Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Mayra , Rama dan Marcel' sahabat Rama
Setahun berpacaran akhirnya Rama mempersunting Mayra, di usia pernikahan pertama Mayra tengah hamil buah cinta mereka dan akhirnya Mayra melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Darren Adiguna
Pada usia pernikahan ke-4 masalah besar datang melanda keluarga kecil itu, dari masalah perusahaan yang akan diakuisisi serta masalah Darren harus dirawat dirumah sakit karena sakit parah.
Itu semua membuat Rama frustasi, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Akhirnya Rama meminta bantuan pada Marcel sahabat yang sekarang menjadi musuhnya. Marcel bersedia membantu Rama dengan syarat Rama harus menukarnya dengan istri tercintanya. Entah setan apa yang merasuki Rama sampai ia menerima syarat dari Marcel "Kamu bisa membawa Mayra setelah putraku mendapatkan donor sumsum tulang belakang"
🌹Next in bacanya ya readers 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu_Merdeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Mayra
"Sayang jangan berfikir yang macam-macam, yang penting kamu harus tetap semangat dan harus kuat. Demi anak kita? Aku janji akan selalu jagain kamu."
ucap Rama membelai rambutku
Aku sedih, aku selalu saja merepotkan Rama, kasihan dia sudah satu bulan ini bolak balik kantor ke rumah sakit. Tubuhnya menjadi kurus dan kurang terawat. Apalagi kondisi ku juga semakin lemah, selama hamil aku tak bisa makan apapun, hanya air putih yang bisa ku konsumsi, itupun terkadang membuat perutku mual saat meminumnya.
"Sayang maafin aku ya, Aku bosen berbaring di kamar terus... aku mau jalan-jalan keluar" pintaku pada Rama
"Baik sayang..." jawab Rama, lalu ia menyuruh perawat untuk membantunya menyiapkan kursi roda untuk ku. Setelah semuanya siap, Rama memindahkan tubuh ku di atas kursi roda. Dengan pelan ia mendorong kursi roda ku, disamping kiri ku terlihat seorang perawat sedang berjalan membantuku memegang tiang infus
"Makasih sus, sekarng suster boleh pergi. Nanti saya telfon lagi!" Kata Rama
"Baik pak" ucap suster tersebut seraya pergi meninggalkan kami berdua
"Terimakasih sayang, akhirnya aku bisa menghirup udara segar." ucap ku senang seraya memegang tangan Rama
Rama memindahkan langkahnya berjongkok di depan ku, ia memegang kedua tangan ku. matanya menatap wajah ku yang tampak putih pucat. "Sayang berjuang lah demi bayi kita, aku yakin kita bisa melewati ini semua. Bersabarlah sayang sampai bayi kita lahir kedunia!" ucap Rama lirih... matanya tampak berkaca-kaca seperti menahan air matanya supaya tidak jatuh.
Aku tahu apa yang Rama rasakan saat ini, ia juga merasakan sakit seperti yang kurasakan. Aku belai rambut Rama yang kusut, ku sandarkan kepalanya di pangkuanku. Tak terasa air mataku jatuh dari pelupuk mataku, aku tak kuat menahan kesedihanku. Aku tak berdaya dengan penyakit yang kuderita, tetapi aku harus kuat demi buah hati kami, demi keutuhan cinta kami, aku akan berjuang dengan semangat yang Rama berikan, aku berharap suatu hari Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kami.
"Sayang jangan menangis lagi. Aku ada disini untuk mu. Percayalah, semua pasti akan berlalu. Semangat ya!" tutur Rama kembali menyemangati ku, tangannya mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mataku
Aku mengangguk pelan
Matahari sudah mulai terbenam, Langit tampak gelap tertutup oleh mendung. Angin sepoi-sepoi mulai mengusik kedalam jari jemari ku. "Sayang tangan mu dingin, kita masuk ya?" Rama merasakan suhu dingin dalam diriku
Akhirnya Rama dan perawat tadi mengantarkan ku kembali ke kamar. Entah sampai kapan aku harus tinggal disini, aku sudah kangen dengan suasana rumah kami. Rumah dimana aku bisa menghabiskan waktu ku bersama orang yang kucintai.
***Next***
Lima bulan sudah aku dirawat di rumah sakit, sekarang perutku tampak membuncit, lambat laun tubuhku sedikit bertenaga lagi, dan sedikit demi sedikit aku sudah bisa memakan sesuatu, meskipun hanya dengan porsi sedikit, aku sangat bersyukur.
Sebenarnya aku sudah sering memaksa Rama untuk mengurus kepulangan ku, aku ingin dirawat dirumah saja. Aku khawatir kalau sampai aku dirawat dirumah sakit sampai aku melahirkan, entah berapa banyak uang yang dikeluarkan Rama untuk perawatan ku.
Sampai pada saatnya aku bertanya pada dokter, kalau aku benar-benar ingin dirawat di rumah. Dan akhirnya dokter menyetujui permintaan ku, asalkan aku bisa menjaga diriku serta bayi dalam kandungan ku. Rama pun akhirnya luluh juga dengan permintaan ku, tetapi ia masih khawatir dengan kondisi ku yang masih belum pulih. Ia meminta dokter untuk datang mengecek kondisi ku setiap minggunya, dan tak lupa ia juga memperkerjakan perawat untuk merawatku, selama ia di kantor.
"Selamat datang nyonya, panggil saja Mbok Darmi." ucap wanita paruh baya yang membukakan pintu rumah kami
"Sayang... Mbok Darmi ini pembantu kita, beliau yang merawat rumah kita selama kita dirumah sakit" jelas Rama
"Terimakasih Mbok" ucap ku.
Rama kembali mendorong kursi rodaku memasuki rumah. Mataku menatap keseluruh ruangan, tersirat di benak ku akan kenangan indah kami saat awal pernikahan.
"Mbok tolong antarkan suster Rani ke kamarnya ya?" pinta Rama. Suara Rama menyadarkan ku kembali
Rama juga telah menyiapkan kamar tamu untuk kami, semua barang-barang kami di kamar atas dipindahkan ke kamar tamu yang letaknya di lantai dasar.
Rama juga telah mendekor kamar baru kami dengan nuansa hijau kesukaanku.
"Makasih ya sayang, aku senang akhirnya bisa pulang ke rumah kita lagi. Aku janji bakal nurut apa kata dokter dan suster, aku juga akan jagain buah hati kita."
"Ya sayang, aku percaya kok. My baby boy... baik-baik ya di dalam perut Mommy, harus pintar dan nggak boleh nakal" Rama membelai lembut perut buncit ku
"Ya Daddy... Daddy tenang aja, baby boy nggak akan nakal kok... hehehe" ucap ku seraya tersenyum tipis
Rama membopong tubuh ku ke atas ranjang, perlahan ia membaringkan tubuhnya di sisi ku. Tangannya mengangkat kepala ku lalu menyandarkan kepala ku di lengannya. Aroma tubuh Rama membuat ku merasa tenang dan nyaman, akupun mulai memejamkan mataku.
kalo di pikir 2semua nya gk kesalahan Rama aja,,