Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Entah harus senang atau bahagia, Kiano tetap harus menghubungi Amel sesuai dengan perintah dari Raka.
Drrrttt... Drrrttt...
Baru selesai mandi, Amel sudah dikejutkan dengan dering ponselnya.
“Siapa lagi yang menghubungiku?” gumam Amel berjalan ke arah nakas.
“Kiano.” Amel tersenyum bahagia dan langsung menjawab panggilan dari Kiano.
“Assalamu’alaikum,” ucap Amel sambil duduk.
“W’alaikumussalam ... Sayang, lagi ngapain?”
“Baru saja selesai mandi. Ada apa?”
“Kamu ada waktu gak malam ini?”
“Ada. Kenapa? Mau ajak aku dinner?” Amel mencurigainya.
“Iya. Tapi bukan hanya kita berdua.”
“Terus?” Bingung.
“Dengan keluargaku juga,” jawab Kiano.
“Hah? Keluargamu?” Amel kaget.
“Iya. Tadi papaku telpon, ngajak kamu dinner,” jelas Kiano.
“A—aku kayaknya gak bisa ikut deh,” tolak Amel. Hatinya masih belum siap untuk bertemu dengan keluarga Kiano.
“Sayang, takut ya?”
“Euu... anu ... sebenarnya ... itu ...” Amel bingung harus menjelaskan maksud hatinya.
“Sayang, dengarkan aku! Papaku sudah merestui hubungan kita. Dia ngajakin kamu makan malam bareng keluarga kita itu, karena dia mau kenal langsung denganmu,” ujar Kiano menjelaskan dengan detail.
Sejenak Amel terdiam dan memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. “Ok deh. Aku ikut aja.”
“Nanti malam aku jemput, ya!” ucap Kiano tersenyum bahagia.
“Iya.” Amel mengakhiri panggilan Kiano dan meletakkan kembali ponsel di atas nakas.
Dia menggigit jarinya sambil kembali berpikir keras mengenai dinner malam ini. Kegalauan akhirnya melandai hatinya.
“Bibi!” panggilnya.
Suara Amel yang terdengar nyaring, Bibi Sri dengan segera pergi ke kamar Amel.
Tok... Tok...
“Masuk, Bi!” titah Amel.
Krek...
Bibi Sri membuka pintu. “Ada apa, Nona?” tanya Bibi Sri penasaran.
“Bibi, sini deh!” titah Amel menatapnya serius.
Bibi Sri menghampirinya. “Ada apa?”
“Bi, Kiano ngajakin aku dinner,” jawab Amel menatapnya dengan serius.
“Bagus itu, Nona,” ucapnya spontan.
“Bagus apanya? Bibi tau? Malam ini aku dinner sama keluarganya. Ya ampun... gila, kan?”
Bibi Sri duduk di samping Amel. “Apanya yang gila? Itu hal yang wajar... itu berarti mereka serius dengan Nona. Tinggal hubungi nyonya, terus Nona nikah deh,” ujar Bibi tersenyum bahagia.
“Ih... Bibi ngomong apa sih? ... Bibi tau gak, kalau mommy tau hal ini, mampu aku,” ujar Amel khawatir.
“Loh kenapa? Bukannya nyonya senang lihat nona Amel menikah dan kasih cucu untuknya”
“Bukan itu loh, Bi. Bibi tau sendiri dong, kalau aku ini masih kuliah. Ah... aku gak bisa bayangin hal itu.”
“Sudahlah, jangan dipikirkan! Sekarang Nona mau pakai gaun yang mana, biar Bibi siapkan untuk Nona.”
“Gaun hitam ajalah, Bi ... Tapi tunggu dulu!”
“Ada apa?” Bibi Sri bingung.
“Bibi sekarang ikut aku! Kita ke butik,” ucap Amel hendak pergi.
“Nona, bajunya!” Bibi Sri memberi kode dengan tatapan.
Amel tersadar dan melihat baju yang ia kenakan saat ini. “Oh iya, lupa.” Amel cengengesan dan pergi menggantikan pakaiannya.
Sesaat kemudian, mereka pergi ke sebuah butik ternama di Jakarta untuk membeli sebuah gaun yang akan ia kenakan malam ini. Amel harus terlihat lebih cantik, sehingga tidak membuat Kiano malu, batinnya.
...****************...
Di depan meja rias, Amel duduk menatap dirinya dengan segala rasa gugup yang melanda dirinya.
“Aduh, apa lagi ya yang kurang?” Amel masih kurang percaya diri.
Tok... Tok...
“Masuk!”
Krek...
Bibi Sri tersenyum dan menghampirinya. “Nona, Tuan Kiano ada di depan.”
Amel bangun dan berdiri di depan Bibi. “Bi, coba lihat aku! Bagian mana yang masih kurang?”
Bibi Sri melihat dengan saksama. “Nona, terlihat sangat cantik,” ujar Bibi Sri tersenyum kagum.
“Yakin ni, Bi? ... Aku takut banget ngecewain Kiano.”
“Ya ampun, Nona! Nona itu sudah kelihatan sangat sempurna. Apa lagi yang harus ditakutkan?”
“Gitu ya, Bi?” Bibi mengangguk kepala. Amel menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
“Aduh, Bibi! Aku masih takut.”
“Sudahlah! Hilangkan rasa takut itu, dan sekarang cepat Nona temui tuan Kiano! Jangan biarkan dia menunggu lama!” ujar Bibi Sri memberi semangat.
“Ya udah deh, aku pergi ya. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumussalam.”
Di luar, Kiano sudah berdiri di depan pintu menunggu sang gadis pujaan tiba.
“Kiano!” panggil Amel berjalan menghampirinya.
Kiano menoleh dan kedua matanya seketika membelalak saat melihat Amel tampil dengan sangat anggun.
“Kamu ngapain lihat aku seperti itu? Aku terlihat lucu ya?” tanya Amel risih.
“Gak kok. Justru Sayang terlihat sangat cantik,” ucap Kiano tersenyum.
“Masa sih?” Amel tersipu malu.
“Iya, bener. Aku yakin papa mamaku pasti terkesima dengan kecantikanmu,” jawab Kiano penuh percaya diri.
“Ya sudah, yuk masuk!” ucap Amel berdalih. Kiano menganggukkan kepala, lalu membukakan pintu.
Mereka kini menuju ke sebuah hotel bintang lima. Sampai di sana, Kiano dengan buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Amel.
“Sayang, aku takut,” ucap Amel menatap Kiano.
“Jangan takut! Keluargaku bukan kanibal yang suka makan orang,” celetuknya menyeringai.
“Haish.. Kamu ini!”
“Sekarang Sayang tenangkan diri dulu, setelah itu baru kita masuk,” ucap Kiano lembut.
Amel menuruti perkataan Kiano, lalu beranjak masuk bersama dengan Kiano.
Kedua mata Raka membelalak saat melihat wanita bersama dengan Kiano sangat mirip dengan Melisa. “Hummy,” ucap Raka spontan.
Marisa kaget dan mengikuti arah mata Raka.
“Mama, Papa,” ucap Kiano menghampirinya.
“Halo Om, Tante,” sapa Amel mencium punggung tangan mereka.
“Hummy!” Dengan spontan Raka memeluk tubuh Amel dengan penuh kerinduan.
“Om!” Kedua mata Amel membelalak.
“Aku sangat merindukanmu, Hummy,” ucap Raka menggeratkan pelukannya.
“Om! Tolong lepaskan saya!” pinta Amel berusaha melepaskan diri.
“Papa, lepasin Amel!” Kiano dengan segera melepaskan pelukan mereka.
“Mas! Kamu apa-apa sih? Jangan bikin malu dong!” bisik Marisa.
“Maaf! Saya permisi!” ucap Amel beranjak pergi.
“Sayang, jangan pergi!” ucap Kiano menahannya.
“Tolong, jangan halangi aku!” Amel mendorong Kiano, lalu beranjak pergi. Ia masih merasa kesal dengan sikap Raka yang terkesan tidak menghargai dirinya.
Kiano menatap Raka dengan kesal. “Ini semua gara-gara Papa.” Kiano beranjak pergi mengikuti Amel.
“Mas! Kamu ini apa-apa sih? Lihat apa yang kamu lakukan itu!” ucap Marisa menatapnya kesal.
“Aku melihat dia seperti Melisa,” lirih Raka murung.
“Sadar!” Marisa menepuk pipi kedua pipi Raka.
“Dia itu bukan Melisa, tapi calon mantumu sendiri. Kenapa kamu gak bisa membedakannya?” cerocos Marisa kesal.
Raka tergeming dan mulai memikirkan secara nalar.
“Sekarang, sebaiknya kita susul mereka dan minta maaf sama Amel.” Raka mengangguk kepala dan beranjak bangun.
“Tapi ingat! Jangan ulangi kesalahan yang sama!” ucap Marisa memperingatinya.
“Iya. Aku gak akan lakukan hal yang sama,” ucap Raka beranjak pergi.
“Amel!” Kiano menarik tangannya.
“Tolong, lepaskan aku!” pinta Amel dengan nada kesal.
“Nak!” sapa Raka menghampirinya.
Melihat wajah Raka menambah kesal dan ingin beranjak pergi.
“Tolong, jangan pergi!” pinta Raka penuh harap.
Maafkan Om! Tadi Om terlalu terbawa suasana,” ucap Raka melas.
“Iya gak apa-apa kok.”
“Sekarang, ayo kita masuk!” titah Raka.
Amel menatap Kiano. Dia pun menganggukkan kepala.
Kiano dan Amel kembali masuk ke dalam bersama dengan Raka. Kali ini Raka akan menebus semua kesalahannya. Dia menyambut Amel dengan hangat. Acara dinner kali ini berjalan dengan sangat lancar. Amel merasa sangat bahagia. Sikap kedua orangtuanya sangat baik dan membuat Amel betah berada di sisi Kiano.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')