Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Kendali
Arya benar-benar mengebut sepanjang perjalanan. Lampu merah? Diabaikan kalau memang dirasa aman. Batas kecepatan? Lupakan.
Jarak dari Cipete ke Senopati sebenarnya tidak terlalu jauh. Maksimal dua puluh lima menit kalau jalanan lancar. Tapi malam ini terasa seperti berjam-jam.
Tangannya mencengkeram setir erat. Rahangnya tegang. Di kepalanya terus berputar suara Mila tadi. Berantakan, hancur, mabuk.
"Kenapa aku telepon kamu sih? aku kan punya pacar."
Betul. Kenapa Mila meneleponnya? Arya ingin meyakinkan dirinya bahwa mungkin itu karena Mila masih punya sedikit saja rasa percaya untuknya. Mungkin saja.
.
.
Arya memarkir mobilnya asal-asalan. Ia bahkan tak peduli apakah garis parkirnya lurus atau tidak. Ia turun cepat, lalu baru menyadari sesuatu.
Ia masih pakai celana pendek.
"Fuck," umpatnya pelan.
Club elit seperti ini biasanya punya dress code ketat. Tidak ada celana pendek. Tidak ada sandal. Kalau ia masuk dengan pakaiannya sekarang, sudah pasti security akan menghalanginya.
Arya membuka bagasi mobil dengan tergesa. Untungnya, entah kebetulan atau keberuntungan, ada satu celana kerja bahan yang baru diambil dari laundry tadi siang. Masih terlipat rapi dalam plastik.
Ia merobek plastik dan menyarungkan celana kerja itu di atas celana pendeknya. Berantakan, tapi cukup untuk menipu lampu redup di dalam sana.
.
.
Musik elektronik menggelegar. Lampu strobo berkedip-kedip dalam ritme yang menyilaukan. Bau alkohol, parfum, dan keringat bercampur jadi satu.
Arya tidak suka tempat seperti ini. Terlalu ramai. Terlalu bising. Terlalu chaos. Tapi malam ini ia tidak peduli. Matanya menyisir setiap sudut. VIP section, dance floor, bar. Dan akhirnya ia melihatnya.
Mila.
Berdiri di tengah kerumunan manusia yang sedang berjoget. Tubuhnya bergoyang tidak stabil. Rambutnya berantakan. Satu tangan memegang gelas kosong, tangan satunya... entah mencoba menari atau hanya berusaha menjaga keseimbangan.
Arya berdecak pelan, menggelengkan kepala, lalu melangkah cepat menuju ke arah perempuan itu.
"Mila!"
Mila menoleh. Matanya sayu, pipinya merah, senyumnya... mabuk.
"Aryaaaa! Kamu dateeeng!" teriaknya girang sambil merentangkan tangan.
Arya meraih tubuh Mila kemudian berusaha memapahnya. "Ayo, kita pulang."
"Nggak! Aku belum selesai dance!" Mila mendorong Arya menjauh.
"Kamu udah mabuk. Ayo."
"Sebentar lagiii--"
Arya tidak menunggu. Ia melingkarkan lengan Mila ke bahunya, menopang tubuhnya yang sudah sangat limbung, lalu membawanya membelah kerumunan. Beberapa orang melirik. Beberapa bahkan bersiul-siul. Tapi Arya tidak peduli.
Begitu sampai di luar, udara malam yang dingin langsung menerpa wajah Mila. Dan tiba-tiba...
"Hoeekkk--"
Mila membungkuk, perutnya berkontraksi keras.
Arya mencoba menahan rambut Mila ke belakang dengan satu tangan, tangan satunya menahan bahunya supaya tidak jatuh.
Setelahnya Mila muntah sampai tidak ada yang keluar lagi selain cairan asam lambung.
"Udah?" tanya Arya pelan setelah beberapa saat.
Mila mengangguk lemah, napasnya tersengal.
"Kamu gila ya minum sebanyak ini?" gumamnya, lebih ke diri sendiri daripada ke Mila.
"Aku... aku mau lupain," bisik Mila pelan.
Arya menatapnya. "Lupain apa?"
"Semuanya."
.
.
Arya tidak tahu harus membawa Mila ke mana.
Kos? Ia tidak tau alamatnya.
Rumah sakit? Mila tidak dalam kondisi darurat medis. Dia cuma mabuk.
Menghubungi Tyas? Itu memang recananya. Dari tadi ia berusaha minta Mila untuk membuka lockscreen ponselnya, tapi perempuan itu sama sekali tidak mau meberikan PIN-nya.
Lagipula siapa yang di zaman sekarang tidak pakai fingerprint untuk membuka lockscreen?
Akhirnya ia memutuskan membawa Mila ke rumahnya sendiri. Tapi perjalanan itu benar-benar seperti neraka. Mila tidak bisa diam, dia terus bergerak seperti adegan exorsism.
"Aryaaa... ini mobilnya enak banget ya. Bau kulit. Bau mahal." Mila menyentuh dashboard dengan jari-jarinya. "Kamu banyak uang ya sekarang?"
"Mila, duduk yang bener."
"Aku udah duduk bener kok." Tapi tangannya mulai meraih setir. "Eh, boleh aku pegang?"
"JANGAN!" Arya menepis tangannya dengan panik. "Kamu mau kita nabrak?!"
Mila tertawa. "Kamu galak."
Lalu jarinya mulai pencet-pencet tombol di dashboard. Radio menyala. AC dinaikkan. Jendela naik-turun.
"MILA!"
"Apaaaa? Aku cuma penasaran."
Arya menghela napas panjang, berusaha sabar.
Tapi kemudian Mila melakukan sesuatu yang benar-benar di luar dugaan.
Ia menjambak rambut Arya dari samping.
"AAWW!" Arya refleks mengerem mendadak. "APAAN SIH?!"
"Rambut kamu enak dipegang," kata Mila sambil mesem-mesem. "Tebel. Lembuuut."
"Mila, please. Duduk yang bener. Kita masih di jalan."
"Oke, oke." Mila melepaskan genggamannya pada rambut Arya, tapi kemudian jarinya mencubit lengan pria itu.
"MILA! SAKIT!"
"Hehe. Sorry."
Arya menatap Mila tidak percaya. "Are you testing me?"
Mila cuma nyengir.
Dan Arya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengemudi secepat mungkin sambil berdoa agar mereka sampai dengan selamat.
.
.
Rumah Arya adalah rumah minimalis modern dua lantai dengan halaman kecil di depan. Baru selesai renovasi minggu lalu. Cat putih bersih, lantai marmer mengkilap, furniture masih baru.
Arya membuka pintu, lalu menopang Mila masuk.
"Waaah... rumah kamu bagus," kata Mila sambil melihat-lihat dengan tubuh sempoyongan. "Besar. Bersih. Kayak... hoteeel."
"Makasih. Sekarang masuk kamar. Kamu harus tidur."
Arya membawa Mila ke kamar tamu lantai satu. Kamar dengan tempat tidur queen size dan lampu dengan cahaya terang.
Ia membaringkan Mila di ranjang dengan hati-hati, menyalakan AC, lalu menarik selimut sampai sebahu Mila.
"Tidur. Besok pagi kita ngobrol."
Arya menyalakan lampu tidur, lalu berbalik hendak mematikan lampu dan keluar.
Tapi baru dua langkah...
"Arya."
Ia menoleh.
Mila sudah duduk lagi. Matanya masih sayu, tapi ada sesuatu di matanya. Intens. Dalam.
"Aku... aku bau," katanya pelan.
"Nggak. Udah tidur aja."
"Bau. Aku mau mandi."
"Mila, sekarang udah malam. Kamu mabuk. Sekarang tidur."
Tapi Mila sudah mulai membuka dress-nya.
Arya membeku.
"Mila, jangan--"
Tapi Mila tidak mendengar. Tangannya menarik resleting di belakang dress dengan gerakan canggung.
Arya langsung berbalik, menutup wajahnya dengan tangan. "KAMU NGAPAIN SIH?!"
"Kenapa?" suara Mila terdengar bingung. "Aku cuma mau ganti baju."
"KAMU MABUK! Kamu nggak sadar apa yang kamu lakuin!"
"Aku sadar."
Arya mencoba mengabaikannya. Ia berjalan keluar, tapi tiba-tiba Mila menarik tangannya dari belakang.
"Jangan pergi."
Arya terdiam. Napasnya tertahan di kerongkongan.
"Mila... please. Kamu harus tidur!"
"Aku nggak mau tidur." Suara Mila sekarang berbisik.Terlalu dekat. "Aku... aku kangen sama kamu."
Jantung Arya berdegup kencang.
"Kamu mabuk. Kamu nggak tau apa yang kamu omongin."
"Aku tau kok." Tangan Mila melingkar di pinggang Arya dari belakang. "Aku kangen... kangen dipeluk sama kamu."
Arya memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap otot di tubuhnya menegang. Otaknya berteriak dan memprotes dalam waktu yang bersamaan.
"Mila, stop."
Tapi Mila tidak berhenti. Bibirnya menyentuh punggung leher Arya. Ringan, seperti usapan bulu.
"Kamu... kamu masih ingat nggak... waktu kita... waktu kita dulu..."
"Mila!" Arya berbalik, melepaskan pelukan Mila dengan paksa. Ia menatap wajah Mila dengan tatapan putus asa. "STOP! Kamu punya pacar. Dan kamu lagi mabuk! Besok kamu akan nyesel."
"Aku nggak akan nyesel." Mila melangkah maju, menatap Arya dengan mata berkaca-kaca. "Aku cuma... aku cuma pengen ngerasa... disayang lagi. Please. Sekali lagi aja."
Arya menggeretakkan giginya.
Tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
"Kamu disayang. Sama pacar kamu."
"Enggak. Dia nggak sayang aku." Air mata Mila mulai mengalir. "Dia lebih sayang sama mamanya. Lebih peduli sama penilaian keluarganya."
Arya menelan ludah. Napasnya berat.
"Please... jangan gini."
"Kenapa?" Mila mengangkat tangannya, menyentuh pipi Arya. "Kamu nggak mau aku?"
Arya menatapnya nanar.
Bisa-bisanya Mila menanyakan ini padanya? Ia menginginkan wanita itu sampai ke tahap di mana ia rela menukar nyawanya hanya untuk satu malam kembali ke masa SMA mereka.
Ia merasa seperti pria yang sedang sekarat karena haus dan tiba-tiba disodori air dan siap meminumnya dengan rakus meski tau air itu beracun.
"I want you. So fucking much. Aku bisa hilang kontrol kalo kamu gini terus."
Hening total.
Kata-kata itu keluar tanpa filter.
Mila menatapnya lamat-lamat. "Kalo gitu biarin kontrolnya hilang."
Dan kemudian...
Ia mencium Arya.
Keras. Putus asa. Lepas kendali.
Tubuh Arya membeku. Dan seketika benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama satu dekade di Singapura runtuh hanya dalam satu detik.
Otaknya berteriak untuk mendorong Mila menjauh. Tapi tangannya justru melingkar di pinggang Mila.
Panas tubuh perempuan itu merambat melalui kaus tipisnya, membangkitkan memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Ia merindukan ini. Sial, ia merindukan ini sampai ke tahap yang menghancurkan warasnya.
Arya menarik Mila lebih dekat.
Membalas ciumannya dengan intensitas yang sama.
Jangan. Stop. Ini salah, geram Arya dalam hati.
Tapi tubuhnya tidak mendengar.
Ciuman itu semakin dalam. Napas mereka memburu. Tangan Mila meremas kaus Arya, dan tangan Arya menyusuri punggung Mila.
Mereka mundur. Punggung Mila menyentuh dinding.
"Arya..." bisik Mila di sela ciuman. "Please..."
Dan saat itulah, saat mendengar namanya disebut dengan nada dan suara Mila yang putus asa, Arya kehilangan sisa akal terakhirnya.
Ia memilih untuk menutup mata pada kenyataan bahwa esok pagi, cahaya matahari akan membawa mereka kembali pada kenyataan pahit yang mungkin akan menghancurkan keduanya lebih parah dari sebelumnya.
Arya mengangkat tubuh Mila, membiarkan Mila mengalungkan kedua kakinya di pinggangnya, kemudian membawanya ke ranjang, dan...
Malam itu, mereka melewati garis yang seharusnya tidak pernah mereka lewati.
...***...
Mabuk ✔️, drama ✔️, bad decision ✔️
Yang mau ngata-ngatain, dipersilahkan 🙏
repot kan nin 😭
udah aman di rumah aja dah🤭
Mila... Mila...