NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:66.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Merayu

"Makan dulu." Jan Coen duduk di kursi, menunjuk nampan-nampan yang sudah ditata di meja. "Aku lapar."

Pelayan-pelayan itu membungkuk dan keluar, menutup pintu dengan pelan.

Kusumawati bangkit, berjalan ke meja.

Menu Tionghoa tersaji di hadapannya. Ayam tim dengan jamur dan angco. Cah kailan dengan udang. Sup ayam dengan rebung dan jamur kuping. Nasi putih mengepul dalam mangkuk porselen.

“Kau tidak berpakaian?”

Kusumawati mengedikkan bahu. “Untuk apa, nanti juga kau lepas lagi.”

Jan Coen terkekeh sembari mencoba menarik sarung.

Kusumawati menepis tangan itu.

“Aku perlu makan.” Matanya menajam. “Kalau kubiarkan terbuka, aku tidak akan selesai makan!”

“Ah, ya. Tentu saja. Kau harus makan.” Dia terkekeh lagi. “Aku senang, kau cepat hafal apa yang kusuka.”

Mereka makan dalam diam sejenak. Kusumawati yang semula tidak merasa lapar rupanya melahap dengan rakus tanpa kehilangan keanggunan.

"Jadi," Kusumawati meletakkan sumpit, menatap Jan Coen, "apa yang kau dengar?"

Jan Coen mengunyah sepotong ayam dengan santai, lalu menelannya. Sengaja membiarkan wanitanya menunggu.

Ia suka dipandangi penuh harap.

“Jan?”

“Hhm?”

“Aku bertanya, apa yang tadi kau dengar?”

“Panggil aku Jan Sayang.”

Kusumawati menarik napas dalam.

“Jan Sayang ….”

Suaranya tercekat, aneh di lidah. Seumur-umur dia tidak pernah memanggil ‘sayang’ pada siapapun. Bahkan pada putranya.

“Ayo cepat katakan!” Suaranya menggeram, mulai kehabisan kesabaran. “Kau jangan menguji kesabaranku.”

Jan Coen terkekeh. "Bukan Soedarsono yang akan dibunuh."

Kusumawati menghembuskan napas lega.

“Lalu siapa?”

"Kau."

Sepotong udang yang baru masuk ke mulut Kusumawati langsung tersangkut di tenggorokan.

"Uhuk—uhuk—!"

Jan Coen bergerak cepat, memukulkan telapak tangan ke punggung Kusumawati. Keras tapi tepat.

Udang itu melompat keluar.

"Hati-hati, Sayang." Dia menyodorkan gelas teh hangat. "Jangan sampai kau tersedak dan mati. Sayang sekali kalau seorang Raden Ayu yang tahan banting sepertimu malah mati karena udang, bukan karena musuh yang sepadan."

Kusumawati meneguk teh dengan sekali tenggak, napas masih terengah-engah.

"Aku?" Suaranya serak. "Mereka mau membunuhku?"

"Ya."

"Tapi aku di sini." Kusumawati mengerutkan dahi. "Kalau mereka mau membunuhku, sekarang sangat mudah. Kenapa harus pakai denah? Kenapa harus menyewa orang lain?"

Jan Coen tersenyum.

"Kau pintar." Dia mengambil sepotong ayam lagi, memasukkan ke mulut Kusumawati. "Mereka tidak terlibat penculikanmu."

Kusumawati mengunyah dengan pikiran yang … bingung.

"Mereka mengira kau masih di kadipaten." Jan Coen melanjutkan. "Katanya kau sakit. Tidak pernah keluar dari kamar. Kurasa kadipaten menyembunyikan kabar kau hilang."

“Menyembunyikan …?”

“Putraku menyembunyikan kabar aku hilang?”

“Kenapa?”

"Mungkin untuk strategi mengecoh musuh." Jan Coen mengedikkan bahu. "Atau mungkin putramu tidak mau orang tahu ibunya diculik. Memalukan, bukan?"

Kusumawati terdiam.

‘Apa yang sedang terjadi di kadipaten?’

Suara Jan Coen mengalihkan perhatian.

"Makan yang banyak."

Jan Coen menambahkan lebih banyak daging ke mangkuk Kusumawati—ayam, udang, potongan jamur.

"Kau agak kurus jika dibandingkan saat pertama kali aku bertemu denganmu." Matanya menyapu tubuh Kusumawati yang masih terbalut sarung batik. "Aku suka kau yang lebih berisi."

Kusumawati melirik kesal.

‘Bahkan di saat seperti ini, pikirannya tetap ke sana.’

Tapi dia menurut. Mengunyah dengan pikiran yang sibuk menyusun potongan-potongan teka-teki.

Kusumawati meletakkan sumpit, menatap Jan Coen.

"Mereka masih di sini?"

"Ya." Jan Coen mengunyah santai. "Mereka juga ternyata sedang bertransaksi ilegal. Opium. Pria Tionghoa tua itu pemasoknya."

‘Opium ilegal. Tentu saja.’

‘Adik-adikku memang tidak pernah tobat.’

Kusumawati menarik napas dalam-dalam. Pikirannya berputar, menyusun strategi.

Lalu dia mencondongkan tubuh ke depan.

"Jan Sayang."

"Hm?"

"Kau perwira." Suaranya dibuat lebih rendah, lebih lembut. "Kau punya kekuasaan. Kau bisa ... menangkap mereka. Opium ilegal. Itu kejahatan besar."

Jan Coen mengangkat alis. Tahu ke arah mana pembicaraan itu, tapi berlagak bodoh.

"Kau bisa menghabisi mereka semua." Kusumawati melanjutkan, tangannya bergerak menyentuh lengan Jan Coen. Gerakan yang kaku, tidak natural, seperti perempuan yang baru belajar merayu. "Pemerintah kolonial pasti akan memberi penghargaan padamu."

Hening sejenak.

Lalu Jan Coen tertawa.

"Kau mencoba merayuku, Keti? Aku sudah punya banyak sekali penghargaan, sampai penuh di lemari. Aku tidak butuh lagi penghargaan."

Wajah Kusumawati malu bukan main.

"Aku—"

"Merayu dengan cara seperti itu?" Jan Coen menggeleng, masih terkekeh. "Kau benar-benar tidak pernah merayu pria?"

Kusumawati menarik tangannya dengan gerakan kesal.

"Jadi kau tidak mau membantu?"

Suaranya sekarang galak.

"Aku tidak bilang tidak mau." Jan Coen menyeruput tehnya dengan santai. "Tapi jual beli kita yang tadi saja belum selesai. Aku belum mendapatkan hakku."

"Hakmu?" Alis Kusumawati berkerut.

"Kau janji 'apa pun'." Matanya berbinar. "Dan aku belum menerima 'apa pun' itu."

Kusumawati menghela napas.

"Baiklah. Nanti malam—"

"Bukan itu." Jan Coen memotong. "Bukan sekadar bercinta. Itu sudah biasa."

"Lalu apa?"

Jan Coen mencondongkan tubuh, wajahnya mendekat.

"Aku ingin kau lebih liar."

Kusumawati mengerjap.

"Apa?"

"Kau sangat kaku, Keti." Jarinya menyentuh dagu Kusumawati, mengangkat wajahnya. "Aku ingin kau lebih ... jalang. Lebih jalang dari pelacur mana pun."

Wajah Kusumawati merah padam.

"Aku bukan pelacur!"

"Memang bukan." Jan Coen tersenyum. "Tapi kalau kau mau aku menghabisi adik-adikmu ... kau harus belajar menyenangkanku."

‘Belajar menjadi pelacur?’

‘Demi menyelamatkan putraku.’

Kusumawati merasakan harga dirinya remuk berkeping-keping.

‘Tiga puluh tahun lebih menjadi Raden Ayu—perempuan paling berkuasa di kadipaten. Dan sekarang …’

‘Seorang perwira Belanda memintaku menjadi jalang untuknya.’

"Bagaimana?" Jan Coen menatapnya dengan mata yang berbinar jail. "Mau belajar? Aku bisa membawamu ke rumah bordil Nyonya Lim. Biarkan pelacur-pelacurnya mengajarimu."

"Tidak!"

"Atau kau mau aku yang mengajari?" Dia terkekeh. "Melakukan apapun yang kuminta?"

Kusumawati mengepalkan tangan di bawah meja.

‘Sabar. Sabar. Ini demi putraku.’

Dia menarik napas panjang.

"Baiklah." Suaranya keluar seperti dicekik. "Aku ... akan mencoba."

Senyum Jan Coen melebar.

"Bagus. Nanti malam kita lihat seberapa jalang Raden Ayu bisa menjadi."

Kusumawati ingin melempar mangkuk sup ke wajah pria itu.

Tapi dia menahan diri.

‘Demi putraku ….’

"Tapi," Jan Coen menambahkan, nada suaranya sedikit lebih serius, "soal putramu ... jangan terlalu khawatir."

Kusumawati mendongak.

"Apa maksudmu?"

"Dia bupati." Jan Coen mengedikkan bahu. "Pengawalan ketat. Puluhan abdi dalem. Prajurit. Tidak semudah itu membunuh seorang bupati."

Kusumawati tertawa getir.

"Kau bilang tidak semudah itu?" Dia menggeleng. "Aku diculik dari dalam kadipaten. Dari kamarku sendiri. Di bawah hidung puluhan pengawal. Dan tidak ada yang menyadari."

Jan Coen terdiam.

"Aku bahkan tidak merasakan apa-apa." Kusumawati melanjutkan, suaranya getir. "Tidak ada perlawanan. Tidak ada teriakan. Aku tidur di kamarku, dan bangun di ranjang denganmu. Seperti mimpi buruk."

Hening sejenak.

"Itu pengecualian." Jan Coen akhirnya berkata. "Nyonya Lim memang terkenal dengan ramuannya."

"Ramuan?" Mata Kusumawati melebar.

1
Elsker
ndoro ..sehat kah?
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki 😭😭
Rani Za
Udah selesai kah ini ceritanya?
lilyrose
kapan update bab baru kak?
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
ndoro kemana Kok menghilang
Elsker
ndoro...sehat???kapan update lagi?semoga sehat selalu
Rahma Amma
ndoro kok blm up?????
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki ☹️☹️
Anindya
ndoro melupakan keti
lilyrose
thanks ndoro...lanjuttt ya😊🙏
rama Rasyidin
terbayang y jadi raden Ayu kusumawati itu wulan guritno🤭... dan Rio dewanto jadi Soedarsono
R_Bell
ndoro, mohon di up lagi. astaga, sudah 10 hari menunggu. rasanya 💔🤣🤭🥲
Linceu thea
lanjut ndoro 🙏
Hana Nisa Nisa
ditjnggu kelanjutannya ndoro yg arjo juga
Su Hendri
haduh penuh teka teki euy... ceritanya keren banget. greget dan bikin penasaran. d tunggu up selanjutnya kk
Teh Qurrotha
apa kenes mengikuti jejak Raden Ayu Aryani
Fetri Diani
dari der dor banget nyonya lim.. ky pagiku anak 3 berNgkat sekolah semua.. 💃
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ibu kandung arjo merasa ancaman besar dari kenes ,
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
Teh Qurrotha
kira kira apa Gusti ayu mau?
berat sama si Jan cok
Teh Qurrotha
kyknya tidak mudah, bupati Udh kepincut kenes, pengen segera malam pertama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!