NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Persahabatan / Slice of Life
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Di Ujung Hari, Aku Masih Berlari

Mentari belum terlihat, udara masih sangat dingin, dan adzan subuh baru terdengar. Tapi, ibu sudah bangun untuk memasak.

"Van, ayo bangun!!" seru ibu sembari memasak.

"Van!!" ujar ibu.

"Iya," sahutku.

Aku bangun, mataku masih sulit untuk dibuka, mengantuk, dan masih ingin tidur. Tapi, aku harus bangun untuk memulai hari yang baru ini.

"Van, sarapan!!" seru ibu.

"Iya,"

Aku lalu bangkit dari tempat tidurku, berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dahulu. Setelah mencuci muka, aku lalu ke dapur untuk sarapan "Sarapan hari ini, lauknya apa?!" tanyaku sembari duduk di kursi.

"Ibu sedang menggoreng tempe, sama membuat sambal. Kamu mau kan?!" tanya ibu balik.

"Pasti mau," seruku pelan.

Sembari menunggu makanan siap, aku mulai berdialog batin dengan diriku sendiri "Kakek, dia pemain liga 2 Indonesia. Ayah, dia pemain liga 1 Indonesia "Sebenarnya aku terlahir di keluarga pesepak bola, tapi terhalang oleh restu. Dan juga, ayah sedang jauh dariku!!" batinku.

"Ini," seru ibu sambil meletakkan lauk pauknya.

Aku lalu makan dengan lauk sederhana. Seusai makan, aku lalu mandi dan bergegas untuk berangkat ke sekolahku "Ibu, aku mandi dulu!!" seruku sembari berjalan ke kamar mandi.

"Iya," sahut ibu.

Seusai mandi, aku lalu berangkat ke sekolah "Hari senin. Oh iya, kata Pak Nur aku dan teman-teman akan diberikan uang. Bener nggak ya?!" batinku sambil mengenakan sepatuku.

"Ibu, aku berangkat!!" ujarku sebelum berangkat.

"Iya, hati-hati di jalan!!" seru ibu.

"Iya," sahutku.

Aku lalu memulai perjalananku menuju sekolah, di perjalanan aku terus berpikir tentang pertandingan semi-final yang akan datang "Pertandingan selanjutnya akan diadakan kapan ya?!" gumamku.

Hari yang cerah, indah, dan damai. Tanpa ada ganguan sedikitpun di perjalananku.

"Ivan!!" panggil Nadia.

Aku berhenti melangkah, melihat ke belakang "Iya," seruku pelan.

Nadia berjalan cepet ke arahku "Tunggu!!" seru Nadia.

"Van, selamat ya. Kamu sama teman-teman, udah berhasil lolos ke semi-final!!" puji Nadia sambil bertepuk tangan kecil.

Aku tersenyum "Hmm... Iya, makasih!!" seruku.

"Oke, sekarang kita jalan bareng yuk!!" ajak Nadia.

Aku hanya menggangguk. Kami lalu berjalan bersama, ini pertama kalinya aku berjan berdua dengan Nadia "Aduh.... Kenapa dia harus muncul waktu aku berangkat sekolah, kan aku jadi deg-degan!!" batinku sambil memandangi Nadia.

Setibanya di pintu gerbang sekolah. Kami secara tidak sengaja berpapasan dengan Eliana.

"Van!!" sapa Eliana.

Aku berhenti melangkah, melihat Eliana yang berdiri di samping gerbang. Tapi Nadia di sampingku, dia mulai memberikan ekspresi untuk mengajak perang.

"Caper!!" celetuk Nadia.

Eliana langsung melihat Nadia, dia lalu berjalan ke arahnya "Emang kenapa... Ada masalah, atau kamu cemburu?!" tanya Eliana dengan nada mengintimidasi.

Wajah Nadia seketita memerah "N-nggak!!" jawan Nadia.

Aku hanya melihat dan mendengarkan perkelahian kecil mereka. Tapi, aku tidak ingin terlibat dan memilih untuk berjalan ke kelasku "Aduh, mulai lagi mereka. Mending aku pergi aja!!" seruku sebelum pergi.

Aku lalu pergi ke kalas.

"Ivan!!" teriak Nadia.

"Ivan!!" teriak Eliana.

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan mereka. Setibanya di kelas, aku lalu meletakkan tasku dan duduk dengan tenang sembari menunggu upacara bendera dimulai.

"Waktunya upacara bendera dimulai, silahkan semua murid berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara!!" suara dari speaker sekolah.

Saat mendengar pemberitahuan, aku bergegas menuju ke lapangan. Setibanya di sana. Upacara langsung dilakukan, aku mengikuti setiap alur upacara bendera.

"Amanat pembina upacara, pasukan diistirahtkan!!" suara petugas upacara.

"Untuk amanat, istirahat di tempat.... Grak!!" suara pemimpin upacara.

"Baik, Anak-anak. Bapak akan mengucapkan banyak sekali trimakasih untuk tim sepak bola sekolah kita, karena mereka berhasil lolos ke babak semi-final. Ayo berikan tepuk tangan untuk mereka!!" suara Pak Nur memberikan amanat upacara.

"Prok... Prok... Prok..." suara tepuk tangan.

"Dan untuk pemain tim sepak bola sekolah, kalian bisa menetap di lapangan upacara terlebih dahulu. Mungkin itu saja yang ingin bapak sampaikan, terima kasih!" suara Pak Nur.

"Kenapa harus nunggu disini... Oh iya, kata Pak Nur waktu itu kami akan diberikan uang ya?!" batinku.

Setelah selesai upacara. Aku dan yang lainnya masih di lapangan untuk menunggu arahan dari Pak Nur dan Pak Slamet.

"Anak-anak, seperti janji Pak Nur waktu itu. Kalian akan bapak berikan uang masing-masing sebesar 50 ribu rupiah!!" seru Pak Nur sembari mengambil uang di sakunya.

Pak Nur lalu berjalan mendekat ke kami, ia memberikan uang untuk kami semua. Sementara Pak Slamet, dia sedang berdiri di depan sembari membaca ponselnya.

"Terima kasih, Pak!!" seru kami semua yang mengucap terima kasih untuk Pak Nur.

"Sama-sama," sahut Pak Nur.

"Anak-anak, babak semi-final akan dilaksanakan hari sabtu sore minggu ini. Kita akan menghadapi SMA Citra Bangsa, untuk latihan akan dilaksanakan mulai besok. Apa kalian siap!!" tanya Pak Slamet.

"Siap, Pak!!" jawab kami semua.

"Ya sudah, kalian bisa kembali ke kelas masing-masing!!" ujar Pak Nur.

"Baik, Pak!!" jawab kami.

Kami lalu berjalan kembali ke kelas kami. Aku berjalan bersama Andika.

"Van, lumayan yah!!" ujar Andika sembari berjalan.

"Lumayan apa?!" tanyaku.

"Ini, kita dapat uang 50 ribu!!" seru Andika sambil memperlihatkan uangnya.

"Iya, tapi aku akan memberikan uang ini ke ibuku!!" sahutku.

Kami berjalan bersama, tertawa bersama, dan berbincang bersama. Setibanya di kelas, terlihat tidak ada guru yang mengajar. Tapi, nampaknya ads tugas yang diberikan.

"Van!" sapa Nadia.

Aku melihatnya sekilas, lalu duduk di kursiku..

"Van, tadi kamu kenapa pergi?!" tanya Nadia di sampingku.

Mataku melirik ke Nadia, wajahnya hangat, polos, imut, dan penuh perhatian "Nggak, cuman aku males aja liat orang bertengkar!!" jawabku ke Nadia.

"Ohh," sahut Nadia.

"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki guru.

"Nah, itu gurunya!" seruku.

Pak guru lalu datang untuk mengajar. Aku lalu mengikuti pelajarnya sampai waktunya istirahat.

"Saatnya istirahat dimulai!!" suara dari speaker sekolah.

Teman-temanku lalu berlarian keluar kelas untuk istirahat, tapi aku memilih hanya di kelas untuk tidur sejenak. Tanpaku sadari ternyata waktu istirahat telah usai, aku terbangun untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

Pelajaran dimulai.

"Pelajaran hari ini telah usai, sampai jumpa esok hari!!" suara dari speaker sekolah.

Waktunya pulang, aku mengemasi semua bukuku lalu berjalan pulang sendirian "Besok mulai latihan lagi, daripada malas-malasan mending aku latihan sprint sendiri nanti!!" batinku sembari berjalan pulang.

Sore hari, langit senja yang indah. Setibanya di rumah, aku langsung meletakkan sepatuku, mengganti baju, dan langsung keluar rumah untuk latihan sprint.

"Ibu, aku pulang!!" seruku.

"Iya," sahut ibu.

"Ibu, aku main!!" seruku sebelum pergi.

"Iya," sahut ibu.

Langkah kakiku semakin cepet, jantungku semakin berdebar, napasku semakin memburu. Aku berlari menyusuri jalanan desaku "Ah... Ah... Ah..." suara saat berlari.

"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku saat berlari.

Matahari telah sepenuhnya tenggelam, gelap gulita. Tanpa sadar, aku berlari sampai malam hari "Udah malam, pulang aja!!" seruku.

Aku berlari ke rumahku "Pasti ibu marah," pikirku sambil berlari pulang.

Setibanya di rumah, aku berhenti di depan pintu terlebih dahulu sebelum masuk "Ibu, aku pulang!!" seruku sebelum masuk ke rumah.

Hening, tidak ada jawaban, dan hanya suara angin yang terdengar "Apa ibu sudah tidur?!" batinku.

Tanpa pikir panjang, aku lalu masuk ke dalam rumah. Perlahan-lahan, sembari melihat sekeliling "Benar, ibu sudah tidur!!" batinku.

"Sekarang, aku langsung tidur aja!!" gumamku.

Aku lalu ke kamarku, mencoba untuk tidur. Aku sudah tertidur pulas.

Ivan telah tertidur. Bagimana esok hari, apakah dia akan dimarahi karena pulang bermain terlalu malam?!

Bersambung...

1
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
Khunaiv Mumtaz
Ehem... Ternyata Ivan lahir di keluaga pesepak bola/Shy/
Khunaiv Mumtaz
Makin kesini, ceritanya makin bagus. Semangat Thor/Determined//Determined/
Protocetus
up lagi bang
IRAWAN: Sabar kak, bisanya perhari satu bab. Kalau lagi ada kegiatan mungkin dua-tiga hari baru up, Maaf ya kak/Pray/
total 1 replies
IRAWAN
/Smile//Sleep/
Crimson
Min walau aku gak terlalu suka bola tapi aku support hehe
IRAWAN: makasih dukungannya kak, tapi ini bukan cuma tentang bola
total 1 replies
Protocetus
Anda terlalu percaya diri 😂
IRAWAN: Ehem... Bisa aja kak, siapa tau Elena sama Nadia suka Ivan/Smile/
total 1 replies
Protocetus
No System2, Only Hard Work 🔥
Protocetus: Of Course Work Hard 👍
total 2 replies
Protocetus
udah ikutin aja karir 🔥
Protocetus
Aku kira idolanya Gareth Bale 😂
IRAWAN: Juara tiga, ya sama aja nggak juara. Soalnya nggak dapet piala, cuman dapet medali
total 5 replies
IRAWAN
Masih enjoy?
Jinki
bagus kak .. smgt .. mampir ya
IRAWAN: Siap kak
total 1 replies
iqbal nasution
oke
Protocetus
ini gak ada sistem kan?
Protocetus: sip 🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!