Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Suara Agam terdengar menggelegar. Pria itu tampak berdiri tegak, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang menusuk tajam, sementara jemarinya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih, tubuhnya menegang menahan luapan emosi yang hampir pecah.
Viona tersentak, napasnya tercekat sebelum ia memaksa dirinya menarik udara dalam-dalam. Dadanya bergetar halus, mencoba meredakan gemuruh panik yang menghantam. Meski sebelumnya, sebagian dirinya sempat memprediksi bahwa cepat atau lambat Agam pasti akan mengetahui keberadaannya di rumah itu. Namun kini saat hal itu datang, nyatanya jauh lebih menakutkan dari yang sebelumnya ia bayangkan.
Melihat Viona hanya berdiri diam tanpa sepatah kata yang terucap, kemarahan Agam kian memuncak. Wajah yang biasanya terlihat putih bersih, kini terlihat memerah. Tidak lagi mampu menahan diri, ia mulai melangkah mendekati Viona yang masih berdiri dengan wajah memucat.
Prang...
Mangkuk berisi sayur yang baru saja matang, terjatuh ke atas lantai. Tangan Viona yang semakin bergetar nyatanya tidak lagi mampu menahan mangkuk panas itu.
Tidak memperdulikan pecahan mangkuk dan hasil masakannya yang berhamburan di atas lantai, Viona refleks melangkah mundur kala melihat Agam yang semakin mendekat.
Berdiri tepat di hadapan gadis yang sudah berani masuk ke area pribadinya, Agam tak segan menarik kasar lengan Viona yang hendak melangkah melarikan diri setelah gadis itu merasa terpojok karena tidak lagi bisa melangkah mundur karena tubuh belakangnya menabrak kabinet dapur.
Dengan tangan yang mencengkram kuat lengan Viona, Agam semakin mengikis jarak dengan mencondongkan wajah dan tubuhnya hingga ia bisa merasakan hangat napas Viona yang terasa bertabrakan dengan kulit wajahnya.
"Siapa yang sudah mengirimmu ke sini?!" bentak Agam. Suaranya yang keras dan jarak yang begitu dekat tentu saja membuat Viona terperanjat, bahunya ikut tersentak. Degup jantung berdebar kencang. Pria di hadapannya benar-benar menakutkan.
Meski dengan tubuh yang bergetar hebat dan kepala yang tertunduk, Viona berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Agam. Namun semakin Viona berusaha melepasnya, Agam justru semakin keras mencengkeram lengan Viona hingga gadis itu meringis menahan nyeri dan perih yang semakin terasa menusuk.
"Katakan... siapa yang sudah mengirimmu ke sini?!" sekali lagi Agam mengulang pertanyaannya. Pria itu bertanya sambil meremas lengan Viona semakin erat hingga gadis malang itu hampir menjerit karena rasa sakit yang sudah tidak lagi tertahankan.
"Kalau kau tetap diam.. akan ku pastikan, kau dan seluruh keluargamu akan menanggung akibatnya!" desak Agam.
Begitu Agam membawa serta kata keluarga, refleks Viona tersentak. Mengabaikan rasa sakit yang kian menjalar, Viona mendongakkan kepala menatap mata Agam yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Jangan biarkan anak nakal itu menguasaimu!" sekilas ucapan yang pernah diucapkan seseorang padanya tiba-tiba terngiang di benak Viona. Kalimat itu, seakan menyulut keberanian besar di dalam diri Viona yang sempat menciut.
Bermodal keberanian yang mendadak muncul dan Agam yang terlihat lengah. Sekuat tenaga, Viona menghempas keras tangan Agam hingga akhirnya ia bisa terbebas dari cengkraman pria arogan itu.
Viona sempat melangkah menjauh, namun gadis itu kalah cepat. Sekali lagi, Agam berhasil meraih lengannya, menariknya kasar hingga tubuh Viona terpelanting dan hampir menabrak sudut meja.
Tidak puas dengan itu, Agam sengaja melepas cengkramannya, lantas mendorong kasar tubuh Viona yang masih kehilangan keseimbangan hingga akhirnya bagian tubuh belakang gadis itu menabrak dinding.
Menahan tubuh yang terasa nyeri, Viona berusaha kembali melangkah. Ia harus bisa keluar dari sana tanpa membuka mulut, tanpa mengatakan siapa orang yang telah mempekerjakannya di tempat itu. Ia tidak ingin melanggar janji dan kesepakatan yang sudah ia buat sebelumnya dengan pria tua yang sudah memberinya cukup banyak uang.
"Kau masih tidak ingin mengatakan siapa orang itu?!" Suara agam kembali menggema. Namun Viona seolah tidak menghiraukannya. Gadis itu tetap melangkah tertatih untuk segera pergi.
"Atau kau... sengaja datang ke sini untuk menggodaku. Melempar tubuh kurusmu itu ke atas ranjangku," cibir Agam.
Rentetan kalimat yang Agam ucapkan membuat Viona menghentikan langkah. Dengan jemari yang terkepal erat dan emosi yang tiba-tiba memuncak, Viona membalikkan badan, menatap Agam tanpa rasa takut.
"Saya hanya bekerja di tempat ini," ucap Viona lantang. "Bukan untuk menggoda seperti yang tuan tuduhkan tadi," imbuhnya. Viona tidak ingin pria arogan itu menuduhnya yang bukan-bukan.
Menarik tipis sudut bibirnya, Agam kembali melangkah mendekat. Namun kali ini, Viona tidak berniat menghindar, ia tetap berdiri tegak. Rasa takutnya seolah menguap begitu saja.
"Kau pikir, aku percaya!" ucap Agam. Pria itu tidak lagi berkata dengan nada membentak. Sebaliknya, berkata dengan nada seperti tengah mengejek.
"Gadis itu tidak berbohong!"
Suara berat seorang pria mendadak terdengar. Cukup keras untuk memutus ketegangan yang sedang memuncak. Agam dan Viona sontak terperanjat. Refleks keduanya menoleh bersamaan.
Tak jauh dari tempat Agam dan Viona berdiri, seorang pria berusia senja melangkah mantap, posturnya yang masih terlihat tegap dan ketampanan yang tak sepenuhnya pudar, ditambah sorot mata tajam namun berwibawa cukup mampu membuat atmosfir ruangan berubah.
Agam mengerjap, rahangnya mengencang. Sementara Viona tampak membeku melihat kedatangan pria tua yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu.
Tepat di hadapan sang putra, Vino Mahardika menghentikan langkahnya. Pria berusia senja itu menatap Agam. Ruangan yang tadinya sempat berubah tenang, kini kembali memanas.
"Tuan... saya... "
"Tunggulah di luar." Vino Mahardika lebih dulu memotong perkataan Viona. Pria itu berkata tegas, dingin seolah tak ingin dibantah. Namun sorot mata tajamnya tidak lepas menatap sang putra .
Viona terdiam sejenak, lalu menunduk hormat. Dengan tubuh yang masih menegang, Viona melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan dua pria berbeda usia dengan atmosfir yang terasa menegang dan memanas. Viona tidak ingin repot-repot memikirkan apa yang terjadi di antara keduanya. Yang terpenting baginya saat ini adalah, ia bisa sedikit bernapas lega karena terbebas dari situasi yang sempat membuatnya takut dan terpojok.
*****