NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Paling Dibenci

Hari Minggu yang begitu dinanti-nanti oleh Pak Hendra akhirnya tiba juga. Namun, bagi Mikayla, fajar yang menyingsing pagi ini terasa seperti awal dari hari kiamat kecil dalam hidupnya. Hari ini adalah hari di mana Pak Hendra akan secara resmi mengucapkan janji suci pernikahan dengan Hesti, wanita asing yang akan menggeser posisi Mommy-nya di rumah ini.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan pintu kamar yang pelan dan ragu-ragu terdengar memecah keheningan kamar Kayla. Tanpa menunggu jawaban, Pak Hendra perlahan melangkah masuk karena pintu kamar memang tidak dikunci. Di dalam, ia mendapati putri tunggalnya sedang duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah luar jendela besar kamarnya. Kayla bahkan masih mengenakan baju tidur satin tipis, sama sekali belum bersiap-siap untuk acara besar hari ini.

Pak Hendra menghela napas berat, berjalan mendekat lalu berlutut di samping anaknya. "Kay... Papih harap kamu bisa menerima keputusan Papih, Nak. Papih sayang banget sama kamu, tapi hidup Papih juga harus terus berlanjut," ucap Pak Hendra dengan nada memohon yang amat sangat. "Kamu siap-siap ya, Nak? Sebentar lagi kita harus berangkat ke rumah Tante Hesti."

Kayla tidak langsung menjawab. Ia masih menatap lurus ke luar jendela, membiarkan angin pagi menerpa wajah pucatnya. Luka di hatinya terlalu dalam hingga ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berteriak atau marah-marah seperti biasanya.

Setelah keheningan yang panjang, Kayla akhirnya menoleh. Matanya yang sembap menatap sang ayah dengan pandangan dingin yang kosong. "Oke, Papih boleh nikah lagi," ucap Kayla, suaranya terdengar sangat parau. "Tapi Kayla enggak mau ikut. Kayla enggak mau nyaksiin pernikahan Papih. Kayla... Kayla gak siap, Pih."

Pak Hendra tertegun. Ingin rasanya Kayla memberontak saat itu juga, melempar barang-barang di kamarnya, dan memaki takdir yang tidak adil ini. Namun, hari ini ego dan energinya sudah habis. Ia memilih jalan paling aman untuk melindungi hatinya yang rapuh: tidak pergi ke acara pernikahan itu. Ia tidak ingin hatinya hancur berkeping-keping lebih banyak lagi hanya karena harus menyaksikan langsung sang ayah memakaikan cincin ke jemari wanita lain.

"Kayla, tapi ini hari penting Papih—"

"Keluar, Pih. Kayla mau sendiri," potong Kayla datar seraya membalikkan tubuhnya membelakangi Pak Hendra.

Melihat kekerasan hati putrinya, Pak Hendra akhirnya mengalah dengan dada yang sesak. Ia bangkit berdiri dan melangkah keluar, menutup pintu kamar Kayla perlahan. Begitu pintu tertutup, Kayla langsung beranjak dan memutar kunci pintunya rapat-rapat. Ia melempar tubuhnya ke atas kasur, memeluk guling erat-erat sembari menatap ponselnya dengan penuh harap. Berharap ada sebuah keajaiban... berharap Mommy-nya tiba-tiba mengirimkan pesan atau meneleponnya untuk membawa dia pergi dari rumah ini. Namun, layar ponsel itu tetap hitam dan membisu.

Drrtt... drrtt...

Getaran ponsel di samping bantalnya membuyarkan lamunan pilu Kayla. Dengan malas, ia meraih benda persegi tersebut. Ternyata bukan dari ibunya, melainkan sebuah notifikasi pesan dari Gavin.

(Gavin mengirim foto)

Sebuah foto buram yang menampilkan sudut gudang tua yang kosong melompong masuk ke ruang obrolan mereka. Di bawah foto itu, Gavin mengetikkan sebuah pesan singkat:

“Di markas sepi gak ada lo, Kay.”

Membaca pesan random dari cowok urakan itu, pertahanan dingin di wajah Kayla mendadak runtuh secara positif. Sebuah senyuman tipis yang sangat samar perlahan terangkat di sudut bibirnya. Di saat seisi rumah mengabaikan perasaannya demi sebuah perayaan, si berandalan sekolah ini justru merindukan kehadirannya.

Tak berselang lama, ponselnya kembali bergetar. Gavin mengirim pesan beruntun.

“Kok gak dibales, Kay? Keluar napa Kay, kaya keong aja lo di dalem rumah. Ini Minggu loh.”

Kayla menatap langit-langit kamarnya sejenak, lalu melirik ke bawah jendela. Di luar, suara mobil Papihnya terdengar perlahan melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah. Rumah besar ini sekarang resmi kosong, menyisakan dirinya sendiri dalam kesepian yang mencekam.

Frustrasi, sedih, dan rasa ingin kabur dari kenyataan membuat Kayla mengetikkan dua kata balasan dengan cepat tanpa berpikir panjang:

“Jemput gue.”

Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit bagi Gavin untuk membelah jalanan fajar. Suara deru knalpot motor sport-nya yang khas terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah Kayla. Kayla yang sudah berganti pakaian dengan jins dan jaket hoodie longgar segera turun ke lantai bawah, membuka pintu, dan berlari kecil menghampiri Gavin. Pelarian keduanya di hari Minggu ini resmi dimulai.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, atmosfer sakral dan bahagia justru menyelimuti sebuah gedung pertemuan kecil milik keluarga Hesti. Pak Hendra yang sudah mengenakan setelan jas formal hitam tampak berdiri di dekat pelaminan, menatap dengan pandangan kagum dan haru ke arah Hesti yang sedang melangkah anggun dalam balutan gaun pengantin putih yang sangat cantik.

Prosesi akad nikah berlangsung dengan khidmat dan lancar. Setelah ketukan palu dan ucapan kata 'Sah' berkumandang dari para saksi, senyum kebahagiaan merekah di wajah kedua mempelai. Namun, di sela-sela jabat tangan dan ucapan selamat dari para tamu, guratan rasa bersalah masih tersisa di wajah Pak Hendra.

Saat mereka berdua sedang duduk di kursi pelaminan selama jeda acara, Pak Hendra menggenggam tangan Hesti dengan lembut.

"Maaf ya, Dek... Kayla katanya belum siap buat nyaksiin Papihnya nikah lagi, jadi dia gak datang hari ini," ucap Pak Hendra dengan nada penuh penyesalan, merasa tidak enak pada istri barunya karena ketidakhadiran putri tunggalnya.

Hesti menatap Pak Hendra dengan pandangan mata yang sangat teduh, lalu tersenyum maklum seraya mengusap punggung tangan suaminya. "Enggak apa-apa, Mas. Aku paham banget posisi Kayla. Pelan-pelan saja ya, Mas, jangan dipaksa. Yang penting sekarang acaranya lancar," ucap Hesti dengan sangat bijak.

Pak Hendra mengangguk lega, mencoba menikmati sisa hari bahagianya, tanpa pernah tahu bahwa di luar sana, putri yang sangat ia khawatirkan baru saja naik ke atas boncengan motor seorang bad boy, melaju menuju bahu jalan yang dipenuhi oleh intaian sepasang mata misterius berpakaian serba hitam yang sudah siap menjalankan rencana teror fisiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!