Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis kampung
Flash back
****
Perut Dilara terus berbunyi, dan gadis itu membalik-balikkan badannya di atas kasur merasa tak nyaman. Sejak pulang dari kantor, ia hanya tiduran merasa malas mengerjakan hal apapun. Termasuk membuat makanan untuk perutnya sendiri pun ia merasa malas.
Gadis itu mulai membayangkan aneka makanan lezat yang dihidangkan di pesta pertunangan atasannya seperti yang diceritakan Arsila.
Dilara bangkit dari tidurnya dan berjalan cepat ke arah lemari plastiknya. Ia membongkar isi lemarinya tersebut dan tak menemukan satu pakaian pun yang pantas untuk menghadiri pesta.
Gadis itu menghela nafas kemudian selonjoran merasa tak bersemangat. Alasan utamanya menolak diajak Arsila tadi, sebab merasa tak memiliki pakaian yang bagus untuk dipakai.
Dilara memeriksa pakaiannya lagi, kemudian menemukan pakaian yang menurutnya agak cocok untuk dikenakan ke acara.
Bergegas gadis itu mengganti pakaian dan mematut diri di cermin besar milik Arsila. Penampilannya tak terlalu buruk. Wajah yang disapu bedak tebal dan gincu merah menyala serta gamis qasidah yang pernah dipakainya dulu sewaktu bernyanyi qasidah bersama kawan-kawan di hajatan tetangga kampung halamannya. Topi kerudung yang dipakainya juga besar, warnanya senada dengan gamisnya.
"Yang namanya hajatan atau pesta sama-sama hajat, kan? Mungkin pakaianku ini adalah pakaian terbaik di antara tamu-tamu yang lain." Dengan percaya dirinya Dilara berkata depan cermin.
Ia pun berangkat menggunakan jasa ojek online, tak papa sedikit mengeluarkan biaya untuk pergi ke pesta besar, pikirnya.
"Mau ke mana, Bu? Nyanyi marawis atau Qasidah?" Iseng si driver bertanya. Ia pernah melihat seragam gamis dengan pundak mengembang dipakai oleh group marawis dan Qasidah jaman dulu.
"Mau tau aja kau, Nak. Sudah fokus ke jalan. Nanti saya terlambat."
"Siap, Bu."
Beberapa jam kemudian, driver itu berhenti di halaman sebuah hotel. Dilara pun turun dan menyerahkan ongkos perjalanan.
"Ibu yakin diundang ke hotel ini?" Pria muda itu meragukan.
"Apa urusanmu? Saya datang ke manapun bukan urusan situ." Dilara menyahut ketus kemudian melirik jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam.
Driver itu nyengir kuda dan menyalakan mesin motornya. "Ya udah, deh, Bu. Saya pergi dulu, ya. Jangan lupa bintang lima."
"Ibu-ibu, saya tak setua itu," omelnya begitu driver online itu pergi.
Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah ruangan hotel dan merasa was-was melihat interior hotel itu tampak megah.
Dilara mulai melangkah ragu memasuki ruangan, saat telah berada dalam ruangan pun ia berjalan sambil celingak-celinguk merasa kebingungan. Tak ada satu orang pun di sana yang penampilannya sama seperti dirinya. Bahkan beberapa pasang mata tampak melirik sinis padanya.
Dilara masuk ke dalam lift, beberapa detik kemudian ia telah sampai di lantai 2. Sebuah karpet merah tampak digelar sepanjang koridor lantai tersebut. Di bagian sisinya aneka macam bunga dipajang serta ada pajangan poto Daniel dan Falisa di samping pintu masuk ruangan.
Ketika Dilara hendak masuk ruangan, pria bertubuh tegap menghalangi langkahnya. "Anda mau ke mana, Bu?" tanyanya menatap sinis Dilara.
"Saya mau masuk ke dalam, Pak." Dilara tersenyum.
"Anda mungkin nyasar, Bu."
Dilara merasa sakit hati sebenarnya, lagi-lagi penampilannya jadi tolak-ukur orang bersikap padanya. "Ini kartu undangan saya, Pak." Gadis itu memperlihatkan kartu undangan, barulah para penjaga pintu itu membuka jalan.
Setibanya dalam ruangan, lutut Dilara lemas seketika. Ia merinding melihat betapa megahnya ruangan pesta itu. Para tamu yang hadir tampak memakai pakaian bagus dan mahal. Gadis itu kemudian melihat dirinya sendiri dan tiba-tiba saja berlari ke arah penjaga.
"Pak, toilet di mana?"
"Di sebelah sana, Bu." Si penjaga menunjukkan keberadaan toilet yang masih berada di ruangan yang sama.
Bergegas Dilara berlari menuju toilet. Sesampainya di toilet pun ia tak masuk ke dalam, malah duduk di teras depan toilet sambil menutup wajahnya sendiri.
"Kenapa di luar dugaanku ya Allah. Saya kira seperti hajatan tetangga. Semewah-mewahnya hajat tetangga gak seperti tadi." Ia merutuki keputusannya datang ke pesta. "Pantesan Arsila mempersiapkan sekali untuk datang ke pesta, Bos."
Dilara menghentakkan kakinya dan memukul-mukul pelan dadanya.
"Apa yang kamu lakukan depan pintu masuk toilet?"
Dilara menoleh dan membelalakkan mata begitu melihat Daniel berdiri tak jauh darinya.
"Bos!" Sontak saja gadis itu berdiri dan membenarkan letak kerudungnya yang miring.
"Kau datang ke pestaku dengan penampilan seperti itu?"
Dilara mengangguk dan tersenyum canggung. Dipandang remeh orang karena penampilan, sepertinya ia mulai terbiasa dengan sakit hatinya.
Daniel menghampiri gadis itu dan Dilara langsung mundur. Ketika gadis itu mentok di tembok barulah Daniel berhenti melangkah dan memperhatikan intens penampilan Dilara dari ujung kaki sampai kepala.
"A-da apa, Bos? Penampilan saya cukup baik, bukan?" Dilara berkata hanya untuk mengusir kegugupannya sendiri.
Daniel mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Dilara kemudian menyentuh bibir gadis itu. Perlakuannya tersebut membuat Dilara tertegun.
"Kamu ini habis menghisap darah manusia, ya? Wajahmu seperti hantu yang dibangkitkan dari kubur."
Dilara langsung mendorong dada pria itu dan menatapnya sengit. "Saya sudah berdandan cukup lama untuk datang ke sini. Ini adalah penampilan terbaik saya." Gadis itu melipat tangannya kemudian membuang muka.
Daniel menutup mulutnya seperti menahan tawa. "Astaga saya seperti bertemu orang tua tahun 90-an."
"Saya tahu akhirnya akan dihina seperti ini." Mata Dilara mulai berair. Untuk kesekian kalinya orang menghina penampilannya. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan kemudian melangkah hendak pergi, akan tetapi, tanpa diduga, Daniel menarik tangannya hingga tubuhnya kembali lagi ke belakang. Begitu keduanya berdiri berhadapan tanpa jarak, jemari pria itu menghapus air mata Dilara dan meletakkan sapu tangan di tangan gadis itu.
"Sebelum menangis seharusnya kamu sadar, wajahmu itu akan semakin hancur. Lihat bedakmu di cermin, wajahmu seperti tanah longsor dan lipstikmu belepotan ke mana-mana seperti drakula."
Dilara menunduk dan membuang ingusnya di sapu tangan Daniel, spontan Daniel menutup mulutnya dan mundur. "Astaga! Gadis jorok!"
Dilara membalikkan badan dan mulai melangkah.
"Tunggu, Dilara. Saya serius ingin bicara sesuatu padamu."
"Menghina saya? Menjadikan saya bahan olok-olokan." Tanpa membalikkan badan, Dilara menyahut.
"Bukan, Dil. Saya ingin minta bantuanmu."
Dilara tak menyahut, langkahnya semakin cepat, terpaksa Daniel menyusulnya.
"Tempo lalu, saya pernah menolongmu dari begal dan kamu bersumpah demi Allah akan melakukan apapun yang saya suruh."
Langkah Dilara terhenti.
"Sekarang saya membutuhkan bantuanmu." Daniel pun berhenti melangkah.
***
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Dilara pada sang bos yang berdiri tepat di hadapannya nyaris tanpa jarak. Dua orang itu kini berada di sebuah lorong sempit demi menghindari mata yang melihat.
"Malam ini merupakan acara di mana hubunganku dan Falisa diresmikan di hadapan publik, bahkan surat kabar. Saya ingin kamu menjadi kekasih bohongan saya di acara tersebut."
Dilara membulatkan mata dan mulutnya. "Nanti acaranya kacau!" ia memekik kecil.
"Memang itu tujuanku." Dengan entengnya Daniel menyahut.
"Nanti orang tuamu menganggap saya serius pacaran sama kamu, Tuan Bos."
Daniel terkekeh. "Tak mungkin, lihat penampilanmu yang udik." Daniel menatap sekilas Dilara dari kepala hingga ke bawah. "Ayahku tak mungkin merestuinya. Apalagi ibuku yang konglomerat dari lahir tak mungkin menerimamu."
"Saya khawatir melakukannya." Dilara menggigit bibir bawahnya.
"Setelah cukup lama berdrama jadi kekasih boongan, barulah kita putus dan semuanya akan selesai dengan alasan tak direstui orang tua saya, sebab kamu jelek dan miskin."
Dilara meluruhkan bahunya. "Haruskah saya melakukan apa yang Anda perintahkan?"
"Tentu saja, kamu sudah berjanji dan bersumpah demi Allah."
Daniel pun menggamit lengan gadis itu agar lekas beraksi. Terpaksa Dilara mengikuti langkah lebarnya.
Sesampainya di ruangan acara, Daniel meninggalkan Dilara di tengah-tengah keramaian begitu saja. Gadis itu sempat bingung dan malu dengan penampilannya sendiri, tetapi melihat hidangan yang terpajang di sepanjang meja, rasa tak nyaman di hatinya menguap. Dilara menghampiri pajangan makanan. Tanpa memedulikan orang-orang yang menatapnya sinis, ia memasukkan segala macam makanan ke mulutnya.
"Wuaahh ... ini enak sekali." Ia mengambil tas souvernir yang terpajang di meja dan memasukkan banyak makanan yang menarik matanya ke dalam tas tersebut untuk dibawa pulang.
"Hay! Kamu datang!"
Bahu Dilara dicolek seseorang dari arah belakang. Rupanya Arsila.
"Ya, saya berubah pikiran. Lapar sekali, seperti katamu makanan di sini banyak sekali dan lezat pula."
Arsila ikut menyuapkan makanan ke mulut. "Kamu gak malu diperhatikan orang-orang? Mereka melihatmu aneh." Arsila berbisik ke telinga Dilara.
"Opini mereka tak bikin perut saya kenyang. Saya sudah bawa amplop buat, Bos, 50 rebu."
"What 50 rebu?"
"Kenapa? Segitu juga uang."
"Mana uangnya, Dil?"
"Sudah saya masukin kotak yang disuruh penjaga meja."
"Oh. Btw kamu menor amat, Dil."
"Katamu, kalau ke pesta gak papa menor."
"Kalau tau kamu ke pesta, saya dandanin kamu, Dil." Arsila berkata kemudian mengambil beberapa potong kue ke piring kecil.
Suasana berangsur hening begitu Daniel terdengar mengatakan sesuatu. Arsila dan Dilara pun berhenti berbincang.
Daniel terus berkata-kata yang membuat suasana mendadak riuh.
"Saya telah memiliki gadis yang saya cintai," ucap Daniel membuat semua orang terkejut.
"Bohong! Kamu hanya mencintai saya, tidak ada wanita yang lain." Falisa menyela ucapan Daniel.
"Wahai gadis berjilbab biru, kemarilah." Daniel meneruskan ucapannya.
Setiap orang saling menoleh mencari-cari perempuan yang mengenakan jilbab biru yang dimaksudkan Daniel.
Lutut Dilara bergetar, ia tak menyangka yang Daniel maksud menjadi kekasih bohongan harus maju ke muka umum seperti itu.
"Siapa jilbab biru? Memangnya Daniel punya kekasih shalihah?" Arsila berkata-kata sendiri. Gadis itu tersedak kue saat melihat Dilara bergerak dan berjalan menembus kerumunan.
"Hay Dilara! Bukan kamu yang dimaksudkan Bos! Kamu ini memang selalu geer, ya. Ini acara Bos, Dilara bukan kamu gadisnya." Arsila berusaha mengejar Dilara. Langkahnya terhenti saat melihat Daniel tersenyum pada Dilara yang berjalan ke arah depan.
"Astaga, yang benar saja." Arsila memegang dadanya sendiri. Tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.