NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 17

Shila memutar otak untuk mencari cara keluar dari toko yang sudah dipenuhi oleh para zombie itu. Napasnya mulai tidak teratur, tetapi ia berusaha tetap tenang. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu—saat Aira pernah berteriak memanggil orang tuanya.

“Gibran, gue punya ide. Lo ingat kan waktu Aira memanggil orang tuanya waktu itu? Kita coba cara itu,” ujar Shila dengan cepat, matanya berbinar penuh harap.

“Gue setuju, Shila. Semoga mereka bisa memahami apa yang kita katakan,” jawab Gibran, langsung menangkap maksud Shila.

Shila menutup matanya sejenak, mencoba memusatkan pikiran.

“Tuhan, beri kami keajaiban… ubahlah mereka jadi manusia, walau hanya sebentar saja,” doa Shila lirih.

Kemudian, ia memberanikan diri melangkah maju sedikit.

“Kalian mau menyerang kami, silakan! Tapi itu tidak akan ada gunanya, karena orang yang membuat kalian semua jadi seperti ini justru kalian biarkan pergi begitu saja!” teriak Shila dengan lantang.

“Apa kalian tidak mau membalas pada orang itu? Mumpung dia masih di sini, kejar dia… jangan biarkan dia lolos begitu saja!” sambung Gibran, suaranya tegas.

Dan benar saja, perlahan suasana berubah. Para zombie itu tiba-tiba terdiam di tempat. Gerakan mereka melambat, lalu satu per satu berubah kembali menjadi manusia, meski hanya sementara.

“Gib, kita berhasil! Mumpung mereka jadi manusia, ayo kita bicara baik-baik. Kali ini Om Hendro jangan sampai lolos,” kata Shila dengan semangat.

Mereka berdua menghampiri orang-orang itu, namun tetap waspada. Situasi ini masih terlalu berbahaya untuk dianggap aman sepenuhnya.

“Maksud kalian tadi apa? Coba jelaskan,” tanya seorang bapak dengan wajah bingung.

“Apa Bapak melihat laki-laki yang tadi pergi dari sini? Umurnya kurang lebih seperti Bapak,” tanya Shila.

“Iya, kami semua melihatnya,” jawab pria itu.

“Dia salah satu dalang dari semua ini. Dia terlibat dalam penelitian yang mencampurkan bahan berbahaya ke makanan yang sempat viral itu,” jelas Shila dengan hati-hati.

“Dari mana kalian tahu hal itu?” tanya yang lain, mulai penasaran.

“Orang tua saya dan ibunya teman saya ini juga dokter. Mereka adalah rekan pria tadi, tapi mereka dibunuh karena tidak mau terlibat dalam penelitian itu,” lanjut Shila, suaranya mulai bergetar.

“Bahkan… setelah itu, jasad mereka juga dimusnahkan,” sambung Gibran pelan, menahan emosi.

Suasana menjadi hening. Beberapa dari mereka saling berpandangan, seolah mulai memahami kenyataan yang terjadi.

“Kalian hebat… bisa bertahan di kota ini tanpa orang tua di samping kalian,” puji salah satu dari mereka dengan tulus.

“Silakan kalian pergi dari toko ini. Cari tempat yang aman untuk kalian tinggal,” ujar yang lain.

“Terima kasih semuanya,” ucap Shila dan Gibran bersamaan.

Mereka pun segera keluar dari toko itu dengan hati-hati, memastikan Kenan tetap aman bersama mereka.

Sementara itu…

“Pah, apa Shila dan temannya sudah…? Tapi tidak ada suara ribut dari dalam toko itu,” tanya Dewi penasaran.

“Mana sempat mereka berteriak, Sayang. Jumlah mereka terlalu banyak. Mungkin sekarang mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi,” ujar Hendro dengan nada puas.

Namun, tiba-tiba ekspresi Hendro berubah. Matanya membelalak saat melihat Shila dan Gibran keluar dari toko dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan, orang-orang tadi berjalan di belakang mereka, seolah mengawal.

“Hai, Om Hendro… kaget ya karena kami bisa selamat?” sapa Shila dengan nada tenang namun penuh makna.

“Bagaimana bisa kalian tidak diserang?” tanya Hendro, jelas tidak percaya.

“Kalau aku bilang kami bisa membuat mereka sadar, Om percaya tidak?” jawab Shila santai.

“Jelas tidak! Mana mungkin kalian bisa mengendalikan mereka. Mereka sudah bukan manusia, Shila. Jangan bicara sembarangan!” bentak Hendro.

“Buktinya kami baik-baik saja sekarang,” balas Shila singkat.

“Mungkin kali ini kalian hanya beruntung,” ketus Dewi, mencoba menutupi rasa cemasnya.

Shila melangkah sedikit ke depan, lalu bersuara tegas.

“Kalian semua… jangan biarkan orang ini lolos begitu saja!” serunya.

Orang-orang itu langsung berbalik arah, menatap Hendro dan Dewi dengan ekspresi berbeda. Mereka bergerak mendekat dengan langkah cepat.

Hendro dan Dewi panik. Tanpa pikir panjang, mereka segera masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu.

Kali ini situasinya benar-benar mencekam. Orang-orang itu mengepung mobil Hendro, memukul-mukul bagian luar dengan keras, membuat mobil berguncang.

“Pah, gimana ini?!” teriak Dewi ketakutan.

“Papa juga gak tahu, Sayang… kenapa mereka jadi seperti ini…” jawab Hendro panik,

wajahnya pucat.

Di luar, suasana semakin kacau. Mereka terus menggedor mobil itu tanpa henti, seolah menuntut sesuatu yang belum terselesaikan… sementara Shila dan Gibran hanya berdiri dari kejauhan, menyaksikan semuanya dengan perasaan campur aduk.

“Gibran, apa kita tidak keterlaluan sama Om Hendro dan Dewi?” tanya Shila pelan, matanya masih tertuju ke arah mobil itu.

“Ya tidaklah… malah ini impas. Mereka saja dengan sengaja memancing keadaan supaya kita dalam bahaya,” jawab Gibran dengan nada tegas, berusaha tetap rasional.

“Iya juga sih… semoga saja mereka masih bisa selamat,” ucap Shila lirih, meski hatinya diliputi rasa campur aduk.

“Itu akan sulit… lihat saja, keadaan di sana makin tidak terkendali. Mending kita masuk mobil sekarang,” ajak Gibran sambil menarik pelan tangan Shila.

Mereka melihat situasi semakin kacau. Orang-orang itu makin banyak berdatangan, bahkan kini sudah naik ke atas mobil Hendro, membuat kendaraan itu berguncang hebat.

“Pah, gimana ini? Aku takut…” ucap Dewi dengan suara gemetar, kepanikan jelas terlihat di wajahnya.

“Papa akan keluar dari mobil ini untuk mengalihkan mereka semua,” kata Hendro, mencoba mengambil keputusan di tengah tekanan.

“Jangan, Pah! Diam saja di sini!” tolak Dewi dengan panik, menarik lengan ayahnya.

Namun keadaan semakin memburuk. Kaca mobil mulai retak, lalu pecah. Orang-orang itu akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil. Suara teriakan panik terdengar, membuat suasana semakin mencekam.

Dari kejauhan, Gibran dan Shila bisa mendengar semuanya. Shila langsung menunduk, tubuhnya sedikit bergetar.

Gibran segera memeluk Shila, berusaha menenangkan gadis itu. Ia tahu, bagaimanapun juga, Dewi pernah menjadi bagian dari hidup Shila.

“Tenang, Shila… ini akibat dari semua yang sudah terjadi,” ucap Gibran pelan.

“Dewi, Gibran… dia sebenarnya tidak tahu apa-apa, tapi ikut jadi korban,” kata Shila dengan suara lirih, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Iya… tapi kita juga tidak bisa mengubah keadaan sekarang. Kita harus tetap fokus bertahan,” jawab Gibran, mencoba menenangkan.

Shila mengangguk pelan, meski hatinya masih berat. Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri.

Di tengah kekacauan itu, mereka sadar satu hal—perjalanan mereka belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus dihadapi, dan mereka harus tetap kuat untuk melewatinya bersama.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!