NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Mari menepi dari kisah Cinderella Story (Pangeran tampan/CEO menikahi Upik Abu), kisah kawin kontrak, dan juga kisah menikah dengan keterpaksaan karena balas budi. Saatnya kita belajar dari pengalaman ana yang aku tulis dikarya perdanaku ini.

Ana merupakan mahasiswi magang di PT. Asri Global Tbk, di perusahaan tersebut ana bertemu dengan seorang pria yang benama julio, julio merupakan manager acounting di divisi tempat ana magang.

Sejak pandangan pertamanya dengan ana, julio sudah menaruh hati terhadap ana, sehingga ia mendekati ana.

Tak banyak rekan-rekan kantornya yang mengetahui jika ternyata julio telah memiliki istri dan anak di kampung halamannya, begitu pun dengan ana.
Hingga hubunganan mereka mereka yang sudah terlalu jauh, sampai pada akhirnya ana mengandung anak julio.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Seketika pria itu membalikkan tubuhnya, ketika mendengar suara Ana. Tubuhnya seolah terpaku dan matanya tertegun melihat Ana berada di hadapannya. Sosok yang ia cari selama ini, sosok yang hampir membuatnya gila karena kepergiannya.

"An-na..." suara itu terdengar lirih, pria itu menatap tubuh Ana secara keseluruhan dari atas kebawah, kemudian kembali lagi dari bawah ke atas, tatapannya langsung tertuju ke perut Ana, ia bukan hanya mengkhawatirkan keadaan Ana namun ia juga mengkhawatirkan keadaan janin yang berada dalam kandungan Ana.

Pria itu tidak peduli anak siapa dalam rahim Ana, ia sangat mengkhawatirkannya, aliran perasaan bahagia menghantamnya ketika secara perlahan ia menyentuh wajah cantik Ana. Pria itu memastikan bahwa wanita yang berada di hadapannya saat ini benar-benar sosok yang ia cari, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

"Pak Rio." suara Ana menghentikan lamunannya, secepat kilat Aio mendekap erat tubuh Ana, membawanya ke dalam pelukannya.

"Dari mana saja kamu, An?" suara lirih itu berbisik di telinga Ana, sosok Rio yang beberapa menit lalu terlihat sangat tegas kini berubah menjadi lemah di hadapan Ana.

Ana berusaha melepaskan pelukan Rio namun Rio enggan melepaskannya, pria itu malah semakin memperdalam pelukannya, hingga Ana merasa sedikit kusulitan untuk benapas.

Lyra yang menyaksikan adegan itu mulai bertanya-tanya dalam benaknya apa yang terjadi dengan kakaknya dan apakah kakaknya sudah mengenal Ana.

"Pak Rio lepaskan, Ibu sendirian di kamar," ucap Ana.

Mendengar Ana menyebut Ibundanya, akal sehat Rio mulai berjalan. Pria itu kembali menghawatirkan kondisi ibundanya. Rio mulai melepaskan pelukannya dan menggandeng Ana menuju kamar rawat Ibundanya, sementara Lyra mengekori mereka dari belakang dengan membawa baju ganti serta perlengkapan lainnya untuk Ibu.

Sesampainya di kamar rawat inap, Rio melepaskan genggaman tangannya dengan Ana, Rio berhambur ke pelukan ibundanya lalu mencium tangan serta kening ibundanya dengan penuh hangat.

Meskipun gerakan Rio secepat kilat namun ibu sempat melihat putra sulungnya menggandeng tangan Ana, Ibu juga memperhatikan gerak gerik serta tatapan mata Rio saat menatap Ana. Perasaan seorang Ibu tidak pernah salah namun ibu menahan diri, ia tak ingin buru-buru mengambil kesimpulan.

"Bu, bagaimana sekarang kondisi badan Ibu?" tanya Rio.

"Sudah enakan Le, kapan nyampe sini?"

"Bau saja Bu, begitu landing aku langsung kemari."

"Pantas saja anak ibu acak-acakan sekali, pulanglah Le. Istirahat, biar Lyra saja yang menjaga Ibu. Kamu sekalian ajak Ana pulang kasihan dia sudah dari siang di sini, pasti capek sekali," ucap Ibu. "Oh ia le apa kamu sudah berkenalan dengan Ana?" sambungnya.

"Sudah Bu, beberapa waktu lalu Ana pernah jadi mahasiswi magang dikantorku, kebetulan aku ini pembimbing lapangannya," jawab rio.

"Oh ya sudah kalo begitu kamu ajak Ana pulang sana."

"Sebentar lagi Bu, aku masih kangen sama ibu." Rio kembali mencium tangan ibundanya.

Selagi Rio melepas rindu dengan Ibundanya, Ana menyiapkan obat untuk Ibu. Dengan telaten ia membuka satu persatu bungkus obat yang di berikan oleh perawat kemudian Ana mengambil air putih untuk Ibu meminum semua obat-obatnya.

"Bu, minum obat dulu." Ana memotong pembicaraan Ibu dengan Rio.

Rio mengambil piring kecil beserta gelas dari tangan Ana. "Biar aku saja, An."

Tidak lama setelah ibu minum obat, Ibu merasakan ngantuk karena efek obat tersebut. Ibu kembali menyuruh Rio mengajak Ana pulang untuk beristirahat di rumah.

"Kalian pulang lah, biar Ibu di sini sama Lyra"

"Ana di sini saja ya Bu," pinta Ana, sebenarnya ia masih takut dengan kejadian tadi pagi, Ana takut jika Retno datang lagi ke rumah ibu.

"Nduk, pulanglah istirahat kasihan kandunganmu."

"Tapi Bu..."

Ibu melihat dari sorot mata Ana ada sedikit ketakutan dalam diri Ana untuk pulang ke rumahnya, Ibu menyakinkan Ana bahwa Rio akan menjaganya.

"Ada Rio yang akan menjagamu." Ibu berbalik ke arah Rio "Ibu titip Ana ya Le."

"Iya Bu," jawab Rio sambil mengambil kunci mobil yang berada Lyra, kemudian ia mengajak Ana untuk ikut pulang bersamanya.

Dengan ragu-ragu Ana pun menurutinya, ia mengikuti Rio pamit kepada Ibu dan juga Lyra.

Rio tersenyum melihat Ana ikut pulang bersamanya, ketika mereka keluar dari ruang rawat inap, Rio kembali meraih tangan Ana dan menggandengnya menuju parkiran rumah sakit, Rio bahkan tidak melepaskan genggamannya saat ia mengemudikan mobilnya.

Beberapa menit setelah berkendara Rio menepikan mobilnya di sebuah restoran, ia meminta Ana untuk menemaninya makan malam.

"Aku lapar belum makan, kamu juga belum makan kan?" tanya Rio.

Ana menggelengkan kepalanya, ia baru menyadari bahwa dirinya dari siang belum makan, kejadian itu membuat dirinya lupa untuk makan.

Rio membukan pintu mobil Ana, ia mempersilahkan Ana untuk keluar dari mobilnya kemudian Rio kembali menggandeng Ana masuk ke dalam restoran, ia memilih tempat di sudut resto agar ia bisa mengobrol banyak dengan Ana.

Begitu makanan yang di pesan telah datang, Rio memulai obrolannya dengan Ana.

"An, bagaimana keadaanmu dan kandungamu?" tanya Rio khawatir.

"Alhamdulillah aku baik-baik saja Pak Rio, Pak Rio sendiri bagaimana?"

"Alhamdulillah aku juga baik," jawab Rio dengan santai, meski dalam benaknya ia hampir gila karena Ana pergi begitu saja meninggalkannya tanpa kabar.

"An, bukankah dulu aku sudah bilang jangan panggil Pak? aku bukan atasanmu lagi An." protes Rio, ia mulai merasa terganggu dengan panggilan Pak untuknya, terasa sangat canggung sekali menurutnya.

"Kalau begitu, Mas saja?"

"Jangan, itu kan panggilanmu untuk si breng*ek itu."

"Hmmm.. bagaimana jika Kakak?" tanya Ana.

"Aku bukan Kakakmu tapi ya sudah lah, terserah kamu saja." Rio pasrah, padalah Rio berharap Ana memanggilnya sayang atau panggilan-panggilan lainnya yang lebih terdengar romantis.

"An, maafkan aku. Seharusnya waktu itu sebelum berangkat kerja, aku ke rumahmu dulu, sehingga Kakakmu tidak mengusirmu dari rumah," ucap rio dengan penuh penyesalan.

"Pak Rio sama sekali tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf, justru aku berterima kasih kepada Pak Rio karena memiliki Ibu dan adik yang sangat baik, mereka mau menerimaku tinggal di rumah Pak Rio," ucap Ana, kemudian ia memberanikan diri untuk membuka obrolan seputar kejadian Ibu masuk ke rumah sakit.

"Kak please ya jangan marah lagi sama Lyra, sebenarnya aku yang membujuk ibu untuk tidak menutup toko kuenya dan sebenarnya Ibu masuk ke rumah sakit bukan karena kecapean mengurusi toko."

"lalu?" tanya Rio.

Ana berhenti sejenak menarik napas dalam-dalam, ia mulai menyusun kata-kata sehalus mungkin agar Rio tidak marah kepadanya.

"Maafin aku ya Kak, ini semua salahku."

"Maksudmu?" wajah Rio berubah menjadi serius.

"Tadi pagi istri Mas Julio datang ke rumah, ia melabrakku. Ia mengira bahwa aku merebut suaminya. Aku benar-benar tidak tahu dari mana istrinya tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya Julio. Karena kegaduhan itu jantung ibu kumat, maafkan aku kak." Ana menundukan wajahnya.

Ana takut jika Rio akan marah kepadanya, meskipun Ana menyadari bahwa ini semua salahnya namun Ana tidak siap menerima kemarahan dari Rio.

Rio menghentikan makannya, selera makannya hilang mendengar cerita Ana, ia menaruh sendok dan garpu dipiring dan mengajak Ana untuk pulang, Ana hanya bisa pasrah menuruti perintah Rio untuk pulang.

Sepanjang jalan tidak ada lagi raut wajah ceria Rio yang ada hanya raut wajah ketegangan, beberapa kali Ana melihat tangan Rio tampak mencengkram kemudi dengan kencang. Begitu sampai di rumah Rio menyuruh Ana untuk turun dari mobil.

"Masuk dan istirahatlah! kunci dari dalam jangan sampai ada orang lain yang masuk, jika ada apa-apa segera telepon aku. Aku pergi sebentar, masih ada urusan yang harus aku selesaikan," ucap Rio dengan tegas, Ana menuruti semua perintah rio.

Dari dalam mobil Rio memperhatikan Ana dan memastikan jika ana benar-benar mengunci pintu.

Setelah di rasa Ana sudah cukup aman Rio memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.

1
Nancy Nurwezia
Luar biasa
Apalah Arti Sebuah Nama
cuma ada di novel lelaki seperti RIO,☺️☺️☺️
imelda
cerita wanita tangguh.lumayan keren.
kalea rizuky
ini uda gk. perawan tp sok jual mahal. hadehhh
Mita Karolina
Bukannya kalau LDR itu yg paling penting komunikasi ya?
aima
di Shopee ada ga ya kek rio 🤣😭
Irma: Kalo ada, dah soldout mba😂
total 1 replies
Susi Sinaga
bukan hanya di author ada lelaki spt itu ....dunia nyata jg ada...
Susi Sinaga
wow....terima ...terima
Susi Sinaga
ke rumah si pecundang tak tanggung jawab
Susi Sinaga
terharu aku masih ada org berhati emas spt Bu lyra
Sita Sit
adakah di dunia nyata laki2 kayak Rio,,keren pokoknya rio
altanum
ceritanya bikin penasaran dan ingin segera menyelesaikan membaca semua bab....semangat thor
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
Pak Rio kamu royal juga ya sama istri nya ngasih hadiah ngak tanggung" fatanstis ya
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
keren habis
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
Semoga hayalan kamu buat nikah sama Julio bisa Jadi kenyataan ya Ana
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
luar biasa

suka sama cerita nya walau baca yg 21+ tapi tetap bagus cerita nya walau belum baca semua bab nya
Leny Hui
a very great novel and there are many lessons that we can learn, highly recommended novels from the author
Defi Danny Firmansyah
semangat....semangat...💪🏻💪🏻💪🏻
Defi Danny Firmansyah
semangat trs berkarya Thor....💪🏻💪🏻💪🏻
Kod Driyah
wah Rio sdh mulai berubah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!