Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusaka Ksatria
Saat mereka mengobrol tak lama kemudian Brata datang.
"Di sini kalian, ayo makan dulu. Sudah di tunggu Ki Candra," kata Brata.
Mereka pun makan malam bersama, setelah makan Jaka menceritakan pada Ki Candra perihal kedatangan nya.
"Ki Candra dapat salam dari Ki Sanjaya, dia belum bisa ikut kesini," kata Jaka.
"Tidak masalah, sampaikan salam ku juga pada sahabat baik ku itu," jawab Ki Candra.
"Jadi begini Ki, Bagas sekarang sedang mendaki gunung Agra bersama adik ku Anna. Ada pusaka ksatria Bagaskara yang akan di wariskan pada nya," jelas Jaka.
"Lalu apakah dia juga akan kemari? Pusaka Ksatria Ganjur juga akan saya serahkan pada nya."
"Menurut saya tidak perlu Ki, karena pusaka warisan ksatria Bagaskara saja sangat kuat. Kita juga terkejut saat mendengar nya kalau Bagas akan mendapatkan pusaka langsung dari Ksatria Bagaskara," kata Jaka.
"Hmmm, yang kau katakan ada benar nya juga. Tapi siapa yang akan memegang pusaka ksatria Ganjur," kata Ki Candra kebingungan.
Dharma pun batuk.
"Kau kenapa?" Tanya Alvin.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Dharma.
"Sejujurnya saya masih ragu, akan saya wariskan pada siapa pusaka ini," kata Ki Candra.
"Iya Ki, memang butuh kepercayaan untuk mewariskan pusaka turun-temurun. Bukan hanya untuk menjaga dan merawat nya, tapi juga bisa menggunakan nya untuk membela yang lemah," kata Jaka.
"Sebelumnya kalian kembali ke tempat Ki Sanjaya, saya akan putuskan siapa yang akan menjadi pewaris pusaka. Lalu sampaikan pada sang penyelamat."
"Siap Ki," jawab Jaka dan Brata bersamaan.
Saat tengah malam, mereka berkumpul untuk merencanakan penyergapan prajurit kerajaan.
"Seperti nya kita memang harus memberikan pelajaran pada mereka, aku sangat muak melihat mereka mengambil hasil panen kami dengan paksa. Kalo bapak tidak melarang ku, sudah ku hajar mereka," kata Dharma terlihat kesal.
"Iya, dan kau juga sudah di penjara kerajaan sekarang jika kau melakukan nya," timpal Brata.
"Kita tidak boleh gegabah dalam masalah ini. Pilihan nya ada dua, membuat mereka terlambat atau kita habisi di tempat," kata Jaka.
"Aku lebih setuju mereka di habisi," kata Dharma.
"Kita bisa melakukan itu, jika rencana pertama gagal," kata Jaka.
"Ya, dengan konsekuensi yang berat," timpal Brata.
"Lalu bagaimana cara membuat mereka terlambat?" tanya Dharma.
"Kita bisa menghalangi jalan masuk dengan batang pohon," jawab Brata.
"Seperti nya mereka akan sangat mudah mengatasi nya," kata Jaka.
Saat yang lain sedang berdiskusi Alvin hanya diam saja. Kemudian tiba-tiba ia mengangkat tangan nya.
"Kau sedang apa?" tanya Dharma.
"Aku punya ide," jawab Alvin dengan tatapan kosong.
Di sisi lain, Bagas dan Anna sudah mendekati puncak. Mereka istirahat sejenak.
"Planet biru itu indah ya kalau kita liat di malam hari," kata Bagas.
"Seindah-indah nya benda langit itu, benda itu di tempati oleh roh-roh jahat," kata Anna.
"Iya sih, yaa inilah dunia. Yang terlihat indah belum tentu baik," kata Bagas.
"Eh, kenapa Adilaga ingin sekali menyatukan dunia ini dengan dunia roh?" lanjut Bagas.
"Lebih tepat nya melepaskan roh-roh jahat yang terkurung di benda itu. Kemudian mereka akan bebas dan mengacaukan dunia ini," jelas Anna.
"Adilaga sangat haus akan kekuasaan, tujuan nya ya jelas agar roh-roh jahat itu mengabdi pada nya. Dengan begitu, ia memiliki banyak pasukan. Baik itu manusia, siluman dan roh jahat," lanjut Anna.
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi," kata Bagas mantap.
"Iya Bagas," jawab Anna tersenyum.
"Ya sudah, aku akan mendaki ke puncak sendiri. Kau tunggu di sini ya," kata Bagas.
Anna hanya diam dan terlihat murung.
"Yaudah, ikut," kata Bagas
Anna langsung tersenyum, lalu berkata.
"Kau tidak marah kan?"
"Tidak."
"Bohong ya."
"Hadeh, aku tidak marah Anna."
"Hehe iya, ayo lanjut."
Mereka melanjutkan pendakian, tak selang berapa lama mereka akhirnya sampai di puncak gunung Agra. Bagas pun langsung bersemedi di sana, begitu juga Anna.
Bagas dan Anna, terbangun di sebuah padang rumput. Bagaskara sudah menunggu kedatangan mereka. Kemudian Bagas dan Anna menghampiri nya.
"Saya datang sesuai permintaan mu ksatria."
"Kau sekarang sudah yakin, kalau kau bisa menyelamatkan dunia ini."
"Saya sangat yakin."
"Bagus. Kau pasti Anna, keturunan Gardapati," kata Bagaskara.
"Iya ksatria. Saya sangat tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan ksatria Bagaskara," jawab Anna.
"Kakak mu pernah menemui ku di sini namun aku tidak memperlihatkan wujud ku, saat itu ia mengeluhkan tentang dunia ini. Dan aku pikir saat keturunan ku melanjutkan perjuangan para ksatria. Sehingga aku memberitahu pada nya akan datang sang penyelamat bernama Bagas, seorang penulis dari dunia lain," kata Bagaskara.
"Bagas, bukan nya aku memberikan amanah untuk datang ke sini sendiri."
"Itu salah ku, saya minta maaf. Saya yang memaksa untuk ikut," kata Anna merasa bersalah.
Bagaskara pun tertawa, kemudian berkata.
"Aku tak akan menghukum mu, ambil pusaka ini." Bagaskara memberikan sebuah pedang pusaka pada Anna.
"Ini adalah pedang bulan, aku mempercayai mu untuk merawat nya."
"Terimakasih Ksatria."
"Sama-sama."
Tiba-tiba Anna terbangun dari semedi nya, sebilah pedang pusaka sudah ada di depan mata nya. Bagas masih belum selesai bersemedi.
"Bagas, aku akan berikan pusaka yang sangat berharga bagiku. Pusaka sangat kuat, kau harus menjaga dan merawat nya dengan baik," kata Bagaskara.
"Siap ksatria, saya akan menjaga dan merawat nya. Serta menggunakan nya untuk membela kebenaran."
"Kalahkan Adilaga, rebut kekuasaan nya. Buat lah dunia ini damai seperti sediakala."
"Siap ksatria."
"Saya boleh bertanya." lanjut Bagas.
"Tiara di culik oleh prajurit Adilaga, apakah aku boleh langsung menyelamatkan setelah ini?" tanya Bagas.
"Jangan gampang terkena tipu daya siluman. Mereka lah dalang nya."
"Lalu, dimana ia berada?" tanya Bagas.
"Saat kau turun nanti, pergilah ke arah selatan. Kau akan menemukan sebuah goa. Ia ada di sana."
"Baik lah, terimakasih Ksatria."
"Untung saja kau menanyakan itu saat Anna tidak ada di sini. Jika tidak, dia pasti cemburu mendengar nya."
"Iya, saya bingung dengan pilihan ku," kata Bagas.
"Untuk masalah itu kau bisa mengurus nya sendiri Bagas. Jangan merasa pantas untuk memilih, tapi pantas kan lah diri mu agar jadi pilihan," jawab Bagaskara.
"Sekarang tutup mata mu," perintah Bagaskara.
Bagas menutup mata nya.
"Berjanji lah, kau akan melaksanakan tanggung jawab ini dengan baik," kata Bagaskara.
"Saya berjanji akan melaksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya. Membela kebenaran dan menciptakan kedamaian." Bagas mengucapkan janji.
"Sekarang buka mata mu."
Bagas membuka mata nya, ia terbangun dari semedi nya. Terlihat matahari sedang terbit dari ufuk timur, pedang matahari turun dari langit.
Anna terpaku melihat turun nya pusaka pedang matahari. Pedang itu melayang tepat di depan nya. Bagas mengambil nya, kemudian ia merasakan energi yang sangat kuat masuk kedalam tubuhnya.
Anna langsung menghampiri nya. Kemudian berkata.
"Aku sangat senang melihat kau mendapatkan pusaka itu. Aku yakin kau pasti bisa menyelamatkan dunia ini."
"Aku akan selalu membantu mu, aku tak menyangka jika aku di berikan kepercayaan untuk merawat pusaka ini."
"Iya Anna, kita harus bisa menciptakan kedamaian di dunia. Pusaka ini adalah tanggung jawab yang besar."
Anna pun mengangguk dan tersenyum.
"Ayo pulang." Anna berjalan ke barat.
"Anna," panggil Bagas.
"Iyaa Bagas." Anna menoleh.
Bagas menatap wajah Anna lalu mengatakan.
"Kita ke selatan," kata Bagas dengan mantap.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊