NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Benang Merah yang Kusut

Pagi hari di Singapura menyambut dengan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap dari udara Penthouse Suite. Viona membuka matanya perlahan, merasakan berat yang familier melingkari pinggangnya. Lengan kekar Arkan masih mengunci tubuhnya dengan posesif dari belakang, mendekapnya begitu erat seolah takut jika dia melepaskan pegangannya sedetik saja, wanita di pelukannya ini akan lenyap menjadi abu.

Viona menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong. Rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat intensitas gairah Arkan semalam kini telah mati rasa, digantikan oleh kekosongan batin yang amat mendalam. Dia tidak lagi menangis. Air matanya seolah telah terkuras habis di pelataran Merlion Park, menyisakan kepasrahan seorang tawanan yang tahu bahwa dinding penjaranya terlalu tebal untuk dihancurkan.

Perlahan, Arkan bergerak. Dekapan di pinggang Viona mengencang sesaat sebelum pria itu melonggarkannya. Arkan mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang, menyugar rambut hitamnya yang berantakan dengan sebelah tangan, menampilkan pesona maskulin yang liar namun sangat mengintimidasi. Mata elangnya langsung turun menatap Viona, meneliti setiap jengkal wajah pucat gadis itu dengan kilat kepemilikan yang belum juga pudar.

"Kau sudah bangun?" suara bariton Arkan terdengar serak khas orang yang baru terjaga, rendah dan berat.

Viona tidak menjawab. Dia hanya menarik selimut sutra putihnya lebih tinggi, menutupi bekas kemerahan di bahunya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sikap diam Viona yang dingin laksana patung marmer ini kembali memicu denyut kekesalan di rahang Arkan yang mengeras. Pria posesif itu tidak suka diabaikan, terutama oleh wanita yang sudah dia tandai sebagai miliknya secara mutlak.

Arkan mengulurkan tangannya, memegang dagu Viona dan memaksanya berbalik untuk menatapnya. "Jangan memprotesku dengan caramu yang bisu ini, Viona. Kau yang bersalah malam tadi. Kau melanggar aturan dengan menemui pria itu."

Viona menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arkan. "Saya sudah katakan, Tuan... saya menemuinya untuk menyuruhnya pergi demi keselamatannya sendiri. Tapi bagi Anda, penjelasan saya tidak ada artinya, bukan? Anda hanya ingin alasan untuk menghancurkan apa saja yang tidak sesuai dengan kehendak Anda."

"Benar," jawab Arkan dengan jujur yang dingin dan kejam, tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah tampannya. Dia memajukan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga napasnya yang hangat menerpa bibir Viona yang bengkak. "Aku tidak butuh alasan untuk menghancurkan pria mana pun yang berani menyentuh milikku. Dan kau... kau harus ingat bahwa setiap tarikan napasmu di dunia ini adalah hak eksekutif yang sudah kubayar lunas dengan kontrak kita."

Pria itu menunduk, mengecup bibir Viona dengan pagutan yang singkat namun menuntut, sebuah klaim otoritas yang egois sebelum dia berdiri dari ranjang. Arkan melangkah menuju kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun, memamerkan lekuk tubuh tegapnya yang atletis dengan keangkuhan seorang penguasa mutlak.

Siang harinya, atmosfer di dalam ruang makan Penthouse Suite terasa sangat formal dan kaku. Viona duduk di meja makan dengan mengenakan gaun terusan panjang berwarna lavender lembut yang disediakan oleh hotel atas perintah Arkan. Di hadapannya, Arkan sudah kembali berpenampilan necis dengan setelan kemeja kerja hitam tanpa dasi, dengan laptop yang menyala di samping piring makannya.

Baskara berdiri tidak jauh dari meja, memegang beberapa dokumen dengan ekspresi profesionalnya yang tak pernah goyah.

"Tuan Arkan," panggil Baskara dengan nada suara yang terukur. "Penerbangan kembali ke Jakarta sudah dijadwalkan sore ini pukul empat menggunakan jet pribadi. Semua urusan internal anak perusahaan di sini telah selesai didelegasikan."

Arkan mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Bagaimana dengan pemindahan ibu Viona?"

Mendengar kata 'ibu', Viona yang tadinya hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya langsung mendongak tajam dengan jantung yang berpacu liar. "Pemindahan? Mau dibawa ke mana ibu saya, Tuan Arkan?!"

Arkan menutup laptopnya dengan gerakan lambat, lalu bersandar pada kursi makannya. Dia menatap Viona dengan tatapan yang tenang namun sarat akan manipulasi yang cerdas. "Ibuku sudah mengetahui keberadaanmu, Viona. Singapura adalah perlindungan sementara, tapi Jakarta adalah pusat kekuasaannya. Untuk memastikan ibumu tidak menjadi bidak yang digunakan ibuku lagi untuk mengancammu, aku sudah memerintahkan Baskara untuk memindahkan ibumu ke rumah sakit privat di kawasan Bogor yang berada di bawah pengawasan ketat tim keamananku langsung."

Viona meremas sendok di tangannya hingga jemarinya memutih. "Anda memindahkannya bukan untuk melindunginya, Tuan... Anda memindahkannya agar saya semakin tidak punya pilihan untuk melarikan diri! Anda menjadikan ibu saya sebagai sandera utama!"

Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, terukir di sudut bibir Arkan. "Sebut saja itu bentuk perlindungan yang menguntungkan kedua belah pihak, Viona. Ibumu mendapatkan fasilitas medis terbaik yang tidak akan pernah bisa kau beli, dan aku... mendapatkan jaminan bahwa wanita simpananku tidak akan pernah berani melangkah keluar dari pintuku lagi."

Kata 'wanita simpanan' yang diucapkan Arkan dengan begitu santai di depan Baskara kembali menggores harga diri Viona yang sudah hancur lebur. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ancaman itu nyata. Ibunya berada di dalam genggaman Arkan, dan jika dia berani memberontak, pria tiran ini bisa menghentikan seluruh pengobatan ibunya dalam satu petikan jari.

"Lakukan apa yang menurut Anda baik, Tuan," lirih Viona, suaranya terdengar pasrah dan datar, menyerah sepenuhnya pada takdir gelap yang kian melilit lehernya.

Pukul lima sore, jet pribadi Mahendra Group telah membelah langit, bergerak kembali menuju ibu kota Indonesia. Di dalam kabin VIP yang mewah, Viona kembali memilih untuk menatap keluar jendela, mengabaikan kehadiran Arkan yang duduk di sampingnya sambil memeriksa berkas-berkas keuangan.

Ponsel kerja Arkan yang berada di atas meja lipat tiba-tiba bergetar. Arkan mengangkatnya, dan dalam seketika, gurat kemarahan yang pekat kembali muncul di wajah tegasnya.

"Ada apa, Baskara?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang meninggi, dingin dan tajam.

"Tuan Arkan, maaf mengganggu penerbangan Anda," suara Baskara terdengar sedikit panik di seberang telepon. "Nyonya Besar Sofia tampaknya telah bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan. Beliau mendatangi kantor pusat Mahendra Group siang tadi dan menggunakan otoritasnya sebagai komisaris utama untuk membekukan beberapa proyek investasi yang sedang Anda kelola bersama Wijaya Corps. Beliau... tampaknya ingin memaksa Anda kembali ke meja negosiasi pernikahan dengan Nona Clarissa."

Arkan mengepalkan tangannya hingga urat-urat di punggung tangannya menegang hebat. Ibunya benar-benar menggunakan seluruh kekuatan politik keluarga untuk menekannya. Pembatalan sepihak yang dia lakukan pada Clarissa ternyata berbuntut panjang dan kini mengancam stabilitas posisinya sebagai CEO utama di Mahendra Group.

"Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, Baskara," desis Arkan berbahaya, matanya berkilat oleh amarah yang membara. "Aku tidak akan pernah kembali ke meja negosiasi itu. Siapkan pertemuan darurat dengan dewan direksi besok pagi jam delapan. Aku sendiri yang akan memotong cakar politik ibuku di dalam perusahaan."

"Baik, Tuan Arkan."

Arkan mematikan sambungan teleponnya dengan kasar. Dia memutar tubuhnya, menatap Viona yang ternyata mendengarkan seluruh percakapan tersebut dengan tatapan mata yang dipenuhi keraguan dan ketakutan.

Arkan mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang ramping Viona dengan sentakan kuat hingga tubuh gadis itu menempel pada dada bidangnya di atas kursi jet. Pria posesif itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Viona, menghirup aroma harum tubuh gadis itu dengan rakus seolah mencari ketenangan di tengah badai politik keluarganya yang kian memanas.

"Kau lihat sendiri, Viona... seluruh dunia mencoba menjauhkanmu dariku," bisik Arkan serak, suaranya terdengar penuh dengan obsesi yang kian menggelap di dalam kabin pesawat yang sunyi. "Ibuku, Clarissa, dan pria logistik itu... mereka semua mencoba merusak kepemilikanku. Tapi aku bersumpah, semakin mereka mencoba menarikmu keluar, maka aku akan semakin mempererat rantai emas yang mengikatmu di dalam penthouse-ku. Kau adalah milikku, Viona... selamanya hanya milik Arkan Mahendra."

Viona memejamkan matanya, membiarkan air mata dingin kembali menetes melewati pipinya yang pucat. Di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki, di dalam pelukan erat sang tiran posesif, dia menyadari bahwa kepulangannya ke Jakarta bukan berarti badai telah usai. Sebaliknya, dia baru saja melangkah masuk ke dalam pusat pusaran angin puyuh yang siap menghancurkan seluruh sisa hidup dan jiwanya tanpa ampun.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!