Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dinda tersedak, es coklat yang baru saja diminumnya menyembur keluar, membasahi meja makan.
"Ci ... ciuman!" Pekik Dinda.
Bima duduk di samping Dinda, "Terima kasih sudah memberikanku napas buatan saat itu. Karena kamu aku masih hidup," bisik Bima sembari memberikan tisu kepada Dinda.
"Oh, itu, sudah seharusnya," Dinda dengan cepat membersihkan wajah dan meja.
"Dinda aku menyukaimu, pacaran yuk."
Dinda merasa salah tingkah. Bima terus saja menggodanya. Jujur di dalam hati, Dinda juga mengagumi Bima. Bima selalu menjadi idola sekolah. Dinda merasa tidak pantas.
"Ya sudah. Kamu menolakku ya," Bima sedikit menjaga jarak.
"Bu ... bukan begitu."
"Ok, mulai hari ini kita pacaran. Sayang itu pesanan kita sudah datang."
Pelayan kafe menyuguhkan roti panggang, burger, kentang goreng di atas meja. Bima menyuapkan kentang goreng, dengan malu-malu Dinda menggigitnya. Dinda masih belum terbiasa dipanggil sayang oleh Bima.
Bima dengan santai menikmati makanannya. Sungguh berbeda dengan Dinda. Dinda tidak bisa menelan makanannya. Seketika perut Dinda merasa kenyang. Dinda diratukan oleh Bima.
Dinda memandangi Bima yang masih menikmati kentang goreng dan burgernya. Dinda masih ingat saat mereka di sekolah dulu. Bima menjadi idola. Bukan karena paras wajahnya yang menawan tapi juga karena prestasinya.
Bima dan teman-temannya pernah mewakili sekolah dalam pertandingan basket. Bima juga peringkat pertama di kelasnya.
"Sudah puas mandanginnya?" goda Bima.
"Hem," Dinda tersipu.
Bima gemes lihat wajah Dinda yang memerah. Bima merasa kecewa saat Dinda meninggalkan kota Goldie. Dinda pergi tanpa mengucap perpisahan. Bima merasa ada yang hilang saat Dinda tidak ada di sekolah.
Untung saat itu, Om Ardalan mempunyai kontak pak Latif. Dari pak Latif lah, Bima mengetahui keberadaan Dinda. Bima memohon kepada Om Ardalan untuk pindah ke kota Jade. Dan di sini lah Bima sekarang.
Bima juga merubah jurusan demi dekat dengan Dinda. Berkat campur tangan pak Latif, Bima akhirnya bisa satu kelas dengan Dinda.
Bima juga tahu, Dinda banyak yang suka. Bima juga mendengar Dinda sudah mempunyai kekasih. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Rama, Bima merasa lega. Ternyata cinta Kenzo bertepuk sebelah tangan.
"Sayang, aku juga curiga pada Kenzo. Semakin lama diperhatikan, tatapan Kenzo mirip tatapan Arlo pada malam itu. Kita harus berhati-hati," Bima memegangi jemari Dinda.
"Hem, Bima. Udah dong. Jantungku hampir meledak," Dinda menarik tangannya.
Bima tertawa sambil mengusap kepala Dinda. Mungkin ini pengalaman pertama bagi Dinda. Ini juga pengalaman pertama bagi Bima. Jantung Bima berpacu lebih cepat dari Dinda. Tapi Bima bisa menutupinya.
Habis dari kafe, Dinda mengajak Bima ke rumah makan om dan tantenya. Sesampainya di sana, Mira dan Damin mengajak mereka ke rumah yang ada di belakang rumah makan.
Wajah Damin dan Mira terlihat pucat. Dinda duduk di antara mereka. Dinda memegangi jemari mereka berdua. Dinda sudah menganggap mereka berdua orang tua Dinda. Dinda ingin mereka berbagi keluh kesah bersama.
Mira cerita, tadi malam ada seorang pemuda datang ke rumah makannya. Pemuda itu mungkin seumuran Wira. Wajahnya tertutup masker.
Maksud kedatangan pemuda itu adalah untuk menagih utang Wira yang jumlahnya tidak sanggup mereka bayar. Dia bilang, Wira telah mencuri barang-barangnya.
Pemuda itu sudah lama mencari Wira. Sampai akhirnya dia menemukan Damin dan Mira di kota Jade. Dia juga bilang, Wira hampir saja membunuhnya.
Pemuda itu ingin Wira segera menghadapinya. Dia sangat yakin Wira bersembunyi. Dia dan beberapa temannya mengobrak-abrik rumah makan Damin.
Pada saat pemuda itu dan teman-temannya mengamuk, preman-preman yang pada waktu itu membuat onar, membantu Damin untuk mengusir pemuda itu dan teman-temannya. Pemuda itu berhasil diusir berkat bantuan preman-preman.
Bima dan Dinda saling berpandangan. Mereka teringat Kenzo karena orang yang terakhir kali ingin ditembak Wira saat itu adalah Kenzo.
"Apa itu Kenzo?" tanya Dinda.
"Aku yakin itu dia," jawab Bima.
"Kalian berdua harus berhati-hati, terutama kamu Dinda. Om takut Wira akan mencarimu."
...----------------...
Setelah makan siang bersama Damin dan Mira, Dinda dan Bima pamit pulang. Mereka tidak tahu ada yang membuntuti mereka dari belakang. Bima menyadari ada yang tidak beres dengan motornya. Bima menepikan motor.
Dinda melihat ada paku yang menancap di ban belakang motor Bima. Dinda membantu Bima mendorong motornya mencari bengkel terdekat.
Tiba-tiba saja dari arah belakang Dinda ada seseorang yang memukul punggung Dinda. Dinda jatuh tidak sadarkan diri. Bima tidak menyadari itu. Bima tetap fokus lurus ke depan.
Dinda dimasukkan ke dalam mobil. Mobil itu melaju dengan santainya di samping Bima. Yang punya mobil membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Bima.
"Wira! Wira!" Teriak Bima.
Bima menoleh ke belakang. Bima tidak melihat Dinda. Bima tidak lagi memperdulikan motornya. Bima membiarkan motornya jatuh dan berlari dengan cepat mengejar mobil Wira.
Sekuat tenaga Bima terus berlari. Bima hampir mencapai pintu belakang mobil Wira. Wira langsung melaju dengan kencang sambil mengacungkan jari tengah ke luar jendela. Terdengar Wira tertawa sambil mengejek Bima.
Bima menstabilkan napasnya. Keringatnya bercucuran deras. Jantungnya maraton. Otot kaki terasa kaku untuk melangkah jauh. Entah berapa jauh dia berlari, yang pasti tenggorokannya kering, pandangan berkunang-kunang rasanya ingin jatuh ke tanah.
Bima memanggil ojek online yang kebetulan lewat. Dengan terengah-engah Bima minta tolong kepada bang ojol untuk mengejar mobil Avanza warna putih yang menculik temannya.
Abang ojol mencari mobil Avanza dengan plat nomor yang diingat Bima. Abang ojol layaknya seorang pembalap meliuk-liuk di jalan raya. Abang ojol fokus dan akhirnya melihat mobil dengan plat nomor, merek dan warna yang disebut Bima.
Abang ojol membunyikan klakson dan memberi isyarat agar mobil itu menepi. Mobil itu tanpa drama menyalakan lampu sein kiri. Mobil itu akhirnya menepi.
Bima mulai merasa aneh. Kenapa Wira dengan mudahnya menepikan mobil tanpa adanya perlawanan. Bima langsung turun dari motor dan berdiri di samping pintu sopir Avanza putih. Sopir pun perlahan menurunkan jendela mobil.
"Maaf ada apa ya?" Sopir itu memandangi Bima.
"Mana Wira?"
"Wira? Siapa?" Sopir itu nampak kebingungan.
Bima tanpa izin membuka pintu tengah mobil. Bima juga masuk ke dalam mobil memeriksa kursi belakang dan juga bagasi mobil. Bima.tidak menemukan Dinda.
"Di mana Wira? Tadi dengan jelas, saya melihat Wira naik mobil ini. Dia menculik teman saya!"
"Maaf, mungkin Aden salah lihat. Saya tidak tahu Wira. Dan ini mobil saya."
"Saya akan lapor ke polisi. Anda bersekongkol dalam kasus penculikan!" Ancam Bima.
"Silakan, laporkan!" Sopir itu menantang.
Bima dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi. Tidak berapa lama, polisi lalu lintas tiba. Polisi mendengarkan penjelasan dari Bima dan juga sopir Avanza.
Mobil itu terbukti milik pribadi sopir yang bernama Yusuf. Polisi melepaskan Yusuf karena tidak terbukti melakukan penculikan. Yusuf juga mau berdamai dan melepaskan Bima karena sudah salah paham.
"Aden, mungkin saja bukan mobil itu yang menculik teman Aden. Atau mungkin saja teman Aden tidak diculik," kata bang ojol.
Bima hanya diam. Bima meminta bang ojol mengantarnya kembali ke tempat motornya. Bima tidak karuan. Di kepalanya hanya memikirkan keselamatan Dinda.
Bima tiba di tempat terakhir kali motornya jatuh. Bima kembali meminta bantuan bang ojol untuk membawanya ke bengkel terdekat. Bang ojol melihat kertas yang menempel di motor Bima. Dan kertas itu bertuliskan.
Jika ingin Rani selamat, bawa uang sebanyak 100 juta. Ingat jangan lapor polisi jika masih ingin melihat Rani bernapas. Dalam waktu satu jam, kamu akan dihubungi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...