padahal tidak ada hujan sama sekali malam itu.
Indra perlahan berjongkok di sela-sela akar besar, meletakkan nampan sesajian itu dengan gerakan yang sangat halus. Ia menaruh foto Mira, celana dalam, dan sisa persembahan lainnya ke dalam lubang kecil di akar pohon. Lalu membacakan mantra yang di ajarkan oleh Simbah, bahasa kuno yang hanya dipahami oleh mereka berdua saja.
Suara Indra mendadak berubah menjadi berat dan bergetar hebat. Kata-kata asing mengalir keluar dari mulutnya tanpa ragu—nada bicaranya terdengar kuno dan penuh penekanan yang ganjil.
Sambil menunggu Indra menyelesaikan ritualnya, Agus tidak henti-hentinya mengawasi keadaan sekitar dengan penuh waspada. Matanya terus bergerak liar memperhatikan setiap sudut; kiri, kanan, depan, belakang, hingga ke arah bawah. Namun, seketika pandangannya terhenti saat ia memberanikan diri melihat ke atas.
Di antara rimbunnya dahan pohon beringin itu, tampak sebuah sosok bayangan merah yang merayap turun. Gerakannya lambat namun pasti, bergerak mendekat ke arah mereka.
Agus ingin berteriak sekuat tenaga dan memperingatkan Indra agar mereka bisa melarikan diri secepat mungkin. Namun, ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri; mulutnya terasa terkunci rapat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang membungkam suaranya.
Detik berikutnya, tekanan ketakutan yang luar biasa menghantam kesadaran Agus. Pandangannya menggelap perlahan, suara di telinganya menjadi denging panjang yang menyakitkan, hingga akhirnya ia jatuh pingsan, ambruk di atas tanah yang lembap di bawah naungan beringin angker tersebut.
Agus merasa tubuhnya ditarik jatuh ke dalam sumur gelap tak berdasar. Di sana, ia seolah mendengar suara seretan langkah kaki berat dan gumaman mantra yang tak henti-hentinya dibisikkan tepat di telinganya. Dingin, sangat dingin, hingga tulang-tulangnya terasa ngilu.
Sementara itu di tempat lain, Mira mulai merasa ada yang tidak beres. Suasana kamarnya yang tenang mendadak terasa menyesakkan. Kegelisahan yang hebat menghantam batinnya tanpa alasan yang jelas. Tubuhnya seketika dibanjiri keringat dingin hingga pakaiannya terasa lembap dan melekat di kulit.
Ia mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah Indra justru muncul dengan begitu jelas, seolah pria itu sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Aku kenapa, ya?" gumam Mira sambil meremas dadanya yang berdegup kencang secara tidak wajar. "Kok tiba-tiba aku jadi kepikiran Indra terus? Rasanya... aku ingin sekali bertemu dia sekarang juga."
Mira berusaha menepis pikiran itu, namun semakin ia mencoba menolak, bayangan Indra justru semakin kuat mencengkeram pikirannya. Ada dorongan aneh di dalam hatinya yang memaksa ia untuk tunduk, sebuah rasa rindu yang datang dengan cara yang menyakitkan.
Bayangan Indra di pikiran Mira perlahan memudar, berganti dengan suara tepukan keras yang memecah keheningan di tempat lain.
"Gus... Bangun, Gus."
Sebuah tepukan datar di pipinya membuat Agus tersentak. Ia mengerang, merasakan denyut hebat di pelipisnya. Saat matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat bukan lagi juntaian akar beringin, melainkan aspal jalanan yang kusam di bawah sorot lampu motor yang meredup.
Agus mengucek mata, dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia menyadari dirinya terduduk di tepi jalan, bersandar pada batang pohon pinus—lokasi awal tempat motor mereka mengalami ban bocor.
"Duh, pusing sekali kepalaku... Di mana ini? Kenapa kita di sini lagi?" tanya Agus dengan suara parau. Ia merasakan pergelangan tangannya perih, seolah habis dicengkeram dengan sangat kuat.
"Eh, sudah bangun, Gus," sahut Indra pendek. Suaranya tetap dingin, datar tanpa ekspresi.
Agus mengernyit heran melihat sekeliling. "Lah, kok kita ada di sini lagi? Bukannya tadi kita di pohon besar itu?"
"Sudah, tidak perlu dibahas. Bukannya kamu sendiri yang bilang ingin cepat-cepat sampai rumah?" potong Indra. Nada bicaranya tetap datar, seolah kejadian mengerikan di beringin tadi tidak pernah terjadi.
"Iya, sih... tapi, aneh saja," gumam Agus. Tiba-tiba ia teringat sesuatu; bekal singkong pemberian gadis misterius tadi. "Tunggu, aku punya makanan. Kita makan dulu di sini untuk mengganjal perut."
Agus merogoh saku jaketnya dengan penuh harap. Namun, saat tangannya menarik keluar isi sakunya, ia jatuh terduduk karena terkejut. Singkong rebus yang seharusnya hangat itu telah berubah wujud menjadi pembalut wanita bekas yang sangat menjijikkan.
Tubuh Agus gemetar hebat. Benda itu terlepas dari tangannya, jatuh ke tanah yang lembap. Rasa mual seketika mengocok perutnya, namun Indra sama sekali tidak bergeming melihat pemandangan itu.
"Dra... ini... ini singkong tadi, Dra! Kok bisa jadi begini?" suara Agus melengking panik.
Indra hanya melirik sekilas tanpa ekspresi sedikit pun.
"Berarti yang saya makan tadi itu..." Kalimat Agus terputus. Perutnya terasa diaduk hebat. Detik berikutnya, ia membungkuk dan muntah sejadi-jadinya, berusaha membuang segala sisa makanan yang tadi ia telan.
Di sela napasnya yang tersengal dan rasa mual, pikiran Agus melayang ke gelas bambu tadi. Kalau singkongnya saja berubah jadi begini... berarti air teh yang aku minum itu darah dong?!
Pikiran itu membuat kepanikannya makin menjadi-jadi. Wajahnya pucat pasi, dan rasanya dunia di sekelilingnya seolah berputar kian cepat.
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁